Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
Jangan Genit-Genit Sama Rara


__ADS_3

Saat Bayu dan Diandra keluar dari pantry, semua mata karyawan yang sudah hadir menatap ke arah mereka berdua dengan pandangan menyelidik.


"Lho, Diandra sudah masuk? Lututnya gimana Di?" tanya Pak Fahri memecah keheningan dan mengalihkan tatapan curiga anak buahnya dari Diandra dan Bayu.


"Sudah pak, nggak enak karyawan magang ijin kelamaan," jawab Diandra sambil tersenyum.


"Selamat pagi Pak Bayu," sapa Pak Fahri sambil menyalami Bayu.


"Pagi Pak Fahri, titip ade ya, sementara jangan kasih ade kerja yang banyak jalan atau berdiri, lututnya dislokasi, jadi nggak boleh terlalu dipaksa menumpu badannya," pinta Bayu sopan, dan tentu saja membuat para staff HSE terpana, seorang Bayu yang irit bicara mendadak berbicara panjang lebar demi seorang karyawan magang.


"Siap Pak Bayu, kamu dengar kan Di, Pak Bayu sudah perintah saya gitu, kalau mau protes, tak jewer nanti kupingmu," gurau Pak Fahri yang melihat wajah Diandra ditekuk, sungguh dia tak suka diperlakukan istimewa.


"Iya pak, dengaaar," sahut Diandra sambil merengut.


"Nggak usah ngambek, kalau kamu nggak sembuh-sembuh yang ada kakakmu bakal ngamuk ke kakak, nurut dulu ya sebulan ini, kakak masih sayang nyawa kakak, Ra," gurau Bayu, dia nggak mungkin mengatasnamakan dirinya di depan karyawan perusahaan, Bayu masih belum ingin membuka hubungannya di hadapan orang lain sebelum urusannya dan Haryo selesai.


"Iya iya... Rara nurut, sudah sana, kakak balik ke ruangan kakak, bukannya kakak sibuk?" omel Diandra, membuat Bayu dan Pak Fahri terkekeh.


"Iya de, kakak ke ruangan kakak dulu, baik-baik kerja, jangan ngeyel sama Pak Fahri ya," pesan Bayu sambil mengusap kepala Diandra dengan lembut. Lalu Bayu melemparkan pandangannya ke arah staff HSE yang masih bersantai belum mulai bekerja karena belum waktunya jam masuk kerja.


"Kalian jangan genit-genit ya sama Rara, ingat, dia adik sahabat saya yang dititipkan pada saya, kalau macam-macam...." ancam Bayu sambil menggerakkan ibu jadinya melintang di hadapan lehernya, membuat beberapa staff HSE yang suka menggoda Diandra menelan ludah dengan kasar.


"Siap Pak Bayu," jawab ko'or staff HSE kompak, membuat Bayu puas mendengarnya, sementara Diandra memutar bola matanya dengan jengah.


Setelah itu Bayu meninggalkan ruangan HSE dan melangkah menuju ruangannya di lantai 3.


Pak Fahri memberikan pekerjaan ringan pada Diandra, yaitu menginput hasil pemeriksaan lapangan dan badan air. Diandra dengan senang hati menerimanya, karena lebih baik mengerjakan laporan hasil pemeriksaan daripada tidak diberikan pekerjaan sama sekali.


Diandra mulai mengerjakan pekerjaannya setelah menerima panggilan telepon dari Danu yang menanyakan kondisinya dan juga memastikan kalau Bayu tidak macam-macam pada adiknya.


Sesungguhnya Bayu tak rela melepas Diandra bersama dengan Bayu, tapi melihat kesungguhan perasaan keduanya, mau tak mau Danu merelakan adiknya bersama dengan Bayu, toh Bayu adalah lelaki yang mencintai Diandra sejak kecil dan dia bisa dipercaya dan juga penuh rasa tanggung jawab.

__ADS_1


Sementara itu di dalam ruangan Bayu, nampak Bayu tengah menatap laptopnya yang sedang memutar rekaman black box mobil yang dikendarai Suryo dan Rianti. Wajahnya tegang saat melihat pria yang menembak Suryo dan Rianti. Pria itu terlihat sangat familiar, walau rekaman itu blur karena derasnya hujan, namun Bayu merasa kalau dia pernah bahkan sering bertemu dengan pria itu, tetapi Bayu lupa siapa dia.


Bayu memutar video itu berulang kali, walau dia tak tahan saat mendengar jeritan Rianti ketika pria itu menembakkan pelurunya, tapi Bayu memaksakan diri melihatnya kembali untuk mengingat siapa pria pelaku penembakan itu.


TOK TOK TOK!!!!


Suara ketukan pintu mengagetkan Bayu, setelah mempause dan menutup laptopnya, Bayu memerintahkan si pengetuk pintu masuk. Tak lama Ari tampak membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam ruangan Bayu.


"Ada apa Ri?" tanya Bayu.


"Pak Haryo sudah tiba di ruangannya, Pak. Beliau minta anda segera ke sana dan membawa bukti-bukti yang dia minta," jawab Ari sopan, "Dan ini ada kiriman dari Dokter Miko," tambah Ari sambil menyerahkan sebuah amplop coklat.


Bayu menerima amplop itu dan mengeluarkan isinya. Bayu membaca isi dari amplop itu dan tersenyum puas, lalu dilihatnya ada sebuah flash disk biru muda yang juga berada dalam amplop itu.


Bayy memasukkan kembali berkas dan flash disk itu ke dalam amplop coklat tadi lalu dia berdiri dan melangkah menuju pintu.


Saat Bayu hendak membuka pintu, Ari teringat sesuatu.


"Matsushita?" Bayu mengernyitkan keningnya, seperti mengingat sesuatu tetapi dia bingung tentang hal apa.


"Aku akan bilang pada Haryo, pukul berapa?" sahut Bayu.


"Pukul 15:00 pak," balas Ari.


"Oke, siang ini aku dan Haryo akan keluar, tolong urus perusahaan sampai pukul 14:00 dan ingat, siapapun yang tidak memiliki janji temu tidak diperbolehlan masuk dan melewati pintu perusahaan," perintah Bayu tergas.


"Baik, Pak," jawab Bayu sambil mengikuti Bayu keluar dari ruangannya.


Bayu melangkahkan kaki ke ruangan Haryo yang bersebelahan dengan ruangannya.


Bayu masuk ke ruangan Haryo tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, dilihatnya Haryo tengah memandangi layar LCD yang menampilkan rekaman CCTV ruang HSE, Bayu menghela nafas panjang, walau tak suka melihat Haryo mengawasi Diandra melalui CCTV, tapi Bayu tak bisa melarangnya karena dia tahu bagaimana perasaan Haryo pada Diandra.

__ADS_1


"Harusnya kau datang menemuinya, bukan memata-matainya," ucap Bayu tiba-tiba, membuat Haryo terkejut.


Bayu bukannya ingin menyodorkan kesempatan untuk Diandra menyukai Haryo, tapi dia lebih menginginkan Diandra bisa kembali bersikap baik pada Haryo dan mengembalikan hubungan persaudaraan yang sempat rusak karena sifat buruk Haryo.


"Hm.... Aku belum berani," jawab Haryo lesu.


Bayu mendekati kontrol CCTV dan memutar rekaman kemarin siang di luar pintu lobby perusahaan, dan meminta Haryo melihatnya, sementara dia meletakkan bukti-bukti tentang Sinta yang suka bermain dengan beberapa pria, dia atas meja kerja Haryo.


Haryo melihat rekaman CCTV tentang keributan antara sang mama dengan Mariana dan Sinta, dia tersenyum, akhirnya sang mama bisa mengambil krputusan yang benar.


Setelah itu, Haryo melangkah ke meja kerjanya dan melihat Bayu tengah mengutak atik komputernya.


"Apa itu?" tanya Haryo.


"Lihat sendiri," jawab Bayu yang segera menyingkir, raut wajah Bayu tampak buruk dan ada rasa jijik.


"What the ****!!!" umpat Haryo saat melihat layar komputernya. Di sana terlihat video Sinta yang tengah bermain dengan tiga orang pria yang beramai-ramai menyetubuhi Sinta dengan berbagai gaya dan posisi, bahkan dua orang sekaligus menyatu dengan Sinta sedangkan seorang lainnya bermain dengan mulut Sinta, sungguh menjijikkan. Ditambah suara erangan dan ******* dan juga kata-kata kasar terdengar jelas.


"Where did you get this?" tanya Haryo menahan mual.


"Dokter Miko, he sent them to me," jawab Bayu sambil mendengus kesal, dia pikir flash disk itu hanya berisi rekaman footage tapi ternyata berisi rekaman live actions *** scenes. Bahkan video yang Jim rekam tidak sevulgar itu, mungkin karena dalam ruangan gelap jadi tidak terlalu terlihat apa yang Sinta dan lelaki panggilannya lakukan. Tapi di video kiriman Miko, suasana kamat terlihat terang benderang, walau suasana kamar terlihat kumuh dan berantakan, tapi dapat terlihat jelas adegan demi adegan yang membuat mual.


Bayu dan Haryo adalah pria normal yang tidak akan berbagi wanita dengan pria lain. Jadi wajar jika mereka merasa jijik dan mual saat melihat Sinta bermain dengan 3 pria sekaligus.


Haryo mencabut flash disk itu lalu melemparnya ke atas meja.


"Damn it, mataku rusak melihat adegan tadi," umpat Haryo sambil menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.


"So do I, disgusting," sahut Bayu kesal, dia tak yakin bisa makan setelah melihat video tadi.


"Aku akan bawa di pertemuan keluarga malam ini, akan ku set di sebuat restaurant yang ramai dan aku akan pasang proyektor untuk memutar video tadi," ucap Haryo geram.

__ADS_1


"Hahahaha... How cruel of you!" gelak Bayu.


__ADS_2