Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
Don't Make Her Seed A Tears


__ADS_3

"Bagaimana keadaan kalian selama sepuluh tahun ini?" tanya Miko mulai membuka suara memecah keheningan di ruang tunggu.


"Kami baik, tapi tidak dengan Om Wira, beliau meninggal tiga tahun lalu karena mobil yang dikendarainya jatuh ke jurang, dan jenazahnya sampai sekarang tidak ditemukan karena diperkirakan hanyut terbawa arus sungai yang ada di bawah jurang," jawab Danu sedih.


"Maaf, aku turut berduka atas kehilangan kalian. Kalian masih tinggal di rumah yang Tora siapkan untuk kalian?" tanya Miko.


"Tidak, kami sudah pindah rumah empat kali," jawab Danu, "Kak Tora.... Bagaimana dia sekarang?" Danu balik bertamya pada Miko tentang keadaan Tora.


"Dia baik, tapi juga banyak berubah, dia masih tetap mengawasi kalian berdua dari jauh dan tanpa kalian sadari," jawab Miko, Bayu hanya diam menyimak perbincangan mereka.


"Bisakah kami bertemu dengannya?" tanya Danu.


"Dia tidak ada di Jogja dan mungkin tidak akan kembali untuk saat ini," jawab Miko.


"Oh," sahut Danu pendek.


Kembali mereka diam dalam keheningan.


"Bayu kan ya?" tanya Miko tiba-tiba.


"Ya?" sahut Bayu kaget.


"Aku akan memberikan soft copy rekam medis Sinta pada Dimas besok, gunakan sesukamu, juga ada beberapa video lama tentang apa yang Sinta lakukan bersama beberapa lelaki mainannya," ucap Miko datar.


"Terima kasih Dokter Miko," sahut Bayu sopan.


"Panggil sama seperti Danu dan Dimas memanggilku," balas Miko, "Aku harus kembali, ada pasien menungguku. Aku akan sampaikan ke Tora kalau kau ingin bertemu dengannya Dan," pamit Miko seraya berdiri lalu beranjak meninggalkan Danu dan Bayu.


Tak lama kemudian, Diandra keluar dari ruang radiologi dengan bantuan Dimas yang mendorong kursi rodanya.


"Gimana Dim?" tanya Danu cemas.


"Dislokasi, kita ke ruang fisioterapi sekarang," jawab Dimas, lalu dia mengajak untuk segera ke ruang fisioterapi untuk segera menangani Diandra.


"Jadi?" tanya Danu.


"Sementara Rara jalan dibantu alat dulu, mengistirahatkan lututnya sampai benar-benar pulih," jawab Dimas.

__ADS_1


"Berapa lama?" tanya Bayu dengan kening berkerut.


"Paling lama sebulan, dan harus rutin fisioterapi ya," jelas Dimas.


"Oke," sahut Danu dan Bayu bersamaan.


Bayu mengambil alih kursi roda Diandra dan mulai mendorongnya menuju klinik fisioterapi.


"Kak, Rara masih boleh kerja kan?" tanya Diandra cemas.


"Boleh, tapi jangan banyak gerak dulu ya, sementara pakai bantuan kruk dulu jalannya, biar lututnya nggak terlalu terbebani," jawab Dimas


"Oke, Rara nggak akan kerja berat selama masa pemulihan," sahut Bayu tegas.


"Tapi repot juga ya, fisioterapi harus di sini?" tanya Danu bimbang mengingat jarak rumahnya dan rumah sakit ini benar-benar sangat jauh.


"Enggak sih, tapi kan periksa dan penanganan pertamanya di sini, ada baiknya lanjut di sini sih, Dan," jawab Dimas.


"Ya udah, selama sebulan aku akan cari kontrakan yang dekat kantor dan rumah sakit biar nggak ribet," sahut Danu.


Danu mendelik galak pada Bayu.


"Modus!!!" gerutu Danu.


"Hehehehe..." Bayu terkekeh lirih.


"Nanti antar ade pulang, temui kakek nenek, tunggu aku balik kantor, baru kita bicara!" ucap Danu sambil mendengus kesal.


Mereka berempat sudah tiba di poliklinik fisioterapi, Bayu mendorong Diandra masuk ke dalam diikuti Dimas dan Danu.


Setelah mendudukkan Diandra di ranjang pemeriksaan, Bayu dan Danu melangkah keluar. Mereka menunggu di depan poliklinik fisioterapi.


"Kamu serius kan dengan Rara?" tanya Danu tiba-tiba.


"Tentu saja, kenapa harus ditanyakan lagi," jawab Bayu tegas.


"Apa kamu akan jujur pada Haryo?" Danu menatap Bayu penasaran.

__ADS_1


"Suatu hari nanti," jawab Bayu pendek.


"Jika suatu hari nanti Rara jadi menyukai Haryo, apa yang akan kau lakukan?" tanya Danu yang membuat Bayu tertegun.


"Aku akan melakukan apapun untuk membuat Rara bahagia, walau itu dengan cara melepaskannya," jawab Bayu tegas.


Puas dengan jawaban Bayu, Danu mengangguk pelan.


"Don't make her seed a tears," Daru memberikan peringatan pada Bayu.


"I won't" sahut Bayu pasti.


"Keep your promise, Bay!" Danu menepuk bahu Bayu.


"I will Dan, you know that she is my dream wife," sahut Bayu, matanya memancarkan kasih sayang saat dia mengingat Diandra.


"Hmmmm.... I gotta go, antar Rara balik dan tunggu aku pulang, baru kita bicara," Danu menepuk pahanya lalu berdiri.


"Okay, thanks bro," Bayu berdiri dan memeluk Danu.


"Hmmm... Jaga ade baik-baik, jangan kamu mesumin dia, Rara masih bego urusan yang berbau-bau mesum," gurau Danu yang membuat Bayu bersungut-sungut.


"Sialan kau!!" gerutu Bayu sambil memukul bahu Danu.


"Oh Dan, Haryo bilang kalau mau bicara sama Kakek Cokro tunggu Haryo pulang, dia lagi kabur ini," seru Bayu yang teringat pesan Haryo kemarin.


Danu menaikkan sebelah alisnya.


"Kabur?" tanya Danu.


"Hm, kabur dari pertemuan keluarga buat membahas pertunangannya dengan Sinta," jawab Bayu.


"Hahahaha.... Nggak jantan banget sih, pakai acara kabur-kaburan," gelak Danu.


"Jijik dia lihat Sinta, makanya kabur," Bayu ikut terkekeh.


"Oke lah, aku balik kantor dulu, ada masalah di sistem, jadi titip ade ya," Danu menepuk bahu Bayu lalu melangkah pergi.

__ADS_1


__ADS_2