Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
Umur Manusia Tidak Ada Yang Tahu


__ADS_3

Suasana sudah kembali tenang, Danu berusaha menekan emosinya, sekarang dia harus mempelajari bukti-bukti dan mmembalas semua perbuatan yang telah kedua pakdenya lakukan kepada papa dan mamanya.


Haryo dan Dimas juga sudah bisa menenangkan hati mereka, walau masih terasa perih dan terluka.


"Pria itu.... Siapa dia?" tanya Danu dengan suara beratnya.


"Aku masih meminta Jim dan Ari menyelidikinya, karena aku merasa pernah melihat bahkan sering bertemu dengĂ nnya, pria itu begitu familiar," jawab Bayu.


Bayu meraih laptopnya dan mengangkatnya lalu diletakkan di hadapannya.


Setelah mengutak atik sebentar, Bayu mengambil gambar layar saat pria misterius itu mengarahkan senjatanya ke arah Suryo dan Rianti.


Lalu Bayu memperbesar gambar tangkapan layar itu. Dia mengernyit.


"Luka di pelipis kanan?" gumam Bayu, Danu mendekat dan mengamati gambar tangkapan layar yang sudah diperbesar oleh Bayu.


"He's indeed looks so familiar," Danu ikut bergumam, dia merasa pernah bertemu dengan pria itu.


"Who exactly he is?" tanya Bayu lirih.


"Aku harus menemui Kak Miko dan memintanya mempertemukan aku dengan Kak Tora," seru Danu, dia merasa yakin kalau Tora mengetahui siapa pria itu, karena pria itu adalah orang suruhan ayahnya, Suwito.


"Aku akan menghubungi Kak Miko," sahut Dimas yang segera meraih ponselnya untuk menghubungi calon kakak iparnya.


'Halo, Kak Miko, ada waktu sebentar sore ini?' tanya Dimas.


'Ada, tapi tidak bisa lama, pukul 18:45 aku ada operasi di rumah sakit pusat,' jawab Miko, 'Ada apa Dim?' sambung Miko.


'Danu ingin ketemu Kak Miko sepulang dia kerja nanti, bisa kak?' tanya Dimas.


'Danu? Dia bersamamu?' Miko balik bertanya.


'Iya kak, kami sedang berkumpul makan siang di cafe dekat kantor Danu,' jawab Dimas.


'Sekarang saja, share location kalian, kebetulan aku baru saja mengantar Putri ke kliniknya,' sahut Miko.


'Baik, kak,' jawab Dimas yang langsung memutus panggilan suara mereka lalu mengirimkan lokasi cafe tempat mereka berkumpul.


"Kak Miko akan segera kemari, dia berada di dekat sini, kebetulan habis antar kak Putri ke klinik," ucap Dimas sambil meletakkan ponselnya di meja.


"Kenapa tiba-tiba ingin bertemu Kak Tora?" tanya Haryo.


"Pria itu kemungkinan salah satu member Furaingudoragon, dan Kak Tora pasti mengenalnya," jawab Danu, tangannya mengepal erat mengingat adegan saat kedua orang tuanya dieksekusi mati oleh pria itu.


"Ah.... Benar, Kak Miko kemungkinan juga tahu," seru Dimas.


"Benarkah? Bagaimana bisa?" tanya Haryo bingung.

__ADS_1


Danu pun menatap Dimas dengan penuh tanda tanya.


"Kak Miko adalah satu-satunya dokter yang dipercaya pimpinan Furaingudoragon untuk merawat member yang sakit atau terluka, jadi dia tau siapa saja member organisasi itu dan dia juga bisa tau siapa saja yang berhubungan dengan mereka," jawab Dimas.


"Apakah Kak Miko terlibat dengan kejahatan yang mereka lakukan?" tanya Danu cemas.


"Tidak, Kak Miko hanya dokter panggilan dan tidak pernah terlibat dengan kegiatan mereka, bahkan jika ada member yang terluka, mereka membawanya ke klinik pribadi Kak Miko," jawab Dimas yakin.


Danu bernafas lega, karena jika Miko terlibat, maka akan berdampak pada Putri, tunangan Miko yang juga kakak kandung Dimas.


Setelah 15 menit menunggu, akhirnya Miko sampai dan sekarang sudah duduk di sebelah Dimas.


"Jadi ada apa, Danu?" tanya Miko.


"Bisakah Kak Miko meminta Kak Tora mememuiku?" tanya Danu de gan nafa sedikit memohon.


"Tora akan kembali ke Jogja hari ini, kalau kau ingin bertemu dengannya, datanglah ke rumahku, dia akan tinggal di rumahku selama di Jogja," jawab Miko jujur.


"Apakah Kak Tora mau menemuiku?" tanya Danu.


"Dia kembali karena dia ingin bertemu dengan kalian berdua, terutama Diandra, dia sangat merindukan adikmu," jawab Miko. Memang benar Tora sangat ingin bertemu dengan kedua sepupunya, terlebih Diandra, mata Tora memancarkan binar bahagia saat Miko bercerita tentang dirinya yang bertemu Diandra di rumah sakit, walau ada sedikit rasa kecewa karena Diandra sudah bersama Bayu, tapi Tora menerimanya, karena kebahagiaan Diandra adalah hal yang sangat berharga untuknya.


"Benarkah?" tanya Danu tak percaya.


"Sepulang kerja, datanglah ke rumah," jawab Miko, diambilnya ponsel dari sakunya lalu mengirimkan lokasi rumahnya pada Danu.


"Ah, Kak Miko, apa kakak mengenal orang ini?" tanya Bayu sambil menghadapkan layar laptopnya ke arah Miko.


Miko memicingkan matanya saat mengamati foto blur yang terpampang di layar laptop Bayu.


"Siapa ini?" tanya Miko sedikit bingung karena foto itu tampak seperti mozaik.


"Member dari Furaingudoragon," jawab Danu.


Miko memiringkan kepalanya, lalu tanpa sengaja dia menangkap bekas luka pada pelipis kanan pria di foto blur itu.


"Kenta... ro?" ucap Miko ragu.


"Siapa Kentaro kak?" tanya Dimas penasaran, sementara mata Danu, Bayu dan Haryo berbinar.


"Ketua Furaingudoragon," jawab Miko, "tapi aku ragu, karena aku tidak terlalu bergaul dengannya, sebaiknya kau tanyakan pada Tora, dia dekat sekali dengan Kenta, mungkin sekilas dia akan mengenalinya," sambung Miko.


Danu mengetatkan rahangnya.


"Kak Tora dekat dengannya?" tanya Danu.


"Kami bersahabat, tapi Kenta lebih dekat dengan Tora, walau begitu kami punya kehidupan masing-masing, aku dan Tora tak pernah terlibat kegiatan organisasi milik Kenta, satu-satunya kerja sama yang Tora lakukan dengan Kenta adalah penculikan Diandra, dan itupun tidak sesuai dengan keinginan Tora karena pihak Furaingudoragon melanggar aturan yang Tora buat, sehingga Tora mengamuk dan karena itu hubungannya dengan Kenta merenggang," jawab Miko panjang lebar.

__ADS_1


"Apakah setelah kejadian itu mereka masih saling berhubungan?" tanya Haryo.


"Hanya sesekali, tapi dalam 2 tahun terakhir ini tidak ada kontak antara kami, akupun sudah hampir 2 tahun ini tidak pernah dipanggil oleh Kenta untuk merawat atau mengobati anggotanya yang sakit atau terluka, ku rasa dia sedang serius menekuni bisnis milik keluarga yang bercabang di sini," jawab Miko.


"Bergerak di bidang apa?" tanya Bayu.


"Modern and innovative furniture, tapi aku lupa nama perusahaannya, karena aku tak tertarik dengan kehidupan pribadi Kenta yang terlalu complicated," jawab Miko, diseruputnya hot Americano pesanannya.


"Aku akan menanyakannya pada Kak Tora nanti, rekaman dan berkas ini akan kubawa, Bay," ucap Danu seraya memasukkan copy berkas penyidikan dan juga flash disk rekaman black box ke dalam amplop coklat lalu menyimpannya ke dalam tas kerja yang dibawa Bayu tadi.


"Hm, bawalah semua, itu hanya salinan, yang asli aku simpan di tempat yang aman," jawab Bayu.


"Sepertinya sampai di sini dulu pembahasan kita, kalau ada informasi kita berkumpul dan membahasnya lagi," ucap Haryo sambil berkemas.


"Baiklah kalau begitu, aku juga harus kembali ke rumah sakit," sahut Dimas yang bersiap pergi, diikuti Miko yang memang harus segera ke rumah sakit karena ada jadwal praktik siang ini.


Danu bangkit dari duduknya diikuti Bayu, setelah saling berpamitan, satu persatu dari mereka pergi meninggalkan cafe, kini hanya tertinggal Bayu dan Haryo di beranda cafe itu.


"Kau langsung ke kantor?" tanya Haryo.


"Iya, sebentar lagi perwakilan Matsushita Company akan datang membahas kerja sama yang mereka ajukan beberapa waktu lalu," jawab Bayu.


"Matsushita?" tanya Haryo, keningnya berkerut.


"Iya, kenapa?" sahut Bayu yang lalu balik bertanya.


"Entah, ada perasaan aneh mendengar nama itu," jawab Haryo.


"Aku juga merasa begitu, tapi entah apa yang membuatnya terdengar aneh," sahut Bayu.


"Sudah berapa kali kita bekerja sama dengan mereka?" tanya Haryo.


"Ini sudah kontrak kedua dalam dua tahun ini," jawab Bayu.


"Kau sendiri yang akan menemui perwakilan mereka?" tanya Haryo, mereka melangkah beriringan ke arah mobil yang mereka parkir di area parkir cafe yang sudah agak sepi.


"Kalau kau bisa hadir malah lebih bagus," jawab Bayu dengan sedikit penekanan pada tiap katanya.


"Hahaha, ada kamu yang bisa kupercaya, Bay," sahut Haryo.


"Yo, kau tahu kan, aku tak bisa selamanya berada di sampingmu untuk terus menjalankan perusahaanmu, aku punya tanggung jawab pada perusahaan papa dan juga.... Umur manusia, kita tidak akan pernah tahu seberapa panjang umur kita," ucap Bayu dengan suara datar dan beratnya, Haryo tertegun karena terkejut, kenapa tiba-tiba Bayu membicarakan masalah umur manusia?


Entah kenapa Haryo merasa cemas tanpa sebab, dia menatap Bayu dengan gugup. Entah hanya perasaannya atau karena perkataan Bayu, dia merasa Bayu seperti hendak pergi meninggalkannya, meninggalkan semuanya dan menyisakan kesedihan dan luka mendalam di hati para sahabatnya dan juga Diandra.


"Bay, jangan ngomong sembarangan, kau orang yang sehat dan akan berumur panjang," seru Haryo cemas.


Bayu menoleh dan tersenyum, "Orang sehat pun bisa mati karena kecelakaan, atau pembunuhan, seperti yang menimpa Om Suryo dan Tante Rianti," sahut Bayu, "Kita tidak bisa memprediksi umur kita sendiri dan bagaimana kelak kita akan mati, Yo," sambung Bayu.

__ADS_1


"CUKUP!!!" bentak Haryo, membuat Bayu menatapnya heran, "Jangan lagi bicara tentang kematian, kau tak akan meninggalkan kami, kita berempat akan selalu bersama menjaga Dira, berjanjilah!!! Aku tak mau merasakan kehilangan lagi, cukup Om Suryo dan Tante Rianti, jangan ada lagi," suara Haryo bergetar, entah kenapa dia benar-benar cemas setelah mendengar perkataan Bayu.


__ADS_2