Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
Kepo


__ADS_3

Danu sudah berada di depan pintu kamar rawat inap Diandra.


Buzzzz.... Buzzzz.... Ponsel di dalam sakunya bergetar. Danu mrngambil ponsel dari sakunya dan membuka pesan dari Tora.


'Kapan Bayu akan menikahi Rara?' isi pesan Tora.


Danu mengerutkan keningnya, kenapa tiba-tiba sepupunya menanyakan hal ini?


'Danu nggak tahu kak, soalnya Bayu juga baru bicara beberapa hari lalu, Om James dan Tante Gina belum melamar secara resmi,' balas Danu.


'Setelah keluar dari rumah sakit, segerakan, Rara akan aman bersama Bayu, dan kamu jangan pulang ke rumah kakek dan nenek, tinggallah bersama Om James dan Tante Gina sampai keaadaan terkendali,' saran Tora.


'Tapi Danu nggak nyaman, kak,' tolak Danu, dan lagi dia juga pasti akan memikirkan keadaan kakek dan neneknya.


'Kalau begitu, tinggallah di apartment ku, tak ada yang tahu aku punya apartment di sini, aku akan tinggal di villa dekat cafe,' perintah Tora tegas dan tak bisa ditolak.


'Baiklah kak, aku menolak juga pasti kakak paksa,' balas Danu pasrah.


Tora tersenyum puas dengan balasan Danu, lalu dia memerintahkan bawahannya untuk membersihkan dan melengkapi isi apartmentnya dan juga mengisi lemari pendingin dan penyimpanan dengan bahan makanan dan kebutuhan sehari-hari. Tak lupa dia memerintahkan bawahannya untuk siaga berjaga di lingkungan sekitar apartmentnya.


Setelah tak ada balasan dari Tora, Danu segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang rawat inap Diandra.


"Ah Dan, kau sudah datang? Bisa aku titip Rara sebentar? Aku ada keperluan," ucap Bayu saat melihat Danu berjalan memasuki ruangan. Sementara itu, Diandra terlihat sedang tertidur pulas, kemungkinan karena pengaruh obat yang diminumnya selepas makan siang tadi.


"Mau pergi ya pergi aja lah, Rara kan adikku, nggak perlu kamu titipkan juga pasti kujaga," jawab Danu ketus.


"Hey, nggak perlu ketus gitu, bro," sahut Bayu, walau tak tahu alasannya, tapi Bayu tahu kalau mood Danu sedang sangat buruk.


"Ck.... Cepat sana pergi," usir Danu sambil merebahkan tubuhnya di sofa.

__ADS_1


"Kakek tak menyetujui pembatalan perjodohan itu?" tanya Bayu tepat sasaran.


"Hm, tapi aku tak peduli, walau aku harus melawan keluarga kalian, aku nggak akan mempertaruhkan kebahagiaan adikku," jawab Danu berapi-api, dia masih kesal dengan perlakuan Kakek Cokro.


"Heh, aku bukan Wicaksono, bro. Kau lupa kalau aku seorang Senoaji?" sanggah Bayu, entah mengapa, dia tidak suka jika dianggap seorang Wicaksono, bagi Bayu, keluarga Wicaksono terlalu kolot, karena Kakek Cokro yang keturunan berdarah biru, sangat menjunjung tinggi keningratannya, sehingga membuat Bayu jengah, ditambah dia memakai nama keluarga Senoaji, jadi dia bukan bagian dari keluarga Wicaksono, melainkan bagian keluarga Senoaji.


"Hah, mau menyanggah kaya apapun, he's still your grandpa," ( dia tetap kakekmu ), dengus Danu kesal.


"Ya, tapi aku seorang Senoaji, bukan Wicaksono," tegas Bayu yang tak kalah kesal.


"Whatever!!!" sahut Danu sambil meraih apel yang ada di meja, menggigitnya lalu mengunyahnya dengan kesal.


"Aku pergi dulu, mungkin agak lama, soalnya aku mau mengkoordinasi personil yang harus stay di dekat rumah kakek Broto, dan juga di sekitarmu dan Rara," pamit Bayu setelah mengecup pipi Diandra.


"Tolong minta Jim untuk mengirimkan kotak musik kesayangan Rara," pinta Danu setelah berpikir beberapa saat.


"Music box?" tanya Bayu.


"Kenapa?" tanya Bayu lagi.


"Haish, bawa saja kesini lah, cerewet banget jadi orang, jangan bantah aku kalau masih inginkan restuku!" ancam Danu yang sudah melotot kesal karena kekepoan Bayu.


Bayu hanya menyeringai lalu bergegas keluar ruangan untuk segera pergi dan menyelesaikan urusannya.


Sementara Danu memijat keningnya yang berdenyut.


Bayu melajukan Audi Q7nya menuju outlet Tiffany langganan sang mama.


Sesampainya di sana, Bayu segera menemui manager toko dan mengambil pesanannya, sebuah cincin platinum bermatakan diamond berbentuk bintang mungil yang sederhana namun sangat cantik, bagian dalam terukir initial DAP ( Diandra Ayu Perwita ).

__ADS_1


Lalu Bayu mengeluarkan sebuah sketsa design sepasang cincing his and hers, dan menyerahkannya kepada sang manager.


"Selesaikan dalam waktu 2 minggu, bisa?" pinta Bayu sopan.


"Tentu saja Pak Bayu," jawab sang manager.


"Terima kasih, tolong kabari saya kalau sudah siap," Bayu segera undur diri dan langsung melesat ke training center milik keluarga Senoaji.


Di sana, Bayu membuat tiga kelompok yang masing-masing bertugas menjaga Kakek Broto dan Nenek Sundari di rumahnya, menjaga dan mengawal Danu dan juga Diandra. Dia juga membaginya menjadi tiga shift agar tidak memberatkan para bodyguard binaan keluarganya.


Keluarga Senoaji selain bergerak di bidang food and beverage, mereka juga mempunyai training center yang melatih bodyguard keluarga ataupun untuk disewa.


Bayu juga tak lupa meminta Jim untuk bilang kepada kakek dan nenek Diandra untuk mencarikan kotak musik milik Diandra untuk diantar ke rumah sakit secara rahasia.


Bayu mendapat laporan dari Jim, kalau di sekitar rumah Kakek Broto ada beberapa orang yang mengawasi, salah satunya ada sebuah family car Avanza yang terparkir di sudut jalan sejak mereka tiba di rumah siang tadi. Jim meminta segera dikirim tambahan personil agar dapat membantunya menjaga keselamatan Kakek Broto dan Nenek Sundari saat dia harus menghadiri mata kuliah atau saat afa kepentingan di kampus.


Setelah mengkoordinasi tugas anak buahnya, Bayu bergegas kembali ke rumah sakit, waktu sudah menunjukkan pukul 18:45, Bayu memutuskan membeli makan malam.


Sesampainya di rumah sakit, nampak Diandra sudah terbangun dan sedang mengobrol dengan Danu dan Dimas sambil bermain kartu cangkulan di sofa, sepertinya Danu menggendongnya turun da mendudukkannya di sofa.


"Yah curaaaang, Kak Dimas gitu deh, kalau udah turun masak diambil lagi," gerutu Diandra kesal karena Dimas berulang kali berbuat curang.


"Ya habisnya tiba-tba kakak nggak pengen ngeluarin kartu ini gimana dong?" helah Dimas membela diri.


"Ish, ngeselin main sama Kak Dim, dari dulu hobbynya curang melulu," Diandra cemberut sambil melempar kartunya ke atas meja.


Bayu menghampiri mereka bertiga, diletakkannya paper bag berisi makan malam di atas meja, lalu dia segera menghampiri Diandra dan mengecup kepalanya sambil menghirup aroma khas rambut Diandra, walau sudah beberapa hari tidak keramas dan mandi, tapi aroma tubuh dan rambut Diandra sangat lembut dan wangi, membuatnya betah menciumnya berlama-lama.


"Ck.... Jaga kelakuan di depan calon kakak ipar," tegur Dimas, dia sadar mood Danu sedang tidak bagus, selama bermain kartu dia tidak banyak bicara, wajahnya terlihat serius dan memikirkan sesuatu. Saat melihat Bayu mencium Diandra, Dimas melihat perubahan sorot mata Danu yang susah diartikan oleh Dimas.

__ADS_1


Diandra yang mendengar teguran Dimas langsung tersipu malu, sementara Bayu langsung menegakkan tubuhnya dan melangkah masuk ke dalam toilet untuk membasuh tangan dan wajahnya.


__ADS_2