Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
Meninggal Karena Luka Tembak


__ADS_3

Bayu masih mengekori Diandra, karena risih, Diandra berhenti berjalan lalu berbalik menghadap Bayu.


"Kakak panggil Jim kemari karena ada urusan kan? Jadi baiknya temui dan bicara dulu, Rara mau siapkan sarapan dan bekal makan siang, kalau sudah siap kita sarapan sama-sama seperti kemarin," ucap Diandra menahan kesal.


"Cutie bikin sarapan apa?" tanya Bayu sambil melongok ke dapur, dilihatnya kukusan bambu susun empat berdiameter 28cm sedang berada di atas panci yang mengeluarkan uap panas, aroma wangi seafood dan daging sapi menguar dari sana dan membuat Bayu menegak ludahnya.


"Xiao long bao? Har gao? Shiu may?" tanya Bayu menggebu.


"Both," jawab Diandra sambil tersenyum.


"Ah.... You are the best Cutie Pie," Bayu memeluk Diandra dan mengecup singkat bibir Diandra.


"Kak, ada Bi Tami, malu," protes Diandra.


"Bi Tami nggak lihat kok, Non! Sumpah!" pekik Bi Tami dari dapur sambil terkikik geli.


"Nggak lihat apa, bi?" tanya Bayu yang geli melihat tingkah Bi Tami.


"Nggak lihat Den Bayu cium Non Rara," jawab Bi Tami lantang, yang sontak membuat Bayu tergelak, sementara Diandra menutup wajahnya yang memerah dengan apron yang dipakainya sedari tadi.


"Kakak sih!" gerutu Diandra kesal, lalu dia berbalik dan berjalan ke arah dapur.


Bayu pun segera kembali ke ruang tamu, dilihatnya Jim tengah menyusun dan mengurutkan kembali berkas yang berantakan tadi.


Bayu duduk di sofa menunggu Jim selesai menyusun kembali urutan berkas yang dibawanya dengan sabar.


Setelah selesai menyusun dan mengurutkan, Jim memberikan berkas itu pada Bayu.


"Ini Boss, berkas laporan dan penyidikan kasus kecelakaan yang menimpa almarhum Tuan Besar dan almarhumah Nyonya Besar Perwita," ucap Jim, tangannya mengulurkan dua bundle berkas kepada Bayu.


"Jadi, garis besarnya bagaimana?" tanya Bayu sambil membuka lembar demi lembar berkas yang berada di tangannya.


"Itu bukan murni kecelakaan, karena dari hasil pemeriksaan TKP dana tim forensik, ada kerusakan yang di sengaja pada rem mobil yang dikendarai Tuan dan Nyonya Besar Perwita, dan di sana ditemukan sidik jari yang teridentifikasi milik Baskoro, putra sulung dari kakak ipar Bagyo Perwita. Lalu ada ditemukan pula print out dari percakapan via chat BBM antara Tuan Muda Danu dan Nyonya Besar Perwita, yang berisi wasiat tentang liontin sepasang kunci yang bisa membuka brankas rahasia yang berisi wasiat dari Tuan Besar Perwita yang ditujukan untuk Tuan Muda Danu dan kakak ipar," jelas Jim panjang lebar.


"Liontin sepasang kunci? Danu kemarin mengatakan itu, tapi masih berupa teka teki karena dia tak tau dimana letak brankas rahasia itu, dan mungkin itu pula salah satu alasan Suwito dan Bagyo masih mencari dan mengejar Danu dan Rara," sahut Bayu, keningnya berkerut memikirkan sesuatu.


"Dan ternyata tim penyidik menemukan black box yang berisi rekaman sebelum, saat, dan pasca kejadian. Kecelakaan itu bukan kecelakaan tunggal, karena didengar dari percakapan, ada yang mengejar mobil Tuan Besar Perwita, dan saat di tikungan dari arah berlawanan ada sebuah SUV yang sengaja menghadang mobil Tuan Besar Perwita, namun karena mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi dalam hujan dan kondisi jalan yang licin ditambah rem yang tidak berfungsi, akibatnya mobil tersebut kehilangan kendali dan tergelincir lalu terbalik," Jim menambahkan penjelasan, lalu menyerahkan sebuah USB port kepada Bayu.


"Saat mobil Tuan Besar Perwita sudah berhenti berguling dan terbalik, ada seorang lelaki keluar dari mobil SUV dan menghampiri mobil Tuan Besar Perwita, dia membawa senapan dengan silencer lalu menembak sebanyak 5 kali ke dalam mobil dan tak lama darah mengalir dari dalam mobil dan bisa dipastikan itu adalah darah Tuan dan Nyonya Besar Perwita, dan saya yakin mereka berdua masih hidup dan sadar setelah kecelakaan, mereka meninggal akibat tembakan dari pria misterius itu, bukan karena kecelakaan. Tetapi pihak tim penyidik tidak mengungkap hal itu, mereka sudah disuap Suwito untuk memalsukan laporan penyidikan, beruntung ada seorang dari anggota tim penyidik yang membuat laporan aslinya ini, namun sayang dia tewas akibat kecelakaan saat akan menyerahkan berkas ini kepada pihak kejaksaan," sambung Jim.

__ADS_1


"Kalau dia tewas, bagaimana kamu bisa mendapatkan berkas ini?" tanya Bayu menyelidik.


"Dari anaknya yang sekarang menjadi jaksa, sang ayah memberikan berkas asli kepada anaknya yang saat itu sedang kuliah di salah satu universitas ternama, dan dia menyimpan berkas ini di safe deposit box di sebuah bank, dan saat saya menggali informasi, dia menarik saya dan memberikan nomor ponselnya pada saya, setelah berbincang melalui sambungan telepon, dia mengirimkan berkas ini ke guard trainer house kita," jawab Jim.


"Good job, I will add an annual bonus to your account, 10 fold of your salary," ucap Bayu sambil meraih ponselnya dan mengetik sesuatu lalu menunjukkan pada Jim yang ternganga tak percaya.


Bayangkan, gajinya sebesar 8 juta ditambah bonus 10 kali gaji bulanan? Jim ingin melompat kegirangan tapi ditahannya


"Terima kasih banyak Boss!' ucap Jim girang, dia tersenyum lebar saking senangnya. One step closer menuju motor idamannya.


"Kalian sudah selesai?" tanya Diandra yang tiba-tiba muncul di ruang tamu.


"Sudah, sayang. Ada apa?" sahut Bayu.


"Kita sarapan dulu, Jim sekalian sarapan di sini ya," ajak Diandra sambil tersenyum ramah.


"Tapi kakak ipar...." kata-kata Jim menyangkut di tenggorokan saat melihat tatapan tajam Diandra.


"Ehem.... Maaf Di, aku pulang saja, nggak enak sama Boss Bayu," sahut Jim gugup.


"Nggak ada hubungannya sama Kak Bayu, aku yang minta Bi Tami belanja di pasar tadi, aku yang bayar, aku juga yang masak, Kak Bayu cuma modal tempat sama gas dan air saja," balas Diandra sambil melirik ke arah Bayu yang sedari tadi ingin segera mengusir Jim agar tak ikut sarapan di rumahnya. Bukan karena pelit, tetapi karena Bayu merasa Jim menyukai Diandra ( emang iya, sih ), jadi Bayu tak ingin Diandra bergaul dengan Jim, apalagi mereka seumuran yang pastinya banyak topik yang bisa mereka obrolkan. Dan Bayu sama sekali tidak suka.


Tapi karena Diandra sudah berkata seperti itu, mau tak mau, rela nggak rela, ikhlas nggak ikhlas, Bayu mengajak Jim ikut sarapan.


"Ba-baik Boss," Jim akhirnya menyerah.


"Jim masih kuliah?" tanya Diandra heran sambil berjalan menuju ruang makan dengan bantuan Bayu.


"Iya, ambil S2 Hukum," jawab Jim takut-takut melirik Bayu yang menuntun Diandra.


"Wah hebat," sahut Diandra sambil tersenyum dan mengacungkan ibu jarinya.


Mereka tiba di ruang makan, Bayu membantu Diandra duduk di kursi yang berada tepat di samping kursinya, lalu Bayu segera duduk di sebelah Diandra, sementara Bi Tami sudah selesai menata meja, kemudian Bi Tami memanggil Pak Bi dan Toyo untuk sarapan bersama sesuai permintaan Diandra. Jim duduk tepat di seberang Diandra, dia takjub melihat berbagai macam dimsum yang menggiurkan dan masih mengepulkan asap.


"Ini semua Cutie yang buat?" tanya Bayu sambil menatap 6 jenis dimsum yang tersaji, masih ditambah tumis daging sapi wijen dan juga tumis akar teratai kesukaannya.


"Bukan aku sendiri kak, dibantu Bi Tami juga tadi," jawab Diandra.


"Bibi mah, bantu belanja sama cuci bahan aja tadi Den," jawab Bi Tami jujur, karena Bi Tami memang hanya bertugas berbelanja dan menyiapkan juga mencuci bahan mentahnya.

__ADS_1


"Keren Di... Kelihatannya enak semua," Jim menelan ludahnya, seolah takut liurnya mengalir deras.


"Nggak juga, biasa aja Jim, masih enakan bikinan nenekku," sahut Diandra jujur, karena baginya dimsum buatan Nenek Sundari adalah yang terbaik.


"Kakak mau makan apa?" tanya Diandra, diambilnya piring Bayu lalu menggunakan sumpit panjang dia hendak mengambilkan makanan untuk Bayu.


"Semua... Shiu may, xiao long bao, har gao, spring roll, chicken feet, mantao," jawab Bayu menyebut satu persatu makanan yang ada di hadapannya.


"Satu-satu ya kak, xiao long bao dulu ya, Rara isi udang tadi," Diandra mengambilkan dua buah xiao long bao untuk Bayu.


"Terima kasih , Cutie," ucap Bayu yang segera menusuk kulit xiao long baonya menggunakan sumpit lalu menyeruput kuah kaldu yang ada di dalamnya, rasa hangat, gurih dan manis menyeruak di dalam mulutnya.


Diandra juga mempersilakan yang lainnya untuk segera memulai sarapan. Diandra mengambil mantao dan menyantapnya bersama tumis daging sapi dan tumis akar teratai. Diandra dengan telaten melayani Bayu dengan mengambilkan apapun yang Bayu inginkan, Bayu sebetulnya tak ingin mengganggu Diandra yang sedang menyantap makanannya, tapi Diandra melarang Bayu mengambil sendiri.


Bi Tami, Pak Bi dan Toyo hanya tersenyum bahagia melihat interaksi antara Bayu dan Diandra, sementara Jim yang baru sekali melihat Bayu berwajah ramah dan bersikap lembut penuh kasih sayang pada Diandra merasa ngeri, seolah kiamat akan terjadi 5 menit lagi. Namun karena rasa masakan Diandra yang lezat memanjakan lidahnya, Jim memcoba cuek dan tak acuh dengan perubahan Bayu.


Setelah sarapan dalam suasana yang harmonis, Jim duduk sebentar di ruang tamu sambil menunggu Bayu yang memintanya menyelidiki sesuatu.


Diandra berjalan ke ruang tamu sambil membawa kotak bekal berwarna biru tua, lalu diserahkannya kotak itu pada Jim. Namun Jim ragu menerimanya, karena dia ngeri dengan tatapan Bayu yang seolah ingin membunuhnya.


"A-apa ini Di?" tanya Jim gugup.


"Bekal makan siang, isinya hanya nasi, coleslaw, katsu dan gravy sauce, buat makan di kampus, ada lebih aku masak, bawa saja," jawab Diandra yang langsung duduk di samping Bayu.


Bayu merengut kesal, Jim dibuatkan makan siang, tapi dia enggak?


"Makasih, ta-tapi aku sungkan Di," tolak Jim yang meletakkan kotak makanan itu di meja.


"Sungkan kenapa? Aku juga siapkan buat Kak Bayu dan aku sendiri kok, nggak usah sungkan," sahut Diandra


"Aku cuma bawahan Boss Bayu, jadi..." ucap Jim takut-takut.


"Memangnya kenapa? Apa pegawai itu nggak butuh makan? Aku juga kan bawahan Kak Bayu kalau di kantor," sahut Diandra.


"Kan lain Di...." balas Jim sambil nyengir kuda.


"Lain dari mana? Sama-sama manusia gini, cuma lain jenis kelamin aja," sungut Diandra kesal.


"Bawa saja Jim, bisa gawat kalau Rara ngambek," Bayu akhirnya buka suara setelah melihat perubahan raut wajah Diandra.

__ADS_1


"Baik Boss, terima kasih.... Terima kasih, Di," sahut Jim sambil meraih kotak makan tadi lalu memasukkannya ke dalam ransel.


Setelah itu, Jim berpamitan karena ada kuliah pagi, sedangkan Diandra segera bersiap untuk berangkat ke kantor bersama Bayu.


__ADS_2