
Tora menarik nafas panjang sebelum mulai menceritakan semua kejadian yang menimpa Diandra.
"Dan, sebelumnya aku mau meminta maaf atas perbuatanku pada kalian, aku punya alasan, kalau aku tak ikut campur, nyawa kalian bisa melayang kapan saja," jelas Tora yang setelah menenangkan dan menata hatinya segera membuka suara, "Aku tau kemungkinan kalian tak akan pernah memaafkan aku, tapi satu hal yang perlu kalian ketahui, aku mencintai kalian berdua dan juga Om Suryo dan Tante Rianti, kalian lebih seperti keluarga kandungku dibandingkan orang tua dan adikku," sambung Tora.
"Aku menculik Diandra karena ada sesuatu kesepakatan antara almarhum kakek Asdi dengan Kakek Cokro yang melibatkan Rara dan Haryo, aku tak begitu paham, tapi yang jelas Sinta ingin menggantikan posisi Rara. Dia berpikir untuk melenyapkan Rara, kau tau kan apa maksudku dari kata melenyapkan?" ungkap Tora, yang berhenti sejenak menunggu respon Danu.
Danu hanya mengangguk tegang.
"Kau pasti juga sudah tau dari Om Wira kalau keluarga kami berhubungan dengan organisasi Furaingudoragon kan? Kau tau betapa bahayanya mereka dan mereka tak pernah pandang bulu dengan korbannya," sambung Tora, "Dan leader organisasi itu adalah sahabatku," tambahnya. Wira dan Danu terkejut, bisa-bisanya Tora bersahabat dengan leader organisasi kejam yang sudah membunuh banyak orang.
"Maka dari itu, sebelum Sinta bertindak menghubungi Furaingudoragon, aku berinisiatif membantunya, hanya untuk menculik dan menyembunyikan Rara agar keluargaku mengira dia sudah tiada, tapi kamu malah celaka karena anak buah dari Furaingudoragon memukulmu, ditambah kondisi Rara jadi seperti itu karena anak buah Furaingudoragon berusaha.... memperkosa Rara," jelas Tora dengan suara rendah dan setengah menggeram karena menahan amarah mengingat kelakuan Bram dan Jordy.
Danu bergegas bangkit dari ranjang perawatan, namun karena bangkit mendadak dan cepat, kepalanya kembali terasa sakit.
"Teganya kakak melakukan itu," erang Danu sambil menahan rasa sakit.
"Aku tau kesalahanku Dan, bencilah aku sesukamu, aku tak menyangka rencanaku malah hampir menghancurkan masa depan Rara. Setelah ini aku akan menyerahkan diri ke pihak berwajib," ungkap Tora, membuat Miko, Danu dan Wira terkejut mendengarnya.
"Kakak?" Danu menatap Tora penuh tanda tanya.
"Setidaknya kakak bisa membuat keluarga kakak malu dan berhenti berbuat jahat pada kalian," sahut Tora, tau apa yang Danu maksudkan.
"Tapi kakak bahkan tidak mencelakai kami," ucap Danu, dia tau dengan pasti karakter dan sifat Tora dan juga bagaimana sayang dan perhatiannya Tora pada Danu dan Diandra.
"Setidaknya aku bisa menghentikan mereka sementara waktu sampai kalian pulih dan berada di tempat yang aman," sahut Tora.
"Aku akan melaporkan Sinta ke pihak berwajib, kakak tak perlu menyerahkan diri," ucap Danu bersikeras.
"Tanpa bukti, Sinta tak akan ditahan, lagipula di masih di bawah umur," sahut Tora, "Dan lagi, akulah yang merencanakan peculikan Rara, biarkan aku bertanggung jawab," sambung Tora.
__ADS_1
"Tidak!!!" Danu bersikeras dan tak bisa dibantah.
"Om Wira, tolong urus pelaporan untuk Sinta dan juga lelaki yang berusaha menodai Rara," pinta Danu dengan nada datar.
"Mereka sekarat, dilaporkanpun dalam waktu dekat mereka tak bisa menghadiri penyidikan," timpal Miko yang sedari tadi diam saja.
"Tak masalah, yang penting melaporkan tindakan mereka dulu, dan satu lagi orang yang memukulku juga harus dilaporkan," sahut Danu.
"Jack? Hm, mungkin akan sulit menangkap Jack, tapi kita bisa menangkapnya saat dia bersama Sinta," gumam Tora, Danu menatapnya bingung.
"Belum saatnya kau tau urusan orang dewasa," sambung Tora yang paham kebingungan Danu.
"Mulai sekarang, bencilah aku, Rara juga, mintalah dia untuk membenciku. Aku tak akan pernah muncul di hadapan kalian, aku hanya akan mengawasi dari jauh, jika satu hari kita bertemu dalam keadaan yang buruk, tetaplah percaya padaku, karena aki tak akan pernah menyakiti kalian berdua," pinta Tora sambil menggenggam tangan Danu.
Sesaat kemudian Tora bangkit dan menatap Wira dengan tatapan serius.
"Kak Tora..." panggil Danu.
Tora menoleh ke arah Danu.
"Terima kasih," ucap Danu tulus.
"Anytime, brother. Jaga Rara ya, soal Sinta dan Jack aku akan beri tahu om Wira waktu dan tempatnya, selamat tinggal," Tora menepuk bahu Danu dan bergegas keluar bersama Miko.
Di lorong bangsal VVIP, Miko menatap punggung Tora yang terlihat rapuh.
"Kamu sadar kalau Sinta ditangkap, reputasi keluargamu bisa hancur?" tanya Miko
"Aku bahkan tak peduli walau mereka semua mati, karena mereka om Suryo dan tante Rianti meninggal dengan cara yang mengenaskan, dua orang yang selalu menyayangiku, orang tuaku tak pernah merawatku dengan baik, aku selalu bersama kakek dan nenek saat kecil, dan om dan tante lah yang mengasuhku, bahkan setelah ada Danu dan Rara, kasih sayang mereka tak pernah berkurang sedikitpun," jawab Tora getir mengenang om dan tantenya.
__ADS_1
Miko hanya diam saja, dia tau bagaimana menderitanya Tora saat mengetahui bahwa om dan tantenya meninggal karena kecelakaan beberapa hari lalu, bahkan di menghajar utusan papanya yang membuat mobil yang dikendarai om dan tantenya mengalami malfunction. Belum lagi perasaan cintanya pada Diandra yang semakin menjerat hatinya, membuat Tora tak seperti Tora yang dia kenal dulu.
Namun sebagai sahabat dia hanya bisa mendukungnya dari belakang, walau dia tak suka dengan kedekatan Tora dengan Kenta, Miko hanya diam, karena bagaimana pun mereka berdua adalah sahabatnya.
Hari berganti, Wira melaporkan kejadia penculikan Diandra ke kantor polisi, dan siangnya dia mendapat informasi dari Tora kalau Sinta dan Jack ada di hotel H dan bisa dilakukan penangkapan saat itu juga.
Dan segera polisi bergerak menuju Hotel H dan mendobrak kamar 397 tempat Sinta dan Jack berada. Jack dan Sinta ditangkap saat mereka sedang berada dalam posisi memalukan, tubuh mereka telanjang dan sedang bersatu.
Keesokan harinya penangkapan Sinta yang tengah bercinta dengan lelaki keturunan Jepang menjadi headline news di surat kabar lokal. Ditambah dengan berita tentang dirinya yang menjadi otak peristiwa penculikan pada Diandra.
Broto mengamuk pada Tora, yang dianggap telah mengkhianati keluarganya, begitupun Sinta yang mencaci maki Tora tiada habisnya.
Namun karena lemahnya bukti yang menunjuk Sinta sebagai dalang penculikan Diandra, Sinta dibebaskan dari tuntutan, dia hanya dimasukkan ke dalam pusat rehabilitasi sosial karena perbuatan asusilanya dengan Jack. Sementara Jack dipidana 3 tahun penjara karena penculikan dan tindak kekerasan, sementara Bram dan Jordy masih belum bisa diadili karena masih dalam kondisi koma.
Sementara itu, Diandra yang mengalami trauma, menjalani perawatan rutin, dia takut bertemu dengan pria dewasa.
Danu, Diandra dan kakek neneknya sudah pindah ke daerah Kulon Progo, mereka tinggal di sebuah rumah di desa kecil yang sepi dan masih jarang penduduk, Danu sudah mulai sekolah dan dia tinggal di asrama, sedangkan Diandra masih trauma dan menjalani terapi psikologis. Diandra juga terpaksa sekolah di rumah, guru akan datang ke rumah memberikan pelajaran, dan guru yang datang hanyalah guru wanita, karena Diandra masih katakutan bertemu pria dewasa.
Keadaan Diandra mulai stabil saat dia menginjak kelas 10, dan mulai masuk sekolah seperti dulu, hanya saja Danu sangat protektif, selalu antar jemput di tengah kesibukannya kuliah dan kerja paruh waktu.
Sementara mereka juga harus berhati-hati karena anak buah Suwito masih berkeliaran mencari mereka, beberapa kali mereka ditemukan dan rumah mereka selalu dirusak dan dihancurkan.
Kalau sudah seperti itu, mereka akan pindah ke daerah yang lebih sepi dan terpencil untuk bersembunyi. Hal yang melelahkan menjadi pelarian walau bukan buronan.
Selama 10 tahun mereka bermain petak umpet dengan Suwito dan Bagyo.
Sedangkan Tora pergu melanjutkan pendidikannya di Amsterdam dan Sinta dikirim ke London untuk menutupi aib yang dia buat sendiri.
Flashback off
__ADS_1