
Tora berpisah dari Danu dan Haryo. Tora melajukan Bugatti Veyron milik Miko menuju markas Furainoduragon, sementara Haryo mengendarai Land Rover Defender miliknya bersama Danu menuju kediaman Keluarga Besar Wicaksono.
"Dan...." panggil Haryo ragu-ragu.
"Hm?" gumam Danu menanggapi panggilan Haryo.
"Tinggallah di apartemenku, kau aman di sana," sahut Haryo , matanya fokus menatap jalanan yang ramai karena akhir pekan.
"Aku sudah berjanji pada Tante Gina dan Om James kalau aku akan tinggal bersama mereka," ucap Danu, Haryo kecewa mendengarnya.
"Oh... Kalau kau merasa bosan, kau bisa datang ke apartmentku," sahut Haryo menutupi kekecewaannya.
"Baiklah," balas Danu.
Mereka kembali diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Dan, aku benar-benar minta maaf karena masalah Sinta," ucap Haryo memecah keheningan.
"It's ok, kalau semua sudah kembali padaku, aku hanya tinggal memulihkan nama baik keluarga walaupun akan sulit," sahut Danu.
__ADS_1
"I'll help you," ucap Haryo.
"Thanks," balas Danu.
Setelah 40 menit menempuh perjalanan, akhirnya mereka tiba di gerbang rumah keluarga Wicaksono dan mereka segera keluar dari dalam mobil.
"It's still the same," gumam Danu.
"Yeah.... And boring as usual," sahut Haryo.
"Aku ingat, kita sering duduk di sana bersama sementara para orang tua kita akan duduk di gazebo sambil mengamati dan mengawasi kita, terutama si kecil Rara," ucap Danu sambil memandang ke arah kolam buatan dan gazebo kayu yang kokoh, masih nampak sama dengan beberapa puluh tahun lalu.
Sementara orang tua mereka hanya mengawasi dari gazebo yang terletak tak jauh dari kolam.
Tidak.... Bukan orang tua mereka, tapi hanya orang tua Danu ( Rianti dan Suryo ) dan orang tua Bayu ( Gina dan James ), sementara orang tuanya tak pernah sekalipun melihat atau bahkan mengawasinya bermain, mereka berdua selalu bepergian, lemanapun Dewo pergi, Ratri akan selalu mengikutinya, tak peduli semua larangan dari suami, orang tua bahkan kedua mertuanya. Ratri terlalu takut Dewo berselingkuh, karena pernikahan mereka terjadi karena perjodohan walau Ratri sudah sejak lama jatuh hati pada Dewo.
Tiba-tiba, sesosok wanita paruh baya datang menghambur dan memeluk Danu.
Untung dengan sigap Danu menyeimbangkan tubuhnya yang sempat goyah karena tiba-tiba harus menopang tubuh orang lain.
__ADS_1
"Ya Tuhaaaan.... Danu.... Danu," isak wanita paruh baya itu yang tak lain adalah Ratri.
"Tante.... Danu kaget, tan...." gumam Danu sambil menepuk-nepuk bahu Ratri.
"Mama nggak perlu overreacted," sindir Haryo sambil mendengus melihat kelakuan Ratri.
"Apa maksudmu?" tanya Ratri kesal, dia melepas pelukannya dari Danu dan mrnatap tajam ke arah Haryo yang sama sengitnya menatap Ratri.
"Nothing, I just feel like a stranger, you are more passionate with Danu, son of your best friend, rather than your own son," sindir Haryo sambil tersenyum sinis, "Ah.... Is it because you never raise me up by yourself? Ah no.... You'd never ever touch me since I was born. Am I right?" tambah Haryo semakin sinis, Ratri memegang dadanya yang terasa sakit, karena semua yang Haryo katakan adalah kebenaran.
"Hah... Do I hit the bull's eyes?" dengus Bayu sambil melangkah masuk menuju ke dalam rumah keluarga besar Wicaksono, setelah menepuk bahu Danu dan memintanya untuk segera mengikuti Haryo masuk ke dalam rumah.
Ratri terdiam, Danu merasa canggung, karrna sejak dulu dia tahu kalau hubungan Haryo dengan kedua orang tuanya memang tidak baik.
"Tante, kita masuk? Danu ada perlu dengan kakek Cokro," ajak Danu yang berusaha memecah suasana canggung akibat perkataan Haryo.
"Hah? Ah... Iya, masuklah," ucap Ratri menanggapi ajakan Danu.
Ratri segera melangkah masuk mendahului Danu yang segera menyusul di belakang Ratri.
__ADS_1