
Haryo berhasil menyusul Bayu yang sedang menunggu datangnya lift.
"Sorry," gumam Haryo.
"Is that even useful now? You know her knee's injury, you know that she is in pain, but what have you done except for hurting her heart? You said that you love her and don't want her to hate you, but look at all what you've done just now?" ucap Bayu menahan amarah, suaranya terdengar datar dan dingin.
"Sorry, I was too...." ucapan Haryo terputus oleh Bayu
"Jealous? Don't be kidding me, walau kau merasa cemburu, tidak bisakah kau berpikir rasional?" tanya Bayu yang langsung beranjak pergi meninggalkan Haryo dan memasuki pintu darurat, dia memutuskan naik tangga darurat dibandingkan harus bersama dengan Haryo dalam satu lift di saat hatinya sedang marah pada Haryo.
Haryo mengusap wajahnya dengan kasar, benar yang Bayu bilang, rasa cemburunya membuatnya tidak bisa berpikir rasional dan menjadi pribadi yang kasar, kata-katanya tadi seolah menyalahkan Diandra yang cidera lutut dan membuat Diandra lebih dekat dengan Bayu.
Saat pintu lift terbuka, Haryo segera masuk dan menyandarkan tubuhnya di dinding lift yang membawanya naik.
Tiba di lantai 3, Haryo berjalan lunglai menuju ruangannya, dia melihat Ari baru saja keluar dari ruangan Bayu dan dan seperti tergesa harus pergi ke suatu tempat. Haryo mengernyitkan keningnya, tapi dia tak ada niatan memanggil Ari ataupun menemui Bayu, dalam kondisi seperti ini hanya akan semakin menyulut emosi Bayu jika Haryo menemuinya.
Haryo merasa perhatian dan rasa sayang Bayu melebihi perhatian dan rasa sayang seorang kakak kepada adiknya, perasaan Bayu lebih seperti perasaan seorang lelaki kepada kekasihnya. Haryo segera menepis pikiran itu, tapi kalaupun itu benar, dia tak mampu berbuat apapun, jika Diandra juga mempunyai perasaan yang sama pada Bayu, sesuai dengan apa yang pernah dikatakan Danu, yang paling penting bagaimana perasaan Diandra, karena mereka sudah berkomitmen akan menjaga Diandra sampai kapanpun.
Sekarang yang utama, dia harus segera membereskan persoalan pertunangannya dengan Sinta, malam ini dia sudah membuat reservasi di Sixsenses Kitchen untuk makan malam keluarganya bersama dengan keluarga Perwita, dia sudah meminta orang kepercayaan keluarganya untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk membeberkan betapa rusaknya kelakuan Sinta.
Haryo memeriksa CCTV ruang HSE sebentar untuk memastikan keadaan Diandra baik-baik saja.
Setelah yakin kalau keadaan Diandra baik-baik saja, Haryo bisa bernafas lega, lalu dia kembali mengerjakan pekerjaannya yang sempat terbengkalai karena cepat-cepat keluar ruangannya dan menemui Bayu dan Diandra saat dia melihat rekaman CCTV di lorong dekat ruangan HSE.
Sementara itu di ruangan sekretaris utama, tampak Bayu sedang mengamati foto Kentaro Matsushita yang tadi diterimanya dari Ari, Bayu memang sering bertemu dengannya di perjamuan-perjamuan bisnis, tapi dia mengenalnya sebagai Taro-san. Dia lumayan dekat dengan Taro-san, pengusaha muda dari Negara Sakura yang sangat sukses mengembangkan beberapa bisnis, diantaranya game dan Japanese frozen food. Dan setahu Bayu, nama keluarga Taro-san tapi Hayami.
Dan menurut informasi yang Ari peroleh, Taro-san menyukai seorang gadis yang ditemuinya secara tidak sengaja 10 tahun lalu, gadis remaja keturunan Tionghoa. Dan karena gadis itu masih terlalu muda, maka Taro-san belum bisa menyatakan ketertarikannya pada gadis itu, tapi dia selalu memata-matai dan mengikuti bagaimana perkembangan gadis itu, sampai 5 tahun yang lalu, gadis itu menghilang tanpa jejak.
__ADS_1
Di tangan Bayu juga ada foto gadis yang Taro-san sukai, dia berseragam salah satu SMU Internasional di Yogyakarta, dan foto gadis itu benar-benar mirip Diandra, mungkin juga itu foto Diandra, Bayu mulai gusar. Dia harus menanyakan kepada Danu apakah itu foto Diandra atau hanya gadis yang mirip dengan Diandra.
Dan mengenai keterkaitan Taro-san atau Kentaro Matsushita dengan Furaingudoragon, Ari mengatakan tidak ada hubungan sama sekali, hanya kebetulan sama nama antara CEO Matsushita Company dengan leader Furaingudoragon, yaitu Kentaro.
Hati dan pikiran Bayu tidak tenang, dia berusaha mengirim pesan pada Diandra beberapa kali tapi hanya dibaca oleh Diandra tanpa dibalas, membuat Bayu semkin gusar.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi dan balasan dari Diandra yang ditunggunya akhirnya datang.
Tapi begitu membaca isi pesan Diandra, Bayu langsung menggebrak meja karena kesal. Gara-gara sikap Haryo, Diandra malah menarik diri darinya.
'Lutut Rara sudah nggak sakit kok kak, nggak usah khawatir,'
'Sebaiknya kita kurangi komunikasi dan pertemuan kita kalau di kantor kak,'
'Rara nggak mau Kak Bayu dimarahi tanpa sebab kaya tadi, Rara nggak rela,'
'Untuk berangkat dan pulang kerja, Rara mulai hari ini naik taxi online saja kak,'
'Love you Big Bun,'
Bayu langsung menekan tombol telepon untuk berbicara langsung dengan Diandra, tapi panggilannya ditolak dan saat mencoba menelepon lagi, ponsel Diandra sudah mati. Bayu menghela nafas panjang mencoba menenangkan diri, kemudian dia menekan tombol intercom untuk menghubungi Pak Fahri.
'Pak Fahri, selamat siang' sapa Bayu.
'Selamat siang, Pak Bayu, ada apa ya pak?' tanya Pak Fahri bingung.
'Maaf pak, nanti kalau sudah selesai jam kerja, saya minta tolong untuk menahan Diandra dulu sebentar di sana sampai saya datang,' jawab Bayu dengan nada memohon dan sukses membuat Pak Fahri merinding.
__ADS_1
'Ba-baik pak, saya usahakan,' sahut Pak Fahri.
Dalam hati Pak Fahri bertanya-tanya, apa Bayu dan Diandra bertengkar karena peristiwa tadi? Atau mereka begitu karena mendapat teguran dari boss besar? Sepertinya tadi ada ketegangan di antara ketiganya. Bayu juga meninggalkan ruangan dengan mata penuh amarah. Haih.... Anak muda kalau lagi bucin memang nggak bisa dipahami.
Setelah mengucapkan terima kasih, Bayu segera memutuskan sambungan intercom itu dan kembali berkutat dengan pekerjaannya walau hatinya gusar.
●○●○●○●○●○
Sementara itu di kediaman Keluarga Perwita, tampak Suwito, Mariana dan Sinta sedang menemui Pak Pur, utusan dari keluarga Wicaksono yang menyampaikan undangan makan malam untuk membahas perjodohan Haryo dan Sinta.
"Jadi akhirnya mereka mau mempertimbangkan perjodohan ini untuk tetap berlanjut?" tanya Suwito sinis.
"Maaf, saya hanya diminta menyampaikan undangan makan malam, saya tidak tahu keputusan apa yang akan Tuan Besar berikan nanti," jawab Pak Pur, berusaha sopan, walau sebenarnya dia jengah dengan kelakuan keluarga ini.
"Pasti mereka tidak jadi membatalkan perjodohan ini, cuma Sinta yang pantas mendampingi Mas Haryo," sahut Sinta percaya diri, Pak Pur hanya mencibir dalam hati.
"Tentu saja, mana ada perempuan yang lebih cantik dari putri mama?" puji Matiana kepada putrinya, sehingga membuat Sinta pongah dan semakin mengangkat dagunya.
Pak Pur hanya berdecih dalam hati, siapa yang tidak tahu kalau setiap centimeter dari wajah dan tubuh Sinta sudah pernah terjamah pisau bedah. Walau tampak cantik dan sempurna, tapi terlihat jelas kalau semua di wajah dan tubuhnya palsu.
Tak mau berlama-lama, Pak Pur segera pamit undur diri untuk segera kembali ke kediaman Keluarga Wicaksono, karena tugas menyampaikan undangan sudah selesai.
Sepeninggal Pak Pur, Suwito segera meminta pelayannya menyiapkan pakaian yang akan dipakainya dan Mariana nanti, sedangkan Sinta yang baru pulang dari membeli gaun, segera meminta pelayan untuk meletakkan gaunnya di dalam kamarnya, lalu Sinta beranjak dari duduknya dan bergegas akan pergi lagi.
"Mau ngelayap kemana kamu?" bentak Suwito.
"Keluar sebentar, lagian makan malam masih nanti jam 8 malam, ini masih pukul 16:00, Sinta ingin senang-senang dulu sebentar," jawab Sinta yang langsung ngeloyor pergi, dia sudah ditunggu Jack di Hotel Z kamar 3911, tempat yang selalu mereka jadikan sebagai lokasi favorit untuk menyalurkan hasrat mereka.
__ADS_1