
Setelah sarapan bubur ayam, Bayu mengajak Diandra kembali ke rumah sakit, namun mereka tidak segera masuk ke dalam ruang rawat inap Diandra, Bayu membawa Diandra ke taman yang terletak du sebelah utara bangunan rumah sakit.
"Kita di sini dulu ya, sayang?" ucap Bayu meminta persetujuan Diandra.
"Iya mas," jawab Diandra.
Bayu mengangkat tubuh Diandra, lalu mendudukkannya di bangku taman, kemudian Bayu duduk di sampingnya.
"Sayang, sudah berapa tahun kita saling mengenal?" tanya Bayu lembut sambil menggenggam erat tangan Diandra.
"Sepanjang usiaku kan, mas, 22 tahun," jawab Diandra sambil tersenyum.
"Sudah lama ya, sayangnya kita terpisah selama 10 tahun, maafkan mas yang tak ada di sampingmu di saat kau dan Danu menderita," gumam Bayu penuh sesal.
"Nggak apa-apa mas, lagi pun kami tidak menderita kok, kami masih bisa bersama kakek dan nenek itu saja sudah bikin kami berdua bahagia, walaupun ancaman pakdhe selalu datang, tapi kami berusaha ikhlas menghadapinya," sahut Diandra sambil meremas tangan Bayu.
"Sayang, ijinkan aku mengganti masa 10 tahun kebersamaan kita yang hilang dulu, ijinkan aku mencintai dan menyayangimu, ijinkan aku untuk selalu menjadi sandaranmu dan menjadi pelindungmu sampai nafas ini terhenti, ijinkan aku menjadi raja dalam dunia kita berdua dengan kau sebagai ratunya, ijinkan aku untuk menjadi ayah dari anak-anak kita nanti," ucap Bayu tulus, lalu dia bangkit dari duduknya, kemudian dia berlutut di hadapan Diandra.
Bayu mengeluarkan kotak beludru kecil berwarna putih, kemudian membukanya, nampak sebuah cincin emas putih bertahtakan berlian mungil berbentuk bintang yang berkilauan.
"Diandra Ayu Perwita, would you marry me?" ungkap Bayu sambil menatap lembut mata Diandra yang mulai berkaca-kaca.
"Mas...." isak Diandra, walau dia tahu kalau mereka akan menikah dua minggu lagi, tapi saat Bayu melamarnya seperti ini, Diandra merasa terharu dan bahagia. Dia hanya bisa mengangguk berkali-kali sambil menangis bahagia.
Sementara itu, tak jauh dari tempat Bayu melamar Diandra, tampak seorang pria tampan berkulit tan sedang memegangi dadanya. Rasanya sakit. Gadis yang dicintainya menerima lamaran dari sahabatnya. Dia sudah tahu kalau Diandra memang menyukai Bayu begitupun sebaliknya, namun dia selalu berusaha menyangkalnya dalam hati, sampai hari ini, detik ini, dia melihat sendiri saat Bayu melamar Diandra dan diterima.
Pria yang tak lain adalah Haryo itu, terduduk lunglai di bawah pohon beringin yang tumbuh di sudut taman rumah sakit.
"Dira.... Dira...." gumamnya, tak terasa air matanya luruh, beginikah rasanya parah hati?
__ADS_1
Haryo tidak menyalahkan Diandra ataupun Bayu, karena dia sendiri merasa kesalahan ada pada dirinya, sifat arogan dan kasarnya membuat Diandra membencinya. Dan Haryo juga ingat kata-kata Danu, bahwa kebahagiaan dan perasaan Diandra lah yang menjadi prioritas Danu dan juga dirinya.
Walau sakit saat harus menyaksikan gadia pujaannya bersama dengan sahabat karibnya, namun asalkan mereka saling mencintai dan bisa membuat Diandra tersenyum bahagia, itu sudah cukup untuknya.
Haryo memukul-mukul dadanya dengan harapan mengurangi rasa sesak dan sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya, namun hal itu sia-sia. Dia hanya bisa terisak dalam diam.
Tiba-tiba, sebuah tepukan pelan mendarat di bahu kanannya.
Haryo mendongakkan kepalanya, lalu buru-buru menghapus air matanya saat melihat Danu berdiri di sampingnya.
"Dan..." gumam Haryo gugup.
"You saw it?" tanya Danu lalu segera duduk di samping Haryo, di atas rumput di bawah pohon beringin.
"I am," jawab Haryo lesu.
"It's okay, I knew it already since the beginning," ( Nggak apa-apa, aku sudah tahu sejak awal ), sahut Haryo getir, "Aku hanya selalu berusaha menyangkalnya, tak mungkin kalau Bayu mencintai Dira saat dia tahu kalau aku juga mencintai Dira, tapi.... He win her heart since we are still a child," ( Dia / Bayu, memenangkan hati Diandra sejak kita masih anak-anak ), sambung Haryo.
"You'll find your fate, suit you better than my sister," ( Kau akan menemukan pasanganmu yang lebih sesuai denganmu dibandingkan adikku ), hibur Danu sambil menwpuk bahu Haryo.
"I love her so bad, Dan," gumam Haryo.
"I know, but I'm sorry, I can't sacrifice her feeling and her happiness, I'm truly sorry," ( Aku tahu, tapi maafkan aku, aku tak bisa mengorbankan perasaan dan kebahagiaannya, aku benar-benar minta maaf ), ungkap Danu jujur.
"I know," sahut Haryo lirih.
Mereka berdua duduk dalam diam, Danu menemani Haryo yang hanya menangis tertahan sampai dia tenang.
Ada kalanya lelaki menangis karena harus melepaskan seseorang yang menjerat hatinya, seperti Haryo saat ini, ditambah dia menyesali sikapnya pada Diandra saat mereka pertama kali berjumpa dulu.
__ADS_1
Padahal dulu di masa kecil mereka, Diandra sering mengikutinya kemanapun dan dia selalu bermain dengan Diandra, walaupun dia sering menggerutu karena memainkan permainan anak perempuan sekaligus mengasuh Diandra, namun dia tak pernah sekalipun membentak atau mengasari Diandra.
Namun itu dulu.... Dulu sekali.... Di saat Diandra kecil masih berusia 2 sampai 4 tahun, setelah itu Diandra lebih sering bermain dengan Bayu, karena Haryo harus mengikuti pendidikan intern keluarga Wicaksono sehingga dia jarang datang berkunjung ke rumah keluarga Perwita. Jadi tidaklah mengherankan jika benih cinta dan sayang tumbuh subur di antara Bayu dan Diandra.
"Dan.... Kalau saja saat itu aku tidak menunjukkan sifat arrogant pada Diandra, akankah dia menyukaiku?" tanya Haryo lirih.
"Pasti, karena Diandra memang tidak menyukai pria kasar dan arrogant. Aku tahu kalau kau dan Bayu punya sifat yang sama, tapi Bayu lebih bisa mengontrol dan menempatkan kapan dan di mana sifat itu harus dimunculkan," jawab Danu, "aku tahu saat pertama kau bertemu Diandra, kau tak tahu kalau Diandra si karyawan magangmu itu adalah Diandra adikku, tapi seharusnya terhadap orang baru, bersikaplah lebih ramah," sambung Danu memberi masukan.
"Aku tak terbiasa menghadapi perempuan," gumam Haryo.
"Begitupun Bayu, kan?" tanya Danu.
Haryo terdiam, benar kata Danu, dia dan Bayu sama-sama mempunyai sifat arrogant, kasar dan cool, hanya saja, Bayu lebih bisa menempatkan dimana dan kapan Bayu harus bersikap seperti itu. Saat bertemu Diandra untuk pertama kalinya, mereka sama-sama tidak tahu kalau Diandra adalah Diandra yang sama dengan yang mereka cari, namun entah mengapa, Bayu bisa bersikap ramah dan mengayomi pada Diandra, tak seperti sikap Bayu kepada para karyawati ataupun klien bisnis yang berjenis kelamin wanita.
"Aku menyesal," ucap Haryo lirih.
"Rubahlah sifatmu, aku tahu kau bersusah payah merubahnya di depan Rara, hanya saya usahamu masih kalah dengan emosimu," sahut Danu.
Kembali mereka terdiam, sampai akhirnya Danu melihat Diandra dan Bayu beranjak pergi meninggalkan taman dan bergegas masuk ke dalam rumah sakit.
"We need to go, they're heading back to the ward," ( Kita harus pergi, mereka kembali ke bangsal ), ajak Danu.
"...." Haryo hanya diam tapi dia ikut beranjak berdiri.
"Are you ok?" tanya Danu cemas.
"I'm good, sooner or later, I need to face them," ( Aku nggak apa-apa, sekarang atau nanti aku bakalan harus bertemu mereka kan ), jawab Haryo.
"Okay, let's go," ajak Danu, mereka berdua bergegas masuk dan melangkah menuju ruang rawat inap Diandra.
__ADS_1