
"Bay, sebaiknya Rara nggak tinggal sama kamu dulu deh, dan lebih baik juga kalau kalian nggak ketemu dulu," usul Dimas sambil menyesap kopinya.
"Hah...." Bayu menatap tajam sahabatnya.
"Demi keamanan Rara," bujuk Dimas.
"Rara akan baik-baik saja, lagi pula kami menikah minggu depan," bantah Bayu, enak saja memisahkan dirinya dengan Diandra.
"Kamu tahu kan kalau kamu bakal jadi sasaran empuk Kentaro untuk dimata-matai?" tanya Dimas cemas.
"Tahu, dan itu nggak masalah, Senoaji Guard and Spy tak kalah handal dari Furainoduragon," jawab Bayu yakin, karena Senoaji Guar and Spy jebolan Senoaji Training Camp adalah bodyguard dan mata-mata bertaraf internasional dan bersertifikat resmi.
"Kau ini...." gerutu Dimas kesal.
Tiba-tiba ponsel Dimas berdering, Dimas melihat ID pemanggilnya adalah Haryo.
'Hey, what's up bro?' sapa Dimas begitu menerima panggilan Haryo.
'Where's Dira? Aku balik ke rumah sakit, tapi Dira sudah discharge kata perawat jaga, Dira dimana?' tanya Haryo cemas, karena setahunya Diandra baru diperbolehkan pulang besok lusa, jika Diandra pulang paksa hari ini, pasti terjadi sesuatu.
'Rumah Bayu, ada sesuatu, kau kemarilah lewat jalur bawah, langsung ke bunker saja,' jawab Dimas dengan sedikit memberi penjelasan singkat.
'Ok, aku ke sana,' balas Haryo yang langsung memutus sambungan telepon mereka dan dengan segera dia menjalankan Jeep Grand Cherokee miliknya dengan kecepatan penuh, tak peduli dengan padatnya jalanan Jogja. Dia hanya ingin mengetahui masalah apa yang terjadi.
"Haryo?" tanya Bayu pada Dimas yang sedang memainkan ponselnya.
"Hm... Dia dalam perjalanan kemari," jawab Dimas sambil meletakkan ponselnya ke atas meja.
"Lewat jalur bawah?" tanya Bayu lagi.
"Iya, langsung masuk kesini," jawab Dimas, dia memijat keningnya karena kepalanya terasa pening akibat belum makan siang.
"Lapar?" tanya Bayu pendek.
__ADS_1
"Iya lah, gila aja, ini sudah lewat makan siang, Rara juga belum makan tau," omel Dimas kesal.
"Astaga, aku lupa," seru Bayu yang langsung bangkit berdiri, dia mengambil ponsel dan segera mengirim pesan kepada Bi Tami agar menyiapkan makan siang simple untuk 4 orang dan juga untuk Bi Tami sendiri, suaminya dan juga Toyo.
Namun Bi Tami membalas kalau dirinya, suami dan juga Toyo sudah makan siang sehingga Bayu memintanya menyiapkan makan siang untuk 4 orang saja.
Lalu Bayu kembali duduk di sofa.
"Tunggu sampai Haryo datang, kita makan sama-sama, Bi Tami baru mau menyiapkan makan siang," ucap Bayu.
"Oke, aku tahan rasa laparku sampai Haryo datang," sahut Dimas pasrah.
Bayu mengulurkan sekotak nougat buah pada Dimas.
"Nougat? Beli dimana?" tanya Dimas dengan mata berbinar, pasalnya jarang sekali dia menjumpai toko yang membuat nougat rumahan.
"Enak saja beli, Rara yang buat, kalau bukan karena kamu sudah nolongin Rara, malas kali ku bagi nougat ini sama kamu," gerutu Bayu kesal, pasalnya Diandra yang membuatkan nougat buah ini khusus untuk Bayu karena Bayu suka sekali dengan nougat buah dan nougat almond. Bayu senang dan bahagia, pasalnya nougat buah ini dibuat oleh sang kekasih dan dikemas dengan sangat cantik sehingga Bayu tak tega memakannya, dia bahkan hanya makan sehari 1 buah nougat walau tak cukup untuknya.
Bayu yang melihat perbuatan Dimas terbelalak kaget.
"Hey, satu saja, nougat itu sangat berharga," gerutu Bayu sambil berusaha merebut 2 buah nougat yang belum masuk ke dalam mulut Dimas yang masih berusaha menikmati rasa asam manis segar strawberry dan blueberry dan rasa creamy milky dari adonan nougat yang lumer di mulut. Dimas yang kaget karena tiba-tiba tangan Bayu terulur ingin meraih nougat yang masih utuh di tangannya, langsung cekatan membuka pembungkusnya dan memasukkan dua buah nougat langsung ke dalam mulutnya, akibatnya dia kesusahan menutup mulutnya apalagi mengunyah nougat yang bersemayam di dalam mulutnya.
Bayu kesal sekali karena 4 buah nougat buatan Diandra yang berharga hatus berakhir sia-sia di dalam mulut Dimas, namun saat dia melihat ekspresi Dimas yang kesulitan mengunyah, dia tersenyum sinis.
"Hah... Rasain," ejek Bayu, Dimas hanya bisa mendelik pasrah dan pelan-pelan berusaha mengunyah nougat yang ada di dalam mulutnya.
Lima menit berlalu, akhirnya nougat dalam mulut Dimas habis dikunyah dan ditelannya dengan susah payah, Dimas sampai mengeluarkan air mata karena mulut dan rahangnya terasa sangat sakit saat ini.
"Ngopo nangis?" ( Kenapa nangis? ), tanya Bayu setengah mengejek.
"Crigis, nek kono ga nggarai gak kirone aku kelaran koyo ngene, konco cek kejem," ( Cerewet, kalau kamu nggak mengganggu nggak akan aku kesakitan kaya gini, dasar sahabat kejam ), omel Dimas dengan logat Jawa Timurnya, karena kedua orang tua Dimas memang berasal dari Jawa Timur, tepatnya Mojokerto, namun lama menetap di Yogyakarta karena sang ayah bertugas di rumah sakit umum di Yogyakarta sejak Dimas lahir.
"Salahmu dewe, ngerti lho kui gaweane Rara, isih wae nekat ngembat," ( Salahmu sendiri, sudah tahu itu buatan Rara, masih aja nekad ngembat ), sahut Bayu sambil tersenyum sinis.
__ADS_1
"Nougat membawa petaka," gerutu Dimas.
"Buatmu," balas Bayu.
Tiba-tiba lantai yang berada di tengah ruangan terbuka dan muncul ke atas sebuah kotak kaca berukuran 1,5 meter x 1,5 meter x 2,5 meter.
Perlahan kotak kaca itu terbuka dan Haryo keluar dari dalam kotak kaca itu dengan terburu-buru, lalu Haryo bergegas menuju sofa dan duduk di sana.
"Apa yang terjadi?" tanya Haryo langsung tanpa basa basi.
"Kita ke atas makan dulu, Bi Tami bilang makan siang sudah siap," ajak Bayu yang segera bangkit berdiri diikuti Dimas.
Haryo masih duduk dengan wajah bengong melompong kaya kambing ompong, tapi ganteng berwibawa khas lelaki Jawa.
"Yo, ayo makan dulu," ajak Dimas sambil menepuk bahu Haryo.
"Hah? Ah, aku nggak lapar, ayo cepat katakan apa yang terjadi?" desak Haryo tak bergeming dari duduknya.
Tiba-tiba.....
KRUK.... KRUYUUUUKKKK.... KRUUUUUK.....
Terdengar bunyi nyaring dan tak merdu dari perut Haryo yang membuat kedua sahabatnya bertukar pandang lalu tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha.... Ndobos ( bohong ) banget mulutmu bilang nggak lapar, lah wetengmu krucuk-krucuk ( perutmu aja bunyi )," ledek Dimas.
"La yo bener to Dim, lambene ra luwe, sek luwe kan weteng e," ( La iya benar, Dim, mulutnya nggak lapar yang lapar kan perutnya ), Bayu menimpali di tengah tawanya.
"Aku belum makan, soalnya," gumam Haryo lirih.
"Lha ya ayo makanya makan siang dulu, nanti kita lanjut lagi, lagian Rara juga belum makan siang," bujuk Bayu pada Haryo.
"Ah, Dira belum makan? Ayo deh," sahut Haryo yang segera bangkit dan mengikuti kedua sahabatnya.
__ADS_1