
Di tengah perjalanan menuju meeting room 2, Bayu menghentikan langkahnya di depan ruang Departemen HSE yang berada satu lantai dengan meeting room 2, lalu mengintip ke dalam, tapi dia tidak melihat Diandra karena terhalang oleh partisi-partisi yang memisahkan meja para staff. Bayu mendesah kecewa, lalu dia melanjutkan langkahnya meniju meeting room 2 yang berada di seberang ruangan HSE.
Ari hanya bisa mendengus menghadapi kebucinan Bayu, atasannya yang biasa berhati dingin dan expressionless, mendadak bisa galau dan nggak jelas hanya karena seorang gadis bernama Diandra. Kalau boleh jujur, Ari sebetulnya sempat tertarik dengan Diandra, tapi begitu tahu kalau Diandra adalah gadis impian sang Boss, mau tak mau Ari membunuh perasaannya, walaupun kalau dia bertemu dengan Diandra dia masih merasa deg-degan dan gugup. Tapi Ari lebih sayang pekerjaan dan nyawanya, jadi dia memilih bermain aman saja.
Bayu melangkah masuk ke meeting room 2 diikuti oleh Ari, di sana sudah menunggu dua orang pria kebangsaan Jepang, seorang di antara mereka sudah pernah Bayu temui saat penandatanganan kontrak kerja sama pertama mereka, sedangkan seorang lagi baru Bayu lihat hari ini dan ada seorang wanita pribumi yang berwajah cantik khas wanita Jawa.
Bayu menganggukkan kepalanya sedikit ke arah mereka dan mereka membalas mengangguk dan tersenyum. Tapi Bayu merasa risih dengan senyuman wanita yang datang bersama kliennya, senyuman yang khas seperti wanita nakal yang sangat Bayu benci.
Bayu mengacuhkannya dan memulai pembicaraan kerja sama dengan lelaki Jepang yang dulu menandatangani kontrak kerja pertama, lelaki itu bernama Yoshiko Matsushita, dia sepupu dari pemilik Matsushita Company, seorang pria lagi dari mereka diketahui bernama Ryoji Kuronuma, Manager Pemasaran dari kantor pusat mereka yang berada di Jepang.
Namun diluar dugaan Bayu, wanita yang datang bersama mereka berdualah yang menjadi juru bicara dan membahas perjanjian baru mereka.
"Jadi Mr. Yoshiko, untuk kerja sama yang baru, kami meminta pihak Matsushita Company untuk selalu mengirim 4 design baru untuk setiap jenis furniture dalan setiap bulannya, apakah anda setuju?" tanya Bayu datar, tangannya menghindari sentuhan wanita yang diketahui adalah asisten pribadi Yoshiko yang bernama Widya.
"Pak Bayu, Mr. Yoshiko tidak keberatan dengan isi perjanjian yang baru, jadi kita bisa memprosesnya sekarang," sela Widya sambil menyentuh tangan Bayu, dan itu membuat Bayu bertambah kesal, Bayu adalah seorang penderita mysophobia, jadi dia tidak suka disentuh oleh sembarangan orang, terutama orang asing.
Ari yang melihat perubahan mimik wajah Bayu langsung mendekatinya dan segera memberikan tissue antiseptic. Bayu langsung menerimanya dan segera membersihkan bekas sentuhan Widya. Perbuatannya sontak membuat raut wajah Widya berubah. Dia menatap Bayu dengan tatapan tak percaya.
"Pak Bayu, bukankah anda keterlaluan?" tanya Widya dengan suara tinggi melengking.
Bayu tidak menjawab, dia langsung beranjak dari duduknya dan meninggalkan meeting room 2 dengan langkah lebar dan tanpa menoleh.
Yoshiko merasa diremehkan, dia memanggil Bayu dengan suara lantangnya.
"Mr. Bayu, stop right there, pembicaraan kita belum selesai, beraninya anda pergi begitu saja, anda tidak menghormati saya?" bentak Yoshiko.
"Talk to my personal assistant," sahut Bayu tanpa memandang Yoshiko, lalu dia melanjutkan langkahnya keluar ruangan.
__ADS_1
"Beraninya dia meremehkan aku!" seru Yoshiko dengan suaranya yang menggelegar.
"Mr. Yoshiko, bukankah anda duluan yang meremehkan atasan saya? Beliau mengajak anda berbicara, tapi anda memilih diam dan membiarkan asisten anda yang menjawab, sedangkan kita semua tahu kalau anda sangat fasih berbahasa Indonesia bahkan Bahasa Jawa, jadi jangan salahkan atasan saya kalau beliau merasa tersinggung," jelas Ari dengan nada sopan, "dan perlu diketahui kalau atasan saya itu adalah seorang mysophobia atau germophobia, jadi dia sangat benci jika disentuh orang asing, bahkan bisa menimbulkan rasa jijik berkepanjangan pada orang itu, jadi Bu Widya sebaiknya perhatikan perilaku anda," tambah Ari.
Yoshiko sedikit tertegun, dia membawa Widya dan memintanya bernegosiasi dengan perwakilan PT. Wicaksono World dengan harapan mendapat penawaran kontrak yang lebih baik, karena Widya adalah wanita cantik yang cakap dalam bernegosiasi dan menyenangkan lawan bicara yang berjenis kelamin lelaki, dia tidak menyangka kalau Bayu adalah penderita mysophobia yang tidak suka sentuhan orang lain.
"Saya rasa Pak Bayu sebagai perwakilan perusahaan kami sudah tidak menginginkan kerja sama ini lagi, karena pihak anda terlalu meremehkan kami, dan perlu diingat, yang membutuhkan kerja sama ini adalah perusahaan anda, bukan perusahaan kami," Ari menambahkan kata-kata yang membuat Yoshiko, Widya dan Ryoji tercengang, wajah mereka pucat pasi, sudah bisa dipastikan kalau CEO mereka, yang merupakan sepupu Yoshiko, akan mengamuk kalau mereka kehilangan kontrak kerja sama ini.
"Pak Ari, mohon pertimbangkan lagi, kami benar-benar minta maaf, tolong sampaikan kepada Pak Bayu bahwa kami meminta maaf dan ingin mengadakan pembicaraan ulang tentang kontrak kerja sama ini," bujuk Widya dengan nada merengek dan manja, membuat Ari jengah mendengarnya, pantas saja Bayu mengamuk tadi.
"Maafkan saya, bukan wewenang saya memberikan keputusan, lebih baik anda sekalian kembali, dan silakan membuat janji ulang pertemuan dengan Pak Bayu," Ari membuat gestur tubuh sedikit membungkuk dan tangaunnya terulur mengarah ke pintu.
Wajah Yoshiko menggelap, baru kali ini dia diusir, apalagi oleh seorang asisten. Dengan kesal, Yoshiko melangkahkan kaki keluar dari meeting room diikuti oleh Ryoji dan Widya.
Mereka bertiga berpapasan dengan Bayu yang terlihat membantu Diandra berjalan menuju toilet.
"Mr. Bayu, you are so fake, tadi anda menolak sentuhan asisten saya dengan alasan mysophobia, tapi sekarang anda tengah memeluk bahu seorang wanita? Mysophobia? Yang benar saja," cemooh Yoshiko sambil tersenyum sinis.
"She is my wife to be, so why should I avoid to touch her?" sahut Bayu dingin.
Yoshiko mengernyit saat menatap wajah Diandra. Yoshiko pernah melihat foto seorang gadis berseragam SMU yang sangat mirip dengan Diandra. Gadis keturunan Tionghoa yang berkulit licin dan halus bagai giok, berparas cantik dengan wajah oval, alis tebal yang rapi, mata almond berwarna coklat cerah, hidung mancung dan bibir yang terbentuk sempurna berwarna peach cerah. Kenapa dia ada di sini? Sepupunya mencari gadis itu karena lima tahun lalu dia menghilang, dan sekarang dia ada di sini? Calon istri Bayu? Is she the same person with the picture on my cousin's bedroom? Or she just have a similar looks with the girl in the photo? Yoshiko bertanya-tanya di dalam hati.
Bayu tersulut emosi saat melihat Yoshiko menatap Diandra dengan tatapan aneh.
"Watch your eyes, or I will gauge your eyes out!" ancam Bayu, Diandra bergidik ngeri, Bayu kalau cemburu memang mengerikan.
"I'm sorry Mr. Bayu. Maaf karena mengira mysophobia anda hanya pura-pura. Dan maaf atas kejadian tadi, kami harap anda masih mau meneruskan kerja sama ini," ucap Yoshiko sambil setengah membungkuk diikuti Widya dan Ryoji.
__ADS_1
"Silakan menghubungi asisten saya untu janji temu yang baru." sahut Bayu datar, "dan berhenti memandangi calon istri saya dengan tatapan aneh anda, atau anda akan segera kehilangan kedua bola mata anda" ancam Bayu sambil melemparkan tatapan membunuh pada Yoshiko. Otot di sekujur tubuh Bayu menegang dan nafasnya sedikit berat karena menahan amarahnya.
"Big Bun...." Diandra meremas tangan Bayu dengan lembut, berusaha menenangkan emosi Bayu, dan berhasil. Otot tubuh Bayu merileks dan nafasnya kembali teratur.
Yoshiko mengalihkan pandangannya dari Diandra, lalu menatap Bayu dengan tatapan menyesal.
"Maafkan saya Mr. Bayu, saya hanya merasa takjub dengan wajah calon istri anda, dan saya merasa familiar. Bolehkan saya bertanya kepada anda, nona?" ucap Yoshiko sopan namun tidak menyembunyikan rasa penasarannya.
Diandra menatap Bayu, lalu Bayu memberikan gumaman pendek, Diandra pun mengangguk mengiyakan permintaan Yoshiko.
"Apakah nona mengenal sepupu saya?" tanya Yoshiko.
Kening Bayu mengernyit, sementara Diandra bingung karena tidak tahu apa yang dimaksud pria Jepang yang ada di hadapannya dan Bayu.
"Maaf, sepupu anda siapa? Tapi saya rasa saya tak mengenalnya, karena saya tak mempunyai teman atau kenalan berkebangsaan atau keturunan Jepang," jawab Diandra jujur. Jangankan teman orang Jepang, teman yang sama-sama orang Jogja pun dia tak punya.
"Oh, benarkah? Sepupu saya bernama Kentaro Matsushita," jelas Yoshiko.
"Maaf saya tidak kenal," sahut Diandra sopan.
"Oh, berarti saya salah orang," Yoshiko membungkuk menandakan dia meminta maaf.
"Baiklah, maaf sudah menahan kalian berdua, kami mohon diri, saya akan menghubungi asisten anda untuk pembahasan ulang kerja sama kita, Mr. Bayu," ucap Yoshiko berpamitan dan melangkah meninggalkan Bayu dan Diandra.
"Cutie beneran nggak kenal sepupu orang itu?" tanya Bayu.
"Nggak kenal, Rara mana punya kawan kak? Rara kan takut bergaul dan selalu menyendiri, teman Rara cuma Kak Danu," jawab Diandra sedih, dia terlalu takut berkawan, karena saat SMU dulu dia pernah berteman dengan seorang teman sekelasnya tapi ternyata teman itu adalah salah satu orang suruhan Suwito, dan suatu hari Diandra hampir dicelakai olehnya, jika saat itu anak buah Wira tidak membututinya, maka mungkin sekarang Diandra hanya tinggal nama.
__ADS_1