
Mereka tiba di RM. Raminten pukul 18:30, Diandra masih tidur di bahu Bayu. Danu dan Haryo memberi tahu kalau akan sampai di sana sekitar pukul 19:00, jadi Bayu memutuskan untuk membiarkan Diandra tidur 10-15 menit lagi.
Jantung Bayu berdebar tak menentu karena selama di perjalanan tadi, Diandra terus mengigau, memanggil namanya dan berkali-kali bilang 'Rara sayang Kak BayBay'.
Kata-kata itu hampir saja meruntuhkan pendiriannya. Ingin rasanya memiliki Diandra seutuhnya tanpa mempedulikan Haryo, tapi Bayu tidak bisa mengorbankan ikatan persahabatan mereka. Berulang kali Bayu membisikkan 'I love you Rara' setelah mendengar kalimat 'Rara sayang Kak BayBay' . Tapi berulang kali pula Bayu meyakinkan dirinya kalau Diandra menyayanginya seperti halnya Diandra menyayangi Danu, kakaknya.
Bayu menghela nafas panjang. Bingung dengan apa yang harus dia lalukan agar perasaannya tidak berkembang.
"Nggggh.... Eh... Kak Bay.... Maaf ya, Rara seenaknya bobo di bahu kakak." ucap Diandra sesaat setelah membuka matanya seraya menengadahkan kepalanya ke arah Bayu yang sedang menunduk menatap wajah Diandra.
Caught of guard, Bayu terkejut dan tak sempat memalingkan wajahnya, sehingga wajah mereka hanya berjarak beberapa centimeter saja, mereka dapat merasakan hembusan nafas masing-masing.
"Kak.... " gumam Diandra, matanya lekat menatap bola mata kecoklatan milik Bayu.
"Ra.... " bisik Bayu, nafasnya mulai tak teratur, perlahan tanpa dia sadari, Bayu mendekatkan wajahnya ke arah Diandra.
Tepat sesaat sebelum bibir mereka bersentuhan, terdengar suara ketukan di jendela mobil yang segera menyadarkan mereka berdua. Buru-buru Diandra menegakkan duduknya dan melepas pelukannya dari lengan Bayu, dan Bayu pun segera memalingkan wajahnya dan mengatur nafas. Wajah keduanya memerah bagai udang rebus.
"Pak Bayu, mejanya sudah siap, bisa masuk sekarang." terdengar suara Ari yang tak terlalu keras, takut kalau Diandra masih tidur dan terganggu, bisa ngamuk bosnya ini.
"Ehem... Ok, kami turun." sahut Bayu, sambil menatap Diandra yang sedang merapikan rambut dan bajunya.
"Sini Ra..." Bayu membantu menyisir rambut Diandra menggunakan sisir yang diambilnya dari dalam kontainer kecil di dalam mobil.
"Digerai saja ya?" tanya Bayu sambil terus menyisir dan merapikan rambut Diandra, sedangkan Diandra wajahnya semakin memerah dan tak berani menatap Bayu, takut jantungnya tak kuat dan berhenti mendadak.
__ADS_1
"Nah... Perfect... Cantik!" Bayu meletakkan sisir kembali ke dalam kontainer dan membelai lembut pipi Diandra yang memanas, semburat merah menjalar dari pipi ke leher dan telinganya.
"Ma-makasih Kak BayBay." Diandra menunduk malu, takut ketahuan kalau berdebar-debar.
"Yuk turun, Danu sama Haryo agak telat datangnya!" ajak Bayu yang sedari tadi berusaha menahan diri mati-matian.
"Ah, iya kak..." Sahut Diandra.
Bayu membuka pintu mobil dan segera keluar, lalu dia bergegas memutar untuk membantu Diandra turun dari mobil dan berjalan masuk.
"Sini tangannya!" Bayu meraih tangan Diandra untuk diletakkan di bahunya dan meraih pinggang Diandra lalu memapahnya masuk ke dalam rumah makan.
Jatung keduanya berdebar tak menentu sejak kejadian di dalam mobil tadi, ditambah sekarang mereka juga berjalan tanpa jarak.
Keintiman mereka berdua mendapat perhatian dari para pengunjung RM. Raminten. Banyak yang mengagumi keserasian mereka dan sembunyi-sembunyi mengambil foto atau video mereka tanpa mereka sadari.
Diandra mengambil ointment dan penahan lutut yang tadi diresepkan oleh Dimas. Diandra berusaha menggulung celana panjangnya ke atas, tapi karena sakit jika lututnya ditekuk, dia jadi kesulitan.
Bayu yang melihat itu, mengerutkan dahinya.
"Mau apa Ra?" tanya Bayu.
"Ah, mau oles ini sama pasang ini kak." jawab Diandra sambil tersenyum kikuk.
"Mana sini!" Bayu segera berjongkok di hadapan Diandra.
__ADS_1
"Maaf ya, kakak gulung celananya!" Bayu minta ijin menggulung celana panjang Diandra.
"Hmmmm...." jawab Diandra tersipu malu.
Perlahan Bayu menggulung celana Diandra sampai di atas lutut, lalu dibukanya ointment dan dioleskan tipis-tipis di lutut Diandra. Setelah itu, dengan hati-hati Bayu memasang penahan lutut pada lutut Diandra, kemudian merapikan kembali celana panjang Diandra.
"Nah, kakak cuci tangan dulu ya, Rara tunggu di sini aja ya!" pamit Bayu.
"Iya, kak!" jawab Diandra sambil tersenyum ke arah Bayu.
"Sebentar ya!" Bayu berbalik, tapi pada saat dia akan melangkahkan kaki ke arah toilet, Diandra menahan tangannya.
"Ya Ra?" tanya Bayu kaget. Lalu tiba-tiba Diandra menarik tangan Bayu lumayan kuat sampai tubuh Bayu membungkuk.
"Makasih ya kak!" bisik Diandra
CHUP!!!
Diandra mengecup lembut pipi Bayu, lalu cepat-cepat memutar badannya. Sedangkan Bayu yang terkejut hanya diam tak bergerak seolah jiwanya melayang entah kemana.
Sesaat kemudian, setelah jiwanya kembali, Bayu menarik nafas dan menegakkan tubuhnya.
"Sama-sama." jawab Bayu yang dengan cepat tapi penuh kasih sayang mengecup kening Diandra, mengusap lembut kepalanya, lalu melangkah ke arah toilet.
Diandra menyentuh bekas kecupan Bayu, lalu perlahan merapa bibirnya.
__ADS_1
'Aaaaaaah.... How am I going to face him later? Malunyaaa.... Kalau kak Danu tau, habis lah aku!' pekik Diandra dalam hati sambil menutup wajahnya yang memerah karena malu. Ingin rasanya mengubur diri dalam tanah saking malunya. Jadi cewek terlalu agresif dan baper karena kebaikan Bayu. Diandra merasa kalau Bayu baik karena dia adalah adik dari sahabatnya. Memikirkan itu rasanya seperti tersayat sembilu.