Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
Tamu Yang Tak Diundang


__ADS_3

Bayu masuk ke dalam ruangannya dan duduk di sofa suede coklat dan segera memanggil Ari.


Barusan Bayu menghubungi orang kepercayaannya untuk menggali informasi tentang Sinta. Jika benar apa yang Danu katakan, sesuai informasi dari Tora, saat udia 16 tahun Sinta sudah melakukan dua kali aborsi dan operasi steril karena kesenangannya melakukan hubungan *** tanpa pengaman.


Mata Bayu berkilat, dia segera menghubungi Dimas karena mengingat informasi penting tentang aborsi Sinta yang dilakukan dengan bantuan Miko, dan Miko adalah senior Dimas dan hubungan mereka lumayan dekat. Bayu akan meminta Dimas berbicara pada Miko agar mau memberikan rekam medis tentang aborsi yang Sinta lakukan 10 tahun lalu.


'Hey Bay, what's up?' tanya Dimas begitu menerima panggilan suara dari Bayu.


'Need your help, bro.' jawab Bayu disambut kekehan Dimas.


'Spill it up, nggak usah basa basi, to the point aja, Bay,' sahut Dimas sambil memainkan pulpen di tangannya, dia masih ada di rumah sakit karena masih ada operasi darurat setelah ini.


'Kamu dekat sama dokter Miko kan?' tanya Bayu.


'Kak Miko? Bisa dibilang gitu sih, dia kan tunangan kakakku juga, kenapa memangnya?' sahut Dimas bingung.


'Perfect!! Coba kau minta tolong pada Dokter Miko untuk melihat rekam medis aborsi Sinta 10 tahun lalu dan juga operasi steril yang dia lakukan,' pinta Bayu.


'Why'd all the sudden?' tanya Dimas lagi.


'Sabtu ini Suwito akan mengadakan acara pertunangan Haryo dan Sinta, tapi kau tau Haryo kan? Sampai matipun dia tak akan mau dengan Sinta, makanya kita cari cara buat menggagalkan pertunangan itu dan juga untuk mempermalukan keluarga Suwito,' jawab Bayu menjelaskan panjang lebar.


'What a great idea, I'm in! Sehabis operasi aku akan temui Kak Miko,' sahut Dimas antusias.


'Temui dia setelah aku bawa Rara untuk kontrol, lututnya sakit lagi sehabis jalan ke dan dari toilet,' cegah Bayu.


'That's normal bro, nothing much to worry,' sahut Dimas sambil mengetuk-ngetuk pulpennya di meja.


'Don't care, you need to check on her knee, aku bawa Rara sepulang kerja nanti,' seru Bayu ngotot.


'Seriously? Ok, aku tunggu di klinikku saja, sekalian praktik sore ini, dasar menyebalkan,' gerutu Dimas.


'Hey, ini Rara, bukan orang lain,' protes Bayu tak suka.


'Ok ok.... I got it, gotta go. Ada operasi darurat lagi ini, see you this evening,' Dimas memutuskan panggilan suara mereka dan bergegas menuju operation room karena pasien sudah diberikan anaesthesia.


Bayu menghela nafas lega, namun detik berikutnya dia terlonjak kaget, karena tanpa dia sadari Ari sudah duduk di hadapannya.

__ADS_1


"Goodness, Ari!!! Are you trying to kill me?" umpat Bayu sambil melempar notes kecil yang selalu ada di atas meja.


Ari terkekeh melihat ekspresi wajah Bayu.


"Maaf, tadi saya sudah ketuk pintu beberapa kali tapi tak ada jawaban, jadi saya masuk dan mendapati Pak Bayu sedang berdebat di telepon tentang kondisi nona Diandra," sahut Ari sambil menahan geli.


"Ehem, nggak baik menguping obrolan atasan, mau dapat SP kamu?" ancam Bayu menutupi salah tingkahnya.


Ari mendengus dalam hati, mana ada Surat Peringatan diberikan pada karyawan yang nggak sengaja dengar obrolan telepon atasannya, dasar atasan bucin, batin Ari meronta-ronta.


"Ada apa Pak Bayu panggil saya?" tanya Ari pura-pura menyesal dan takut dengan ancaman kacangan Bayu.


"Nanti pulang bawalah mobil yang di basement perusahaan, pulang nanti aku akan menyetir sendiri," jawab Bayu sambil menyerahkan kunci mobil Nissan Terrano miliknya pada Ari.


"Pak Bayu mau ke mana?" tanya Ari lagi yang sebenarnya dia sudah tau jawabannya, kemana lagi kalau nggak antar pujaan hati si boss pulang, ya to? Ari meringis dalam hati meratapi dirinya yang masih jomblo dari lahir.


"Antar Rara kontrol dan pulang ke rumahnya nanti, kau pulang dan istirahatlah. Kalau kau ingin cuti katakan saja, kau juga perlu menikmati hidup dan mencari pasangan," jawab Bayu sambil memberi wejangan pada Ari. Mendengar ucapan Bayu, Ari melongo, tumben nih boss ngomong panjang lebar untuk topik yang unfaedah gini, bikin merinding.


"Baik pak, semoga Nona Diandra segera sembuh dari cederanya, saya kembali ke ruangan saya pak," Ari bangkit dari duduknya dan bergegas melangkahkan kakinya keluar ruangan Bayu.


Tak berdiam diri dalam lamunan terlalu lama, Bayu melangkah ke meja kerjanya dan mulai menyibukkan diri dengan berkas-berkas project yang harus dia periksa sebelum diserahkan pada Haryo untuk ditandatangani.


Sementara itu di ruangan CEO, Haryo sedang uring-uringan karena kedatangan mamanya yang memaksa membawa Sinta masuk ke ruangannya. Namun karena peraturan yang Haryo buat, maka Sinta tetap tak boleh masuk walau hanya ke dalam lobby, jadi Sinta dipaksa menunggu di depan pintu masuk perusahaan sementara mamanya masuk dan mengomel memaksa agar Sinta diperbolehkan masuk.


"Kamu keterlaluan Yo, masa calon tunanganmu tak kamu perbolehkan masuk ke sini?" bentak Ratri pada Haryo.


"Ma, kalau cuma mau ngomong dan marah-marah nggak penting sebaiknya mama pulang, Haryo sibuk nggak ada waktu meladeni mama!" sahut Haryo tegas.


"Kamu itu nggak punya sopan santun pada mama sama sekali!!" bentak Ratri keras.


Haryo meletakkan penanya lalu menatap lekat ke arah sang mama.


"Mama lupa? Sejak kecil mama tak pernah mengajarkan sopan santun pada Haryo, bahkan menyentuh dan menyusui Haryo pun tak pernah mama lakukan, sekarang mama mengharap Haryo menuruti semua perintah mama?" tanya Haryo menyudutkan Ratri.


"Tapi aku tetap mamamu, Haryo!" seru Ratri frustasi.


"Hanya mama secara legal kan? Aku hanya menuruti kata-kata kakek dan nenek, mereka yang jadi orang tuaku selama ini, bukan kalian berdua," sahut Haryo dingin.

__ADS_1


"Sebaiknya mama segera pergi dan jangan lupa bawa juga pelacur itu pergi dari sini," sambung Haryo yang kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya.


"Setidaknya dengarkan dulu penjelasan mama tentang acara pertunanganmu besok," ucap Ratri memohon.


Haryo hanya diam saja, lalu tanganny berhenti menulis dan dengan perlahan bergerak menekan intercom yang ada di atas meja kerjanya.


"Indra, tolong ke ruangan saya, antar mama saya keluar dari ruangan saya segera," perintah Haryo pada Indra yang mengejutkan Ratri.


Tak lama Indra masuk ke ruangan Haryo, dan Haryo segera memerintahnya mengantar Ratri keluar dari perusahaannya.


"Indra, tolong antar mama keluar dan bilang pada security dan juga receptionist, siapapun yang datang tak akan boleh masuk ke dalam tanpa persetujuan dari saya, ingat SIAPAPUN!" tegas Haryo sambil menatap tajam ke arah Ratri yang juga menatap Haryo dengan pandangan tak percaya.


Ratri melangkah keluar dengan perasaan sedih dan juga kesal karena dipermalukan oleh anak kandungnya sendiri.


Sesampainya di pintu perusahaan, Ratri disambut antusias oleh Sinta yang berusaha masuk ke dalam.


"Kita pulang," ajak Ratri sambil melangkah ke arah mobilnya.


"Eh? Bukannya kita akan membicarakan tentang acara besok sabtu, tante?" tanya Sinta bingung.


"Haryo sibuk, kita pulang," jawab Ratri ketus membuat Sinta merengut jengkel tapi tetap mengikuti Ratri masuk ke dalam mobil.


"Sebenarnya apa yang kau perbuat sehingga Haryo sangat membencimu dan menyebutmu pelacur?" tanya Ratri ketus ketika mereka sudah di dalam mobil dan driver mulai menjalankan mobilnya.


Sinta terkejut dengan pertanyaan Ratri yang ketus dan tajam, dia mengepalkan tangannya menahan geram.


"Sinta nggak berbuat apapun tante, mungkin mas Haryo kesal karena Sinta menggantikan posisi Diandra yang sampai sekarang tidak diketahui keberadaannya," jawab Sinta dengan suara manja yang dibuat-buat.


Ratri tak menanggapi jawaban Sinta, dia hanya menatap tajam ke arah Sinta, tapi dia diam saja. Sinta yang merasa canggung mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


"Kita jadi ke butik kan tante?" tanya Sinta sambil bergelayut di lengan Ratri.


"Hmmm," jawab Ratri bergumam, "Ke Sonya Boutique ya pak Jo," perintah Ratri kepada sopirnya sambil mengusap kepala Sinta.


Sinta mengulum senyum kemenangan, akhirnya Sabtu besok dia resmi menjadi tunangan Haryo, lelaki yang dia dambakan selama ini. Memikirkan Haryo membuat Sinta bergairah, dia melepaskan tangannya dari lengan Ratri dan mengambil ponselnya dari dalam handbag nya, lalu mengetik pesan dengan cepat untuk seseorang, setelah itu meletakkan kembali ponselnya ke dalam tasnya. Bibirnya menyunggingkan senyuman saat membayangkan malam nanti dia akan menghabiskan waktu bersama Jack, pria yang postur tubuhnya mirip dengan Haryo walau wajahnya kalah dari ketampanan Haryo. Sinta sering melakukan hubungan *** dengan Jack sambil membayangkan Haryo.


Di dalam ruangan CEO, tiba-tiba Haryo bergidik dan merasa jijik akan sesuatu, tapi dia tak tau apa itu. Segera dia memanggil Bayu melalui intercom untuk segera datang ke ruangannya.

__ADS_1


__ADS_2