
"Maafkan kakak," gumam Bayu menyesal, mereka melanjutkan langkah menuju toilet yang sempat terhenti karena dicegat Yoshiko.
"Maaf untuk apa kak?" tanya Diandra bingung.
"Maaf karena kakak nggak ada di samping Rara di saat-saat terberat Rara dan Danu," jawab Bayu lirih.
"Nggak apa-apa kak, kan Kak Bayu juga nggak berhenti cari Kak Danu dan Rara, itu artinya Kak Bayu masuh peduli dan khawatir pada kami, itu saja sudah bikin Rara senang," sahut Diandra sambil melempar senyuman manis ke arah Bayu.
"Cutie..." gumam Bayu.
"Kak, tadi kakak bilang ke orang Jepang tadi kalau Rara calon istri kakak, apa nggak apa-apa? Kan peraturan perusahaan nggak bolehin, kalau ketahuan gimana?" tanya Diandra cemas dan juga malu-malu.
"Nggak ada orang, nggak akan ada yang tahu," jawab Bayu santai, mereka sudah sampai di depan pintu masuk toilet.
"Masuk sendiri ya, kalau kakak ikut masuk nanti dikiranya kakak cabul," gurau Bayu sambil tertawa ringan.
"Iya lah, emang ngapain kakak ikut masuk? Ngintip?" tanya Diandra sedikit sewot.
"Ngapain ngintip, besok kalau sudah jadi suami istro juga bakalan lihat, live show, rugi sekarang ngintip-ngintip, besok jadi hilang gregetnya," seloroh Bayu sambil tersenyum nakal.
Wajah Diandra memerah karena malu, buru-buru dia masuk ke dalam ruang toilet sambil berseru, "Dasar Kak Bayu cabul!!!" dan Bayu pun tergelak keras setelah mendengar seruan Diandra.
Ari yang baru keluar dari meeting room 2 mendengar suara tawa Bayu langsung menoleh ke arah sumber suara dan tampak olehnya, sang Boss sedang terpingkal di depan toilet wanita.
'Dih, Pak Bayu sudah bucin, cabul, gila pula.... Gimana nanti nasibku sebagai bawahannya kalau dia masih bucin kronis gini?' jerit hati Ari. Dia belum bisa menerima perubahan Bayu, walaupun perubahan itu hanya akan muncul saat Bayu bersama Diandra atau sedang sendiri, tapi bagi Ari perubahan itu terlalu menakutkan. Bahkan yang berubah tak hanya Bayu, tapi juga Haryo, kelihatannya dua atasannya itu mencintai gadis yang sama, dia sering mendapati Haryo tengah melihat layar monitor CCTV di ruang HSE Departement dan selalu terfokus pada Diandra Ayu Perwita.
Bayj melihat Ari yang sedang menatapnya, lalu memberi kode agar datang padanya. Ari segera melangkah menghampiri Bayu.
"Ya Pak Bayu?" tanya Ari begitu sampai di hadapan Bayu.
"Selidiki Kentaro Matsushita, apakah dia orang yang sama dengan leader Furaingudoragon, bawa semua informasinya ke mejaku sebelum jam pulang kantor," perintah Bayu, terlihat kecemasan di raut wajahnya. Dia merasa menyesal karena Yoshiko bertemu Diandra, bagaimana jika gadis yang dimaksud Yoshiko adalah Diandra? Bukankah pas sekali waktunya, lima tahun lalu sepupu Yoshiko kehilangan jejak gadis yang Yoshiko bilang mirip Diandra, sedangkan Diandra dan Danu terlepas dari pengejaran dan pengintaian Furaingudoragon dan Suwito juga lima tahun yang lalu.
Kalau memang Diandra adalah gadis yang Yoshiko maksud, maka Diandra tidak aman lagi berada di sini, dia harus mencari cara agar Diandra aman dan tidak terancam bahaya.
__ADS_1
Ari menatap Bayu bingung, CEO Matsushita Company ada hubungan dengan leader Furaingudoragon? How's that possible? Tapi Ari hanya bisa mengangguk dan melaksanakan perintah dari atasannya tanpa protes.
"Baik, Pak Bayu," jawab Ari dan bersiap untuk pergi, tapi Bayu kembali memanggilnya.
"Ari, cari tahu juga siapa gadis yang dia cari dan apa hubungannya dengan gadis itu," perintah Bayu dan Ari mengangguk mengiyakan, setelah itu Bayu baru memperbolehkannya pergi.
Setelah Ari menghilang dari pandangan Bayu, Diandra melangkah keluar dari toilet, Bayu dengan sigap meraih tangannya dam membantunya berjalan.
"Kak, sebenarnya Rara bisa loh jalan kesini sendiri, nggak perlu kakak bantu, Rara kan ada kruk ini," ucap Diandra, dia merasa sudah sangat merepotkan Bayu.
"It's ok, it's not everyday though, kebetulan aja kan tadi kakak lihat kamu keluar?" sahut Bayu memberi alasan, padahal sebenarnya dia memang ingin menemui Diandra di ruangan HSE tadi, hanya sekedar ingin melihatnya. Entah kenapa dia selalu merasa rindu pada Diandra setelah pertemuan kembali yang terjadi beberapa hari yang lalu.
"Tapi Rara jadi bikin Kak Bayu telat balik ke ruangan," protes Diandra.
"Nggak akan ada yang marahi kakak juga," jawab Bayu sambil terkekeh lirih.
"Nanti si Boss ngamuk," gumam Diandra tak suka saat membayangkan Haryo memarahi Bayu.
"Speak of the devil," desis Bayu geli.
"Tuh!" jawab Bayu singkat sambil mengarahkan pandangannya ke depan, Diandra mengikuti arah pandangan Bayu dan mendapati Haryo tengah berdiri tegak di depan pintu masuk ruang HSE dengan wajah masam diliputi mendung tebal.
"Ck, pasti mau marahin kakak," gerutu Diandra tak suka, matanya memancarka kebencian yang diarahkan pada Haryo.
"Honey, jangan menatapnya seperti itu, dia sahabat kakak dan juga kakakmu, ditambah Haryo sangat menyayangimu," bisik Bayu.
"I don't buy it," gumam Diandra, dia tidak menerima alasan yang diberikan Bayu agar dia tidak membenci Haryo. Karena menurutnya Haryo yang sekarang bukanlah Haryo yang dia kenal dulu.
Bayu hanya bisa menghela nafas panjang, sepertinya jalan menuju arah Diandra dan Haryo berbaikan masih panjang.
Bayu dan Diandra sudah sampai di hadapan Haryo, Diandra ingin segera masuk dan kembali duduk, karena lututnya terasa nyeri, tapi melihat Haryo berdiri tepat di depan pintu masuk ruangan HSE, mau tak mau Diandra menahan nyerinya, entah apa maksud Haryo menghalanginya masuk kembali keruangannya.
"Yo, Rara mau masuk, dia sudah kelamaan berdiri," ucap Bayu, dia merasa Diandra tengah menahan sakit.
__ADS_1
"Cih," Haryo berdecih tak percaya, lalu matanya menatap Bayu dengan nanar.
"You said you'll sign new contract deal with Matsushita Company, but I only saw you flirting with her," ucap Haryo dengan nada datarnya dan itu membuat telinga Diandra panas.
"We will sign it on the other day, we don't meet an agreement today," jawab Bayu jujur, karena memang mereka belum sepakat dikarenakan sikap dari perwakilan Matsushita yang seenaknya sendiri.
"Lalu kenapa kalian berdua di sini?" selidik Haryo, dia cemburu dan tidak terima melihat kedekatan Bayu dan Diandra yang dia rasa semakin hari semakin akrab.
"Aku lihat Rara mau ke toilet tadi sewaktu aku mau balim ke ruangan, jadi aku antar sekalian," jawab Bayu dengan tenang.
"Can't she just go by herself?" bentak Haryo, suaranya menggelegar sampai staff yang berada di dalam ruangan mendengar dan beberapa melongok keluar, tapi saat melihat punggung Haryo berada di depan pintu, mereka kembali duduk dan mengerjakan pekerjaan mereka lagi.
"Come on, can't you see that she's struggling while she's walking? Aku cuma bantu Rara jalan ok?! I'm not flirting with her in any way!" sahut Bayu dengan meninggikan suaranya. Haryo tertegun, baru kali ini Bayu meninggikan suara padanya.
"Dira bawa kruk, dia bisa jalan sendiri," helah Haryo, sebetulnya dia tidak tega melihat Diandra kesusahan berjalan, tapi dia lebih tidak rela melihat kedekatan Diandra dengan Bayu, mereka terlihat sangat dekat dan intim.
"Seriously, Yo?!" Bayu menatap tajam mata Haryo, dia ingin Haryo sedikit merubah sifatnya tapi karena cemburu, dia menjadi kasar dan kekanakan di hadapan Diandra. Bagaimana dia berharap Diandra bisa menyukai dirinya sedangkan sikapnya masih seperti ini.
Diandra sangat membenci sifat kasar Haryo, dia tak tahan lagi.
"Maaf pak, memang benar saya bisa jalan sendiri, Kak Bayu bantu saya mungkin karena kasihan lihat saya kesusahan jalan, saya minta maaf karena sudah menghambat Kak Bayu kembali menjalankan tugasnya sebagai sekretaris Pak Haryo," Diandra buka suara dan dengan sedikit membungkukkan badannya Diandra meminta maaf pada Haryo.
"Dira, aku...." Haryo tergagap, sekali lagi dia membuat Diandra menilai buruk dirinya.
"Maaf sekali lagi, Kak Bayu tidak salah, seharusnya saya tadi tidak keluar dan berpapasan dengan Kak Bayu, kalau mau menghukum, hukum saya saja, salah saya kenapa saya bekerja di sini dan selalu menyusahkan Kak Bayu, tapi sebelum Pak Haryo menghukum saya, ijinkan saya menyelesaikan pekerjaan saya, dan jika anda ingin saya keluar, surat resign saya akan saya titipkan kepada Pak Fahri, permisi," ucap Diandra dingin , lalu dia mendorong Haryo agar menyingkir dari depan pintu, kemudian dia melangkah tertatih masuk ke dalam ruangan HSE, tapi baru empat langkah lututnya mendadak nyeri dan membuat kakinya goyah, Bayu yang menyadari Diandra menahan sakit dan akan segera terjatuh, langsung menerobos masuk dan menangkap tubuh Diandra.
Staff HSE yang melihat kejadian itu nyaris lepas jantungnya, pasalnya jika Diandra jatuh kemungkinan kepalanya akan terantuk ujung meja kaca yang berada tepat di samping Diandra.
Saat Bayu akan membantunya berjalan menuju mejanya, Diandra menolak.
"Tidak usah kak, maaf tadi sudah merepotkan, terima kasih," ucap Diandra sambil memaksakan diri untuk tersenyum, lututnya benar-benar sakit sekarang ini, keringat dingin mengalir deras dan matanya mulai berkaca-kaca. Diandra melepaskan tangannya dari pegangan Bayu lalu perlahan dia berjalan menuju mejanya.
Rudy yang melihat Diandra kesusahan segera bangkit dan mengulurkan tangannya, Diandra terpaksa menyambutnya karena lututnya sudah tidak kuat lagi menopangnya berdiri. Setelah duduk Rudy memberikan segelas air untuknya minum, Diandra mengambil obat pereda nyeri dan segera meminumnya memakai air pemberian Rudy.
__ADS_1
Bayu dan Haryo melihat itu semua, tangan Bayu mengepal, lalu berbalik keluar mdari ruangan HSE sambil mengeluarkan ponselnya dan menelepon Dimas agar meluangkan waktunya memeriksa lutut Diandra.
Sedangkan Haryo masih berdiri terpaku menatap Diandra dengan tatapan bersalah dan menyesal, lalu dengan langkah gontai dia berbalik dan melangkah menyusul Bayu.