Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
Flashback 02 ( Harus Meninggalkan Kota? )


__ADS_3

Kakek Broto termenung sambil memegang gagang pesawat telepon di tangan kanannya. Nenek Sundari menghampirinya .


"Pak, ada apa? Kenapa mukamu kelihatan bingung?" tanya Nenek Sundari cemas melihat suaminya yang bengong.


"Prabu bilang, kita harus segera pindah dan membawa pergi anak-anak dari sini!" jawab Kakek Broto.


"Kenapa?" tanya nenek Sundari lagi.


"Aku tak tau, aku tanya tidak dijawab hanya berkali-kali memintaku membawa anak-anak keluar dari kota ini, katanya keselamatan anak-anak terancam." jawab Kakek Broto.


"Terancam bagaimana maksudnya?" tanya Nenek Sundari panik.


"Kau tenanglah dulu, aku akan mengatur semuanya, perlahan berkemaslah, dalam 1-2 minggu kita pindah, aku akan mencari pembeli rumah ini dan mencari tempat tinggal baru! Kita tidak punya kuasa untuk melakukan segala sesuatu dengan instant, jadi jangan buat anak-anak panik." pinta Kakek Broto.


"Kakek, ada apa sebenarnya?" tanya Danu.


"Tidak ada apa-apa, tidurlah kalian berdua, besok kita telepon pakde kalian dan ambil buku ke rumah ya!" jawab Kakek Broto.


"Baik Kek!" Danu menatap kakeknya, dia yakin sang kakek menutupi sesuatu.


"Rara, ayo tidur!" ajak Danu sambil menggandeng Diandra naik lantai 2 menuju kamar mereka.


"Kakak, apa terjadi sesuatu?" tanya Diandra.


"Entahlah, kakak tidak yakin de... Tapi semoga semuanya baik-baik saja." jawab Danu.


"Om Prabu tadi seperti terburu-buru, nafasnya tersengal-sengal seperti habis berlari." ucap Diandra.


"Benarkah? Apa yang Om Prabu katakan?" tanya Danu.


"Dia hanya bilang ingin bicara dengan kakek secepatnya!" jawab Diandra.


"Aneh, Om Prabu bahkan tidak pernah mengobrol dengan kakek sebelumnya, pasti terjadi sesuatu." gumam Danu.


"Kakak, ade takut!" Diandra memeluk lengan Danu erat-erat.


"Jangan takut, kakak pasti melindungi Rara apapun yang terjadi." Danu memeluk Diandra dan mencoba menenangkannya, walau hatinya sendiri merasa gelisah.


"Rara tidur sama kakak ya?" rengek Diandra.


"Hmmmm.... Iya, ayo... Di kamar kakak atau Rara?" tanya Danu lembut.

__ADS_1


"Di kamar kakak!" Jawab Diandra yang langsung meloncat ke punggung Danu yang lebar.


"Aduh, de... jangan tiba-tiba dong kalau mau minta gendong, kalau kakak nggak siap bisa jatuh lho!" omel Danu.


"Nggak akan jatuh, kan kakak sayang Rara, jadi kakak ga akan biarin Rara jatuh, ya kan?" Diandra memeluk leher Danu sedangkan kakinya menyilang di perut Danu.


"Hehehe.... Iya, kakak memang sayang Rara!" kekeh Danu sambil menggendong Diandra dan membawanya masuk ke kamar.


Danu menurunkan Diandra di atas ranjangnya.


"Sudah, tidur sana, kakak mau cuci muka dulu!" Danu mendorong kepala Diandra perlahan.


"Rara tunggu kakak aja!" jawab Diandra.


"Tunggu sebentar ya!" Danu melangkah ke kamar mandi dan segera mencuci mukanya lalu menggosok gigi. "Ade, gosok gigi sekalian!" panggil Danu dari dalam kamar mandi.


"Sudah tadi kak!" jawab Diandra.


"Ok!" Danu lantas berkumur lalu melap mulutnya dengan handuk kecil. Setelah mematikan lampu, Danu naik ke atas ranjang.


"Ayo sini tidur!" Danu menepuk bantal disebelahnya.


"Ade boleh peluk kakak?" tanya Diandra.


"Ade kangen ibu, biasanya sebelum bobo ibu selalu peluk ade sampai ade tidur!" mata Diandra berkaca-kaca.


"Sini! Kakak peluk sampai kamu tidur!" Danu merentangkan tangannya, lalu Diandra menenggelamkan wajahnya di dada Danu dan terisak lirih. Danu hanya bisa menahan perih. Diandra yang sangat dekat dan manja dengan ibu mereka mendadak harus kehilangan dang ibu di usia yang belum dewasa.


"Jangan menangis, berdoalah untuk ayah dan ibu, agar mereka bahagia di surga!" bisik Danu lirih sambil mengusap kepala sang adik. Diandra terus menangis sampai dia tertidur di pelukan Danu.


Danu menatap sendu wajah sang adik.


'Tidurlah Ra, mulai sekarang kakaklah yang akan menjagamu, memanjakanmu menggantikan ayah dan ibu, tumbuhlah dan berbahagialah walau kita tumbuh tanpa adanya ayah dan ibu.' batin Danu seraya mengusap lembut punggung sang adik yang sudah tertidur pulas.


Keeseokan harinya, Kakek Broto menelepon rumah keluarga Perwita.


"Halo, bisa bicara dengan Suwito?" tanya Kakek Broto.


"Ya, saya sendiri, siapa ini?" tanya Suwito.


"Aku Broto, aku mau menanyakan, apakah bisa kalian mengirimkan buku-buku pelajaran Danu dan Diandra, besok mereka akan masuk sekolah." pinta Kakeh Broto.

__ADS_1


"Mereka sudah tidak memerlukannya lagi, mereka sudah dikeluarkan dari sekolah mereka!" jawab Suwito .


"Apa??? Bagaimana bisa????" teriak Kek Broto.


"Kenapa tidak bisa? Penyumbang dana terbesar sekolah itu adalah keluarga Perwita, jadi apapun yang kukatakan mereka akan melakukannya!" sahut Suwito.


"Mereka masih keluarga Perwita juga, kenapa mereka harus dikeluarkan?" Kakek Broto semakin naik pitam.


"Mereka sudah tidak ada dalam daftar ahli waris, kau bisa apa?" Suwito tergelak dan langsung menutup sambungan teleponnya.


Kakek Broto membanting gagang telepon dengan berang. Tak lama kemudian terdengar suara bel pintu berbunyi.


"Siapa yang datang pagi-pagi begini?" batin Kakek Broto.


"Biar Danu buka pintunya, kek!" ucap Danu sambil melangkah ke arah pintu depan.


"Om Wira?" Danu terkejut saat membuka pintu, ternyata yang datang adalah orang kepercayaan ayahnya yang bertugas di bagian legalisasi.


"Selamat pagi Tuan Muda, apa kabar?" sapa Wira.


"Ada apa Om Wira datang kemari?" tanya Danu penuh selidik.


Wira menoleh ke kanan dan ke kiri, kemudian berbisik, " Kita bicara di dalam saja Tuan Muda, saya ada keperluan dengan Tuan Broto dan juga anda berdua dengan Nona Muda."


"Oh... Ok!" Danu memasang sikap waspada dan mempersilakan Wira masuk, kemudian menutup pintu rapat-rapat.


"Silakan duduk om, saya panggilkan Kakek, Nenek dan Rara." Danu melangkah menaiki tangga menuju ke lantai 2.


Tak berapa lama mereka berkumpul di ruang tamu rumah keluarga Kakek Broto.


"Ada keperluan apa Nak Wira datang kemari?" tanya Kakek Broto.


"Kedatangan saya kemari untuk memberi surat rekomendasi dan pengurusan pindah sekolah untuk Tuan dan Nona Muda, sesuai yang diamanatkan oleh Tuan Besar jika terjadi sesuatu pada Tuan dan Nyonya!" jawab Wira.


"Kami pindah sekolah?" tanya Danu.


"Benar Tuan Muda, anda dan Nona Muda telah dikeluarkan dari International High School Academy Y atas perintah Suwito. Jadi saya membuatkan surat rekomendasi dan menguruskan kepindahan anda berdua ke International High School Association B. Tempatnya agak tepencil di pegunungan, tetapi kualitasnya lebih bagus dari pada sekolah sebelumnya, dan sekolah itu adalah milik sahabat Tuan dan Nyonya Besar." jelas Wira, "Untuk biaya pendidikan dan lainnya semua ada di kartu ini, dan ini adalah telepon genggam bila ada sesuatu yang darurat terjadi, anda bisa menghubungi saya ataupun Prabu!" sambung Wira seraya menyerahkan 2 kartu ATM dan sebuah ponsel calm-shell samsung keluaran terbaru ( 2008 )


"Berbicara soal Prabu, semalam dia menelepon, dan meminta kami segera pergi dari kota ini, karena anak-anak dalam bahaya!" kata Kakek Broto lirih, sehingga hanya Wira yang dapat mendengarnya.


Raut wajah Wira menegang.

__ADS_1


"Sebaiknya Tuan segera pergi, disini sudah tidak aman. Saya khawatir kalau Suwito akan melakukan sesuatu pada anak-anak." bisik Wira.


Tanpa mereka berdua sadari, Danu memperhatikan gerak bibir sang kakek dan juga Wira, dahinya berkerut. Apa yang akan pakdenya lakukan padanya dan Diandra?


__ADS_2