Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
Flashback 07 ( AB 1895 KA )


__ADS_3

Di sebuah bangsal perawatan VIP, nampak Kakek Broto dan Nenek Sundari masih menunggu kesadaran Danu kembali, ditemani oleh Wira yang selalu memantau proses pencarian Diandra.


"Ra.... Rara.... !" rintih Danu, dia mulai menggerakkan jari-jarinya.


"Pak, Danu pak.... panggil dokter pak!" pekik Nenek Sundari senang.


Kakek Broto bergegas keluar ruangan untuk memanggil dokter, sementara Nenek Sundari menemani Danu di dalam ruang rawat inap. Wira yang baru saja tiba di lorong bangsal rawat inap VIP berpapasan dengan Kakek Broto, setelah diberi tahu Kakek Broto kalau Danu mulai siuman, Wira meminta Kakek Broto kembali ke ruang rawat inap Danu, sedangkan Wira bergegas menuju ruang dokter jaga.


Tak berapa lama, Wira memasuki ruang rawat inap Danu bersama rombongan dokter dan perawat yang bertugas memeriksa Danu.


Danu sudah sadar, wajah dan matanya memancarkan kekhawatiran, begitu melihat kedatangan Wira, Danu berusaha untuk bangkit dan duduk, tapi rasa sakit yang di kepalanya membuatnya tak berkutik.


"Om Wira.... Tolong Rara!" rintih Danu lemah.


"Mohon Tuan Muda tenang dulu, biarkan dokter memeriksa Tuan Muda terlebih dahulu, kami sudah mengerahkan seluruh anggota untuk melacak keberadaan Nona Muda!" sahut Wira perlahan, dia paham kekhawatiran Tuan Mudanya tentang keselamatan adik semata wayangnya.


"AB 1895 KA... AB 1895 KA.... Itu nomor Plat mobil mereka, om!" ucap Danu lirih.


Mata Wira berbinar memperoleh petunjuk, lalu dengan segera dia menghubungi anak buahnya untuk melacak mobil dengan nomor AB 1895 KA, seperti yang Danu sebutkan tadi.


Sementara para dokter mengobservasi Danu, Kakek Broto mengajak Wira keluar dari ruang rawat inap VIP.


"Wira, tadi Danu bilang, kalau penculik Diandra adalah lelaki berambut panjang warna coklat, penampilannya seperti gelandangan, di lengannya ada tatto dengan lambang aneh." ungkap Kakek Broto.


"Lambangnya seperti apa, Tuan?" tanya Wira.


"Nanti tanyakanlah ke Danu, aku tak begitu paham denga penjelasannya tadi." jawab Kakek Broto.


"Baiklah, Tuan." sahut Wira hormat.


"Apakah melacak Diandra melalui nomor plat mobil bisa dilakukan?" tanya Kakek Broto cemas.


"Bisa, Tuan. Tekhnologi saat ini sudah cukup maju dan kita bisa melacaknya melalui satelit, beruntung kami sudah memiliki perangkatnya." jawab Wira panjang lebar.


"Syukurlah.... Syukurlah.... !" gumam Kakek Broto, dalam hatinya dia berdoa agar cucu perempuannya segera ditemukan dalam kondisi selamat.


Tak berapa lama, dokter dan perawat yang bertugas merawat Danu keluar, Kakek Broto buru-buru menghampiri mereka untuk menanyakan kondisi Danu.


"Bagaimana kondisi cucu saya, Dok?" tanya Kakek Broto cemas.

__ADS_1


"Kondisi cucu bapak sudah stabil, tinggal pemulihan saja, besok kita lakukan CT Scan untuk mengetahui ada atau tidaknya masalah pasca operasi. " jawab sang dokter.


"Syukurlah.... Syukurlah.... Terima kasih, Dokter!" Kakek Broto sedikit membungkukkan badannya sebagai tanda terima kasih.


"Sama-sama.... Kami permisi dulu pak, kalau ada keluhan silakan tekan tombol pemanggil darurat." sahut sang dokter sebelum melangkah pergi diikuti perawat yang turut memeriksa kondisi Danu.


Sepeninggal dokter dan perawat, Kakek Broto melangkah memasuki ruangan tempat Danu dirawat bersamaan dengan Wira.


"Om Wira...." panggil Danu lemah.


"Ya, Tuan Muda!" sahut Wira.


"Apa Rara sudah ditemukan?" tanya Danu, kecemasan terlukis jelas di wajahnya yang pucat karena kehilangan banyak darah.


"Mohon maaf, Tuan Muda.... Kami belum berhasil menemukannya, kami sedang melacak keberadaan kendaraan dengan plat nomor yang Tuan Muda sebut tadi melalui pantauan satelit." jawab Wira.


"Orang itu.... Penculik itu mempunyai sebuah tatto aneh, seperti lambang organisasi underworld, om." jelas Danu.


"Tatto seperti apa, Tuan Muda?" tanya Wira penasaran. Mungkin tatto itu bisa dijadikan petunjuk siapa yang menculik Nona Mudanya.


"Tatto aneh.... Naga bersayap dalam lingkaran dan lingkaran itu terletak di dalam segitiga sama sisi, berwarna perak atau abu-abu." jelas Danu.


"Naga bersayap?" gumam Wira sambil mengernyitkan keningnya tanda sedang berpikir keras.


Wira masih terdiam, memikirkan sesuatu, dia merasa pernah melihat simbol itu, entah di mana dan kapan, kepalanya berdenyut karena berusaha keras mengingatnya.


Tak berapa lama matanya berkilat, diambilnya ponsel dari saku jasnya, membuka file foto, memilihnya, kemudian dia tunjukkan kepada Danu.


"Apakah lambang ini, Tuan Muda?" tanya Wira.


Danu membelalakkan matanya saat melihat foto yang Wira tunjukkan padanya.


"Iya om, lambang ini!" seru Danu semangat, "Ini lambang apa om?" tanya Danu kemudian.


"Ini lambang underworld organisation Furaingudoragon, pemimpinnya adalah lelaki misterius yang konon katanya berdarah Jepang, dia seorang Yakuza. Dan mereka terkenal kejam." jawab Wira.


"Kenapa mereka menculik Rara? Kami tak kenal mereka ataupun membuat masalah dengan mereka." tanya Danu lemas.


"Mungkin mereka disewa oleh Suwito dan Bagyo, ini mengenai wasiat terakhir Kakek Tuan Muda." jawab Wira.

__ADS_1


"Wasiat apa? Kami tak peduli dengan wasiat dan harta, biarkan aku dan adikku hidup tenang, serahkan semua harta kakek dan ayah ibu pada mereka!!!" pekik Danu histeris, dan langsung pingsan karena tak kuasa menahan sakit saat kepalanya berdenyut keras.


"DANU!!!!!!" teriak kakek dan neneknya bersamaan, sementara Wira bergegas berlari menuju ruang dokter jaga.


●○●○●○●○


Sementara itu di vila di tengah rimbunnya hutan di kecamatan Sedayu, tempat Diandra disekap, terlihat sangat lengang tanpa menunjukkan adanya aktivitas kehidupan di sana.


Di dalam ruang tidur utama, Tora masih menemani Diandra yang tertidur dengan gelisah, bahkan beberapa kali Diandra terbangun dengan keadaan yang memprihatinkan, kadang menjerit ketakutan, kadang terlompat duduk, gemetaran dan menangis.


Hati Tora semakin teriris melihat kondisi sepupunya, dia berada dalam dilema. Di satu sisi dia ingin Diandra tetap berada bersamanya tapi di sisi lain dia tidak tega melihat kondisi psikologis adik sepupunya yang semakin memgkhawatirkan.


Namun akhirnya Tora memutuskan untuk tetap mempertahankan Diandra di sisinya, dia akan berusaha memberikan ketenangan dan kenyamanan kepada sepupu kesayangannya itu, whatever it's take.


Langit sudah mulai menggelap, dinginnya malam mulai menusuk tulang. Tora melepaskan pelukannya dari tubuh Diandra, perlahan dia merangkak turun dari ranjang. Setelah menutupi tubuh Diandra menggunakan selimut, Tora melangkahkan kakinya perlahan keluar dari kamar, setelah menutup pintu, dia segera menuruni tangga untuk mencari keberadaan Kenta.


"Di mana Kenta?" tanya Tora kepada salah seorang anak buah Kenta, yang bernama Tio, yang sedang berjaga di ujung tangga.


"Boss sedang berada di halaman belakang!" jawab Tio sambil menunjuk ke arah belakang rumah.


Tora bergegas menuju arah yang di tunjuk oleh Tio, dan di halaman belakang dia melihat Kenta sedang duduk di tepi kolam ikan sambil memberi makan beberapa ekor ikan koi yang berenang dengan anggun di dalam kolam.


"Kenta, suruh anak buahmu membelikan makan malam yang ringan untuk Rara, dan panggil Miko kesini, sepertinya Rara terserang demam!" pinta Tora.


"Ck, merepotkan saja!" gerutu Kenta.


"Ini semua karena ulah anak buahmu, Bram! Kalau saja dia tak macam-macam, menyentuh Rara, Rara tak akan jadi seperti ini!" bentak Tora.


Kenta menatap tajam ke arah Tora.


"Apa???? Kau pikir aku akan diam saja saat anak buahmu macam-macam pada adik sepupuku, yang bahkan aku sendiripun belum pernah menyentuhnya?!" bentak Tora lagi.


"Hah.... Menyusahkan saja!" Kenta mendengus kesal, kemudian dia segera mengambil ponsel dari sakunya untuk menelepon Miko.


"Hai Mik, datang ke sini, bawa perlengkapan medismu, sepupu kesayangan Tora demam, sekalian kau belikan sesuatu untuknya makan, apapun... kau tau kan menu apa untuk orang sakit?!" seru Kenta yang tanpa menunggu jawaban, langsung menutup sambungan teleponnya.


"Bangsat!!! Seenaknya saja perintah!!!!" umpat Miko. Dengan malas dia mengemas peralatan medis dan beberapa obat untuk merawat Diandra.


Dia menatap ranjang perawatan yang ada di sudut ruangan, di sana tergolek Bram yang baru saja melewati masa kritisnya.

__ADS_1


"Suster, tolong dipantau ya, saya tinggal dulu!" ucap Miko kepada salah satu perawat yang bekerja di klinik kecilnya.


Miko melangkah menuju mobilnya, lalu perlahan memjalankannya menuju alamat yang Kenta berikan. Tak lupa dia membelikan bubur dan beberapa dim sum untuk makan malam Diandra.


__ADS_2