Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
Merelakan


__ADS_3

Haryo dan Dimas sudah duduk di sofa ruang tamu rumah Bayu, mereka menunggu makan siang yang sedang disiapkan oleh Bi Tami dan juga menunggu Bayu membangunkan Diandra. Mereka menunggu dalam diam, tak ada satu pun dari mereka berdua membuka percakapan.


Haryo sesekali melemparkan pandangan di mana kamar Diandra berada, dia tampak tak nyaman dan gusar.


"Kamu nggak apa-apa, Yo?" tanya Dimas memecah kesunyian saat melihat kegelisahan sahabatnya.


"Ya?" Haryo menoleh dan menatap Dimas bingung menanggapi pertanyaan Dimas.


"Aku tanya, kau nggak apa-apa? Kamu kelihatan gusar," sahut Dimas, yang sebenarnya tahu penyebab kegusaran Haryo.


"Hmmm.... Aku oke, hanya saja...." jawaban Haryo menggantung.


"Tidak rela melihat kebersamaan mereka?" tegas Dimas.


"Bukan tidak rela, tapi belum terbiasa, aku juga berat membayangkan mereka berduaan di kamar," jawab Haryo lesu.


"Maafkan aku, karena aku mendukung kebersamaan mereka berdua," ucap Dimas, dia merasa bersalah pada Haryo karena membiarkan Bayu dan Diandra menjadi sepasang kekasih.


"Sudahlah, aku tak apa, sekarang yang terpenting adalah perasaan dan kebahagiaan Dira," sahut Haryo sendu.


Dimas menepuk bahu Haryo memberikan dukungan semangat pada sahabatnya itu, Haryo hanya tersenyum menanggapinya.


Di dalam kamar, Bayu membangunkan Diandra dengan sedikit kesulitan, karena efek obat yang diminum untuk meredakan nyeri, Diandra tertidur dengan sangat pulas.


Berbagai cara dia gunakan untuk membangunkan Diandra, namun sia-sia, Diandra tak bangun sama sekali. Gemas dan geregetan, Bayu mencoba membangunkan Diandra dengan cara ekstrim.


"Cutie, ayo bangun, makan siang dulu.... Kalau nggak mau bangun, jangan salahin aku kalau aku membangunkanmu dengan caraku," bisik Bayu di telinga Diandra.


Diandra tak bergeming, dengkuran halus terdengar keluar dari hidungnya, Bayu jadi semakin gemas, dia mulai mengecup ringan bibir Diandra yang berwarna pink cerah walau tanpa polesan apapun.


Bayu mengecup bibir itu beberapa kali, namun karena sang pemilik bibir tak bergeming, Bayu lalu ******* dan memagut mesra bibir sang kekasih.


Diandra yang terusik karena mulai kehabisan nafas langsung menggeliat dan membuka matanya. Dia kaget bukan kepalang, melihat bibir Bayu tengah asyik bermain dengan bibirnya.


Diandra mendorong dada Bayu, namun Bayu tetap saja melanjutkan ciumannya, sampai Diandra benar-benar kesulitan bernafas, barulah bibir Bayu meninggalkan bibir Diandra.

__ADS_1


Keduanya terengah mengatur nafas, ibu jari Bayu mengusap lembut bibir bawah Diandra yang membengkak.


"Bengkak..." bisik Bayu lirih.


"Salah siapa?" tanya Diandra sewot dengan wajahnya yang memerah karena malu dan berdebar-debar.


"Soalnya Cutie dari tadi dibangunin tapi nggak bangun-bangun," jawab Bayu santai sambil terkekeh pelan.


"Ya nggak perlu sampai cium-cium gitu juga kali mas," omel Diandra kesal.


"Habisnya ditungguin Dimas sama Haryo di luar buat makan sian, ini sudah lewat waktu makan sian dan mereka kelaparan," sahut Bayu mendramatisir.


"Hah? Ditunggu Kak Dimas dan Kak Haryo? Kenapa nggak bilang dari tadi sih, mas?" omelan Diandra menjadi panjang, dia buru-buru hendak turun dari ranjang dan lupa kalau lututnya baru saja dioperasi beberapa hari lalu.


Untung saja Bayu segera mengangkat tubuh Diandra dan menggendongnya.


"Mas Bayu!" pekik Diandra kaget.


"Hm?" Bayu bergumam menanggapi pekikan Diandra, tapi kakinya melangkah langsung ke kamar mandi yang berada di dalam kamar Diandra.


Bayu membantu Diandra mencuci muka dan gosok gigi sebelum akhirnya dia mendorong kursi roda Diandra menuju ruang makan.


Haryo dan Dimas yang melihat Bayu mendorong kursi roda Diandra keluar dari kamar, segera bangkit berdiri dan ikut berjalan menuju dinning room.


Di atas meja makan sudah tertata rapi empat piring carbonara pasta dan semangkuk besar caesar salad.


Aroma pasta menyeruak masuk ke dalam hidung Dimas menggelitik indra penciumannya dan merangsang mulutnya untuk meneteskan air liur.


Demi menghindari bercecerannya air liur, Dimas buru-buru menarik kursi dan duduk di hadapan piring pasta.


"Rara, buruan sini, kakak udah lapar, rasanya hampir mati," seloroh Dimas tak tahu malu, Diandra mendongak menatap Bayu yang mengerti kalau Diandra memintanya mempercepat dorongan kursi rodanya menuju meja makan, sedangkan Haryo menoyor kepala Dimas dengan sebal karena tak tahu malu.


"Sopan dikit bisa nggak sih, bro? Kita tamu di sini," gerutu Haryo kesal.


"Bheuh, sejak kapan di antara kita berempat ada etika tentang tamu dan tuan rumah?" balas Dimas yang sudah mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, Haryo hanya mendengus kesal dan duduk di sebelah Dimas.

__ADS_1


"Maaf ya kak, Rara susah bangun soalnya ngantuk banget, tadi minum obat pagi belum sempat tidur karena langsung discharge dari rumah sakit," ucap Diandra tiba-tiba sambil menunduk dan merasa bersalah.


Bayu yang membantu Diandra duduk langsung melotot tajam ke arah Dimas, begitu pula dengan Haryo. Dimas yang mendapat pelototan tajam dari kedua sahabatnya, susah payah menelan pasta yang sudah dikunyah di dalam mulutnya.


"Ehem, kakak bercanda doang, Ra.... Ojo nesu yo," ( jangan marah ) bujuk Dimas salah tingkah.


"Maaf, kak," gumam Diandra lirih.


"Nggak usah didengerin itu omongan Dimas, mulutnya kan memang nyablak dari dulu, Di," hibur Haryo.


"Maafin kakak ya, Ra.... Janji deh besok kakak kasih Haagen Daz," bujuk Dimas lagi.


"Nggak usah kak, makasih... Rara kan masih minum obat," tolak Diandra halus sambil memasukkan sendokan pasta ke dalam mulutnya dengan tak berselera.


Haryo yang kesal karena Dimas membuat Diandra murung, langsung menginjak kaki Dimas menggunakan tumitnya, Dimas yang kaget dan kesakitan langsung tersedak dan melotot ke arah Haryo, sementara Haryo berlagak masa bodoh sambil mengunyah makanan di mulutnya.


Dimas mendengus kesal, sementara Bayu hanya menatapnya tajam. Dimas merasa bersalah saat melihat Diandra tampak tak bernafsu makan tapi dipaksakan cepat-cepat menelan makanannya.


"Ra, maafin Kak Dimas ya, kalau misal kakak ada singgung perasaan kamu, tapi kakak nggak ada maksud begitu, bercanda doang, Ra," ucap Dimas tulus.


"Iya kak, Rara juga minta maaf karena bikin Kak Dimas dan Kak Haryo nunggu buat makan siang," sahut Diandra setelah menelan suapan terakhirnya, lalu dia segera meminum obatnya.


Diandra tak beranjak dari ruang makan, dia menunggu Bayu, Haryo dan Dimas selesai makan.


Mereka makan dalam diam, hanya dentingan alat makan yang terdengar.


"Kak, kenapa Rara discharge hari ini? Bukannya Rara baru boleh pulang 2 hari lagi?" tanya Diandra tiba-tiba, memecah kesunyian.


Bayu, Haryo dan Dimas saling berpandangan, haruskan mereka mrngatakan secara jujur penyebabnya kepada Diandra ataukah lebih baik menutupinya?


●○●○●○●○


*Hi guys, maaf lamaaaaaa sekali nggak update, karena mempersiapkan pernikahan adik yang lumayan repot dan ribet karena sebagai pengganti orang tua yang sudah nggak ada.


Dan karena kecapaian juga, jadi updatenya terlambat pakai banget, mohon maaf sebesar-besarnya, dan terima kasih atas semua dukungannya selama ini*.

__ADS_1


__ADS_2