
Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam 20 menit, akhirnya mereka tiba di rumah Bayu dengan selamat. Diandra masih terlelap saat Bayu memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya.
Perlahan Bayu keluar dari mobil, lalu dia melangkah ke arah shotgun seat. Bayu memberi signal kepada salah seorang bodyguardnya untuk membukakan pintu rumah. Setelah pintu terbuka, Bayu mengangkat tubuh Diandra dan menggendongnya masuk ke dalam rumah lalu membawanya ke dalam kamar yang semalam ditempati Diandra.
Bayu membaringkan tubuh Diandra di atas ranjang, lalu perlahan melepas sepatu Diandra dan menyelimutinya dengan selimut tipis. Beruntung Diandra tadi hanya mengenakan t-shirt longgar dan celana training yang nyaman dipakai untuk tidur, jadi Bayu tak perlu kebingungan mengganti baju Diandra.
"Goodnight, Cutie.... Sleep tight," Bayu mengecup ringan kening dan bibir mungil Diandra, setelah itu Bayu melangkah keluar kamar, tak lupa dia menyalakan AC dan mematikan lampu kamar lalu ditutupnya pintu secara perlahan.
Bayu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya, lalu dia duduk di tepi ranjang dan mulai membuka ponselnya. Jarinya bergerak mencari kontak Haryo dan mulai menghubunginya. Tak sampai dering kedua, Haryo sudah menjawab panggilannya.
'Yo, what's up bro?' sapa Haryo.
'Can you return early on tomorrow?' tanya Bayu.
'Why?' Haryo balik bertanya.
'Hari ini ada peristiwa besar di perusahaan, dan Tante Ratri mengatakan akan mengcancel perjodohanmu dengan Sinta,' jawab Bayu datar.
'Wow, really?' tanya Haryo tak percaya.
'Really. Jadi pulanglah besok pagi, ambil penerbangan pertama,' pinta Bayu.
'Ok, aku akan minta Indra pesan tiketnya,' sahut Haryo tanpa pikir panjang.
'And about the evidences, I sent them all to your e-mail. Kita juga dapat petunjuk tentang kecelakaan yang menimpa Om Suryo dan Tante Rianti, tapi aku baru akan menemui Jim besok, karena ini sudah terlalu larut,' ucap Bayu.
'It's okay, tomorrow still can do. I'm hanging up, night bro,' Haryo mengakhiri obrolan mereka dan segera menutup panggilan telepon itu begitu dia mendengan balasan Bayu.
Setelah itu dia mengirimkan pesan pada Danu yang mengabarkan kalau dia dan Diandra sudah sampai di rumah de gan selamat dan Diandra sudah tertidur.
Danu hanya membalas dengan oke dan jaga Diandra baik-baik. Lalu Bayu juga memberi tahu tentang adanya informasi tentang kecelakaan yang menimpa kedua orang tua Danu dan Diandra.
Tak lama, Danu membalas Bayu dengan ucapan terima kasih dan menantikan informasi lebih lanjut dari informan Bayu.
Saat Bayu akan menghubungi Dimas, dia terlebih dulu menelepon Bayu, hampir saya Bayu melempar ponselnya karena kaget.
'Sialan kau Dim, hampir saja ponselku melayang karena kaget,' umpat Bayu yang uring-uringan karena jantungnya berasa mau copot.
'Lah, aku ngapain coba?' sahut Dimas bingung.
__ADS_1
'Dah lah, mau apa kau telepon malam-malam?' tanya Bayu kesal.
'Kak Miko sudah kirim soft copy medical record Sinta, aku sudah forward ke e-mail mu, hard copynya akan dikirim ke kantormu besok pagi,' jawab Dimas.
'Oke, thanks Dim. Aku juga ada info tentang kasus kecelakaan Om Suryo dan Tante Rianti, besok siang kita ketemu di cafe kemarin ya?!' ajak Bayu.
'Oke, see you tomorrow, bye,' balas Dimas yang langsung menutup teleponnya tanpa menunggu balasan Bayu.
Bayu meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu dia bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai mandi, Bayu segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan segera tertidur.
Keesokan harinya, Bayu terbangun karena suara dering alarm dari ponselnya. Bayu membuka matanya lalu bangkit, kemudian melangkah menuju kamar mandi untuk segera mandi dan bersiap, karena pagi ini Jim akan datang menyerahkan informasi tentang kasus kecelakaan yang menimpa kedua orang tua Danu dan Diandra.
Sementara itu, Diandra yang sudah bangun sejak pukul 04:00 tadi sedang berkutat di dapur menyiapkan sarapan kesukaan Bayu dan juga menyiapkan makan siang untuk di kantor nanti.
Tiba-tiba terdengar suara bel pintu berbunyi, Diandra mengecilkan api kompor dan berjalan tertatih menggunakan tongkat kruknya. Diandra membuka pintu dan terkejut saat melihat ada seorang pemuda tampan seusianya dengan memakai celana jeans belel, t-shirt putih, jaket jeans dan topi baseball warna putih.
Pemuda tampan yang tak lain adalah Jim, berdiri terpaku menatap Diandra dengan tatapan terpesona, 'Woah.... She's absolutely a goddess,' pekik Jim dalam hati.
"Ca-cari siapa ya?" tanya Diandra sedikit takut karena tatapan Jim yang menurut Diandra menakutkan.
"Ah, Jim yang semalam telepon ya? Silakan masuk, Kak Bayu belum bangun, silakan duduk dulu," Diandra mempersilakan Jim masuk dan memintanya menunggu Bayu di ruang tamu.
"Kenapa tau kalau aku semalam menelepon?" tanya Jim heran.
"Kan yang terima teleponnya aku," jawab Diandra sambil tersenyum manis.
GRUSAAAAK.....
Berkas yang Jim bawa tiba-tiba jatuh berhamburan sesaat setelah mendengar jawaban Diandra.
"Kamu kenapa?" tanya Diandra cemas, tertatih dia menghampiri Jim, lalu menyandarkan kruknya di sofa dan Diandra berjongkok mengambil berkas-berkas yang berserakan dengan menahan nyeri di lututnya.
Jim masih terpaku dan tak bergerak, dia tidak mengira, gadis cantik di hadapannya yang sudah mencuri hatinya di pandangan pertama adalah calon istri Bossnya, habis lah dia.
"Cutie, apa yang kamu lakukan?" suara Bayu menggelegar mengejutkan Diandra dan menyadarkan Jim dari lamunannya. Sadar kalau Diandra bersusah payah merapikan berkas yang dibawanya, Jim segera membantu mengambil dan membereskan berkas yang berselerah di lantai.
Bayu dengan langkah lebar, berjalan ke arah Diandra lalu mengangkatnya dan mendudukkannya di sofa. Bayu mengerutkan keningnya saat melihat butiran keringat dingin mengalir di kening Diandra.
__ADS_1
"Sakit? Kenapa berjongkok? Lututmu belum boleh melakukan gerakan ekstrim, honey," Bayu mengusap lutut Diandra dengan lembut, berharap nyeri dan sakit yang dirasakan Diandra berkurang.
"Nggak apa-apa kok, Kak," Diandra tersenyum manis menampakkan sederet gigi putih yang tersusun rapi seperti biji jagung.
"Ka-kakak ipar, maaf..." Jim memberanikan diri membuka suara untuk meminta maaf sebelum Bayu mengamuk.
"Ka-kakak ipar?" tanya Diandra tergagap.
"I-iya.... Maafkan saya kakak ipar," Jim membungkuk dan meminta maaf.
"Kenapa minta maaf?" tanya Bayu dingin dan menatap Jim dengan tatapan setajam mata pedang.
"Ka-karena membiarkan kakak ipar membereskan berkas yang berserakan," jawab Jim lirih.
"HOW...." Bayu sudah ingin mengamuk, tetapi tangannya ditahan oleh Diandra.
"Sudahlah kak, kasihan dia. Jim nggak salah kok, memang akunya yang mau bantu, soalnya dia kaya shock gitu, sudah jangan marah, ya?" bujuk Diandra lembut.
Bayu menghela nafas panjang, menyerah.
"Jika kulihat sekali lagi kau menyusahkan Rara, kau akan terima akibatnya!" ancam Bayu.
"Ba-baik Boss," Jim menunduk dan mendesah lega.
Lalu Jim menatap Diandra dan membungkuk, "terima kasih, kakak ipar," ucap Jim tulus.
"Oh please, stop call me 'Kakak ipar', I got goosebumps everytime you called me 'kakak ipar'," omel Diandra.
"Soalnya kakak ipar adalah calon istri Boss Bayu," sahut Jim lirih.
"Kakak yang suruh?" tanya Diandra dan Bayu hanya bergumam mengiyakan.
"Rara nggak suka, geli.... Lagian Rara sama Jim juga paling umur sama, mungkin malah lebih tuaan Jim, panggil nama aja," protes Diandra.
"Nggak bisa gitu dong, sayang," bujuk Bayu, dia ingin anak buahnya mulai menghormati Diandra.
"Ya udah, mending Rara nggak usah jadi istri Kak Bayu aja, daripada dipanggil kakak ipar sama pegawai Kak Bayu, geli tau geli!!!" protes Diandra sambil beranjak berdiri dan meraih kruknya, kemudian berjalan tertatih menuju dapur, dia harus meneruskan menyiapkan sarapan dan bekal makan siang.
"Honey.... Cutie Pie... Iya deh, iya... Jim, panggil Rara dengan nama, jangan kakak ipar!" perintah Bayu sambil mengekor di belakang Diandra.
__ADS_1
Jim melongo, Boss Bayunya yang dingin dan tanpa ekspresi bisa juga ketakutan dan cemas di depan calon kakak ipar, what a great news, teman-temannya pasti tak akan percaya kalau boss mereka juga bisa bucin akut.