Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
Pengungkapan Kebusukan Sinta


__ADS_3

Haryo kembali duduk di kursinya, kemudian dia memanggil Pak Pur untuk menbil sesuatu di dalam mobilnya.


"Karena semua sudah berkumpul di sini dan kita juga sudah selesai makan malam, ada baiknya kita segera membahas permasalahan inti," ucap Dewo membuka pembicaraan.


"Benar mas, kira-kira kapan hari baik buat melaksanakan acara pertunangan mereka?" tanya Suwito antusias.


Haryo mengangkat ssbelah alisnya kemudian berdecih.


"Heh, kamu!" seru Haryo memanggil Sinta.


"A-aku mas?" tanya Sinta ragu, pasalnya yang Haryo sebut bukan namanya tapi 'Heh'.


"Ya siapa lagi?" Haryo balik bertanya dengan sinis.


"Tapi aku punya nama, bukan sekedar 'HEH', mas," protes Sinta.


"Najis sebut namamu," dengus Haryo.


"Jaga ucapanmu Haryo, dia adalah calon tunanganmu!" seru Suwito yang tak sadar meninggikan suaranya.


"Hah... Tunangan? Sampai matipun wanita yang saya akui sebagai calon tunangan saya adalah Diandra, bukan dia. Di sini saya akan memberitahukan kepada semuanya, kalau saya ingin keluarga Wicaksono membatalkan perjodohan ini," ucap Haryo datar, Dewo menatapnya dan mengangguk.


"Suwito, seperti yang Haryo bilang, kami akan membatalkan perjodohan ini, jadi perjanjian perjodohan antara papa dan almarhum Om Asdi sudah tidak berlaku, kami akan memberikan kompensasi kepada kalian sebagai permintaan maaf kami," jelas Dewo panjang lebar.


"Sinta nggak mau perjodohan ini dibatalkan, Mas Haryo harus menikah dengan Sinta," seru Sinta yang tak terima jika perjodohan ini dibatalkan.

__ADS_1


"What qualification that make you sure, that you're worth to be my wife?" tanya Haryo dengan nada datar, aura menyeramkan mengelilinginya, membuat semua yang berada di sekitarnya merinding.


"Su-sure.... I'm as pretty as Diandra, aku juga sexy, aku punya bisnis yang bergerak di bidang fashion, banyak lelaki tergila-gila padaku, aku perempuan berkelas dan terhormat yang pantas kamu jadikan istri mas, dibanding Diandra si anak yatim piatu yang tak jelas keberadaannya sekarang," jawab Sinta dengan lantang.


Gina dan Ratri yang mendengar Sinta menjelek-jelekkan putri sahabat mereka merasa naik pitam, apalagi Gina, karena Gina sudah beranggapan kalau Diandra adalah calon menantunya, dia tidak terima ada orang lain yang menjelekkan calon anggota keluarganya. Gina sudah bersiap untuk mengamuk, tapi ditahan oleh James, sang suami sambil menunjuk ke arah Haryo.


Tampak Haryo menatap Sinta dengan tatapan membunuh, aura dingin dan kelam semakin menyebar, kini di hadapan semua orang , Haryo terlihat seperti Dewa Ashura yang tengah murka. Sinta bergidik ngeri, tanpa dia sadari tangannya gemetaran karena takut.


"Do not compare Dira with you, you are not even worth to compare with her single hair," ucap Haryo dingin, matanya berapi-api seolah ingin segera mencekik mati Sinta.


"You said that you're as pretty as my Dira? Open your eyes and see it by your own eyes!" seru Haryo yang segera menjentikkan jemarinya. Seketika lampu utama restaurant dipadamkan, hanya menyisakan lampu dinding temaram yang menyala redup di dua sudut ruangan.


Lalu tiba-tiba terpampang sebuah tampilan foto dari proyektor di dinding putih restaurant tersebut. Dalam foto tampak seorang gadis berusia kisaran 13-14 tahun, gadis yang jauh dari kata cantik, pipi gempal, hidung besar, mata kecil nyaris tak nampak dan banyak ditumbuhi jerawat.


Para pengunjung Sixsense Kitchen mulai berbisik-bisik dan menggunjing siapa gadis di foto itu.


"Is that things that you said as pretty as Dira? Aku tak pernah menilai orang dari penampilan, tapi melihat kamu meniru penampilan fisik Dira, itu sudag membuatku jijik melihatmu," ucap Haryo kasar.


Sinta menatap Haryo dengan tatapan tak percaya, lelaki yang dia sukai sejak dia masih duduk di sekolah dasar bilang kalau jijik melihatnya?


"About your business.... It's just a mere lousy business, kau bahkan tidak menghasilkan apapun dalam enam bulan ini, dan itu kau sebut bisnis?" tanya Haryo sinis, Sinta hanya bungkam, memang enam bulan terakhir ini dia tak terlalu mempedulikan usaha fashionnya karena dia merasa bosan, bahkan designer yang dia sewa terpaksa mengundurkan diri karena merasa tidak berkembang selama bekerja dengan Sinta. Sinta terlalu sibuk menyenangkan dirinya sendiri, dalam enam bulan terakhir ini dia hanya bermain dan memuaskan gairahnya bersama Jack teman-temannya.


Haryo masih menatap Sinta dengan tajam, membuat Sinta gugup dan cemas secara bersamaan.


"Kau bilang kau wanita terhormat dan berkelas? Are you sure?" tanya Haryo penuh penekanan.

__ADS_1


"Te-tentu saja, aku selalu menjaga martabat dan harga diriku dengan baik," jawab Sinta gugup.


"Oh sure, you are..... With this kind of behaviour?" tanya Haryo sembari menjentilkan jarinya lagi.


Seketika layar proyektor menampilkan X-rate video yang cukup vulgar, membuat pengunjung restaurant ternganga kaget.


Suara ******* dan adegan tidak senonoh telihat jelas. Dalam video tampak seorang wanita tengah bergumul dengan tiga orang pria yang keempatnya dalam keadaan tidak tertutup sehelai benang pun.


Lalu video berganti lagi, di situ tampak beberapa pria tengah menanti giliran mereka untuk dapat menjamah tubuh wanita yang terlentang di atas sebuah ranjang king size, wanita itu tak lain adalah Sinta, dia sudah berpenampilan sangat kacau, tapi wajahnya tampak kesenangan dan penuh nafsu.


Haryo menjentikkan jemarinya lagi, lalu adegan berhenti saat wajah Sinta terlihat jelas di sana.


Suwiro dan Mariana menganga tak percaya, mereka pikir selama ini Sinta hanya bermain dengan seorang pria selayaknya wanita normal, tapi siapa sangka kalau Sinta suka bermain bersama segerombolan pria tak jelas.


"Ini kah yang kau bilang kalau kau menjaga martabat dan harga dirimu dengan baik?" tanya Haryo sinis, "Dan kau membandingkan dirimu yang kotor dan menjijikkan ini dengan Dira? Hah.... Jangan bercanda, bagian mana dari dirimu yang pantas disejajarkan dengan Dira?" tambah Haryo semakin sarkas. Sekali lagi Haryo memberi kode jentikan jari dan lampu utama restaurant menyala kembali, membuat para pengunjung riuh menatap dengan tatapan mencemooh ke arah Sinta.


"Hey, itu kan putri dari keluarga Perwita? Duh memalukan sekali kelakuannya,"


"Bahkan pelacurpun lebih terhormat karena mereka bekerja untuk hidup dan menghasilkan uang, tapi dia..... Amit-amit,"


"Video tadi ada lebih dari 10 orang, Ya Tuhan.... Perempuan macam apa dia itu, seperti artis film dewasa saja,"


Gunjingan dan cemoohan terdengar silih berganti, Ratri yang sudah merasa benci kepada Suwito dan anak istrinya, menjadi bertambah benci dan jijik, saat dia hendak beranjak pergi, Haryo menghentikannya.


"Ah, jangan lupa juga kenyataan yang hampir saja terlewat.... Kamu sudah tidak bisa mempunyai anak kan? Saat berusia 15 dan 16 tahun kamu pernah hamil dan digugurkan, benar?" ucap Haryo datar membuat semua orang yang mendengarnya semakin ternganga heran, Suwito tampak terlihat sangat buruk, aib itu mereka simpan bahkan berkas-berkas rumah sakit yang menunjukkan Sinta pernah aborsi pun sudah dilenyapkan, tapi kenapa Haryo bisa tahu?

__ADS_1


"Dan untuk mencegah kamu hamil lagi, kamu melakukan tindakan operasi steril kandungan, agar hobbymu bersetubuh dengan para lelaki tetap berjalan tanpa kekhawatiran akan terjadi kehamilan, benar?" sambung Haryo yang sontak membuat restaurant menjadi semkin riuh dengan gunjingan dan cemoohan yang ditujukan pada Sinta.


"Jadi dengan semua bukti ini, tidak ada alasan buat kita meneruskan rencana perjodohan ini, nikahkan saja dia bersama pria-pria yang ada di video tadi, kelihatannya dia sangat menyukai para pria itu," ucap Haryo seraya bangit dari duduknya dan bergegas pergi meninggalkan restaurant bersama keluarganya, meninggalkan Suwito, Mariana dan Sinta yang masih terpaku duduk di tempatnya.


__ADS_2