
Bayu menjalankan mobilnya menuju rumah tempat dia tinggal di sebuah kawasan perumahan elit di tengah kota Jogja.
Perlahan mobil Bayu memasuki pelataran rumah mewah yang begaya modern, lalu memarkirkan mobilnya dengan manis di area carport rumah itu, tampak seorang lelaki paruh baya keluar dan membukakan pintu mobil untuk Bayu, lalu Bayu memintanya menurunkan barang-barang yang ada di bagasi.
Sedangkan Bayu berjalan ke sisi Diandra untuk membuka pintu dan membantu Diandra turun.
Saat Diandra turun, lelaki separuh baya itu terkejut dan berkaca-kaca melihat sosok Diandra.
"Non... Non Diandra...." ucap lelaki paruh baya itu dengan suara bergetar.
"Selamat malam Pak Bi," sapa Diandra ramah.
"Tu-tuan... Benar ini Non Diandra?" tanya lelaki yang Diandra panggil Pak Bi yang sebenarnya bernama Biyanto.
"Hmmm, ini Rara, kami sudah menemukan dia kembali, tolong siapkan kamar dan perlengkapan mandi ya Pak Bi," jawab Bayu dan sekaligus meminta Biyanto menyiapkan kamar dan juga perlengkapan mandi untuk Diandra.
"Baik.... Baik Tuan, segera.... Segera.... Puji Tuhan.... Nona sudah kembali... Puji Tuhan...." sahut Biyanto yang buru-buru masuk ke dalam rumah, dia juga harus memberi tahu istrinya tentang kedatangan Diandra.
"Ayo, masuk!" Bayu memapah Diandra masuk ke dalam rumah. Saat membuka pintu, nampak wanita paruh baya menyambut mereka dengan mata berkaca-kaca dan saat meliha Diandra air matanya mengalir deras.
"Non-Nona Diandra.... Ya Tuhan, ini bemar-benar Nona Kecil kesayangan Tuan Muda," isak wanita itu.
"Selamat malam Bi Tami," sapa Diandra sambil mengulurkan tangannya kepada wanita itu.
Wanita yang bernama Tami itu menyambut uluran tangan Diandra dan menggenggamnya erat. Isak tangis harunya semakin kencang.
"Puji Tuhan.... Nona Diandra dalam keadaan baik dan sehat, puji Tuhan...." ucapnya penuh syukur di antara tangisnya.
"Nona sudah makan? Ingin makan atau minum sesuatu? Bi Tami siapkan ya?" tawar Tami antusias.
"Rara sudah makan, terima kasih banyak, Bi...." jawab Diandra.
__ADS_1
"Tolong siapkan susu hangat saja untuk Rara, Bi. Kami tadi sudah makan," sambung Bayu.
"Oh, baik.... Baik.... Segera saya siapkan," sahut Tami yang dengan gesit berjalan ke arah dapur, sementara Bayu memapah Diandra masuk ke dalam kamar tamu di sebelah kamar Bayu.
Rumah Bayu hanya terdiri dari satu lantai tapi sangat luas, terdapat enam kamar, yang terdiri dari satu kamar tidur utama, tiga kamar tidur tamu, dan dua kamar tidur tambahan untuk pegawainya.
Diandra masuk ke dalam kamar dibantu Bayu, disana sudah tersedia perlengkapan mandi lengkap yang tersusun rapi di atas ranjang.
"Rara mandi dulu, kakak bantu sampai masuk kamar mandi, kalau sudah selesai panggil kakak, nanti kakak bantu keluar," ucap Bayu yang langsung memapah Diandra masuk ke kamar mandi, setelah itu dia mengambil peralatan mandi yang tersedia di ranjang dan juga satu set underwear yang tadi dibelinya.
Diandra tersipu menerima underwear dari tangan Bayu.
"Kakak keluar dulu ya, mau mandi juga, kalau sudah kakak langsung kesini lagi," ucap Bayu sambil melangkah keluar kamar mandi dan menutup pintunya.
Diandra menghela nafas panjang, heran dengan Bayu, sikap Bayu padanya masih sama dengan sikap Bayu dulu saat mereka masih anak-anak, bahkan Bayu sekarang lebih memanjakannya, apakah karena mereka sekarang bersama?
Tapi Bayu merupakan tipe lelaki yang tidak suka dibantah, jadi mau protes seperti apapun Bayu akan tetap melakukan sesuatu sesuai dengan keinginannya. Diandra nyaman dengan hal itu selama tidak berlebihan, namun terkadang sifat over protective Bayu membuat Diandra tak enak hati, seolah dia sedang memanfaatkan Bayu.
Diandra menepuk kedua pipinya untuk menghentikannya melamunkan Bayu, lalu Diandra bergegas mandi air hangat di bawah kucuran shower.
"Cutie Pie sudah selesai mandi?" suara Bayu terdengar lembut dan merdu membuat jantung Diandra berdegup kencang.
"Sudah kak," sahut Diandra seraya membuka pintu dan melangkah keluar kamar mandi. Tapi baru satu langkah dia melangkahkan kakinya, Bayu sudah mengangkat tubuhnya dan menggendongnya menuju ke meja rias dan mendudukkan Diandra di atas kursi persegi berwarna putih kelabu.
Bayu mengambil hair dryer, setelah menyalakannya, Bayu mulai mengeringkan rambut Diandra.
"Kak... Big Bun...." panggil Diandra sambil menyentuh tangan Bayu.
"Hmmm?" sahut Bayu pendek.
"Rara bisa keringin sendiri kak," ucap Diandra.
__ADS_1
"Cutie, selama ada aku, tolong ijinkan aku memanjakanmu, sebagai ganti 10 tahun yang hilang, dan aku rasa ini tak akan cukup untuk menggantikan waktu kebersamaan kita yang hilang 10 tahun lalu," sahut Bayu sambil meletakkan hair dryer di meja rias, lalu dipeluknya tubuh Diandra dari belakang.
"Sayang, kau adalah segalanya untukku, Rara nggak akan pernah tau betapa menderitanya kakak saat Rara menghilang, sama seperti Haryo, kami seperti orang gila, tapi kakak lebih bisa menahan kegelisahan kakak, walau harus berkali-kali menemui psikiater, sedangkan Haryo selalu meluapkan emosinya dengan cara ekstrim," ungkap Bayu jujur, 10 tahun tanpa Diandra dilaluinya dengan mengatasi depresi, bahkan Bayu hampir gila saat tak kunjung menemukan Diandra, kalau bukan karena pertolongan psikiater handal kenalan papanya, Bayu mungkin berada dalam pengawasan rumah sakit jiwa.
Bayu melepas pelukannya, lalu membalikkan tubuh Diandra hingga menghadap ke arahnya, kemudian Bayu mendaratkan kecupan ringan di bibir Diandra.
"Pakai piyamanya, Bi Tami sudah siapkan susu di bawah, nanti kakak bantu oles obat sebelum tidur, kakak tunggu di luar ya," Bayu melangkah keluar kamar dan memberi tahu Bi Tami agar menghangatkan kembali susu untuk Diandra.
Yak lama kemudian, Diandra tertatih keluar dari kamar. Bayu mengerutkan keningnya lalu bergegas menghampiri Diandra dan menggendongnya, dibawanya Diandra menuju sofa ruang tengah yang luas.
"Kenapa nggak panggil kakak, hm?" protes Bayu.
"Rara bisa jalan sendiri kak," jawab Diandra.
"Kakak nggak mau lihat Rara kesakitan, kakak jadi ikut sakit di sini," sahut Bayu sambil menunjuk dada kirinya.
"Kak Bayu lebay," gumam Diandra.
"Lebay karena terlalu mencintai Cutie Pie," sahut Bayu sambil mengecup bibir Diandra.
Tanpa mereka sadari Bi Tami memperhatikan mereka berdua dan tersenyum senang. Diambilnya cangkir susu dan membawanya ke ruang tengah.
"Non Diandra, ini susunya, diminum selagi hangat ya, dan selamat beristirahat," ucap Bi Tami seraya mengulurkan cangkir susu pada Diandra, namun belum sempat Diandra menerimanya, Bayu sudah meraihnya terlebih dahulu.
"Terima kasih ya Bi Tami, selamat beristirahat juga," sahut Diandra sambil tersenyum.
"Sama-sama Non, selamat malam," Bi Tami pamit undur diri dan masuk ke dalam kamarnya bersama Pak Bi.
"Diminum susunya, terus tidur," Bayu meniup beberapa kali susu di dalam cangkir yang agak sedikit kepanasan, setelah dirasa hangat, barulah Bayu menyerahkannya pada Diandra.
"Terima kasih kak, Rara jadi keterusan manja sama kakak ini, kalau Kak Danu tau bisa marah nanti," gumam Diandra mulai meminum susunya perlahan sampai tandas.
__ADS_1
"Nggak akan marah, karena aku yang akan menggantikan Danu menjagamu, mulai sekarang," sahut Bayu, dia tersenyum melihat bekas susu yang seperti kumis di bibir atas Diandra.
Perlahan dia mendekatkan wajahnya ke arah Diandra, lalu perlahan menjilati bekas susu di atas bibir Diandra dan setelah bersih, Bayu memagut bibir Diandra yang terasa manis dan lembut.