Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
Flashback 10 ( Penyesalan Tora )


__ADS_3

Hari berganti, demam Diandra sudah turun, tapi dia masih suka histeris jika ada lelaki mendekatinya, kecuali Tora. Bahkan dia pingsan saat Miko memeriksanya.


"Siapkan mobil, aku akan membawanya ke rumah sakit kota tempat Danu di rawat," perintah Tora pada Jack.


"Boss?" tanya Jack meminta persetujuan Kentaro.


"Lakukan!" perintah Kentaro.


"Kalian pergilah dari sini, untuk sementara waktu jangan ada di kota ini, aku yakin Wira masih akan mencari keberadaan kalian walau Diandra telah kembali," ucap Tora.


"Cih.... Kau kira dia akan semudah itu menemukan kami? Kau lupa siapa aku?" dengus Kentaro kesal.


"Cepat kembalikan dia, jangan sampai aku berubah pikitan!" perintah Kentaro pada Tora.


"Apa maksudmu?" tanya Tora tak paham.


"Kau akan tau nanti!" jawab Kentaro misterius, matanya menatap lekat tubuh Diandra yang terkulai dipelukan Tora.


"Jangan macam-macam kau!" ancam Tora.


"What will you do if I did something to her?!" tantang Kentaro.


"I'll kill you, you can try me!" balas Tora.


"Hah... Like you could do," ejek Kentaro.


"At any cost, try me!" Tora menantang Kentaro, matanya menatap sengit ke arah Kentaro.


"Hey... Really? Over the underage girl? Ya Tuhan.... Kalau kalian menyukai Diandra, tunggulah sampai dia memasuki usia dewasa!!!" bentak Miko, tak tahan dengan kepedeophilan kedua sahabatnya.


"Aku akan bawa Rara sekarang, Miko.... Tolong ikut aku!" ucap Tora, digendongnya tubuh Diandra, perlahan Diandra membuka mata.


"Kak Tora.... Ade mau dibawa kemana?" tanya Diandra lemah.


"Pulang, Rara ingin pulang kan? Kita pulang, ketemu Danu, kakek dan nenek, oke?" bisik Tora lembut di telinga Diandra.

__ADS_1


"Terima kasih, Rara sayang sekali sama Kak Tora." gumam Diandra sambil melingkarkan tangannya ke tubuh Tora, lalu kembali terlelap.


Miko membukakan pintu mobil Maybach S680 milik Tora dan membantu Tora masuk ke dalam kursi penumpang bersama Diandra yang masih dalam gendongannya.


Setelah memastikan posisi mereka berdua nyaman, Miko segera masuk dan mengemudikan mobil itu menuju rumah sakit tempat Danu dirawat.


Tora mengambil ponselnya dari dalam saku jaketnya, lalu berusaha menghubungi nomor Danu.


Danu yang sedang sarapan pagi ditemani Wira, tertegun melihat ID pemanggil di ponselnya. Dengan gerakan perlahan, Danu mengambil ponsel clamshell yang berada di pangkuannya.


"Ya kak Tora?" sapa Danu datar.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Tora dingin.


"Masih hidup kak," jawab Danu tak kalah dingin.


"Hmmmm, aku akan mengantar Rara ke rumah sakit tempatmu di rawat, dia butuh perawatan serius," balas Tora.


"Apa yang kakak lakukan pada Rara?" teriak Danu histeris, mengejutkan Wira yang tengah duduk di sofa.


"Apa yang akan kau katakan pada Danu nanti?" tanya Miko.


"Semuanya, akan kukatakan semuanya," jawab Tora getir.


"Diandra akan membencimu kalau kau katakan semuanya," sahut Miko.


"Aku tak peduli, biarkan dia membenciku, tapi aku akan melindunginya dari kekejaman papa dan kegilaan Sinta," balas Tora, matanya nanar menatap ke arah luar, kebencian pada keluarganya membakar hatinya. Hanya demi harta dia harus menuruti kegilaan mereka, menyakiti sepupunya, terlebih meninggalkan yrauma mendalam pada Diandra.


"Jujur aku heran dengan keluargamu, bukankah tanpa harta om Suryo, kalian sudah hidup lebih dari cukup? Dan Sinta? Kenapa dia begitu inginnya menikah dengan Haryo, sedangkan dia sudah mengobral *********** pada Jack dan beberapa anak buah Kentaro?" gumam Miko sambil geleng-geleng kepala karena dia terlalu sering melihat Sinta bergumul mesra dengan beberapa orang anak buah Kentaro yang kebanyakan adalah pemuda Jepang yang berpenampilan tak karuan walaupun tampan, dan sudah dua kali Miko membantu mengaborsi kandungan Sinta karena kebobolan, sehingga Sinta memutuskan untuk steril di usianya yang masih 16 tahun.


"Aku tak peduli dengan kelakuan Sinta, aku tak pernah menganggapnya adikku. Selama dia dan papa tak mengusik kedua sepupuku aku akan diam saja." sahut Tora.


"Tapi ini kau malah membantu rencana penculikan Diandra?" tanya Miko heran.


"Kalau aku tak ikut campur, Kenta pasti sudah membunuh Diandra, karena itu rencana Sinta. Kau tau betapa gilanya Kenta kalau dapat job menculik dan membunuh?!" jawab Tora jujur, "karena itu, mau tak mau aku yang meminta Kenta untuk menculik Rara, dan aku berencana menyembunyikannya sehingga Sinta akan mengira Rara sudah mati dibunuh, tapi semua gagal karena Bram dan Jordy yang berniat menggagahi Rara. Walau aku mencintai Rara, aku tak akan menyetubuhinya sebelum dia dewasa dan menerimaku di hatinya. Aku tak sebejat itu, walau aku sering membayangkan Rara saat melepaskan hasratku sendiri," sambung Tora sembari mengecup kening Diandra.

__ADS_1


"Kakak mencintaimu sayang," gumam Tora sendu.


Hati Miko terasa diremas melihat betapa menyedihkannya ekspresi Tora. Di Indonesia mencintai dan pernikahan antar sepupu memang masih tabu, walau hukumnya diperbolehkan, namun juga ada beberapa resiko kesehatan yang akan mempengaruhi pada keturunan hasil pernikahan antar sepupu.


Miko hanya bisa mengharapkan hasil yang terbaik untuk Tora dan Diandra, walau nanti akhirnya mereka tak dapat bersatu, besar harapan Miko agar hubungan mereka kembali seperti saat sebelum terjadinya perebutan harta warisan keluarga Perwita.


Setelah 45 menit perjalanan, akhirnya Maybach S680 milik Tora sampai di pintu masuk UGD rumah sakit kota. Di sana sudah menunggu Danu yang duduk di kursi roda, Wira dan juga Kakek Nenek Diandra.


Miko membukakan pintu bangku penumpang dan membantu Tora turun karena harus menggendong Diandra.


Melihat Diandra dalam gendongan Tora, Kakek Broto dan Nenek Sundari langsung menangis lega, sementara Wira segera memanggil perawat untuk membawakan emergency strecther ( ranjang darurat ), namun saat Tora akan membaringkan tubuh Diandra, tiba-tiba tubuh Diandra kejang dan mengigau.


"Kak Tora.... Jangan pergi.... Tolong Rara... Kak Tora.... jangan pergi...,"


Dengan sabar Tora menggendong Diandra sampai masuk ke IGD, memangkunya saat dokter memeriksanya dan memasang IV drip di tangan kiri Diandra, setelah itu dokter menyuntikkan obat anti kejang, barulah tubuh Diandra relaks dan melepaskan pelukannya dari Tora.


Perlahan Tora membaringkan tubuh Diandra di ranjang, lalu membiarkan perawat memindahkannya ke bangsal VVIP ditemani kakek dan neneknya, sementara dia, Danu, Miko dan Wira memutuskan kembali ke ruang rawat Danu untuk berbicara.


Dalam ruang rawat tempat Danu dirawat tampak empat orang pria dengan wajah tegang. Danu terpaksa berbaring karena masih merasakan pening di kepalanya, sementara Tora, Miko dan Wira duduk di bangku di sebelah ranjang tempat Danu berbaring.


"Kak, sebenarnya apa yang terjadi pada Rara? Kenapa bisa dia seperti itu? Jangan bilang kakak terlibat dalam kejadian ini?" tanya Danu bertubi-tubi.


"Maafkan aku, Dan!" ucap Tora seraya menunduk, menyiapkan hati mengungkap kebenaran dan bersiap menerima kebencian dari sepupunya.


"Jadi kakak terlibat dalam penculikan Rara?" tanya Danu menahan diri untuk tidak berteriak.


"Bukan hanya terlibat, Dan.... Akulah dalang dari penculikan Rara," jawab Tora sambil menatap Danu penuh rasa bersalah dan penyesalan mendalam.


Danu tak bersuara, matanya menatap Tora tak percaya, amarah di dadanya membuncah, Tora adalah satu-satunya sepupu yang dia dan Diandra percayai, yang mereka berdua sayangi, karena hanya Tora lah satu-satunya sepupu mereka yang benar-benar menyayangi mereka dan tak terpengaruh dengan adanya perebutan harta di keluarga mereka.


Namun pengakuan mengejutkan Tora barusan telah meruntuhkan dinding kepercayaannya yang selama bertahun-tahun mereka jaga. Mata Danu berkaca-kaca.


"Tega.... Teganya kakak melakukan itu pada kami, pada Rara, yang sangat menyayangi kakak, kami berdua percaya kalau kakak berbeda.... Tapi kenapa kak?" suara Danu bergetar, antara marah dan sedih.


"I have my reasons, Dan.... Ini aku lakukan demi kalian, tapi aku tak mengira kalau kau akan terluka parah dan Rara jadi seperti ini. Aku terima jika kalian menyalahkan aku dan membenciku, karena ini memang salahku," ucap Tora tulus, "Tapi kumohon, dengarkan semua penjelasanku dulu, setelah itu laporkanlah kejadian ini pada pihak yang berwajib," sambung Tora serius.

__ADS_1


Danu hanya menatap Tora dengan tatapan bingung dan juga marah. Sementara Wira menatap Tora dengan tatapan curiga, pasti ada sesuatu dibalik semua kejadian ini.


__ADS_2