
Bayu membantu Diandra menggosok gigi, membasuh wajah dan juga mengganti pakaian, karena dia pikir Diandra tidak akan nyaman tidur memakai pakaian yang sudah dipakai seharian. Mereka kini tengah berada di sofa, Diandra tiduran di pangkuan Bayu sebagai bantal sambil membaca buku, sementara Bayu tengah memeriksa laporan yang diberikan oleh Ari.
"Sekarang tidur ya," bujuk Bayu, diletakkannya berkas yang sudah selesai dibacanya di atas meja, lalu Bayu mengambil novel yang Diandra baca, memberinya bookmark lalu diletakkannya di meja.
"Belum selesai baca kak," rengek Diandra.
"Sudah pukul 10 malam, tidur dulu, besok pagi habis basuh badan, kakak ajak keluar, mau?" bujuk Bayu.
"Keluar dari sini?" tanya Diandra.
"Keluar kamar dan jalan-jalan di taman, mau?" bujuk Bayu lagi.
"Keluar rumah sakit sebentar, rara pengen makan bubur ayam di dekat Pasar Telo," rengek Diandra.
"Besok tanya Dimas dulu ya, kalau nggak boleh kakak orderkan delivery aja," sahut Bayu masih membujuk Diandra dengan sabar.
"Nggak enak kalau dibungkus," gerutu Diandra lirih.
"Iya deh iya, besok kakak bawa kesana, tapi sekarang tidur," Bayu mengangkat tubuh Diandra dan membawanya ke ranjang lalu membaringkannya.
"Kak... Kenapa Kak Bayu mencintai Rara? Padahal Rara sering bikin kesal kakak," tanya Diandra tiba-tiba.
"Siapa bikin kesal siapa?" Bayu balik bertanya dengan nada datar.
"Rara, bikin kesal Kak Bayu," jawab Diandra lirih.
"Sayang, Cutie nggak pernah buat kakak kesal, tapi selalu bikin kakak gemas, kaya sekarang ini...." Bayu mendekatkan wajahnya lalu mengecup bibir Diandra dengan kecupan ringan.
"Big Bun ah..." Diandra menutup wajahnya karena malu.
"Kenapa? Lagian mencintai seseorang kok ditanya kenapa, mencintai itu nggak perlu alasan, sayang... Aku mencintaimu karena kamu itu kamu, Rara, bukan yang lain," ucap Bayu tulus.
"Kak..." gumam Diandra, matanya mematap lekat mata Bayu dengan tatapan lembut dan penuh cinta.
"Cutie, bisa tidak mulai sekarang panggil aku tidak dengan sebutan kakak?" pinta Bayu sambil menyelipkan rambut Diandra ke belakang telinganya.
__ADS_1
"Te-terus panggilnya apa?" tanya Diandra gugup saat Bayu mendekatkan wajahnya.
"Panggil nama saja gimana?" usul Bayu.
"Hah? Nggak mau, nggak sopan," protes Diandra.
"Ya kan nggak apa-apa, sama calon suami gini," sahut Bayu.
"Ya kan tetap harus menghormati suami," protes Diandra lagi.
"Terus Cutie mau panggil apa?"goda Bayu.
"Ma-mas... Pa-panggil mas aja... Boleh?" usul Diandra malu-malu.
"...." Bayu terdiam mendengar usulan Diandra, dadanya bergetar mendengar sebutan 'mas' meluncur dari bibir Diandra. Ditambah ekspresi menggemaskan Diandra saat mengucap kata 'mas' dari bibirnya.
"Coba panggil," pinta Bayu sambil mencoba menahan diri agar tidak menerkam Diandra.
"Mas Bayu," gumam Diandra lirih dengan kepala menunduk.
"Mas Bayu," ulang Diandra dengan suara sedikit lebih keras.
"Sambil lihat aku dong Cutie," rajuk Bayu.
"Mas Bayu," ulang Diandra sambil mengangkat wajahnya yang bersemu merah dan menatap mata coklat Bayu yang tepat berada di depannya.
"Yes, honey...." sahut Bayu, dan dengan gemas, Bayu mencium bibir Diandra dan ********** seolah tak ada lagi hari esok untuk mereka.
Setelah beberapa saat, Bayu menghentikan ciumannya dan dengan berat hati, bibirnya meninggalkan bibir Diandra yang agak membengkak dan membiarkan Diandra mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Bayu menyatukan kening mereka dan menangkup wajah Diandra dengan kedua telapak tangannya.
"I love you Cutie... Aku mencintaimu Diandra Ayu Perwita.... Sangat mencintaimu," ucap Bayu tulus.
"Aku juga sangat mencintaimu, Mas Bayu... Jangan tinggalkan aku, jadikanlah aku milikmu untuk selamanya, mas...." ungkap Diandra dengan sedikit tersedak karena menahan isakannya.
"Jangan menangis, honey," bisik Bayu.
__ADS_1
"Aku bahagia.... Sangat bahagia, karena perasaanku pada Mas Bayu bersambut," sahut Diandra lirih dan terisak.
"Honey... Oh, honey... Kesayanganku," bisik Bayu yang menciumi kening dan pipi Diandra berulang kali.
"Tidurlah, sayang.... Besok setelah Kak Miko mendapatkan foto tatomu, kita akan keluar jalan-jalan sebentar," ucap Bayu seraya membaringkan tubuh Diandra.
"I love you, Cutie.... Selamat tidur," bisik Bayu sambil memberikan kecupan selamat malam di kening Diandra.
"I love you too, Big Bun.... Selamat tidur," balas Diandra lirih dan perlahan dia menutup matanya.
Tak berapa lama terdengar suara nafas yang teratur menandakan bahwa Diandra sudah terlelap. Bayu membenarkan selimut Diandra dan sekali lagi mengecup keningnya.
Bayy mematikan lampu utama setelah menyalakan lampu tidur yang menempel di dinding di atas ranjang perawatan Diandra. Lalu setelah sekali lagi memeriksa Diandra, Bayu melangkah menuju toilet untuh membersihkan diri secara singkat dan mengganti pakaiannya dengan baju yang nyaman untuk dipakai tidur.
Setelah selesai dengan hajat pribadinya, Bayu segera merebahkan diri di ranjang tambahan yang berada di samping ranjang Diandra, perlahan matanya tertutup dan mulai terhanyut di alam mimpi.
●○●○●○●○●○
Sementara itu di waktu yang sama, namun di tempar yang berbeda, nampak Suwito dan Sinta keluar dari villa milik Kentaro.
Mereka berdua terlihat sumringah walau tubuh mereka lelah. Ya, mereka lelah bermain ***. Suwito dengan para wanita bayaran milik Kentaro, sedangkan Sinta bersama dengan Jack dan beberapa temannya yang kebetulan sedang tidak memiliki tugas atau misi.
Setelah Suwito dan Sinta pergi, akhirnya Tora keluar dari kamar Kentaro dengan penampilan khas orang yang baru bangun dari tidur.
"Haish.... Cuma main perempuan saja lamanya minta ampun," gerutu Tora sambil melangkah menuruni tangga.
Sebetulnya dia tidak tidur dia sibuk mendengar semua pembicaraan antara Suwito dengan Kentaro dan juga semua percakapan Kentaro dengan beberapa anak buahnya yang berisi tentang pemberian perintah pengawasan ekstra di rumah Kakek Broto dan juga mengawasi gerak gerik pemuda yang berada di rumah itu, yang tak lain adalah Jim.
Mereka ditugaskan untuk mengikuti pasangan kakek nenek Sasmita dan juga Jim, kemanapun mereka pergi. Dan saat mereka pergi, dan rumah kosong, Kentaro meminta anak buahnya mencari sepasang kunci berbentuk unik dan antik juga sebuah peta, jika menemukannya mereka diperintahkan menukarnya dengan duplikat yang sudah disiapkan.
Kentaro sudah memerintahkan untuk membuat kunci duplikat yang sama dengan yang ada di foto yang Suwito bawa tadi, dan untuk peta, Kentaro hanya menggambar denah asal-asalan di sebuah kertas usang. Toh hanya sebagai pengelabuh.
Kentaro tak mengetahui kalau Tora mendengar semua rencananya dan rencana sang papa, maka dari itu, Tora segera mengirimkan chat pribadi kepada Bayu, agar memperketat penjagaan di rumah pasangan kakek nenek Sasmita dan juga meminta Jim untuk tidak datang menemui Bayu ataupun datang ke rumah sakit, karena akan sangat berbahaya. Segala tindak tanduk Jim sedang diawasi.
Tora juga meminta agar ada seseorang yang bisa mengirimkan kunci peninggalan Suryo dan Rianti ke apartmentnya yang Danu tempati, atau bisa juga di rumah sakit, tapi tetap dengan waspada dan jangan sampai anak buah Kentaro mengetahuinya.
__ADS_1