Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
Kenapa Di Rumahmu?


__ADS_3

"Lalu apa informasi yang kita dapat dari kecelakaan Om Suryo dan Tante Rianti?" tanya Haryo.


"Shocking news, Om Suryo dan Tanter Ratri bukan meninggal di tempat akibat kecelakaan, tapi mereka meninggal akibat luka tembak," jawab Bayu dengan suara bergetar.


Haryo membelalak kaget, tangannya yang memegang cangkir kopi gemetaran.


"Danu dan Dira.... Apa mereka sudah tau?" tanya Haryo lirih, suaranya tercekat di tenggorokan.


"Belum, aku tak sanggup mengatakannya, biarkan Danu melihat rekaman black box itu sendiri, walau kejam tapi sungguh aku tak mampu mengatakannya, apalagi pada Rara," mata Bayu berkaca-kaca, nafasnya memburu menahan sedih dan amarah. Dia sudah melihat rekaman itu beberapa kali demi mengingat pria penembak mati kedua orang tua kekasihnya dan sebanyak itu pula lah Bayu mendengar jeritan pilu Ratri dan pekik kesakitan Suryo.


"Rekaman black box? Danu bilang tak da bukti apapun yang ditemukan oleh tim penyidik?!" tanya Haryo bingung.


"Mereka disuap, kecelakaan itu terjadi karena malfunction rem mobil Om Suryo dan yang membuat kerusakan itu adalah Baskoro, anak dari kakak ipar Bagyo," jawab Bayu.


"Jadi bagaimana kau mendapatkan bukti itu?" desak Haryo.


"Jim yang mendapatkannya," jawab Bayu yang lantas menceritakan bagaimana proses Jim mendapatkan semua bukti dan juga berkas penyidikan yang asli.


Haryo tertegun saat mendengar cerita Bayu tentang bagaimana proses Jim mendapatkan bukti-bukti tentang kecelakaan yang dialami Suryo dan Rianti.


"Ada petunjuk tentang lelaki pelaku penembakan terhadap Om Suryo dan Tante Rianti?" tanya Haryo penuh harap.


"Belum, sudah beberapa kali aku memutar video rekaman itu, tapi aku tak menemukan petunjuk sama sekali, hanya saja aku merasa pernah bahkan sering bertemu dengan pria itu, tapi siapa dan di mana aku lupa," jawab Bayu sambil memijat keningnya.


"Siang ini kita bertemu di cafe waktu itu?" tanya Haryo.


"Iya, kau duluan saja nanti, karena aku harus menyiapkan makan siang Rara dulu," pinta Bayu.


"Hah!" Haryo mendesah kesal.


"Kalau kau mau, kau saja yang menyiapkan makan siang Rara. Dia suka Chinese dan Japanese food," ucap Bayu memberikan petunjuk, walau Diandra sudah menyiapkan bekal untuknya, tapi jika Haryo ingin mengantar makanan dan menemani Diandra makan, dia akan membiarkannya asalkan hubungan pertemanan dan persaudaraan mereka membaik.

__ADS_1


"Nah... That won't do, Dira mungkin tak akan menerimanya," Haryo mengibaskan tangannya.


"Kalau tak kau coba kau tak akan tau," ucap Bayu sambil meneguk kopi hitamnya.


"Not today, aku masih takut menerima tatapan penuh kebencian dari Dira, sahut Haryo sambil menundukkan kepala.


"Terserah kau saja Yo," balas Bayu, "Besok pagi Rara ada terapi di rumah sakit Dimas, jadi dia akan menginap di rumahku sampai satu bulan ke depan, jika kau ingin bertemu, datang saja," tambah Bayu yang jelas membuat Haryo terkejut.


"Kenapa di rumahmu?" tanya Haryo tak suka.


"Tadinya Danu akan mengontrak rumah selama sebulan, tapi dia bingung karena harus meninggalkan Kakek Broto dan Nenek Sundari, dia khawatir. Jadi aku menawarkan diri buat antar Rara terapi dan membiarkannya tinggal di rumah selama sebulan," jelas Bayu santai, bukan maksudnya memanasi Haryo, tapi dia hanya ingin Haryo tahu kalau Diandra sekarang tinggal di rumahnya daripada nanti Haryo tahu dengan tidak sengaja atau dari orang lain, tapi Bayu tidak bilang kalau sejak kemarin Diandra menginap, Bayu mengatakan mulai hari ini.


"Ya tapi kenapa harus di rumahmu?" gerutu Haryo kesal.


"Kalau bukan di rumahku mau di mana lagi? Dimas sudah berkeluarga, dan istrinya tidak mengenal Rara. Di rumahmu? Kemungkinan besar dia bertemu Suwito dan Sinta cukup besar karena masalah pertunangan yang belum beres." sahut Bayu yang ikut kesal, "Kalau masalahmu dan Sinta sudah selesai, kau boleh membawanya tinggal di rumahmu, asal Rara mau," tambah Bayu yang segera bangit dari sofa dan melangkah hendak keluar ruangan CEO.


"Berhentilah bersifat kekanakan dan egois, apalagi kasar, kau tau kalau Rara tak suka sifatmu itu," pesan Bayu sebelum akhirnya benar-benar keluar dari ruangan Haryo.


Tak terasa waktu cepat berlalu, dan tiba waktu makan siang, Haryo memberi tahu Ari kalau dirinya langsung menuju cafe tempat mereka berempat membuat janji untuk bertemu dan meminta Ari menyampaikannya kepada Bayu, karena Haryo yakin, saat ini Bayu pasti sedang membelikan makan siang untuk Diandra.


Haryo tidak mengetahui kalau Bayu masih berada di ruangannya menyiapkan berkas penyidikan dan juga flash disk berisi video rekaman black box.


Setelah memasukkannya ke dalam tas kerja, Bayu bergegas ke ruang HSE untuk makan siang bersama Diandra yang Bayu yakin pasti sudah menunggunya karena waktu istirahat sudah lewat 5 menit.


Setibanya di ruang HSE, Bayu segera masuk dan mendapati Yoko masih berkutat dengan laporannya, sementara Diandra sudah tidak ada di meja kerjanya, kemungkinan dia sudah menunggu Bayu di pantry.


"Siang Pak Bayu, mau makan siang dengan Diandra ya pak?" sapa Yoko ramah.


"Hmmm, kenapa kamu belum istirahat Yok?" jawab Bayu yang lalu balik bertanya pada Yoko.


"Nanggung ini, pak, paling 5 menit kelar, soalnya mau diserahkan setelah makan siang," jawab Yoko, jarinya masih sibuk mengetik data yang akan dilaporkan kepada Pak Fahri.

__ADS_1


"Jangan sampai skip makan, jaga kesehatan," pesan Bayu sambil menepuk bahu Yoko.


"Siap pak, tapi baiknya Pak Bayu cepetan ke pantry, ditunggu Diandra, tadi ngeluh perutnya sakit soalnya," sahut Yoko, Bayu kaget saat mendengar perkataan Yoko kalau perut Diandra sakit, secepat kilat dia melangkahkan kakinya menuju pantry tanpa mengucap apapun pada Yoko.


"Heih, penasaran aku sama kakaknya Diandra, segalak apa dia, kok sampai Pak Bayu segitu takutnya kalau Diandra kenapa-kenapa," gumam Yoko heran sambil geleng-geleng kepala melihat kecemasan Bayu.


Yoko belum tahu, kalau Bayu cemas bukan karena takut pada Danu, Bayu cemas karena terlalu cinta pada Diandra sehingga dia tak ingin sesuatu yang buruk menimpa Diandra, walau itu hanya lecet atau bahkan rontoknya sehelai rambut. ( Dih, lebay ya? Nama juga BUCIN, maklumin aja ).


Bayu membuka pintu pantry dengan agak kencang, membuat Diandra yang sedang memanaskan bekal di dalam microwave terlonjak kaget.


"Ra, honey.... Perutnya kenapa?" tanya Bayu cemas.


"Ya ampun kak, kaget aku. Perutku nggak kenapa-kenapa kok, sedikit perih aja, tapi sekarang sudah nggak apa-apa," jawab Diandra sambil memegang dadanya karena masih deg-degan.


"Beneran nggak apa-apa? Kita ke klinik ya, biar diperiksa sama dokter perusahaan," ajak Bayu panik.


"Dih, apaan sih kak, Rara cuma lapar aja jadi perih perutnya, tadi kan Rara cuma makan mantau 2 sama xiao long bao 4 biji, jadi cepet lapar, hehehehe...." sahut Diandra sambil nyengir malu.


"Kenapa makan sedikit tadi pagi?" tanya Bayu sambil memapah Diandra menuju kursi dan mendudukkannya disana.


"Takut kak Bayu kurang, soalnya dimsum kan kesukaan kakak," jawab Diandra santai.


"Besok lagi kalau sarapan yang cukup, kakak tau porsi makanmu, nggak usah mikirin kakak," omel Bayu sambil mengeluarkan kotak bekal dari dalam microwave dan meletakkannya di meja, lalu Bayu menuangkan air mineral ke dalam dua buah gelas kaca kemudian meletakkannya di meja. Bayu duduk di samping Diandra lalu dia menyodorkan sepasang sumpit untuk Diandra.


"Makasih kak," Diandra menerimanya lalu mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Bayu mengikutinya, dia pun menyuapkan nasi dan katsu ke dalam mulutnya dan menikmati rasanya di setiap kunyahannya.


"Honey, kamu memang gadis terbaik yang ditakdirkan untukku," ucap Bayu tiba-tiba dan membuat Diandra tersipu.


"Big Bun juga pria terbaik yang merupakan jodohku," sahut Diandra.


Keduanya saling tatap dan tersenyum, kemudian segera melanjutkan makan siang mereka, mengingat Bayu harus buru-buru menemui ketiga sahabatnya.

__ADS_1


__ADS_2