
Hampir satu jam Bayu menunggu jalannya proses fisioterapi Diandra, tapi dia tak menunjukkan kalau dia bosan atau lelah. Dia hanya jengah mendapatkan tatapan menggoda dari pada perawat ataupun wanita yang kebetulan lewat di hadapannya, bahkan tadi ada yang meminta nomor telepon kepadanya dan memaksa. Akhirnya karena kesal dia memberikan nomor telepon random yang bahkan dia sendiri tak tahu itu nomor siapa.
Bayu melirik jam tangannya, sudah hampir waktunya makan siang. Lalu tiba-tiba ponselnya berbunyi, dan tampak ID pemanggil adalah Haryo. Bayu segera menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan Haryo.
"Hey, what's up Yo?" sapa Bayu.
'Kamu nggak di kantor?' tanya Haryo.
'Aku antar Rara ke rumah sakit, lututnya ada masalah, Dimas lagi bantu fisioterapi sekarang,' jawab Bayu.
'Kenapa lututnya? Parah?' tanya Haryo panik.
'Dislokasi,' jawab Bayu singkat.
'Seharusnya kita patahkan juga kaki si Vera itu sebelum kita pecat,' geram Haryo.
'Haih, dia keblacklist aja udah bikin dia pusing,' sahut Bayu. Dia dan Haryo memang tipe cowok kejam, tapi Bayu masih bisa menahan diri untuk tidak main fisik dengan wanita.
'Cih, soft hearted,' Haryo berdecih kesal.
'Ada apa? Mau balik?' tanya Bayu.
'What? No! Aku cuma ingin tanya kemana Dira, aku lihat di CCTV dia nggak ada di ruang HSE, aku telepon kantor katanya kamu nggak masuk hari ini,' jawab Haryo yang membuat Bayu menekuk wajahnya.
'Sebentar,' Bayu bangkit berdiri dan melangkah menuju pintu ruang fisioterapi, perlahan dia membukanya, lalu dia menekan aplikasi kamera dan mengambil foto Diandra yang sedang dipijat dan diterapi bagian lututnya. Kemudian dia mengirim foto itu pada Haryo.
'Sent photo to you, kalau rindu bilang aja Yo,' ucap Bayu getir.
Mencintai satu orang wanita yang sama memang melelahkan.
'Hehehe, thanks bro, I'm hanging up,' sahut Haryo sambil terkekeh riang.
Percakapanpun terputus, Bayu menghela nafas panjang dan kembali duduk di bangku tunggu.
"How am I supposed tell him about me and Rara.... How frustrating!" desah Bayu, diusapnya wajah tampan Asianya.
●○●○●○●○●○●
__ADS_1
Sementara itu di rumah mewah kediaman keluarga Perwita yang ditempati Suwito dan keluarganya, Sinta nampak uring-uringan pada Mariana, sang mama.
"Apa sih ma kurangnya aku?" tanya Sinta dengan suara melengkingnya.
"Sabar sayang, semalam kan sudah dibicarakan sama keluarga Wicaksono. Bahkan Tuan Besar Wicaksono juga sudah memberi lampu hijau pada perjodohan kalian," sahut Mariana menenangkan putri manjanya.
"Tapi sikap Mas Haryo keterlaluan, ma. Masa ngga datang saat kita mau membahas acara pertunangan, mana waktu Sinta telepon dia bilang kalau dia nggak mau tau karena yang ingin perjodohan ini Sinta, bukan dia. Ada lelaki kaya dia, nyebelin banget, yang ada dipikirannya cuma Diandra, Diandra, Diandra dan Diandra!!" lengking Sinta sambil menyapu semua benda yang ada di atas meja ruang tamu.
"Dia kan pengusaha sukses, wajar kalau dia sibuk, kamu calon istrinya yang sabar hadapi dia, toh kalau kalian sudah menikah, dia akan ada dibawah kakimu kalau kamu bisa memuaskan masalah ranjangnya, kamu kan sudah jago menaklukkan pria," hibur Mariana.
"Huh, sedingin apapun dia sama aku, pasti juga akan luluh kalau benda di selangkangannya dipuaskan," Sinta bergumam dan menyeringai licik.
"Nah gitu, nggak usah diambil pusing," Mariana bernafas lega saat emosi Sinta mereda, "Besok kita sama calon mertuamu akan ambil gaun yang akan kamu pakai di acara pertunanganmu, jangan kemana-mana," perintah Mariana mengingatkan Sinta.
"Iya, besok siang kan? Sinta mau pergi dulu, buang stress," sahut Sinta sambil melangkah keluar rumah sambil menelepon seseorang.
'Jack, Hotel Z kamar 3911, sekarang,' ucap Sinta pada seseorang yang dihubunginya.
'Kenapa tiba-tiba, kau bilang sedang sibuk mengurus acara pertunanganmu?' tanya Jack.
'Mulut bawahku lapar, dia ingin makan terong milikmu yang besar dan keras,' jawab Sinta vulgar, membuat Jack yang mendengarnya langsung birahi dan melesat keluar menuju Hotel Z tempat favorit mereka menyatukan tubuh dan menyalurkan hasrat bersama-sama.
Tanpa Sinta sadari, ada sebuah mobil Avanza putih mengikutinya rapat dari belakang. Pengemudi itu segera menghubungi Bayu yang masih menunggu selesainya treatment Diandra.
'Boss!' sapanya.
'Hm? Spill it up Jim!' perintah Bayu.
'Target keluar menuju Hotel Z, kemungkinan ada janji dengan seseorang,' lapor Jim.
'Ikuti dan ambil bukti sebanyak-banyaknya, ingat dapatkan juga copy footage dari hotel, Jim,' perintah Bayu.
'Baik, boss,' Jim membalas lalu menutup telepon dan segera turun dari mobil dan mengikuti Sinta yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam lobby hotel.
Sinta masuk ke dalam kamar 3911 menggunakan electric key, dan saat kakinya melangkah masuk, sepasang tangan kokoh dan kasar segera memeluk tubuh full permak Sinta.
"Aw, Jack... Sabar, aku perlu mandi," pekik Sinta dengan suara genitnya.
__ADS_1
"Haish, nanti saja, katamu dia lapar, terongku sudah mengeras, kasih dia makan dulu baru mandi," sahut Jack tak sabaran, tangannya menggerayangi Sinta dengan penuh nafsu.
"Lakukan di ranjang, jangan di depan pintu," bujuk Sinta yang sebetulnya juga sudah susah payah menahan gairahnya.
Tanpa ba bi bu, Jack menggendong Sinta masuk ke dalam ruang tidur dan membaringkannya di atas ranjang, kemudian dua insan itu sibuk bercumbu sampai mereka tidak menyadari ada seseorang yang masuk ke dalam kamar itu dan merekam seluruh adegan gulat dewasa lelaki dan perempuan dari sudut kamar yang gelap. Dan sebelum adegan gulat itu berakhir, si perekam kembali menyelinap keluar dan bergegas menuju ruang kendali security untuk membuat salinan video CCTV lorong hotel.
Sementara itu, di dalam kamar 3911, sepasang pria dan wanita yang tengah kelelahan terbaring di atas ranjang hotel berukuran king size dengan bermandilan peluh di sekujur tubuh mereka, bahkan mereka tak beniat menutupi tubuh mereka yang telanjang bulat dengan selimut.
"Sayang, kau semakin hot saja," gumam Jack sambil menatap langit-langit kamar yang gelap.
"Harus, karena sebentar lagi aku akan menikah dengan pria idamanku," sahut Sinta bangga.
"Huh, apakah setelah menikah nanti kamu masih membutuhkanku?" tanya Jack dengan lesu.
"Tentu saja, aku masih butuh kau dan mungkin juga Tio dan Shinji, hanya kalian yang bisa memuaskanku saat kita main berempat," jawab Sinta dengan genit.
"Dasar maniak, kalau bukan karena ingin memuaskanmu, aku sungguh tak rela berbagi ranjang dengan mereka," gerutu Jack.
"Tenang, kalau pemain tunggal, hanya kamu yang paling aku suka Jack," rayu Sinta.
"Huh, setidaknya kau tau siapa yang terbaik," dengus Jack.
"Hmmm... Jadi, bagaimana progress pencarian kedua sepupuku itu?" tanya Sinta yang bangkit dan meraih rokok yang ada di nakas dan menyalakannya sebatang lalu menghisapnya dalam-dalam.
"Belum ada perkembangan, sepertinya mereka sudah ditelan bumi," jawab Jack yang ikut menyalakan rokoknya dan mulai menghisapnya, kamar itu pun penuh dengan kepungan asap rokok yang menyesakkan.
"Lambat!!" dengus Sinta.
"Hah.... Jangan salahkan kami jika lambat bergerak, papamu yang buncit dan suka menggilir pegawainya itu belum membayar deposit pada Boss Kenta, jadi kami pun bergerak hanya Boss Kenta ada keinginan, jika tidak, kami lebih suka menjalankan bisnis senjata dan narkoba yang lebih mrnguntungkan," sahut Jack sengit.
"Apa??? Papa belum bayar Kenta?" pekik Sinta tak percaya.
"Tanyakan sendiri pada Boss Kenta dan papamu," sahut Jack sambil menghisap dalam-dalam rokoknya.
"Sialan, pantas saja mereka tidak segera ditemukan," gerutu Sinta.
"Hmmm.... Itu urusan nanti, sayang, sekarang kita lanjut ronde kedua ya? Sepertinya si terong sudah siap santap," rayu Jack sambil mulai mengerayangi Sinta dengan liar.
__ADS_1
Sinta tersenyum nakal, dimatikannya rokok yang masih separuh, lalu kembali mereka bergumul di dalam kegelapan kamar hotel dan menyebarkan gema suara ambigu yang aneh.