Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
Kebencian Diandra pada Haryo


__ADS_3

"Rara nggak boleh bilang gitu dong, Kak Haryo kan kakak kesayangan Rara?" bujuk Bayu.


"Itu dulu, sekarang nggak lagi, Rara nggak suka orang yang kasar dan nggak menghargai orang lain. Kak Bayu itu sahabatnya, bukan pembantunya!" bantah Diandra kesal.


"Diandra Ayu Perwira!" panggil Danu, kalau tidak dihentikan, Diandra akan bicara lebih pedas lagi, sedangkan wajah Haryo semakin menggelap dan sedih.


Diandra langsung terdiam, menunduk tak berani menatap kakaknya.


"Sorry Bay..." gumam Haryo lirih, Bayu menatap Haryo. Tekejut.


"Nggak apa-apa, kita kan memang selalu kaya gini!" balas Bayu sambil tersenyum dan mengacungkan ibu jarinya.


"Minta maaf setelah disindir? Kelakuan macam apa itu? Apa kaya gitu kelakuan orang yang sudah jadi CEO?" sindir Diandra pedas.


"DIANDRA AYU PERWITA!" bentak Danu.


"APA??" Diandra balik membantak Danu. Danu terpaku dibuatmya, baru kali ini Diandra berani membentaknya, demi membela Bayu?


"Hei.... Rara, sudah... Sudah... Kita kesini buat makan malam dan reuni kan, baiknya kita tukar cerita, bercanda, jangan bertengkar ya!" bujuk Bayu sambil menepuk-nepuk punggung Diandra.


"Minta maaf ke Kak Danu dan Kak Haryo, ya!" pinta Bayu.


"Siapa yang salah?" tanya Diandra galak, nggak sudi lah minta maaf sama Si Muka Batu, enak saja, dia yang salah.


"Ok... Ok....!" Bayu mengalah, lalu memberi isyarat pada Danu dan Haryo untuk minta maaf kepada Diandra.


Danu mendengus kesal, dari dulu Bayu memang selalu jadi penengah, selalu sabar dan posesif kepada Diandra. Danu tak mengira kalau sifat Bayu sama sekali tak berubah.


"Ade.... Kakak minta maaf ya, sudah bentak-bentak Rara barusan, soalnya Rara nggak sopan ke Haryo, biar gimana kan Haryo itu lebih tua dari ade, ditambah dia juga kan atasan ade." ucap Danu, yang bukan bikin Diandra memaafkan Danu, tapi malah mengamuk.


"Jadi kalau dia lebih tua dan atasan ade itu dia boleh nggak sopan ke orang? Trus ade yang negur dia itu jadi salah karena nggak sopan? Logika dari mana?" Diandra semakin marah.


"Aduh Ra... Iya... Iya, kakak salah... kakak minta maaf ya!" Danu akhirnya mengalah.


Diandra hanya diam, tak membalas. Diandra mengambil potongan tomat dan memakannya dengan sambal, tanpa menggubris Danu.


Bayu melirik Haryo, dan Haryo paham apa maksudnya.


"Dira, Kak Haryo minta maaf." pinta Haryo.

__ADS_1


"Hmmmm." sahut Diandra malas-malasan.


"Panggil aku Kak Haryo ya, kaya dulu!" Haryo memohon pada Diandra.


Diandra menatap Haryo dengan tatapan dingin.


"Nggak bisa, Pak Haryo yang ada di sini bukan lagi Kak Haryo yang dulu Rara kenal." sahut Diandra datar.


Haryo terkejut dengan jawaban Diandra, sebegitu tak sukanyakah Diandra dengan dirinya yang sekarang?


Bayu menghela nafas panjang.


"Slow down, Yo!" Bayu mengode Haryo untuk tidak terlalu mendesak Diandra.


Setelah semua tenang, mereka kembali menikmati makan malam, sesekali mereka menanyakan apa saja yang terjadi selama 10 tahun ini, kadang diselingi canda tawa. Walau Diandra lebih banyak diam, dia hanya mengobrol dengan Bayu dan hanya menanggapi sedikit obrolan Danu.


Mereka selesai makan malam tepat pukul 21:15, sebetulnya banyak yang masih ingin Bayu dan Haryo tanyakan. Terutama Bayu, tentang kejadian penculikan Diandra. Tetapi dia tak mungkin menanyakannya saat Diandra ada bersama mereka.


"Dan, kalau ada waktu besok siang, bisa nggak kita berempat, aku, kamu, Haryo dan Dimas, ketemuan pas makan siang?" tanya Bayu.


"Bisa! Di mana?" Danu memapah Diandra berjalan menuju mobilnya.


"Ok... Aku balik dulu ya, sampai ketemu besok!" Danu berpamitan kepada kedua sahabatnya, setelah membantu Diandra duduk dengan nyaman.


"Kak Bayu, Rara pulang dulu ya, sampai ketemu besok!" Diandra melambai ke arah Bayu dan tersenyum hangat.


"Iya, hati-hati ya, kalau lututnya masih sakit, besok ijin dulu nggak apa-apa!" balas Bayu, tangannya mengusap kepala Diandra.


"Iya kak, terima kasih ya buat hari ini!" Diandra melemparkan senyuman ceria ke arah Bayu. Lalu dengan malas Diandra menatap Haryo.


"Saya permisi pulang dulu Pak Haryo, selamat malam!" pamit Diandra dingin, tanpa senyuman.


"Ya, hati-hati, selamat malam Dira!" balas Haryo sedih.


Danu hanya bisa menghela nafas panjang, perlahan dia menjalankan mobilnya keluar area parkir RM. Raminten, dan segera mengemudikannya ke arah rumah kakek dan neneknya.


"Bayu, kamu tahu kalau Dira itu tunanganku kan?" tanya Haryo sepeninggal Danu dan Diandra.


"Ya, aku tahu. Jangan khawatir, perhatian dan perasaanku ke Rara nggak lebih dari perhatian dan sayang kakak ke adiknya." jawab Bayu datar, menahan rasa sakit di dadanya.

__ADS_1


"Besok aku mau minta persetujuan buat penurunan jabatan Vera dan pemecatan 2 staff Keuangan." sambung Bayu.


"Kenapa?" tanya Haryo heran.


"Mereka yang bikin Rara jatuh dan cidera...." jawab Bayu, dahinya mengernyit karena tiba-tba mengingat sesuatu.


"Ponselnya juga rusak karena terbanting keras di lantai." sambung Bayu yang segera mengirim pesan kepada Ari untuk memesan ponsel keluaran terbaru untuk Diandra.


"Langsung pecat semua, tanpa toleransi!" perintah Haryo.


"Jangan lupa blacklist!" lanjutnya.


"Bay, apa ada yang tidak kutahu tentang Danu dan Dira? Sepertinya kalian menutupi sesuatu." tanya Haryo curiga.


"Kita cari tempat ngobrol yang enak! Tugu?" ajak Bayu.


"Oke, aku juga malas pulang ke rumah besar!" balas Haryo sambil melempar kunci mobil kepada Bayu.


"You drive!" Haryo segera masuk ke shotgun seat.


"Ari, kamu antar pak Waluyo pulang ke rumah ya!" pinta Bayu kepada Ari melalui pesan WA.


Bayu melajukan perlahan mobil Bentley hitam milik Haryo menuju cafe Tugu.


Sesampainya di sana, Bayu dan Haryo memesan Americano dan sepiring pisang goreng.


"Spill it out!" pinta Haryo setelah pesanan mereka datang.


Suasana cafe yang berada di sebelah stasiun Tugu Yogyakarta nampak tak terlalu ramai, karena hari belum terlalu larut.


"Sebetulnya, seminggu setelah meninggalnya Om Suryo dan Tante Rianti, Rara diculik dan hampir jadi korban pelecehan sexual oleh seorang lelaki pedophilia." terang Bayu.


"APA???" Haryo melompat dari duduknya, nafasnya naik turun menahan emosi.


"Siapa pelakunya?" tanya Haryo geram.


"Aku tak tahu, aku nggak bisa tanya ke Rara atau bahkan ke Danu kalau ada Rara. Siang tadi, Rara menangis ketakutan saat dia coba cerita kejadian itu. Aku nggak tega, Yo." jawab Bayu.


"Tadi saja sebelum kalian datang, Rara menangis ketakutan, sampai merancau, saat tanpa sengaja dia melihat Sinta dari kejauhan. Aku rasa peristiwa itu ada hubungannya sama keluarga pakdenya." sambung Bayu.

__ADS_1


__ADS_2