Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
Wujud Asli Sinta dan Mamanya


__ADS_3

Terima kasih atas dukungan yang diberikan hingga novel ini masuk ke dalam kategori Karya Berpotensi dan dipromosikan di beranda, senang dan bahagia sekali rasanya, walau belum terikat kontrak tapi melihat banyaknya pembaca yang menyukai dan menantikan up nya novel ini membuat author benar-benar bahagia.


Terima kasih sebanyak-banyaknya kepada teman-teman yang selalu memberikan dukungan dan semangat kepada author untuk terus menulis cerita yang menarik.


●○●○●○●○●○●○


Bayu menunggu kepulangan Danu sambil mengobrol dan bercanda dengan Kakek, Nenek dan juga Diandra, sementara itu Sinta tengah mengamuk kepada Mariana di kediaman keluarga Perwita.


"Apa mama tidak punya otak sampai berkata begitu pada Tante Ratri?" teriak Sinta dengan histeris sambil menunjuk wajah Mariana dengan telunjuknya.


"Kamu anak kurang ajar ngatain mama nggak punya otak???" bentak Mariana dengan suara yang tak kalah tingginya.


"Memang benar nggak punya otak, bisa-bisanya mama ngatain Mas Haryo di depan Tante Ratri? Kalau sampai acara pertunangan Sinta besok batal, mama harus tanggung akibatnya!!!" bentak Sinta sambil melempar vas bunga kaca ke arah Mariana, beruntung lemparanya meleset, vas bunga itu melayang tepat di samping wajah Mariana, membuat wajah Mariana pucat pasi dan tubuhnya gemetar karena terkejut.


Semua berawal karena kejadian siang tadi di PT. WICAKSONO WORLD.


Tadi sebelum makan siang, Mariana, Sinta dan Ratri berjanjian untuk mengambil pesanan gaun dan set jas yang akan digunakan Sinta dan Haryo pada acara pertunangan mereka besok hari Minggu. Mereka bertiga berencana mengajak Haryo ikut ke butik tempat mereka memesan baju untuk acara pertunangan tersebut.


Saat mereka bertiga menjemput Haryo, security perusahaan memberhentikan Mariana dan Sinta di depan pintu masuk dan tidak mengijinkan mereka berdua masuk ke dalam perusahaan, kecuali Rianti yang hanya mereka ijinkan masuk, walau hanya sebatas di lobby perusahaan.

__ADS_1


"Selamat pagi Nyonya Ratri," sapa receptionist yang mendapat giliran bertugas siang itu.


"Selamat pagi, tolong sampaikan kepada Haryo, kalau saya ingin menemuinya," pinta Ratri ramah.


"Maaf sebelumnya, nyonya. Pak Haryo sedang perjalanan dinas ke Pontianak, baru kemarin sore bertolak," jawab receptionist itu, Ratri mengerutkan keningnya.


"Jadi itu alasan kenapa semalam dia tak datang?" gumamnya lirih.


"Kapan dia kembali?" tanya Ratri.


"Jadwalnya, Pak Haryo akan di Pontianak sampai hari Minggu sore, nyonya," jawab receptionist itu tetap ramah.


"Beraninya kalian melarangku dan putriku masuk, apa mata kalian buta? Aku adalah calon besan dari Ratri Wicaksono, dan putriku adalah calon menantunya, artinya dia akan menjadi nyonya muda kalian kelak!" bentak Mariana, jari telunjuk gempalnya menunjuk wajah dua orang security bernama Yadi dan Joko.


"Maafkan kami, nyonya... Ini adalah perintah yang diberikan oleh Pak Haryo kepada kami, yang diijinkan memasuki lingkungan perusahaan hanya keluarga besar Wicaksono dan juga para rekan bisnis," jawab Yadi dengan sopan.


"Aku calon mertuanya dan Sinta ini adalah calon istrinya, punya kuasa apa kalian melarang kami masuk? Kalian hanya jongos di sini, beraninya kalian melarang-larang kami!" bentak Mariana semakin menjadi.


Ratri yang masih berada di lobby dan bersembunyi di sebalik standing banner mendengar semua kata-kata Mariana. Keningnya berkerut, karena selama ini dirinya tidak pernah melontarkan kata-kata kasar dan merendahkan seluruh karyawan yang bekerja di bawah keluarga Wicaksono, baik karyawan perusahaan, karyawan toko ataupun pegawai yang bekerja di rumah keluarga Wicaksono. Tetapi bisa-bisanya Mariana yang notabene orang luar dan bukan siapa-siapa berani mencaci maki security dari PT. WICAKSONO WORLD? Punya hak apa dia?

__ADS_1


Ratri mengernyit tak suka, dilihatnya Sinta juga tidak berusaha mencegah Mariana, dia tidak berusaha menghentikan cacian Mariana pada kedua security perusahaan yang masih berusaha bersikap sopan.


"Maafkan kami Nyonya Perwita dan Nona Sinta, kami hanya melaksanakan perintah, karena kami masih sayang pekerjaan kami dan kami menghormati dan akan selalu menaati perintah yang diberikan kepada kami, karena Pak Haryo selalu memperlakukan kami, para karyawannya, dengan sangat baik," jawab Yadi, namun jawaban Yadi yang sopan dan tegas itu membuat Mariana semakin meradang.


"Aku pastikan kalian akan segera dipecat dari pekerjaan kalian karena telah merendahkan aku, calon mertuanya dan juga Sinta, calon istrinya," bentak Mariana menggema, suaranya bahkan terdengar jelas sampai ke dalam lobby walau pintu masuk tertutup rapat. Ratri menatap Mariana dengan tatapan mencemooh, siapa dia berani memecat karyawan PT. WICAKSONO WORLD? Mentang-mentang menyandang status sebagai Nyonya Besar Perwita tapi kelakuannya tak lebih baik dari preman pasar. Ratri mendesah sedih, seandainya Rianti masih hidup, tentulah gelar Nyonya Besar Perwita masih jadi milik Rianti, wanita ayu berperangai lembut dan penyayang. Seandainya Rianti masih ada, tentulah Rianti yang akan menjadi besannya dan Diandra si imut itu yang akan menjadi menantunya, tapi kejadian 10 tahun lalu membuyarkan harapannya.


Dalam hati Ratri menyesali keputusannya menyetujui perjodohan Haryo dengan Sinta sebagai pengganti Diandra. Sebelum hari ini, Ratri mengenal Mariana dan Sinta sebagai sosok yang lembut dan bebudi pekerti baik, tapi setelah menyaksikan sendiri sifat asli Mariana dan juga senyuman licik Sinta, Ratri menjadi ragu dan menyesali keputusannya.


"Maaf nyonya, Pak Haryo tidak akan memecat kami kalau kami melaksanakan perintah dengan baik," Joko yang berusia lebih muda dari Yadi mulai tidak sabar dengan perlakuan Mariana kepada dirinya dan Yadi, dia menjawab ucapan Mariana dengan suara yang sedikit membentak.


Mariana dan Sinta terkejut, tapi bukannya sadar dan berhenti, Mariana justru semakin berang ditambah Sinta yang juga mulai tersulut emosinya.


"Saya pastinkan kalian kegilangan pekerjaan kalian!" bentak Sinta keras.


"Benar, Harya perlu diberikan arahan untuk tidak mempekerjakan jongos macam kalian, entah seperti apa cara mendidik Ratri dan Dewo sampai Haryo jadi anak manja yang tak tau aturan, calon mertua dan calon istrinya sampai diperlakukan begini!" tambah Mariana dengan nada tinggi karena terlampau kesal.


Ratri sudah tidak tahan lagi, dia melangkah keluar dari lobby dengan menghentakkan high heels nya dan menatap ke arah Mariana yang kaget melihat Ratri keluar tepat saat dia mengucapkan celaan pada Haryo.


"Tak ada yang salah dengan perintah yang diberikan Haryo kepada mereka, karena Sinta duluan yang berulah di kantor ini," seru Ratri tegas, "Kami keluarga besar Wicaksono tak pernah sekalipun berkata bahkan berlaku kasar kepada seluruh karyawan kami, tapi yang Sinta lakukan saat itu adalah mencaci maki front office kami, dengan mengatasnamakan kalau dia adalah tunangan Haryo. So what kalau dia tunangan Haryo, dia tetap orang luar, aku yang ibu kandungnya, Dewo yang ayahnya dan Ayah Cokro yang kakeknya, tak pernah sekalipun berkata kasar ataupun memaki karyawan kami. Kalian pikir kalian siapa beraninya membuat keributan dengan mencaci maki security perusahan kami?" ucap Ratri panjang lebar dengan nada dingin namun tegas, membuat Mariana tercengang dan wajah Sinta memucat seputih kertas.

__ADS_1


"Dulu aku mengira, kau yang menyandang sebutan Nyonya Besar Perwita, memiliki sifat yang sama dengan sahabatku Rianti, tapi ternyata aku salah, seujung kuku pun kau tak pantas dibandingkan dengan wanita ayu dan anggun sepert Rianti. Dan kau....," Ratri menjeda ucapannya dan menatap Sinta dengan pandangan jijik, "Kukira kau adalah gadis yang berkelakuan baik dan sopan, kukira kejadian di perusahaan ini tempo hari karena kau terlalu bersemangat ingin bertemu dan mengajak Haryo sarapan, tapi hari ini mataku terbuka lebar, kau tak ada bedanya dengan mamamu. Kami akan mempertimbangkan kembali tentang pertunangan kalian, aku tak mau anakku memiliki istri dan mertua yang tak tau adat seperti kalian, hal itu pasti akan mempermalukan keluarga besar Wicaksono," sambung Ratri datar, lalu dia melangkah pergi meninggalkan duo ibu dan anak di teras perusahaan, sementara dia segera memasuki mobil dan meminta sopir untuk segera pergi meninggalkan perusahaan keluarga itu.


__ADS_2