
Diandra berdiri di depan lift di lantai 2, sedang menunggu datangnya lift untuk naik ke lantai 3. Sambil menunggu, Diandra membuka ponselnya untuk mengirim pesan kepada Bayu dan Danu.
"Kak BayBay, Rara naik sekarang ya, Rara diusir sama Pak Fahri suruh buruan keluar dari ruangan." pesan Diandra untuk Bayu.
"Kak Danu, ade sudah selesai kerja, ini baru mau ke ruangan Kak BayBay." pesan Diandra untuk Bayu.
Setelah kedua pesan terkirim, Diandra tidak langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas, dia masih menggenggamnya untuk menunggu balasan dari Danu dan Bayu.
Tiba-tiba, seseorang menabraknya dengan keras dari belakang yang membuat Diandra terdorong ke depan dan jatuh bertumpukan lututnya, dan ponselnya terpelanting jatuh ke lantai. Diandra meringis kesakitan.
"Oops... Sorry, aku nggak lihat kalau ada orang di sini." ucap sebuah suara melengking.
Diandra meraih ponselnya, dan dilihatnya kalau layar LCD nya retak parah, lalu Diandra berusaha berdiri, tetapi lututnya terasa sangat sakit. Diandra yakin kalau sekarang lututnya memar. Dengan susah payah Diandra berusaha berdiri, setelah berhasil berdiri, Diandra menatap wanita yang berdiri angkuh di depannya. Wanita itu berpenampilan sexy mengenakan dress merah di atas lutut berlengan sebahu dan berbelahan dada rendah, riasannya cukup tebal, dengan lipstick merah menyala, plus bersepatu stiletto hak 12cm. Di sebelahnya ada dua orang karyawan yang siang tadi bertemu di toilet.
"Ada masalah apa dengan saya ya mba?" tanya Diandra berusaha sabar.
"Nggak ada, kesal saja, kenapa di perusahaan ini bisa menerima pegawai yang punya profesi sampingan sebagai penggoda!" jawab si dress merah dengan arogan.
Diandra memutar bola matanya, what the hell she's talking about. Secara kasat mata saja kelihatan siapa yang berpenampilan wajar dan siapa yang penggoda.
"Oh ya? Siapa pegawai itu?" tanya Diandra pura-pura tidak tahu dan memancing emosi si embak dress merah.
"KAMU LAH!!!!" bentak si dress merah keras, sampai menjadi pusat perhatian karyawan yang berjalan ke mesin absen.
"Oh, saya to? Kirain mbaknya, soalnya kalau dilihat dari penampilan, kan mbaknya yang lebih mirip penggoda? Mana ada kerja di perusahaan yang pegawainya mayoritas lelaki tapi penampilannya seperti mba? Sudah baju kurang bahan, full make up pulak tuh!" sahut Diandra santai sambil memandang si embak dress merah dari atas ke bawah.
__ADS_1
"Kau.... Kau.... Kurang ajar!!!! Kamu nggak tahu siapa aku? Beraninya ngomong kurang ajar ke aku!!" bentak si embak dress merah emosi.
"Kalau boleh jujur sih ya, saya nggak tau, mbak itu siapa, wong tau-tau saya disruduk dari belakang sampai jatuh, nih lihat... Ponsel saya juga remuk layarnya. Saya kira tadi yang nyeruduk babi hutan, nggak taunya orang, kuat bener tenaganya!" balas Diandra sambil menunjukkan layar ponselnya ke arah si embak.
"Kurang ajar kamu ngatain aku babi hutan?!" si embak mulai mengamuk.
"Hey, buruan minta maaf ke mba Vera, dia manager Departemen Keuamgan, kalau kamu bikin masalah kamu bisa dipecat!" ancam si muka tirus.
"Oooh... Namanya mba Vera? Namanya cantik, sayang nggak sesuai sama orang dan sifatnya!" sahut Diandra tanpa mempedulikan ancaman si tirus.
"Kurang ajar kamu!!!!" tiba-tiba Vera melangkah maju menyerang Diandra, tangannya sudah terangkat ke atas siap memukul wajah Diandra yang menatap Vera dengan tatapan merendahkan.
"BERHENTI!!!!" tiba-tiba terdengar suara lantang menghentikan Vera.
Tampak Bayu yang keluar dari lift bersama seorang pria muda bertubuh tinggi, menghampiri kerumunan karyawan.
"Pak Bayu, karyawan baru ini ngatai saya babi hutan!" adu Vera dengan berlinangan air mata.
"Geez.... Drama Queen." desis Diandra.
Karyawan yang ada di situ pun melongo.
"Benar, Ra?" tanya Bayu sambil melangkah menghampiri Diandra, mengabaikan Vera yang berakting memelas.
"Iya... Kenapa?" jawab Diandra yang balik tanya ke Bayu.
__ADS_1
"Reasons?" tanya Bayu lembut, yang bikin Vera dan gerombolannya terbelalak, begitupun karyawan yang berkumpul di sana.
"Nggak ada, tadi kan Rara berdiri di depan lift nunggu lift datang buat ke kantor kakak sambil kirim WA ke Kak Danu dan Kak Bayu, eh tiba-tiba ade diseruduk dari belakang sampai jatuh numpu lutut dan ponsel ade layarnya hancur nih!" jawab Diandra sambil menunjukkan ponselnya pada Bayu.
"Rara kaget dong, Rara kira tadi diseruduk babi hutan, eh nggak taunya manusia, cewek lagi, takjub banget lah ade ada cewek tenaganya sekuat babi hutan!" sambung Diandra sambil mengangkat kedua alis dan membelalakkan matanya.
"Sakit?" tanya Bayu lagi, dipandanginya lutut Diandra yang tertutup celana pallazo.
"Sakit lah, kak.... Lutut gitu... Gila aja nggak sakit, emang lutut Rara dari besi?" omel Diandra galak, lalu dengan cepat Diandra membungkuk dan bersiap menggulung celana panjangnya.
"Eits... Ra... Ra... Nanti ya... Nanti, di klinik aja!" larang Bayu yang panik, masa iya adik kesayangan sahabatnya dibiarkan lihat-lihatin kaki di depan banyak mata lelaki.
"Kalian bertiga, temui saya besok pagi di ruang meeting lantai 1!" perintah Bayu.
"Diandra ini adik saya, jadi jangan macam-macam!!!" ancam Bayu kepada semua karyawan yang ada di sana.
"Eh.... Kak, jangan gitu... Maaf, saya memang sudah seperti adik buat Kak Bayu, tapi saya mohon jangan perlakukan saya secara istimewa, yang biasa saja, kita kan sama-sama karyawan di sini. Santai saja, asal canda nggak kebangetan kaya mba itu!" Diandra menunjuk ke arah Vera yang pucat pasi.
Bayu menghela nafas, walau Diandra itu ceplas ceploa dan sedikit ngeyel, dia tetap Diandra yang nggak suka dapat perlakuan istimewa.
"Kalian dengar? Tapi awas saja kalau macam-macam!" ancam Bayu lagi.
"Heih, sudahlah kak.... Lutut ade sakit nih, jadi antar ke klinik nggak nih, kalau nggak ya ade jalan sendiri!" omel Diandra.
"Iya... Iya.... Diantar kok, sini tangannya, bisa jalan nggak?" Bayu meraih tangan kanan Diandra dan mengalungkannya di bahunya, lalu dia memeluk pinggang Diandra untuk memapahnya.
__ADS_1
Karyawan yang ada di sana dan menyaksikan kejadian itu hanya melongo melihat interakai antara Bayu dan Diandra yanh memang terlihat akrab seperti kakak beradik. Lalu tatapan mereka beralih ke arah Vera dan kedua temannya yang pucat pasi dan gemetaran. Akhirnya trio prnindas kena batunya.