
*Mohon maaf karena tidak bisa update setiap hari, karena harus mengurus anak saya yang kembali bersekolah via daring, tapi saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk update 2 hari sekali, mohon doanya agar kedepannya saya bisa update setiap hari.*
●○●○●○●○●
"AAAAAAAAAAAAARGHHH..... TIDAAAAK.... TOLONG LEPASKAN AKU.... LEPASKAN AKU.... KAK DANU.... KAK TORA, TOLONG RARA....!!!" terdengar teriakan histeris dari lantai dua villa tua di tengah rimbunnya hutan homogen di Sedayu.
Tora bergegas naik ke atas dan menerobos masuk kamar utama tempat Diandra tidur. Rahangnya mengetat saat melihat salah seorang anak buah Kenta yang nyaris telanjang dengan resleting celana yang terbuka, menampakkan bagian vitalnya, sedang duduk di atas tubuh mungil Diandra, mata Diandra dililit kain hitam dan tangan dan kakinya diikat di tiang ranjang. Rok motif bunga-bunga yang Tora pakaikan tadi tersingkap ke atas.
Gelap mata, Tora menerjang anak buah Kenta, dan memukulinya tanpa ampun.
"Sialan!!! Bajingan kau!!!! Sudah kubilang jangan sentuh Diandra!!!!" bentak Tora sambil memukulinya membabi buta.
"Gara-gara anak itu Bram kau pukuli dan kau buat koma???? Kami anggota elite Furaingudoragon kau perlakukan seperti itu hanya karena bocah ingusan itu???" bentak anak buah Kenta seraya membalas pukulan Tora. Tapi rupanya kemampuannya tak sebanding dengan Tora yang sedang kalap, Tora mengembalikan pukulannya bertubi-tubi sampai anak buah Kenta jatuh pingsan, namun Tora tak berhenti memukulnya. Tak ada seorangpun yang berani menghentikan Tora, mereka hanya menonton.
Kenta masuk ke dalam kamar, melihat Tora yang tengah mengamuk dan kondisi Diandra yang memprihatinkan. Kenta hanya bisa diam. Setelah beberapa saat, Kenta akhirnya mendekati Tora dan menghentikannya.
"Hentikan, Jordy bisa mati!" seru Kenta sambul menepuk bahu Tora.
"Dia pantas mati!!!" sahut Tora, dia beranjak bangun dari atas tubuh Jordy, lalu dengan sekuat tenaga, Tora menginjak hancur ******** Jordy. Spontan tindakan itu membuat ngilu beberapa orang yang ada di ruangan itu.
"Kau gila???? Dia nggak bakal bisa punya keturunan kalau kau injak macam itu!!!" bentak Kenta.
"So what?" tanya Tora acuh tak acuh sambil menghampiri tubuh Diandra yang tergeletak pingsan, dirapikannya baju Diandra kemudian dia melepaskan ikatan-ikatan di kaki dan tangan Diandra.
Kenta memijat keningnya yang berdenyut hebat, satu lagi anak buahnya berkurang gara-gara kebrutalan Tora.
"Angkat Jordy ke kamarnya, tunggu Miko datang, biar dia urus Jordy!" perintah Kenta kepada Jack dan Tio yang kebetulan berada di situ.
Tanpa bicara, Jack dan Tio mengangkat tubuh Jordy untuk dipindahkan ke kamarnya. Mereka bergidik ngeri melihat wajah Asia Jordy yang cool berubah tak karuan, rahang dan hidungnya patah, beberapa giginya tanggal, belum lagi *********** yang hancur. Tora is no joke, pikir mereka. Walau berwajah tampan dan kalem, sifat Tora sungguh menakutkan.
Kenta berdiri di samping ranjang tempat Diandra berbaring, sementara Tora mengambil air hangat dan handuk kecil untuk menyeka tubuh Diandra yang tersentuh Jordy.
__ADS_1
Kenta mengernyitkan keningnya, melihat tubuh Diandra yang bergetar lemah, namun lama kelamaan semakin kencang.
"Hey bocah, bangun!!!" seru Kenta seraya menepuk pipi Diandra. Tak ada tanggapan dari Diandra, malah tubuhnya menegang dan semakin bergetar hebat.
"Kejang?" gumam Kenta panik.
"Tora, kemari cepat, sepupumu kejang!!!" teriak Kenta.
Tora segera berlari menghampiri tubuh Diandra, lalu meraihnya dan memeluknya erat.
"Rara.... Adee... maafkan kakak... tolong jangan seperti ini, sadarlah!" seru Tora panik.
"Panas sekali badannya!" serunya lagi saat sadar tubuh Diandra sangat panas.
Tanpa berpikir panjang, Kenta mengambil ponselnya dan menghubungi Miko.
"Di mana?" tanya Kenta berusaha tenang, entah kenapa melihat kondisi Diandra, hatinya terasa perih.
"Cepat naik ke lantai dua, anak itu kejang!" perintah Kenta yang tanpa menunggu jawaban Miko, lagi-lagi memutuskan sambungan teleponnya.
"What the ****!!!!" umpat Miko seraya berlari masuk ke dalam villa lalu melesat ke lantai dua.
Miko memasuki kamar utama, dia melihat Tora menangis memeluk tubuh Diandra, gadis kecil 12 tahun, yang tubuhnya mengalami kejang hebat, sementara di sebelah ranjang tampak Kenta menatap mereka berdua dengan tatapan penuh kecemasan dan juga kesedihan.
'What the hell with that look, Kenta? Do you feel worried about her? It's really you? Or are you being possessed by ghost?' batin Miko.
"Apa yang terjadi? Kenapa dia bisa kejang seperti ini?" tanya Miko sambil mengurai pelukan Tora dari tubuh Diandra, lalu dia mengambil alih tubuh Diandra.
Miko membaringkan miring tubuh Diandra, mengalasi kepalanya dengan bantal.
"Tahan tubuhnya agar tetap miring dan berhentilah menangis!!" bentak Miko jengah melihat wajah Tora yang menangis tanpa air mata. Tora menuruti perintah Miko, sementara Miko menyiapkan perlengkapan untuk memasang IV drip di tangan Diandra.
__ADS_1
"Ken, bantu aku!" perintah Miko mengejutkan Kenta. Perlahan dan ragu dia merangkak naik ke atas ranjang.
"Pegang tangan Diandra, aku akan memasang IV drip dan menyuntikan obat. Pegang yang benar!" sambung Miko serius.
"Ya." sahut Kenta, diraihnya tangan mungil Diandra, dan entah mengapa dia merasa ada aliran listrik mengalir ke seluruh tubuhnya, menimbulkan getaran aneh. Tangan mungil itu begitu halus dan lembut, dengan porsi daging dan lemak yang pas, sungguh menyenangkan untuk disentuh dan di remas. Kenta menatap wajah Diandra yang pucat pasi, namun tetap kecantikannya masih jelas terlihat.
'Damn it, she just underage little girl, why should I got interest in her!' umpat Kenta dalam hati. Namun pandangan matanya tak mampu berpaling dari wajah almond Diandra.
"KENTARO, HOLD HER HAND PROPERLY!!!!!" bentak Miko, saat dia gagal menancapkan jarum IV drip ke pembuluh darah Diandra karena tangannya bergetar.
"Sorry, my bad!" sahut Kenta, memperkuat pegangannya di tangan Diandra.
Dan akhirnya Miko berhasil menusukkan jarum IV drip ke pembuluh darah Diandra. Setelah beberapa cairan IV drip masuk ke dalam tubuh Diandra, kejangnya berangsur-angsur berkurang, tak lupa Miko memasukkan obat penurun demam dan anti kejang.
Tora memeluk tubuh Diandra, dan berulang kali mengucapkan kata maaf, karena membuat Diandra menderita secara fisik dan psikologis. Sementara Kenta terduduk di tepi ranjang sambil menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Miko melihat kedua sahabatnya yang tampak stress dan merasa bersalah atas kondisi Diandra, jadi gemas sendiri.
"Kalau menyesal dan merasa bersalah, pulangkan! Tak ada gunanya kalian menyesali dan merutuki diri sendiri, tak akan mengubah keadaan juga!" seru Miko. Tak ada jawaban dari kedua sahabatnya.
"Hah.... Ini makan malam untuk Diandra, kalau bangun usahakan dia makan. Aku simpan di dapur!" sambung Miko seraya melangkah keluar.
"Ah, Boss Miko, tolong Jordy di kamarnya Boss!!!" pinta Tio yang tiba-tiba datang.
"Kenapa?" tanya Miko heran.
"I-Itu... Boss Tora tadi mengamuk, karena Jordy.... itu.... mau mem... mem.... sepupu Boss Tora..." jawab Tio terbata-bata.
"GOD!!! Kenapa sih cari anak buah nggak ada otak? Sudah tau kalau Tora pantang diusik masih pada nekad!!!" seru Miko frustasi, karena dia sangat tau korban Tora tak pernah ada yang luka ringan, pasti luka berat, ditambah adanya kerusakan organ dalam. Walau dibayar Kenta atau Tora, mengobati dan merawat pasien dengan luka serius dan kerusakan organ dalam, kalau tidak di rumah sakit akan lebih melelahkan.
Setelah Miko memeriksa kondisi Jordy, dia tak ada hentinya mengumpat, dia harus membetulkan letak rahang Jordy yang bergeser, hidungnya yang patah dan yang jelas penyembuhan dan pemulihan alat vital Jordi yang remuk diinjak Tora, dan tak ada jaminan kalau Jordy bisa menggunakannya lagi kelak.
__ADS_1
Entak apa dosanya di masa lalu sehingga harus bersahabat dengan dua orang trouble maker Kenta dan Tora.