Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
Mbok Nek Ngomong Sek Cetho


__ADS_3

Tak lama setelahnya, Suwito segera beranjak dan menyeret Sinta keluar dari restaurant diiringi gunjingan dari pengunjung restaurant lainnya, sementara Mariana tergopoh-gopoh berlari menyusul suaminya.


Suwito sangat marah dan ingin segera menghajar Sinta, karena perbuatannya, bisa dipastikan kalau Dewo akan menarik semua investasi dan membatalkan kerja sama kedua perusahaan, belum lagi janji memberikan kompensasi pembatalan perjanjian perjodohan pasti juga tidak akan dipenuhi. Sekarang dia harus mulai memulirkan bagaimana agar tidak mengalami kerugian besar, salah satunya adalah menemukan kedua keponakannya yang membawa kunci brankas rahasia dan hanya mereka berdualah yang menjadi petunjuk dimana keberadaan brankas rahasia itu.


Suwito melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia bahkan lupa jika Mariana, sang istri belum masuk ke dalam mobil dan dia tinggalkan di halaman parkir restaurant. Mariana hanya bisa berteriak frustasi dan menangis.


Sementara itu Haryo kembali ke rumah besar bersama kedua orang tuanya dan juga sang kakek, Cokro. Sedangkan Gina dan James yang berdalih ingin segera pulang, akhirnya bergegas menuju ke rumah sakit tempat Diandra dirawat.


Sesampainya di rumah, Ratri terlihat lega.


"Akhirnya perjodohan itu dibatalkan," serunya lega.


"Ha.... Aneh, bukannya mama yang dulu ngotot mau menjadikannya menantu?" sindir Haryo sambil menghempaskan tubuhnya di sofa.


"Mama kemakan aktingnya, dia bersikap seolah dia gadis polos manja yang pengertian," helah Ratri.


"Cih, kau saja yang tak pandai menilai karakter orang," decih Cokro, dia heran sama menantunya, bisa-bisanya tertipu oleh Sinta yang berpura-pura polos di hadapan mereka, padahal dilihat secara kasat mata pun sudah jelas, kalau Sinta itu punya perangai buruk.


"Sudahlah, Pa.... Yang penting urusan ini sudah selesai, jika tetap mau melaksanakan janji papa pada Om Asdi, sebaiknya kita lebih menggiatkan pencarian terhadap Diandra dan Danu," sela Dewo, membela sang istri tercintanya.


"Kami sudah menemukan mereka berdua," ucap Haryo datar yang membuat Dewo, Ratri dan Cokro terdiam dan menahan nafas seolah tak percaya dengan apa yang mereka dengar.


"Ma-maksudmu, Yo?" tanya Cokro dengan suara bergetar.


"Menemukan mereka berdua? Danu dan Diandra?" tanya Dewo tak percaya, binar bahagia memancar di matanya.

__ADS_1


"Hmmmm," jawab Haryo pendek.


"Bicara yang benar sama orang tua!" bentak Cokro sambil memukulkan ujung tongkatnya perlahan ke betis Haryo.


"Ck.... Sakit kek," gerutu Haryo sambil mengusap betisnya yang tidak merasa sakit sama sekali, dia berakting saja.


"Jawab yang benar, kamu menemukan mereka berdua?" tanya Cokro lagi.


"Iya, tepatnya bukan menemukan, tapi bertemu dengan tidak sengaja," jawab Haryo.


"Maksudmu ki piye, mbok nek ngomong sek cetho nek sama orang tua itu!" omel Cokro dengan Jawa medhoknya, yang artinya 'gimana sih maksudmu, kalau bicara sama orang tua itu yang jelas.'


Haryo hanya meringis dan mulai menceritakan awal mula pertemuannya kembali dengan Danu dan Diandra setelah 10 tahun lebih tidak mengetahui kabar dan keberadaan mereka berdua. Nampaknya dia tidak bisa ke rumah sakit malam ini, karena harus menceritakan semuanya kepada keluarganya.


●○●○●○●○●○●○


Bayu menggenggam erat telapak tangan Diandra dan tak ingin melepaskannya, berulang kali dia mengecupi tangan Diandra. Dia masih diliputi perasaan bersalah karena membuat Diandra menjadi seperti ini.


Diandra sudah sempat terbangun tadi, dan Bayu dengan telaten menyuapinya air minum dan juga makan malam, tetapi karena sakit dan nyerinya datang lagi dan Diandra tidak kuat menahan sakit, maka Dimas terpaksa menyuntikkan pereda nyeri sehingga membuat Diandra kembali tertidur setelah obat bekerja.


Semantara Danu tengah mengerjakan pekerjaannya di atas sofa panjang yang berada di depan ranjang perawatan.


"Dan, baiknya kamu pulang ke rumahku dulu untuk beristirahat," ucap Bayu sambil mangarahkan pandangannya ke arah Danu.


"Gampang, aku masih menunggu Kak Tora datang kemari," sahut Danu, tangannya bergerak lincah memasukkan kode-kode rumit melalui keyboard laptopnya. Dia masih menunggu kedatangan Tora, karena saat akan berangkat menuju rumah sakit, terjadi sesuatu pada sebuah cabang cafe milik Tora yang berada di kawasan Merapi, jadi mau tak mau, Tora harus menyelesaikan pekerjaannya dulu.

__ADS_1


Namun itu tak menjadi masalah bagi Danu, dia sudah sangat senang dan berterima kasih karena pada akhirnya Tora bersedia menemuinya.


"Dan, apakah kau tau tentang Matsushita Company?" tanya Bayu tiba-tiba.


"Hmmmm, perusahaan asing kan? Induk perusahaannya ada di Jepang, mereka bergerak di berbagai bidang, tapi anak perusahaan di Jogja ini hanya bergerak di bidang furniture dan frozen food, saingan perusahaan Om James," jawab Danu panjang lebar.


"Kau tau siapa CEOnya?" tanya Bayu lagi.


"Kentaro Matsushita kan? Aku pernah sekali melihatnya saat perusahaannya mengalami masalah dengan IT," jawab Danu.


"Hanya sekali melihat?" tanya Bayu heran.


"Iya, aku kan bukan CEO, Bay.... Aku hanya karyawan reguler saja, jadi kesempatan buat bergaul dengan para CEO sangat minim, walau sekarang jabatanku sudah lumayan," jawab Danu sambil terkekeh.


"Bukan begitu maksudku, Dan," jelas Bayu buru-buru, dia tak ingin Danu salah paham dengan kata-katanya, "Aku bertanya karena siang tadi, tak sengaja Rara bertemu dengan Yoshiko Matsushita saat aku mengantar Rara ke toilet," sambung Bayu.


"Yoshiko Matsushita?" ulang Danu.


"Iya, dan anehnya dia bilang kalau Rara mirip dengan gadis yang dicintai sepupunya, CEO Matsushita Company, Kentaro Matsushita. Yoshiko pernah melihat Rara di foto yang sepupunya letakkan di atas meja, dan setelah ku selidiki gadis dalam foto itu benar-benar seperti copy dari Rara," jelas Bayu yang bangkit menghampiri Danu dengan menunjukkan foto di ponselnya.


Raut wajah Danu menegang.


"Ini memang Rara," ucap Danu, matanya tak berkedip memandang foto seorang gadis belia berseragam SMU yang tersenyum manis mempesona. Gadis itu adalah Diandra, adiknya. Tapi bagaimana mungkin Diandra mengenal Kentaro Matsushita? Danu tahu siapa saja teman Diandra dan saat itu Diandra masih ketakutan jika bertemu dengan pria dewasa, kecuali dengannya dan sang kakek. Bahkan jika guru mata pelajaran yang mengajar adalah lelaki, Diandra akan belajar sendiri di ruang BK dan mendengarkan penjelasan sang guru melalui video.


"Bagaimana foto ini bisa dia miliki?" tanya Danu heran.

__ADS_1


"Entahlah, coba nanti tanyakan pada Kak Tora dan Kak Miko, apakah Kentaro ini sama dengan Kentaro leader Furaingudoragon, jujur aku cemas jika mereka orang yang sama," jawab Bayu, tentu saja dia cemas jika mereka adalah orang yang sama, karena Yoshiko sudah bertemu Diandra, kemungkinan dia akan mengatakan keberadaan Diandra kepada sepupunya, dan jika sudah begitu, maka hal tersebut tentu akan membahayakan keselamatan Diandra dan juga Danu.


Tiba-tiba pintu ruang perawatan terbuka perlahan, Danu menoleh dan melihat siapa yang datang. Matanya terpaku, wajahnya terkejut dan matanya mulai berkaca-kaca, begitupun dengan kedua orang yang datang dan baru memasuki ruangan itu, mereka terpana dan tak sanggup menahan haru.


__ADS_2