
Miko dan Danu masuk ke dalam ruang perawatan Diandra dan mendapati suasana di dalam ruangan sedikit aneh.
"Kalau begitu saya undur diri dulu, saya akan kembali ke perusahaan," pamit Ari undur diri.
Bayu hanya bergumam mengiyakan sementara Tora, Danu dan Miko hanya mengangguk.
"Kak Ari, nanti pulang kerja kesini?" tanya Diandra dengan mata berbinar, membuat Bayu merasa kepanasan.
"Er.... Kalau diminta Pak Bayu kemari saya akan datang atau kalau ada berkas yang perlu ditandatangani saja akan antar kesini," jawab Ari setelah mendapat pelototan mematikan dari Bayu.
"Oh, ya sudah," gumam Diandra kecewa.
"Kenapa?" tanya Bayu dan Danu bersamaan saat melihat perubahan mimik wajah Diandra.
"Nggak papa, cuma mau nitip Choi Pan aja kalau Kak Ari kesini nanti, kalau nggak ya sudah, besok aja kalau keluar dari sini," gumam Diandra.
Bayu menghela nafas panjang, lalu menatap Diandra penuh kasih.
"Nanti kakak belikan, kasihan Ari, ini weekend, dia butuh istirahat," bujuk Bayu sambil membelai kepala Diandra.
"Ah iya, lupa kalau weekend, pasti Kak Ari mau malam mingguan ya, heheehehee... Maaf, Rara lupa," kekeh Diandra sambil menjulurkan lidahnya, Bayu gemas melihatnya, kalau saja tak ada orang lain, dia sudah menyerang bibir Diandra.
"Aku jomblo dari lahir, Di, hahahahaha...." sahut Ari sambil tertawa, dan Diandra makin terkekeh mendengarnya.
Setelah berbasa-basi, akhirnya Ari meninggalkan rumah sakit untuk kembali menuju perusahaan dan menyelesaikan pekerjaan yang tertinggal.
Sepeninggal Ari....
"Ra, kakak boleh periksa punggung Rara?" tanya Miko.
Diandra menatap Miko takut-takut, lalu tatapannya berpindah bergantian pada Danu, Tora dan Bayu.
"Nggak apa-apa de, Kak Miko kan dokter, Kak Miko cuma memastikan sesuatu saja kok, jangan takut," bujuk Danu dan Diandra pun mengangguk setuju.
Miko melangkah mendekati Diandra.
"Maaf ya Ra, kakak buka sedikit," ucap Miko meminta ijin setelah memasang rubber gloves pada kedua tangannya dan Diandra hanya mengangguk perlahan.
Miko mengangkat t-shirt yang Diandra pakai, meneliti punggung Diandra yang halus tanpa cela, sesekali mengusapkan ibu jarinya ke punggung Diandra.
"Heat sensing tattoo," gumam Miko sambil menurunkan kembali t-shirt Diandra.
__ADS_1
"Maksudnya?" tanya Tora.
"Tato di punggung Rara pakai heat sensing color changing, jadi tato itu akan muncul ke permukaan kulit kalau suhu tubuh Rara tinggi," jelas Miko, "No wonder that's appear 10 years ago when she caught high fever," sambung Miko.
"Tato apa sih kak? Kak Danu punya tato di punggung, tapi kalau Rara nggak punya," tanya Diandra bingung.
"Kamu ada tato juga Dan?" tanya Tora.
"Nggak tuh.... Ade, kakak mana pernah tatoan?" Danu menatap Diandra bingung karena tidak pernah merasa mempunyai atau membuat tato di tubuhnya.
"Ada kak, dulu waktu kakak demam waktu kakak semester 4 kan Rara yang jagain kakak, waktu itu kakak berkeringat banyak jadi Rara ganti baju kakak, dan Rara lihat ada tato, tapi Rara nggak bilang kakek nenek, takut nanti kakak dimarahi, tapi pas kakak sembuh tatonya hilang, Rara pikir itu temporary tattoo," jelas Diandra.
"Biar kuperiksa," Miko menghampiri Danu dan meminta Danu membuka kemejanya.
Miko memeriksa punggung Danu dengan seksama, lalu dia mengangguk yakin.
"Sama seperti punya Rara, Heat sensing color changing tattoo, akan muncul kalau suhu tubuh tinggi, biasanya dipakai untuk mengontrol kesehatan pemakai tattoo, tapi kalau kaluan mungkin karena maksud lain," jelas Miko, Danu memakai kembali kemejanya.
"Where's the key?" tanya Tora.
"Deposit box di Bank M," jawab Danu.
"Gimana cara buat tato itu muncul?" tanya Tora pada Miko.
"Jadi maksudmu mereka harus demam?" tanya Tora lagi,.
"Enggak lah bro, suhu tubuh normal manusia kan 36,5°C, kalau suhu tubuh mereka di atas itu sudah bisa terlihat," jelas Miko lagi.
"Is that so," Tora, Danu dan Bayu manggut-manggut, sementara Diandra kebingungan karena tidak tahu inti pembicaraan mereka.
"Sebetulnya kakak semua ngomongin apa sih? Kok Rara nggak mudheng sama sekali?" tanya Diandra antara bingung dan penasaran.
"Ade nggak perlu tahu ya sayang, yang penting ade istirahat biar lekas sembuh, masalah ini biar kami yang pikirkan, oke?" Tora mengedipkan sebelah matanya pada Diandra lalu mengecup keningnya.
"Pelit ih," gerutu Diandra.
Tiba-tiba ponsel Bayu berbunyi, dan Bayu segera menerima panggilan telepon itu.
'Ya? Sudah di lobby? Baik saya ambil ke bawah, tolong tunggu sebentar,' Bayu segera memutus sambungan telepon dan memasukkan ponselnya ke dalam sakunya.
"Siapa kak?" tanya Diandra.
__ADS_1
"Food delivery, Rara tadi ingin choi pan kan?" Bayu mengambil dompetnya dan akan bergages keluar.
"Eh, sudah beli?" tanya Diandra.
"Hm.... Kakak turun dulu," pamit Bayu sambil mengecup kening Diandra.
"Cis, lebay amat Bay, ke bawah doang pakai cium-cium!" gerutu Danu sambil mendengus kesal, begitupun dengan Tora yang mendelik tajam pada Bayu.
Bayu tak peduli dan terus saja melangkahkan kaki keluar ruang perawatan Diandra.
"Kalau nggak rela Rara dicium orang ya jangan diijinkan pacaran, kalian ini nggak bisa terima konsekuensi kalau Rara jadi kekasih orang," dengus Miko.
Danu dan Tora hanya bisa menatap Miko dengan kesal sementara Diandra terkekeh geli.
Bayu sampai di lobby rumah sakit, delivery boy sudah menunggu Bayu di ruang tunggu, begitu Bayu melihatnya, segera Bayu menghampiri dan menerima pesanannya setelah membayarnya.
Saat gendak kembali ke lantai 3 ke ruangan tempat Diandra dirawat, dia betemu dengan Haryo dan Dimas.
"Dari mana bro? Rara kau tinggal?" tanya Dimas.
"Ambil ini, Rara ingin makan choi pan, sekalian beli makan siang buat Kak Tora, Danu dan Kak Miko," jawab Bayu sambil menunjukkan 2 buah paper bag berukuran besar.
"Kak Tora datang?" tanya Haryo.
"Ya," jawab Bayu singkat, "They're both two demand your explanations, Yo. Jujur aku nggak mengira kamu mengungkapnya di depan umum, aku kira kau menyewa private room," ucap Bayu, terdengar jelas nada kekecewaan di kalimatnya.
"Aku hanya bermaksud mempermalukan Sinta," sahut Haryo penuh sesal.
"Dan semua keluarga Perwita terseret karenanya, bahkan perusahaan yang Om Suryo mati-matian bangun bersama almarhum Kakek Asdi terancam bangkrut," geram Bayu, "I really don't understand you," tambahnya yang langsung masuk ke dalam lift saat pintu lift terbuka.
Haryo terdiam ditempatnya, terlihat jelas kalau dia menyesali tindakannya.
"Ayo, kita naik dulu, saat ketemu Danu dan Kak Tora, jelaskan dan minta maaf, they will understand," ajak Dimas, ditepuknya bahu Haryo sambil melangkah masuk lift, Haryo ikut melangkah masuk dan berdiri di samping Dimas dengan bersandar di dinding lift dengan wajah kusut.
"Jangan membicarakannya di depan Rara," ucap Bayu memberi peringatan.
"I know," jawab Haryo lesu.
Haryo menatap Bayu yang terlihat sangat kesal kepadanya.
"Your concern to her isn't it too much?" tanya Haryo yang merasa aneh karena perhatian Bayu terhadap Diandra terlihat sangat berlebih.
__ADS_1
"It's just normal," jawab Bayu datar.
Haryo diam dan tak berkata apapun lagi.