Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
Kecemasan Danu dan Tora


__ADS_3

Danu baru saja tiba di apartment Tora, bertepatan dengan Tora yang juga baru turun dari mobilnya.


Gegas Tora menarik tangan Danu dan membawanya masuk ke dalam lobby apartment.


"Kak, bagaimana bisa ketahuan secepat ini?" tanya Danu cemas.


Sesungguhnya dia tak masalah jika keberadaannya ketahuan, karena dia bisa bersembunyi tanpa melibatkan adiknya maupun kakek nenekny, tetapi karena ini Diandra, rasa cemas dan ketakutan mulai menguasainya.


"Tenanglah, beruntung karena Rara harus cuti selama proses penyembuhan dan pemulihan, tetapi yang jadi masalah, bagaimana jika Bayu diikuti," jawab Tora yang segera menarik lengan Danu untuk masuk ke dalam lift saat pintu lift terbuka. Mereka naik ke lantai 17, lantai paling atas dari bangunan apartment.


Danu menekan password electric lock pada pintu lalu membukanya dan mempersilakan Tora masuk.


Tampak perempuan paruh baya tergopoh-gopoh datang dari dapur.


"Den Danu sudah pulang? Sugeng siang Den Tora," sapa perempuan paruh baya itu.

__ADS_1


"Injih Mbokdhe Darmi, maaf ndak ngabari dulu kalau pulang gasik," ( Iya Budhe Darmi, maaf tidak kasih kabar kalau pulang awal ), sahut Danu sambil mengangguk pada wanita paruh baya yang dia panggil Mbokdhe Darmi, sementara Tora hanya tersenyum membalas sapaan Mbokdhe Darmi.


"Badhe dhahar siang sak meniko, den?" ( Mau makan siang sekarang, den ? ), tanya Mbokdhe Darmi.


"Mbokdhe, sudah berapa kali Danu bilang, ndak usah pakai bahasa Jawa halus, Danu ndak enak sama mbokdhe," protes Danu.


"Maaf, den.... sudah kebiasaan dulu sama Ndoro Asdi, hehehehe...." kekeh Mbokdhe Darmi yang notabene adalah seorang asisten rumah tangga yang dulu bekerja di rumah keluarga Perwita yang bertugas melayani pasangan Tuan dan Nyonya Besar Perwita. Namun setelah orang tua Danu dan Diandra meninggal asisten dan pengurus rumah tangga keluarga Perwita semua di berhentikan sepihak oleh Suwito, termasuk Mbokdhe Darmi dan suaminya Pakdhe Tukiran.


Beruntung Tora bersedia menampung beberapa dari mereka yang masih ingin bekerja dan menempatkan mereka di beberapa rumah, villa, apartment dan juga cafe miliknya.


"Sekarang ndak papa mbokdhe, aku sudah lapar," jawab Tora bersamaan dengan perutnya yang bersuara nyaring dan disambut gelak tawa mereka bertiga. Sesaat Danu melupakan kecemasannya.


"Mbokdhe siapkan dulu, njih.... Tadi mbokdhe masak sup akar teratai kesukaan Den Danu dan Den Tora, walau ndak seyahud masakan Nyonya Rianti," sahut Mbokdhe Darmi yang langsung murung saat menyebut nama Nyonya Besar terakhir yang dilayaninya.


Danu dan Tora merasakan kesedihan Mbokdhe Darmi, lalu mereka merangkul bahu Mbokdhe Darmi secara bersamaan.

__ADS_1


"Masakan mbokdhe mana ada yang ndak yahud, jangan sedih mbokdhe... Mama sudah bahagia di sana sama papa, kakek Asdi dan Nenek Ningrum," hibur Danu.


"Iya mbokdhe, sini yuk kita bantuin nyiapin makan siang, trus kita makan siang bareng, sama PakdheTukiran juga nanti," ajak Tora sambil mendorong tubuh Mbokdhe Darmi perlahan, lalu mereka bertiga beriringan berjalan menuju dapur. Mbokdhe Darmi mengusap ujung matanya yang basah karena aliran air mata, dia terharu dengan sikap Danu dan Tora yang tidak membedakan antara diri mereka dan para pekerja di rumah mereka. Sikap yang sama yang diajarkan oleh pasangan Asdi dan Ningrum serta Suryo dan Rianti, namun sayangnya tak dimiliki oleh Suwito dan Bagyo.


"Mbokdhe kangen sama non Rara, den," ucap Mbokdhe Darmi saat dia memanaskan tumis horrenso ke dalam microwave.


"Kapan-kapan mbokdhe saya ajak ke tempat Rara tinggal, soalnya Rara belum bisa kemana-mana, kakinya belum boleh gerak," sahut Danu yang mengambil mangkok dan sumpit sebagai alat makan mereka.


"Semoga Non Rara bisa segera pulih," doa Mbokdhe Darmi yang sudah mengetahui kondisi Rara.


"Aamiin, semoga mbokdhe..." sahut Danu dan Tora bersamaan.


Tak berapa lama hidangan dan peralatan makan sudah tertata rapi di meja, tumis horenso, ikan kukus saus jahe, sweet and sour prawn, stir fry eggplant dan juga sup akar teratai nampak sangat menggugah selera.


Tora memanggil Pakdhe Tukiran agar bergabung makan siang bersama. Suasana makan siang terasa hangat diselingi obrolan dan canda tawa, sejenak Danu dan Tora melonggarkan pikiran terkait bagaimana besok mereka menyusun rencana mengatasi mata-mata Kentaro yang kemungkinan akan berkeliaran di sekitar PT. Wicaksono World dan juga mengikuti Bayu.

__ADS_1


__ADS_2