Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
Jam Terbang Tinggi


__ADS_3

Bayu belum melepaskan ciumannya dari bibir Diandra saat ada seorang perawat masuk untuk mengantarkan air hangat yang digunakan untuk membasuh tubuh pasien. Diandra dan Bayu terlonjak kaget saat mendengar suara pintu dibuka, Bayu segera melepaskan ciumannya di bibir Diandra, sedangkan Diandra membenamkan wajahnya yang memerah karena malu ke dada Bayu.


"Oh maaf, saya hanya mau mengantar ini, saya letakkan di meja, ya," ucap sang perawat dengan canggung, wajahnya memerah karena malu menyaksikan adegan ciuman antara pasien dan si penunggu pasien. Lalu dia buru-buru keluar setelah meletakkan basin berisi air hangat di meja, dan Bayu mengucapkan terima kasih dengan nada datar.


Diandra masih menyembunyikan wajahnya di dada Bayu. Malu sekali, ketahuan mesum di pagi hari oleh seorang perawat.


"Cutie, perawatnya sudah pergi, kita lanjut lagi ya," bisik Bayu, dia hanya berniat menggoda Diandra.


"Kak, malu.... Besok di rumah saja," sahut Diandra lirih.


"Besok lain lagi ceritanya dong, sayang.... Kalau sekarang ya harus sekarang," ucap Bayu sambil mengangkat kepala Diandra dan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Diandra lagi.


"Tapi kunci dulu pintunya, malu kalau dilihat orang lagi," pinta Diandra setengah merengek dan itu membuat Bayu gemas, Bayu yang tadinya hanya berniat menggoda malah tergoda untuk kembali mencium Diandra.


Tanpa mengindahkan permintaan Diandra untuk mengunci pintu, Bayu kembali mencium bibir Diandra dengan gemas.


Diandra yang terkejut hanya bisa meremas kemeja yang dipakai Bayu untuk menahan gejolak aneh yang bergulung di dadanya.


Bayu mencium Diandra seolah tak ada hari esok lagi, dia hanya menjeda sesaat ciumannya ketika dirasa mereka membutuhkan oksigen, dan setelah mereka menarik nafas dalam, Bayu kembali melanjutkan ciumannya di bibir Diandra.


Sampai mereka tak menyadari kalau Dimas sudah berada di dalam ruangan itu selama beberapa menit.


"Ehem... Pagi-pagi, bro, slow down dikit bisa? Rara itu newbie lho, bukan kaya kamu yang jam terbangnya tinggi," tegur Dimas mengejutkan Bayu dan Diandra.


Diandra spontan mendorong tubuh Bayu agar menjauh, tetapi Bayu malah kembali menarik tubuh Diandra dan menciumnya sekali lagi walau hanya sekedar ******* singkat.


"Kak, ada Kak Dimas," gerutu Diamdra sambil memukul dada Bayu setelah Bayu menghentikan ciumannya.


"Biar saja, dia sudah punya istri, lihat orang ciuman nggak ada pengaruhnya buat dia," sahut Bayu datar.


"Hey, biar gitu, yang tau adat dikit dong, masa di depan orang lain main mesum-mesuman?" protes Dimas.


"Kamu bukan orang lain buat kita, Dim," sahut Bayu santai. Dirapikannya baju Diandra yang agak berantakan, kemudian Bayu mengambil sisir dan mulai menyisir rambut Diandra yang bergelombang.


"Kamu tuh ngeyel, untung aku yang masuk, kalau orang lain gimana?" gerutu Dimas sambil melangkah mendekati ranjang Diandra.


"Ya biar saja, toh aku mencium kekasihku sendiri, bukan kekasih orang lain," jawab Bayu acuh tak acuh, dia masih fokus menyisir rambut Diandra, sementara wajah Diandra semakin memerah mendengar percakapan Bayu dan Dimas.

__ADS_1


Setelah selesai menyisir rambut Diandra, Bayu bergegas ke kamar mandi untuk mengambil handuk dan perlengkapan mandi untuk Diandra, dia akan membantu Diandra membersihkan diri setelah Dimas keluar.


"Kamu jangan mau disosorin terus sama Baru, Ra. Dia itu jam terbangnya tinggi, sedangkan kamu baru sekali ini kan berhubungan sama lelaki?" ucap Dimas sengaja mencari gara-gara.


"Kak Bayu dulu pernah punya pacar?" tanya Diandra sedikit kecewa, walau wajar saja kalau Bayu pernah mempunyai hubungan dengan wanita lain, tapi entah mengapa Diandra merasa kecewa.


"Menurutmu? Dia mendekati kepala 3 lho umurnya," Dimas tersenyum saat melihat guratan kekecewaan di wajah Diandra.


"Oh," sahut Diandra pendek, dia menundukkan kepalanya dan bergerak ingin merebahkan tubuhnya.


"Mau rebahan? Sini kakak bantu," Dimas membantu Diandra merebahkan diri dan Diandra tidak menolak bantuan Dimas.


Bayu keluar dari kamar mandi membawa handuk dan beberapa perlengkapan mandi lainnya, lalu matanya melihat Dimas yang seolah tengah memeluk Diandra. Bayu tersulut emosi.


"Ngapain Dim?" tanya Bayu lantang.


"Duh, kaget dodol!!!! Ini Rara mau rebahan, jadi ku bantu, nggak usah sewot," jawab Dimas sambil tersenyum simpul.


Bayu meletakkan perlengkapan mandi di atas nakas, lalu dia mengambil alih Diandra, namun Diandra menolaknya.


"Kak Dimas saja, sekalian diperiksa," tolak Diandra tampa memandang Bayu. Dimas tersenyum geli.


"Kamu ngomong apa ke Rara?" tanya Bayu kesal.


"Nggak ngomong apa-apa," jawab Dimas berlagak tak bersalah, lalu dia membuka selimut yang menutupi kaki Diandra.


"Kakak ganti dressing luka jahitannya dulu ya de, kalau sakit bilang," ucap Dimas pada Diandra yang hanya diangguki oleh Diandra. Lalu Dimas dengan telaten membuka pembalut di lutut Diandra, melepas kasa dan menggantinya dengan yang baru setelah membersihkannya dengan antiseptik dan betadine.


Bayu yang melihat luka jahitan di lutut Diandra merasa teriris.


"Dim, jahitannya besok nggak berbekas kan?" tanya Bayu.


"Berbekas tapi sedikit saja mungkin," jawab Dimas yang fokus membalut kembali lutut Diandra.


"Ada obat buat menghilangkan bekas luka?" tanya Bayu.


"Ada, besok aku kasih," jawab Dimas.

__ADS_1


"Nggak usah kak, lukanya juga nggak besar, Rara nggak masalah kok berbekas," sahut Diandra sambil menatap Dimas.


"Tapi Cutie kan perempuan, nanti mengganggu penampilan Cutie," helah Bayu.


"Nggak masalah buat Rara kok, kalau Kak Bayu nggak suka ya jangan dilihat, atau kalau nggak ya cari saja perempuan yang penampilannya jauh lebih sempurna dari Rara, kakak kan banyak pengalaman kalau soal perempuan," sahut Diandra ketus tapi bisa Bayu rasakan ada kekecewaan di suaranya.


"Siapa yang bilang?" tanya Bayu geram.


Diandra diam saja, lalu perlahan menutup matanya tak peduli pertanyaan Bayu


Bayu menatap Dimas yang sedang tersenyum geli, bisa juga Bayu kalang kabut hanya karena Diandra ngambek.


"Dimas, kamu ngomong apa ke Rara?" tanya Bayu geram, matanya nyalang menatap Dimas yang semakin terkekeh geli.


"Nggak ngomong apa-apa tuh," jawab Dimas sambil mengemasi beberapa perlengkapan perawatan luka yang tadi dibawanya untuk mengganti dressing jahitan Diandra.


"Trus kenapa Rara ngomong gitu?" tanya Bayu tak percaya, dia yakin dan pasti kalau Dimas yang membuat Diandra berpikir macam-macam. Banyak pengalaman soal perempuan? Yang benar saja, satu-satunya perempuan yang dekat dengannya hanya mamanya, di ponselnya pun hanya ada 3 kontak wanita, yaitu sang mama, Ratri dan sang Oma, itu sebelum dia bertemu Diandra.


Dimas memang tukang bikin gara-gara.


"Aku mau pulang, kalau ada apa-apa ada dokter jaga, sore nanti aku kemari," ucap Dimas sambil melangkah menuju pintu, mulutnya masih terkekeh lirih.


"Aku akan minta perawat mengambilkan air hangat lagi, tapi jangan macam-macam saat bersihin badan Rara ya, dia masih polos, bukan kaya perempuan-perempuan yang sering dekati kamu," goda Dimas semakin membuat Bayu meradang.


Diandra yang mendengar ucapan Dimas semakin kecewa, air matanya perlahan menetes, walau dia pura-pura tidur, tapi Bayu melihat bahu Diandra terguncang lemah.


Entah mengapa Diandra merasa kecewa, mungkin dia merasa kalau ternyata dia bukanlah wanita pertama untuk Bayu, sedangkan bagi Diandra, Bayu adalah lelaki pertamanya, karena selama ini dia hanya berkawan dengan perempuan, dia baru memiliki teman lelaki saat bekerja di perusahaan milik Haryo, itupun karena terpaksa, karena teman satu departemennya semua adalah lelaki.


"Cutie, kamu kenapa sayang?" tanya Bayu sambil menyingkirkan rambut Diandra yang menutupi matanya.


Diandra diam saja, dia hanya menarik selimut sampai menutupi wajahnya.


Bayu menghela nafas panjang.


"Cutie, dengarkan aku.... Jangan percaya kata-kata Dimas, buatku, Cutie adalah wanita pertama dan terakhirku. Kakak nggak pernah menjalin hubungan dengan perempuan manapun, honey. Cutie tau kan kakak mengidap germophobia? Kakak paling tidak suka disentuh orang lain, apalagi perempuan. Yang bisa sentuh kakak cuma mama dan kamu sayang, jadi mana mungkin kakak menjalin hubungan dengan perempuan lain?" jelas Bayu sambil membelai kepala Diandra.


"Sebelum bersamamu kakak nggak pernah dekat dengan perempuan, di ponsel kakak saja cuma ada 4 nama perempuan yang kakak simpan kontaknya, hanya Cutie, mama, oma dan Tante Ratri. Jika ada chat atau telepon masuk dari perempuan, pasti langsung kakak blokir, Cutie bisa cek ponsel kakak kok, atau Cutie bisa tanya teman-teman Cutie di kantor," tambah Bayu panjang lebar.

__ADS_1


Diandra masih diam, tapi Bayu melihat kalau tubuhnya tidak lagi bergetar, Bayu bernafas lega, akhirnya Diandra sudah tidak menangis.


__ADS_2