
"Ra, ini buat ganti ponsel yang retak kemarin!" Bayu mengulurkan ponsel berlogo apel digigit keluaran terbaru pada Diandra.
"Hah? Enggak lah kak, Rara beli sendiri aja besok kalau sudah gajian." tolak Diandra, dia tau harga ponsel itu di luar jangkauannya.
"Anggap aja ini hadiah pertemuan kita lagi. Ya Ra..." bujuk Bayu.
"Kemahalan kak, Rara nggak bisa ganti." Diandra menatap ponsel itu.
"Nggak ada yang nyuruh Rara ganti, terima ya?" bujuk Bayu lagi.
"Tapi kan kak..." Diandra ragu menerima ponsel itu.
"Pilih kakak yang beliin atau Kak Haryo?" tanya Bayu.
"Heih, pagi-pagi nyebut nama itu bikin sawan aja!" omel Diandra sambil menerima ponsel baru dari Bayu.
"Makasih Kak Bayu.... Cup!" Diandra dengan cepat mengecup pipi Bayu lalu buru-buru memalingkan wajahnya yang memerah karena malu.
"Ehem.... Cium pipinya kenapa curi-curi gitu sih?" goda Bayu sambil membungkukkan badannya dan mencari wajah Diandra.
"Takut ketahuan orang lain!" jawab Diandra asal.
"Ra... Kakak ini lelaki dewasa lho, nggak takut nih kalau kakak ngapa-ngapain Rara?" goda Bayu.
"Emang kakak mau ngapain?" tanya Diandra.
"Ya ngapain aja gitu yang bisa dilakukan pria dan wanita dewasa!" gurau Bayu.
Pipi Diandra semakin memerah membayangkan apa yang pria dan wanita dewasa lakukan jika berduaan.
"Kak BayBay porno!" dengus Diandra, lalu dia berusaha melepaskan diri dari Bayu.
"Hahahahaha.... Bercanda Raaaa.... Udah ah, udah.... Kak Bayu nggak mungkin lah macam-macam sama Rara kalau Rara nggak suka kakak. Tapi kalau suka sih ya..... Kakak sih senang." goda Bayu sambil mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
"Kalau Rara suka?" tanya Diandra.
"Ehem.... Iya... Memang ade suka kakak?" tanya Bayu, jantungnya berdebar penuh harap.
"Suka.... Kan Kak Bayu juga suka Rara sebagai adik, Rara juga suka Kak Bayu sebagai kakak." Diandra tertawa sumbang.
"Oh.... Iya sih!" sahut Bayu sedih.
"Habisnya, kan nggak boleh pacaran sama sesama karyawan, nanti dipecat, Rara kan nggak mau dipecat kak!" Diandra menambahkan.
"Hahahahaha.... iya juga ya...." Bayu tertawa sumbang.
"Nah, sampai.... Kakak antar sampai meja, mumpung belum ada yang datang!" Bayu memapah Diandra masuk ke dalam ruangannya. Dan benar saja, ruangan masih sepi, belum ada karyawan yang datang.
Setelah Bayu membantu Diandra duduk, Bayu melangah menuju pantry dan membuatkan kopi susu untuk Diandra.
"Ra... Nanti makan siang, kakak pesankan makanan saja, nggak usah ke kantin, hari ini nggak bawa bekal kan? Kakak juga nggak bisa temani, karena mau ngobrolin masalah pakde kalian sama Danu dan lainnya, nggak apa-apa kan?" Bayu menarik kursi yang ada di cubicle sebelah Diandra, lalu duduk di hadapan Diandra.
Bayu menatap Diandra tanpa berkedip.
"Rara... Seandainya kamu sudah menikah kelak, apa kita masih bisa seperti ini?" gumam Bayu lirih.
"Kak Bayu bicara sesuatu?" Diandra yang tak terlalu mendengar gumaman Bayu, menatapnya bingung.
"Kamu cantik....!" jawab Bayu sambil tersenyum manis.
"Kakak juga tampan!" sahut Diandra sambil menatap lekat ke arah Bayu.
"Siapapun yang jadi istri Kak Bayu pasti jadi wanita paling beruntung di dunia, punya suami tampan, mapan, pengertian, penyayang.... Kalau Rara yang jadi istri Kak Bayu, Rara pasti bahagia banget karena disayang terus sama Kak Bayu, hehehehe...." oceh Diandra, dia tak menyadari perubahan raut wajah Bayu, sesaat dia terlihat bahagia, tapi kemudian berubah menjadi sendu.
Seandainya perjanjian perjodohan itu tak ada....
"Rara, kakak boleh peluk Rara sebentar?" pinta Bayu, suaranya bergetar menahan sedih.
__ADS_1
"Boleh....!" jawab Diandra.
Bayu bangkit dari duduknya, lalu berlutut di hadapan Diandra sehingga tingginya sejajar dengan Diandra. Lalu perlahan, Bayu menarik tubuh Diandra dan memeluknya dengan erat.
"Kakak sayang sekali sama Rara.... Sayang sekali... Sampai kakak merasa nggak rela kalau suatu hari Rara jadi milik orang lain. Maafkan Kak Bayu ya Ra... Sampai saat itu tiba, ijinkan kakak tetap menyayangi Rara seperti ini, kalau sudah tiba waktunya, kakak akan merelakan Rara bersama orang itu!" bisik Bayu lirih di telinga Diandra.
Entah kenapa, dada Diandra terasa sesak, lehernya tercekat, dan tanpa disadari air matanya mengalir.
"Rara juga sayang Kak Bayu... Sayang sekali, Rara bahagia kalau ada di dekat kakak, nggak tau kenapa, Rara merasa aman dan nyaman kalau sama kakak, sering deg-degan juga.... Kalau saja Rara bisa selamanya bersama Kak Bayu...." Diandra membalas pelukan Bayu yang semakin erat.
Bayu yang mendengar penyataan Diandra merasakan buncahan kebahagian dan juga cabikan menyakitkan di hatinya secara bersamaan. Diandra tak boleh dia miliki, Diandra adalah wanita yang dijodohkan dengan Haryo, dan Haryo sangat mencintai Diandra, sama seperti dirinya.
Bayu mengurai pelukannya, dan dia sangat terkejut melihat Diandra menangis.
"Rara kenapa?" tanya Bayu panik.
"Nggak tau, tiba-tiba kaya ada sesuatu yang kasih tau kalau Rara nggak bisa terus seperti ini dengan Kak BayBay, trus Rara jadi sedih, di sini sakit!" jawab Diandra sambil memukul pelan dadanya.
"Jangan nangis... Sampai saat itu tiba, kakak akan selalu ada buat Rara!" sahut Bayu, dihapusnya air mata Diandra dari pipinya, lalu dengan lembut, Bayu mengecup kedua pipi Diandra.
Bayu menemani Diandra beberapa saat sampai ada karyawan datang. Setelah memastikan Diandra baik-baik saja, Bayu berpamitan dan bergegas keluar ruangan HSE untuk memberikan hukuman pada Vera dan 2 staff keuangan kemarin.
Di depan pintu ruangan HSE, Bayu bertemu dengan Pak Fahri.
"Lho, Pak Bayu... Tumben pagi-pagi sudah di sini?" tanya Pak Fahri.
"Ah, ngantar Rara pak, lututnya cidera. Sementara jangan disuruh banyak gerak dulu ya pak, sampai sembuh total, dia suka maksain diri soalnya!" pinta Bayu sopan, walau jabatannya lebih tinggi dari Pak Fahri, karena dia lebih muda dari Pak Fahri.
"Siap Pak Bayu, karena kemari sore ya pak?" tanya Pak Fahri lagi.
"Iya... Mari pak, saya permisi dulu, mau beresin si pembuat masalah." pamit Bayu
"Monggo.... Monggo... kalau bisa PHK saja pak, jengah saya sama kelakuan Vera!" seru pak Fahri yang disambut gelak tawa Bayu yang berlalu meninggalkan Departemen HSE.
__ADS_1