
Sementara itu di dalam mobil mungil yang dikendarai Danu dan Diandra, tampak Danu menatap adiknya.
"Rara suka Bayu?" tanya Danu to the point.
"Nggak, kok..." Diandra memalingkan wajahnya menghindari tatapan Danu.
"Hmmmm... Kakak sih nggak apa-apa kalau ade suka sama Bayu. Malah kakak bisa tenang." goda Danu.
"Apaan sih kak, Kak Bayu kan sudah Rara anggap kakak sendiri." Diandra sedikit salah tingkah.
"Oh.... Yakin? Menurut ade Haryo oke nggak, dia kelihatannya suka sama ade lho!" goda Danu.
"Ade nggak suka dia, such a bully.... Kakak nggak tau kan gimana perlakuan dia ke Kak Bayu kalau di kantor? Katanya sahabat, tapi gitu amat!" sahut Diandra kesal.
"Rara nggak terima kalau Bayu disuruh-suruh Haryo?" tanya Danu.
"Bukan nggak terima kak, jelek banget kesannya, padahal kan katanya sahabat, tapi sama Kak Bayu dia semena-mena. Kakak kan tau kalau Rara nggak suka orang yang sok kuasa gitu." kilah Diandra.
"Hmmmm... Iya, kakak tau... Tapi cobalah berbaikan dikit sama Haryo, dia begitu karena tuntutan keluarganya, Ra!" Danu menasihati Diandra.
"Ya kalau sama karyawan reguler sih nggak apa-apa, Kak Bayu di sana kan cuma sekedar bantu aja." Diandra nggak mau mengalah.
"Iya deh iya.... " Danu lagi-lagi mengalah pada Diandra.
"Besok nggak usah masuk dulu, istirahat di rumah." Danu menatap ke arah jalan yang sudah mulai sepi.
"Nggak apa-apa, mending Rara kerja, dari pada Kakek Nenek tau kalau ade cidera." jawab Diandra sambil mengambil ponselnya dari dalam tas.
"Hah.... Belum juga gajian, malah remuk gini!" Diandra memandangi ponselnya. Karena layar LCDnya retak jadi tidak bisa digunakan.
"Kok hancur gitu Ra?" tanya Danu kaget melihat ponsel Diandra yang retak parah.
"Ya waktu ade jatuh tadi kan ini kelempar kak...." jawab Diandra sedih.
"Kok bisa jatuh itu kenapa?" tanya Danu curiga.
__ADS_1
"Didorong sama cewek nggak jelas!" jawab Diandra bete.
"Kamu ada masalah sama dia?" tanya Danu lagi.
"Rara sih nggak ada masalah, buat apa cari masalah wong ya Rara karyawan baru. Dia aja yang bermasalah sama hati dan otaknya!" jawab Diandra kesal
"Hah, harusnya Rara minta dia ganti rugi, tukar ponsel Rara!" gumam Diandra.
"Sudah, nggak usah, besok pulang kerja kakak belikan!" sahut Danu.
"Nggak mau, mending kakak tabung deh itu uang buat kakak menikah besok!" tolak Diandra.
"Nikah sama kebo? Kakak udah bilang kan, kalau kakak nggak akan menikah kalau kamu belum ada yang jagain!" helah Danu.
"Sampai lebaran monyet ga nikah-nikah kak, Rara aja nggak ada pacar!" Diandra menjulurkan lidahnya ke arah Danu.
"Kan ada Bayu, de? Kalau sama Bayu, ade kakak lepas deh!" goda Danu dan sukses membuat Diandra tersipu malu.
Tak lama, mereka tiba di rumah Kakek Broto, Diandra dan Danu segera mandi dan pergi tidur, karena besok masih harus bekerja.
Esok harinya, seperti biasa Diandra berangkat kerja bersama dengan Danu. Sesampainya di perusahaan milik Haryo, Diandra segera turun dengan bantuan Danu.
Tampak di pintu masuk sudah menunggu Bayu, yang begitu melihat kedatangan mobil Danu, dia langsung menghampirinya.
"Hai Dan.... Pagi Rara!" sapa Bayu dengan senyuman ramahnya.
"Bay!" balas Danu.
"Pagi Kak Bay" balas Diandra sambil tersipu melihat wayah tampan Bayu yang tersenyum sumringah menyambutnya.
"Titip Rara ya, jagain bener-bener!" pesan Danu sambil menyerahkan tangan Diandra pada Bayu.
"Ngapain coba titip-titip, kaya yang aku nggak pernah jagain aja?" gerutu Bayu.
"Maksud aku ya jagain sampai kaki nini gitu, jadi iparku!" balas Danu sambil mengedip ke arah Diandra.
__ADS_1
"Apaan sih kakak!" Diandra memukul keras bahu Danu.
"Emang Rara mau sama Kak Bayu?" goda Bayu yang membuat wajah Diandra memanas.
"Tau ah, ade masuk dulu!" gerutu Diandra sambil melangkah tertatih memasuki kantor.
"Eh, Ra....!" panggil Bayu tapi tak dipedulikan Diandra.
"Apaan sih kamu ini Dan, kalau Haryo dengar bisa marah dia!" omel Bayu hendak menyusul Diandra.
"Kenapa peduli? Kalau kamu suka Rara ya perjuangkan dong, kamu tau kan kalau Rara suka kamu?" tanya Danu penuh selidik.
"Sesuka apapun aku pada Rara, dia tidak boleh kumiliki, Dan." jawab Bayu sendu.
"Hati-hati kalau ke kantor, aku susul Rara dulu, kasihan masih kesakitan gitu!" Bayu melesat masuk ke dalam kantor menyusul Diandra.
"Maksudnya apa sih, kalau memang sama-sama suka ya miliki aja to?" gumam Danu bingung. Dilirik arlojinya, kemudian dia buru-buru masuk mobil dan menjalankannya menuju kantor.
"Rara... Rara... Adeeee!" panggil Bayu seraya berlari mengejar Diandra. Karena panggilannya, Diandra jadi pusat perhatian karyawan yang baru datang, sehingga membuat Diandra mau tak mau menghentikan langkahnya.
"Pelan-pelan jalannya, kan masih belum sembuh!" omel Bayu saat sudah berada di samping Diandra. Dengan sigap, Bayu meletakkan tangan kanan Diandra di bahunya lalu diraihnya pinggang Diandra dan mulai memapahnya menuju mesin absen.
"Kak, dilihatin yang lain, Rara jalan sendiri aja deh!" tolak Diandra.
"Nurut aja sama kakak, nggak rugi juga!" omel Bayu.
Diandra menatap wajah Bayu yang tampak serius mempahnya, jarak pipi Bayu dengan wajahnya begitu dekat, membuat jantung Diandra berdebar kencang. Bayu juga merasakan debaran yang sama saat nafas Diandra menyapu lembut pipinya.
"Kakak memang tampan Ra, nggak usah diliatin gitu!" goda Bayu berusaha menenangkan debaran jantungnya.
"Ah... ge.er ih...!" Diandra buru-buru menundukkan wajahnya yang sudah semerah tomat.
"Hahahahaha.... Nggak ge.er, kakak kan jadi salting dilihatin bidadari cantik dari tadi, nih.... Kakak sampai deg-degan." gurau Bayu.
"Gombal!" gerutu Diandra.
__ADS_1
"Nah, buruan absen, trus kakak antar keruanganmu!" Bayu mendekatkan Diandra ke mesin absen, setelah absen, Bayu memapah Diandra lagi menuju ruangannya di lantai 2.