
Bayu dan Diandra sudah selesai bersiap, Bayu sedang menunggu Diandra di ruang tamu, sementara Diandra sedang meminta tolong Bi Tami untuk membaeakan kotak bekal makan siang mereka keluar.
"Ayo kak, kita berangkat sekarang," ajak Diandra yang sudah berdiri di samping Bayu menggunakan kruknya.
"Sudah selesai? Kalau gitu, ayo berangkat," Bayu bangkit dari sofa, lalu membantu Diandra berjalan keluar menuju mobil sementara Bi Tami mengikuti mereka dari belakang sambil membawa dua buah kotak bekal makan siang.
Setelah Bayu dan Diandra masuk ke dalam mobil, Bi Tami menyerahkan kotak bekal yang dibawanya kepada Diandra.
"Non, ini bekalnya," ucap Bi Tami, tangannya mengulurkan kedua kotak bekal itu ke Diandra dan Diandra segera menerimanya sambil tersenyum dan mengucap terima kasih.
"Terima kasih ya Bi Tami," ucap Diandra.
"Sama-sama, Non.... Hati-hati di jalan ya Den Bayu, Non Rara," jawab Bi Tami sambil berpesan kepada Bayu dan Diandra, tangannya melambai ke arah mereka berdua.
"Iya bi, terima kasih," sahut Bayu sambil tersenyum, sementara Diandra membalas lambaian tangan Bi Tami dan tersenyum ramah seiring dengan bergeraknya mobil Bayu yangvperlahan keluar dari halaman rumah Bayu.
Bi Tami menatap mobil yang dikendarai tuan muda dan juga calon nyonya mudanya dengan tatapan bahagia, akhirnya penantian tuan mudanya selama 10 tahun berbuah manis, tapi mungkin perlu bersiap dengan adanya sedikit pertengakaran antara Bayu dengan Haryo, karena perjanjian perjodohan untuk Haryo dan Diandra. Selama 10 tahun ini, tuan mudanya selalu menutupi perasaan sukanya pada Diandra di hadapan Haryo, karena tidak ingin Haryo kecewa. Tapi entah bagaimana mulanya, sekarang malah tuan mudanya bisa bersama dengan Diandra, gadis impian Bayu sejak kecil dulu.
Bi Tami hanya takut terjadi pertengkaran antara Bayu dan Haryo yang mungkin memutus hubungan persahabatan mereka yang sudah 20 tahun terjalin.
Bi Tami mendesah panjang, dia hanya bisa berdoa, semoga hal itu tidak terjadi, semoga Haryo bisa menerima kebersamaan Bayu dan Diandra dengan lapang hati.
Sementara itu, sunyi menyelimuti suasana di dalam mobil Mini Cooper Frozen Brass yang dikemudikan Bayu, Diandra terlihat memeluk kedua kotak bekal yang dibuat untuk Bayu dan juga untuk dirinya sendiri sambil tersenyum bahagia.
"Cutie, lututmu nggak sakit?" tanya Bayu cemas, memecah keheningan.
"Enggak kak, kenapa memangnya?" jawab Diandra.
"Kan tadi kelamaan berdiri buat masak, ditambah tadi jongkok-jongkok bantuin Jim beresin berkas, kakak takut lutut Cutie Pie sakit lagi," sahut Bayu.
__ADS_1
"Nggak sakit kok, lagian Rara lebih senang ada kerjaan daripada cuma duduk diam nggak ngapa-ngapain. Ini juga kan Rara masak buat Big Bun dan lihat Big Bun suka masakan Rara dan bisa makan dengan lahap, itu udah jadi obat pereda nyeri buat Rara, dan bisa bikin Rara bahagia," ucap Diandra jujur, walaupun dia sedikit merasa nyeri pada lututnya, tapi saat melihat betapa lahapnya Bayu memakan masakannya, semua rasa sakit dan nyeri jadi menghilang dan Diandra merasa bahagia tak terkira.
"Cutie Pie bisa gombalin Big Bun ya sekarang?" goda Bayu yang gemas saat melihat expresi Diandra saat mengucapkan perkataannya tadi.
"Ih, siapa yang gombal? Rara ngomong jujur kok," sahut Diandra kesal, sambil cemberut.
"Hehehehe.... Iya, kaka cuma bercanda," balas Bayu sambil membelai pipi Diandra, "Kakak juga bahagia Ra, semoga kita bisa seperti ini selamanya," sambung Bayu, diraihnya tangan kanan Diandra, diremasnya perlahan dan lembut, lalu dibawanya tangan Diandra mendekati bibirnya, lalu Bayu mengecupi jari jemari Diandra dengan mesra.
"I love you, Cutie Pie," ucap Bayu sambil menatap Diandra, beruntung mobil mereka berhenti di depan lampu merah.
"I love you too, Big Bun," jawab Diandra sambil menatap sayu ke dalam mata coklat Bayu.
Bayu melepas seatbeltnya lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Diandra, perlahan dan lembut Bayu mencium bibir peach Diandra dan mengulumnya beberapa kali sampai lampu menyala hijau, baru Bayu melepaskan bibir Diandra.
Dipasangnya kembali seatbeltnya lalu melajukan perlahan mobilnya menuju PT. WICAKSONO WORLD.
Diandra menunduk malu setelah Bayu menciumnya tadi, dadanya berdesir dan menimbulkan suatu getaran aneh yang tidak dia mengerti.
Saat masuk ke sana, belum ada seorangpun yang datang, Diandra berjalan menuju pantry ditemani Bayu, dia menyimpan kotak bekal mereka di dalam kabinet pantry dan Diandra menuangkan segelas air ke dalam cup untuk dibawanya ke meja, namun Bayu menahannya.
"Di sini dulu, kakak belum puas berduaan sama Rara," bujuk Bayu. Diandra menunduk malu, ada kalanya Bayu jadi manja dan suka merajuk.
"Nanti kakak makan di sini sama Rara kan?" tanya Diandra sambil mendudukkan dirinya di kursi pantry.
"Iya, nanti kakak temani Rara makan di sini, tapi nggak lama, karena kakak harus ketemu dengan Danu, Dimas dan Haryo," jawab Bayu sambi merapikan rambut Diandra.
"Apa ada masalah kak?" tanya Diandra cemas.
"Enggak, kami hanya akan membicarakan tentang kasus yang menimpa Papa Suryo dan Mama Rianti, tadi Jim ke rumah mengantar bukti-bukti penyidikan, mau kami kumpulkan dan membahas bagaimana caranya agar pakdemu dihukum sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku," jelas Bayu.
__ADS_1
"Sungguh kak?" tanya Diandra tak percaya.
"Sungguh, apa kakak pernah berbohong padamu?" Bayu balik bertanya sambil mengecup hidung mbangir Diandra.
"Nggak pernah, makanya kan Rara cinta banget sama Kak Bayu," jawab Diandra sambil tersenyum manis pada Bayu.
"Cutie...." panggil Bayu dengan suara serak karena menahan gemas dan juga menahan diri mati-matian agar tidak menerkam Diandra di pantry ini.
"Ya kak?" sahut Diandra sambil menatap Bayu dengan mata berbinar dan senyuman khas Diandra.
"Jangan menggodaku," desah Bayu sambil meletakkan dahinya di bahu Diandra.
"Eh, kapan Rara godain Kak Bayu?" tanya Diandra polos.
"Tiap detik, aku nggak tahan Ra.... " desah Bayu gusar.
Diandra membelai pipi Bayu dengan lembut, lalu menundukkan wajahnya dan mengecup pipi sebelah kiri Bayu.
"Kakak boleh cium kok," bisik Diandra tertahan, wajahnya memanas menahan malu.
Tubuh Bayu menegang, dan tanpa menunggu lama, Bayu mengangkat wajahnya lalu menempelkan bibirnya ke bibir Diandra yang lembut dan kenyal. Pertama Bayu hanya menempelkan bibirnya, tapi karena Diandra menjilat bibirnya ( entah sengaja atau tidak ), Bayu menjadi gelap mata, tanpa aba-aba Bayu mulai ******* bibir Diandra dengan ******* lembut yang tidak menuntut.
Beberapa saat kemudian, Bayu melepaskan bibir Diandra, karena sayup-sayup dia mendengar suara dari beberapa karyawan HSE yang mulai berdatangan. Diandra mengatur nafasnya, wajahnya memerah dan pandangan matanya sayu seolah mendambakan sesuatu. Bayu merasa bersalah, dia merapikan rambut Diandra dan memberaihkan bibir Diandra dari lipstick yang berantakan.
"Kak, bibir kak Bayu banyak bekas lipsticknya," ucap Diandra malu-malu.
Bayu tersenyum lalu mengusap bibirnya dengan tissue bekas membersihkan bibir Diandra.
"Besok lagi kalau di kantor jangan menggoda ya sayang, kakak nggak bisa jamin bisa tahan diri," bisik Bayu di telinga Diandra yang membuat wajah Diandra semakim memerah karena malu.
__ADS_1
"Kalau sudah tenang, kita keluar ya, nanti saat makan siang kakak kesini," sambung Bayu.
Diandra mengangguk dan beranjak bangkit dari kursi yang didudukinya dengan bantuan Bayu, lalu mereka berjalan bersama keluar dari pantry.