Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
Pesan Terakhir Ibu


__ADS_3

Haryo menatap tak suka ke arah Bayu yang secara tak sengaja menoleh ke arah Haryo.


"Nggak usah lihat aku kaya gitu, tadi aku minta kamu yang antar, tapi kamunya nggak mau. Serba salah amat sih Yo jadi temanmu?" gurau Bayu.


"Aku cuma nggak ingin tambah dibenci Dira!" jawab Haryo kesal.


"Rara nggak benci kamu Yo, dia kesal aja sama sifatmu yang sekarang." Danu menyahut, entah kenapa Haryo tak suka sekali kalau Bayu dekat dengan Diandra, padahal dari pengamatan Danu, adiknya suka sama Bayu.


"Ck.... aku juga nggak ingin punya sifat kaya gini!" gerutu Haryo.


"Makanya diubah, di depan Rara jangan ditunjukin!" sahut Bayu.


" .... " Haryo terdiam.


Saat itu pelayan yang membawa pesanan merekapun tiba. Mereka diam sebentar dan mulai makan sebelum membahas permasalahan Danu.


Di cafe ini menyediakan berbagai masakan rumahan dengan konsep penyajian dan tempat yang unik, sehingga siapapun betah berlama-lama di tempat ini.


Setelah menyelesaikan makan siangnya, Bayu memanggil pelayan untuk membereskan sisa dan piring bekas makan mereka, lalu memesan kopi dan beberapa camilan. Saat melihat menu dessert, mata Bayu terpaku pada tulisan chocolate mouse dan Hong Kong egg tart.


"Mba, tolong nanti bungkus chocolate mouse satu dan Hong Kong egg tartnya empat, ya... Terima kasih." pinta Bayu sopan. Pelayan yang melayani mereka membalas senyuman Bayu, hatinya menjerit senang karena dapat tugas melayani empat orang pembeli yang wajahnya bikin hati meleleh.


Danu menatap Bayu, lalu tersenyum.


"Untuk Rara?" tanya Danu pura-pura tak tahu.


"Ehem.... Iya, kuingat Rara suka banget dessert itu!" jawab Bayu sambil membetulkan duduknya.


"Iyakah? Sejak kapan?" tanya Haryo, dia tidak begitu mengetahui apa kesukaan Diandra.

__ADS_1


"Sejak kecil lah, sejak Rara umur 3 tahun. Aku sering diminta ibu bawain buat Rara kalau main ke rumah Om Suryo, karena Tante Rianti seminggu sekali pasti pesan chocolate mouse atau Hong Kong egg tart ke bakery ibu. Ini iseng aja pesan buat Rara, kali aja masih suka." jawab Bayu santai.


"Kenapa kau bisa tau?" tanya Haryo dengan nada tak suka.


"Really? Perlu banget ribut perkara dessert kesukaan Rara? You really something, Yo!" Bayu menatap Haryo dengan tatapan tak percaya.


"Hei, sudahlah kalian berdua, kita kesini buat membahas masalah Danu bukan membahas masalah dessert kesukaan Diandra." lerai Dimas.


"Sorry!" gumam Haryo.


"So, Dan... Saat kecelakaan itu, Om Suryo dan Tanter Rianti dari mana atau mau ke mana? Tengah malam kan itu ya?" tanya Dimas


"Waktu itu ayah mengajak ibu untuk meninjau pabrik yang di Karanganyar, mereka berdua berangkat pagi-pagi, sekitar jam 06:00 dari rumah dengan harapan bisa tiba di rumah sebelum makan malam." jelas Danu.


"Tapi ternyata ada masalah di pabrik yang menyebabkan ayah dan ibu harus menyelesaikan masalah itu dulu. Aku nggak tau pasti apa masalahnya, tapi dari apa yang kudengar dari cerita asisten ayah, ada penggelapan dana untuk pembelian benang." sambung Danu.


"Setelah itu, ibu ataupun ayah tidak menelepon kami lagi. Sampai pada tengah malam, aku menerima pesan BB dari ibu, apapun yang terjadi, jangan pernah percaya Pakde Suwito dan Pakde Bagyo, apapun yang terjadi pada ayah dan ibu, aku harus tetap berusaha melindungi Rara. Ibu juga berpesan untuk menyimpan liontin berbentuk sepasang kunci yang dulu selalu aku dan Rara pakai." jelas Danu.


"Kamu nggak nunjukin pesan BB tante ke polisi Dan?" tanya Haryo.


"Aku sudah tunjukkan, dan hpku diambil untuk pemeriksaan, tetapi pada saat pemeriksaan, pesan itu sudah tidak ada. Sedangkan hp Blackberry ibu juga tidak ditemukan di TKP oleh penyidik, semua benar-benar terlihat tak masuk akal." Danu mengepalkan kedua tangannya.


"Saat itu aku belum tau apa-apa.... Anak umur 16 tahun, yang baru saja kehilangan orang tua dan harus menggantikan mereka menjaga adiknya, aku bisa apa, aku tak punya kuasa mengendalikan sesuatu di luar jangkauanku." Danu meremas rambutnya dengan kesal.


"Jadi kita harus ke Polres Klaten ya?" Haryo manggut-manggut.


"Kalau boleh tau, liontin kunci itu untuk apa?" tanya Dimas.


"Kamipun tak tau, aku hanya menyimpannya rapi di rumah." jawab Danu.

__ADS_1


"Saat itu om dan tante berdua saja atau sama asisten Om Suryo?" tanya Bayu.


"Pas berangkat sama asisten ayah, Pak Siswanto, tapi pulangnya hanya ayah dan ibu, karena Pak Siswanto harus mengurus kekacauan di pabrik." jawab Danu.


"Tapi anehnya, saat penyidikan berlangsung, Pak Siswanto menghilang, sampai sekarang nggak diketahui dia di mana." sambung Danu, "Nggak cuma Pak Siswanto, tapi tangan kanan ayah, Om Prabu dan istrinya Tante Siska, juga menghilang, tapi sebelum menghilang, Om Prabu sempat menelepon dan meminta Kakek dan Nenek membawa aku dan Rara pergi, keluar dari Jogja, sebelum semua terlambat. Tapi sebelum kami pergi terjadi peristiwa yang jadi mimpi buruk buat kami semua!" jelas Danu geram.


"Om Prabu menelepon kakek saat kalian masih di Pakualaman?" tanya Haryo, tangannya sibuk mencorat-coret notes kecil yang selalu berada di sakunya.


"Iya, dan sehari setelah telepon itu, Om Prabu menghilang!" jawab Danu.


"Bagaimana kau tau kalau Pak Siswanto sekeluarga dan Om Prabu juga istrinya menghilang?" Bayu ikut buka suara.


"Kakek mendatangi rumah mereka, rumah Pak Siswanto kosong, tetangga tidak ada yang tau kapan dan ke mana mereka pindah, begitupun dengan Om Prabu." lanjut Danu.


"Apa setelah menginjak usia dewasa, kau berusaha mencari mereka?" Dimas menyeruput kopinya yang sudah mulai dingin.


"Sudah kucoba, tapi belum ada hasil. Jangkauan pencarianku tidak luas, karena aku juga harus menjaga Rara. Lima tahun ini kami bisa dibilang hidup sedikit lebih tenang, karena mata-mata pakde belum mengetahui dimana kami tinggal." Danu tersenyum getir.


"Sepuluh tahun kami hidup seperti buronan, harus berpindah ke sana kemari, demi menghindari anak buah pakde!" Danu mengepalkan tangannya erat.


"Yang buat aku penasaran itu, atas dasar apa Suwito dan Bagyo mengusir kalian dari rumah kalian sendiri, dan bagai mana mereka mencoret nama kalian dari daftar ahli waris sah Om Suryo?" gumam Haryo.


"Aku tidak ambil pusing masalah itu, Yo. Asal aku, Rara, kakek dan nenek hidup tenang tanpa gangguan pakde Suwito dan pakde Bagyo, aku sudah bersyukur. Yang jadi ganjalan hatiku, apa penyebab kecelakaan ayah dan ibu, aku ingin pelakunya dihukum, walau aku tau kasus itu sudah lebih dari 10 tahun. Dan juga peristiwa penculikan Rara, aku ingin mereka dihukum seberat-beratnya." Danu mengetatkan rahangnya, emosinya membuncah mengingat kejadian yang hampir merenggut kesucian adiknya.


"Mereka berdua? Siapa?" tanya Bayu, Haryo dan Dimas bersamaan.


"Sinta dan sebuah organisasi ilegal!" jawab Danu, matanya memancarkan kilatan amarah dan kebencian mendalam.


"Sebetulnya apa yang terjadi pada Rara?" desak Bayu. Haryo dan Dimas pun memandang Danu penuh rasa ingin tahu.

__ADS_1


__ADS_2