Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
If Someone Take You Away From Me, I'll Absolutely Die


__ADS_3

Sementara itu, di rumah sakit, Diandra sudah selesai dengan serentetan proses fisioterapinya, Bayu mendorong kursi roda yang diduduki Diandra menuju lobby rumah sakit, Dimas mengikuti mereka dari belakang.


Sesampainya di lobby, Bayu meminta Dimas menemani Diandra sebentar karena dia harus mengambil mobil di area parkir.


Dimas memperhatikan Diandra yang menatap punggung Bayu dengan tatapan tak rela ditinggalkan, lalu Dimas terkekeh lirih.


"Nggak usah sedih, dia cuma ambil mobil, bukannya mau pergi selamanya," goda Dimas sambil mengacak rambut Diandra.


"Haish.... Apaan sih kak Dim? Bercandanya nggak lucu, nyumpahin apa gimana?" gerutu Diandra, hatinya tiba-tiba didera rasa cemas yang tak jelas.


"Duh ni anak, dibercandain malah dibawa serius," sungut Dimas sambil mencubit pipi chubby Diandra.


"Habis Kak Dimas nadanya serius gitu," omel Diandra sambil mengusap bekas cubitan Dimas.


"Hahahaha.... Kamu beneran cinta Bayu, Ra?" tanya Dimas dengan nada serius.


Wajah Diandra bersemu merah, lalu Diandra menundukkan wajahnya.


"Aneh ya kak, kalau Rara cinta Kak Bayu?" gumam Diandra lirih.


"Ya enggak sih Ra, kakak cuma tanya tentang perasaanmu ke Bayu, soalnya kamu itu cinta pertamanya Bayu, bayangin aja, sejak kamu umur 3 tahun dia selalu bilang ke Danu kalau kamu itu adalah his future bride, padahal waktu itu dia baru masuk awal umur 8 tahun," sahut Dimas semakin membuat Diandra merona.


"Dulu padahal Kak Bayu nggak suka kalau Rara ajak main boneka atau masak-masak, yang main sama Rara malah Kak Haryo, tapi kalau Rara jatuh atau apa gitu Kak Bayu yang pertama lari tolong Rara, padahal Kak Dimas tau kan kalau Kak Bayu itu chubby, hehehehe...." kenang Diandra sambil tersenyum geli, "Tapi setelah dewasa gini kok jadi....." sambung Diandra setengah bergumam dan kata-katanya menggantung.


"Jadi tampan dan mempesona?" sambung Dimas sambil menyeringai geli.


"Kak Dimas aaaah...." Diandra mencubit lengan Dimas dengan gemas.


"Aw aw aw... Sakit deeee," protes Dimas yang membalas dengan menarik hidung Diandra dengan gemas.


"Sakiiiit!!!!" pekik Diandra.


Tanpa mereka sadari, pertengkaran kecil mereka menjadi pusat perhatian para pengunjung dan juga para pegawai rumah sakit.


Para pegawai dan staff medis rumah sakit heran, Dokter Dimas yang terkenal pendiam dan jarang tertawa, terlihat adu mulut dan bertengkar dengan gadis muda di atas kursi roda? Mereka bergidik ngeri, jangan-jangan besok kiamat? Ya Tuhaaaan, kami brlum pada bertobaaat, pekik hati para pegawai dan staff medis rumah sakit tempat Dimas bekerja.

__ADS_1


Diandra bersungut-sungut merasakan hidungnya yang pedas dan panas karena ditarik Dimas, sedangkan Dimas terkekeh senang karena merasa menang.


Tak lama, Bayu kembali masuk ke lobby, dahinya berkerut saat melihat Diandra cemberut sedangkan Dimas tersenyum gembira.


"Dim?" tanya Bayu lirih sambil meliril Diandra.


Dimas yang melihat kode dari Bayu hanya terkekeh geli, membuat Bayu kesal karena diabaikan.


"Rara, kenapa cemberut?" tanya Bayu setengah membungkukkan tubuhnya di hadapan Diandra.


"Nggak apa-apa kok, kak, Rara lapar, cepetan pulang yuk!" ajak Diandra.


"Oh, mau makan apa?" tanya Bayu.


"Apa aja yang penting makannya sama Bayu kan, Ra?" goda Dimas sambil nyengir kuda lalu melesat lari secepat kilat sebelum Diandra mencubitnya.


Diandra merengut kesal.


"Awas aja Kak Dimas, Rara sumpahin jadi perjaka tua," omel Diandra.


"Hah? Ada yang mau sama Kak Dimas?" tanya Diandra heran.


"Ya ada lah, ganteng, keren, muda, dokter pula, jelas banyak yang mau," jawab Bayu sambil tersenyum.


"Tapi Rara nggak mau sama Kak Dimas," sahut Diandra, "Kak Dimas ganteng dari mananya coba? Dilihat juga jelas gantengan Kak Bayu kemana-mana," sambung Diandra setengah bergumam lirih, namun Bayu masih bisa mendengarnya.


"Apa sayang? Kakak ganteng?" goda Bayu.


"Ih, narsis," sahut Diandra sambil tersipu karena ketahuan memuji Bayu.


"Hahahaha..... Rara juga cantik, sangaaaat cantik, sampai bikin kakak klepek-klepek gini," gelak Bayu sambil mengusap kepala Diandra.


"Dih, dasar gombal mukiyo," omel Diandra pura-pura cemberut. ( Gombal mukiyo itu sebutan buat perayu / tukang ngegombal yang diibaratkan seperti gombal / kain milik Mukiyo / nama orang gila di Jogja dulu )


"Hehehehe... Biar gombal mukiyo yang penting Rara cinta sama kakak sih nggak masalah," sahut Bayu sambil membuka pintu mobil dan membantu Diandra masuk dan duduk di dalam mobil.

__ADS_1


"Rara nggak cinta tuh sama Kak Bayu," timpal Diandra serius dan membuat Bayu tertegun, matanya terluka menatap mata coklat Diandra.


"Rara nggak cinta sama Kak Bayu, tapi Rara cinta mati sama Kak Bayu," sambung Diandra sambil tersenyum lebar dan mengedipkan sebelah matanya dengan genit ke arah Bayu.


Bayu terpaku, jantungnya hampir berhenti saat mendengar kata-kata kalau Diandra tidak mencintainya, tapi saat mendengar Diandra mengatakan kalau dia cinta mati pada Bayi, jantung Bayu serasa melompat keluar karena bahagia. Bayu yang masih membungkuk setelah mendudukkan Diandra, meraih tengkuk Diandra lalu memagut bibir peach Diandra dengan pagutan yang lembut dan tanpa nafsu, hanya perasaan cinta yang Bayu berikan kepada Diandra.


Setelah beberapa saat, Bayu melepaskan bibir Diandra dan menyatukan kening mereka.


"I love you Cutie Pie, love you like the birds loves the skies and like the fish love the seas," bisik Bayu.


"I love you too Big Bun, you are my life, if someone take you away from me, I will absolutely die," balas Diandra lirih.


"Aku tidak akan pergi dan tidak akan pernah meninggalkanmu, Cutie," jawab Bayu, dikecupnya sekilas bibir Diandra, lalu menegakkan tubuhnya dan menutup pintu mobil. Bayu berjalan memutari mobil menuju driver seat dan segera masuk ke dalam mobil, setelah memasang seatbelt Diandra dan miliknya, Bayu menjalankan mobil Maybach S680 putihnya keluar dari pelataran rumah sakit.


"Cutie ingin makan apa?" tanya Bayu sambil menatap lurus ke arah jalan yang lumayan padat karena mendekati waktu makan siang, banyak karyawan / karyawati yang meluangkan waktu mereka untuk makan di luar.


"Makan di rumah aja kak, Rara masakin buat kakak aja," usul Diandra.


"No, ingat pesan Dimas? Do not put too much forces on your knee," tolak Bayu sambil mengingatkan Diandra tentang pesan Dimas padanya.


"Kan cuma masak doang kak," bujuk Diandra.


"Masak kan berdiri, honey. Berdiri itu, lutut juga ikut menumpu berat badan kita, sementara jangan masak dulu," perintah Bayu tegas tidak bisa ditawar.


"Ya deh," sahut Diandra lesu.


"Mau makan di Lee Djong Resto?" tanya Bayu menawarkan makan di restoran Cina legendaris di Jogja yang juga merupakan favorit Diandra sewaktu kanak-kanak dulu.


"Lee Djong kak? Mau!!!" pekik Diandra girang, sudah hampir 11 tahun dia tidak ke restoran penuh kenangan itu, kenangan dengan kedua orang tuanya. Restoran Chinese Food itu memang langganan almarhum kedua orang tuanya, walaupun hanya berupa restoran kecil dengan tiga meja kayu tua, tapi restoran itu bersih dan uang penting masakannya sangat lezat. Favorit Diandra adalah kwetiau seafood, Diandra bisa menghabiskan dua porsi sekali makan.


"Iya, mau?" tanya Bayu sambil tersenyum melihat reaksi Diandra yang tampak gembira tapi juga rindu.


"Banget... Banget... Bangeeeet," Duandra melonjak kegirangan.


"Oke, on the way Lee Djong," seru Bayu.

__ADS_1


Diandra terkekeh bahagia, Bayu masih ingat apa saja yang menjadi kesukaannya dan juga semua kebiasaannya.


__ADS_2