
Bayu bangkit dari duduknya dan mengajak Haryo kembali ke perusahaan.
"Kita kembali, siang ini ada meeting dengan manager departemen," ajak Bayu.
"Ah, iya.... Bay, lutut Dira gimana?" tanya Haryo yang ikut bangkit dan berjalan menyusul Bayu.
"Masih nyeri katanya, tapi tak seperti kemarin," jawab Bayu yang melangkah menuju konter kasir untuk mengambil chocolate mouse dan egg tart pesanannya tadi.
Setelah mengambil box berisi dessert kesulaan Diandra, Bayu menatap lekat ke arah Haryo.
"Mau serahkan ini ke Rara?" tanya Bayu.
"Hah?" seru Haryo kaget, lalu buru-buru menjawab, "Sebaiknya enggak, kalau aku yang kasih mungkin Dira nggak mau makan, bisa jadi langsung dia buang," jawab Haryo sambil mengusap kasar wajahnya.
"Kalau ada kesempatan ajak dia makan siang bersama atau sekedar berkunjung ke rumah Kakek Broto," usul Bayu yang diangguki Haryo.
Lalu mereka berdua kembali ke perusahaan dengan mengendarai mobil masing-masing.
Di dalam mobil, Bayu mengirim pesan pada Diandra.
'My cutie pie, kakak on the way balik kantor, dessertnya kakak antar langsung atau nanti sepulang kerja?'
Seulas senyum terukir indah di bibir tipis Bayu, membayangkan Diandra yang tersipu malu mendapat panggilan cutie pie darinya.
Dan benar saja, Diandra dalam cubiclenya memekik lirih dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Wajahnya terasa panas setelah membaca pesan Bayu.
'Terserah Big Bun aja, Rara nurut enaknya gimana,' balas Diandra. Dia memanggil Bayu dengan sebutan Big Bun karena dulu semasa remajanya Bayu adalah cowok chubby yang imut.
'Kakak langsung antar deh, kangen soalnya, nanti dessertnya masuk kulkas pantry dulu,' balas Bayu yang kembali sukses membuat wajah Diandra seperti kepiting rebus.
'Iya deh, Rara tunggu ya kak,' balas Diandra yang langsung menutup chatnya dan meletakkan ponselnya di meja.
Bayu tersenyum membaca balasan Diandra. Lalu dia membuka foto yang tadi sempat Diandra kirim kepadanya, diusapnya foto itu lalu mengecup layar ponselnya dengan lembut.
Ari, asisten Bayu, melotot kaget melihat tingkah ajaib atasannya, bulu kuduknya meremang seketika.
'Ya Tuhan, apakah besok pagi akan kiamat? Gini amat Pak Bayu kalau lagi kasmaran,' batin Ari sambil mencuri pandang melalui rear view mirror.
Sesampainya di perusahaan, Bayu langsung menuju departemen HSE untuk memberikan dessert pada Diandra.
__ADS_1
Saat membuka pintu ruangan departemen HSE, Bayu hanya melihat beberapa orang karyawan yang berada di sana.
"Selamat siang," sapa Bayu.
"Siang Pak Bayu, cari siapa pak?" balas Wisnu.
"Kok sepi? Pada kemana?" tanya Bayu.
"Sampling pak, ke beberapa badan air yang jadi jalur pembuangan limbah pabrik, sama monthly check di pabrik," jawab Wisnu.
"Pak Fahri juga?" tanya Bayu lagi.
"Kalau Pak Fahri sedang ke ruang arsip sama Rudy, lanjut ke meeting room, pak," jawab Wisnu lagi.
"Oh iya," sahut Bayu seraya melongok ke meja Diandra, tapi tak dapat menemukan Diandra di sana.
"Cari Diandra, pak?" tanya Wisnu saat melihat Bayu menatap meja Diandra.
"Oh? Hahaha... Iya, kemana dia?" Bayu tertawa sumbang.
"Di pantry pak, katanya lututnya nyeri habis dari toilet tadi, sepertinya sedang mengoles obat," sahut Wisnu, namun belum lagi selesai kalimatnya, Bayu sudah melesar masuk ke pantry dengan panik.
Diandra yang tengah berusaha menggulung celana panjangnya kaget karena suara keras pintu yang dibuka dan suara panik Bayu.
"Ya kak, kenapa panik gitu?" tanya Diandra bingung.
Bayu meletakkan kotak dessert di meja pantry, lalu menghampiri Diandra dan berlutut di hadapannya.
Diraihnya kaki Diandra lalu digulungnya celana panjang Diandra sampai ke atas lutut. Lalu Bayu melepas pelindung lutut dan menaruhnya di atas meja.
"Mana obatnya?" tanya Bayu meminta obat oles pada Diandra.
"Ini kak, tapi Rara bisa sendiri kok," jawab Diandra sambil membuka penutup obat olesnya, namun Bayu merebutnya.
"Diam saja, biar kakak yang oles," sahut Bayu sambil mengambil obat dari tangan Diandra, lalu mulai mengoles tipis di lutut Diandra dengan gerakan perlahan dan lembut, membuat Diandra merasakan getaran aneh di dadanya.
Setelah selesai mengoles obat, Bayu memasang kembali pelindung lutut Diandra dan menurunkan gulungan celana panjang Diandra, lalu dia beranjak mencuci tangan di wastafel dan meraih kotak dessert yang tadi dibawanya. Bayu berjalan ke arah kabinet tempat menyimpan piring dan sendok, dia mengambil sebuah piring dan sebuah sendok kecil, lalu dia duduk di sebelah Diandra.
Dibukanya kotak dessert dan mengeluarkan sebuah egg tart yang tadi dibelinya, diletakkannya di atas piring.
__ADS_1
"Egg tart, kesukaanmu, dimakan dulu," ucap Bayu seraya memotong dan menyendokkannya ke mulut Diandra.
Diandra tertegun, tapi tetap membuka mulutnya dan menerima suapan dari Bayu. Potongan egg tart masuk ke dalam mulutnya, perlahan Diandra mulai mengunyah, matanya masih lekat menatap Bayu dengan tatapan manja dan bahagia.
"Enak?" tanya Bayu sambil jemarinya membersihkan remahan crust yang menempel di sudut bibir Diandra.
"Enak kak, tapi lebih enak bikinan Tante Gina," jawab Diandra tersipu mendapan perlakuan mesra dari Bayu.
"Besok kakak bawakan dari bakery mama ya, sekarang makan ini dulu," sahut Bayu sambil menyuapkan kembali sepotong egg tart ke dalam mulut Diandra.
Diandra hanya mengangguk, bibirnya tersenyum bahagia, mencintai dan dicintai ternyata sebahagia ini rasanya.
Setelah suapan terakhir, Bayu membawa piring bekas ke wastafel dan mencucinya, lalu mengambilkan air mineral untuk Diandra.
"Minum dulu sayang," Bayu menyerahkan gelas berisi air pada Diandra yang langsung meminumnya perlahan.
Setelah minum, Diandra meletakkan gelas bekasnya di atas meja, dadanya berdegup kencang saat menyadari Bayu menatapnya lekat.
Bayu menatap bibir peach Diandra yang basah, susah payah dia menelan ludah, tapi Bayu tak mampu menahan keinginannya untuk mencium Diandra. Akhirnya perlahan Bayu mendekatkan wajahnya pada Diandra dan mulai memagut bibir Diandra dengan lembut.
Diandra yang kaget hanya diam menyambut bibir Bayu yang terasa hangat, untuk beberapa saat mereka berciuman. Namun mengingat ada orang lain di kantor, Bayu cepat-cepat melepaskan ciumannya, dan menutup keguatan mereka dengan kecupan ringan di kening Diandra.
"Maafkan kakak ya Ra, kakak lepas kendali," bisik Bayu di telinga Diandra.
Diandra diam saja tapi wajahnya benar-benar merah sampai leher dan telinganya juga memerah.
"Dessertnya kakak simpan di kulkas ya, nanti pulang kakak jemput kesini," ucap Bayu sambil memasukkan kotak dessert ke dalam kulkas pantry.
"Iya kak, terima kasih. Nanti antar ke kantor kak Danu saja, rumah kakek jauh soalnya kak," sahut Diandra.
"Nggak apa-apa, kakak antar, kakak pengen lebih lama sama kamu, boleh?" bujuk Bayu setengah menggoda Diandra.
"Bo-boleh kak," sahut Diandra tersipu malu.
"You are indeed my cutie pie," goda Bayu lagi sambil mengecup ringan pipi Diandra yang semakin membuat wajah Diandra memerah.
"Yuk, kakak bantu balik ke meja. Kakak ada meeting sebentar lagi, jadi harus cepat balik ke ruangan kakak," ajak Bayu yang sebetulnya berat meninggalkan Diandra.
"Iya kak," sahut Diandra yang juga berat berpisah dari Bayu.
__ADS_1
Bayu membantu Diandra berdiri dan menuntunnya kembali ke mejanya.