Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
Tattoo


__ADS_3

'Clue?' tanya Tora.


'Yup, I just see the pair of their grandparents come out from the department store nearby my place, I asked Jack to follow them. But they seem have another relative, they have a guy at your little sister cousin's age,' jawab Kentaro.


Bayu dan Danu terkesirap, Bayu segera bangkit dan keluar ruangan untuk menelepon Jim untuk waspada dan beberapa bodyguardnya untuk mengawal Kakek Broto dan Nenek Sundari.


'Is that so? Where did they live?' tanya Tora ingin memastikan sampai mana Jack mengikuti Kakek Broto dan Nenek Sundari.


'Don't know yet, they'd stopped by several times,' jawab Kentaro, 'So, will you come tonight?' tanya Kentaro.


'I will, after 9PM,' jawab Tora singkat dan sambungan terputus.


Danu tampak panik, "Aku harus menyusul Kakek dan Nenek, kak," ucap Danu.


"Aku sudah perintahkan Jim waspada dan akan ada penjagaan tambahan, mereka sedang dalam perjalanan ke rumah dan juga ke lokasi kakek dan nenek," ucap Bayu yang kembali masuk setelah menelepon Jim dan kepala bodyguard keluarga Senoaji.


"Tapi Bay....." Danu merasa tidak tenang.


"Trust me, bro," Bayu menepuk bahu Danu menenangkannya.


"Untuk sementara jangan pulang, percayakan kakek dan nenek pada subordinat Bayu, dan minta kakak dan nenek untuk tidak bepergian apalagi datang kemari," pinta Tora.


Danu mengeratkan kepalan tangannya. Lagi..... Kembali mereka harus bertingkah seperti layaknya pelarian, setelah diberi ketenangan selama 5 tahun.


"Bersabarlah, tak lama lagi semua akan kembali normal," Tora merengkuh bahu Danu yang bergetar karena marah.


Suasana hening, sampai terdengar bunyi ponsel Bayu yang nyaring berdering.


Bayu menatap layar yang menampakkan ID pemanggil.


"Hey, what's up Yo?" tanya Bayu saat menerima panggilan suara dari Haryo.


'Dira gimana?' tanya Haryo.


'Good,' jawab Bayu singkat, Haryo sudah biasa dengan sifat Bayu jadi tidak mempermasalahkannya.


'Danu dimana? Aku hubungi dia tapi tak dijawab,' tanya Haryo lagi.


'Ada, we just done talk about something,' jawab Bayu datar, 'You need to explain to us, why'd you ruin Perwita Family good reputations? Kau tau bagaimana Om Suryo dan Tante Rianti menjaga nama baik itu sampai akhir hidup mereka?' sambung Bayu penuh penekanan, membuat Haryo diam terpaku.

__ADS_1


'Bay, aku....' Haryo tergagap.


'Ku kira kau mengungkapnya hanya di depan keluarga Wicaksono, aku tak mengira kau membukanya di area publik dan membuatnya viral seperti ini,' ucap Bayu dengan nada datar.


'Aku akan kesana setelah pekerjaan selesai dan membawa Danu menemui kakek,' Haryo menutup panggilannya dengan tergesa.


Bayu meletakkan ponselnya kembali ke dalam sakunya, lalu dia menyandarkan punggungnya di sofa.


"Sementara tinggallah bersama papa dan mama, kau aman di sana, untuk mencegah sesuatu terjadi pada kakek dan nenek jika kau kembali," saran Bayu.


"Benar kata Bayu, jangan pulang dulu," Tora mengamini usulan Bayu, "Liontin itu, apakah masih kau simpan?" tanya Tora.


"Liontin berbentuk kunci milikku dan Rara?" tanya Danu yang diangguki Tora, "Masih kak, kenapa?" sambung Danu.


"Itu kunci brankas rahasia peninggalan almarhum kakek dan Om Surya, apa kau tahu dimana mereka menyimpannya?" tanya Tora.


"Tidak tahu, bahkan baru dengar," jawab Danu bingung.


"Memangnya apa isi brankas itu?" tanya Bayu penasaran, Danu pun menatap Tora penuh tanda tanya.


"Entahlah, yang jelas itu berisi wasiat kakek dan Om Suryo tentang warisan dan perusahaan keluarga, juga wasiat dari Tante Rianti untuk kakek dan nenek Sasmita," jawab Tora yang memang hanya mendengarnya sekilas dari ayahnya.


"How's that possible, kalian lebih seperti keluarga kandungku dibandingkan dengan mereka," jawab Tora.


"Hey, tentang brankas, apa ada kaitannya dengan tato di punggung Diandra?" tanya Miko tiba-tiba karena dia teringat sesuatu.


"Tattoo?" tanya Danu dan Tora bersamaan.


Bayu mengernyit tak senang, bagaimana Miko bisa melihat punggung Diandra? Tapi tato apa yang dia bicarakan, pagi tadi punggung Diandra tampak putih bersih tanpa ada noda setitik pun.


Bayu membayangkan kejadian tadi pagi dan betapa halus dan lembitnyabpunggung Diandra, dan tanpa sadar sesuatu yang tidur mendadak terbangun.


'Darn it,' umpat Bayu dalam hati sambil membenarkan posisi duduknya.


"Sepuluh tahun lalu saat Rara demam di villa, aku mengompres punggungnya dan ada tato seperti sebuah peta di sana, tapi aku tak terlalu memperhatikannya karena kamu panik saat Rara kejang," jawab Miko menjelaskan.


"Tapi pagi tadi saat aku membantunya membasuh badan, tidak ada tato di punggungnya," sahut Bayu spontan, Danu dan Tora mendelik ke arahnya.


"What did you do to her?" tanya Danu dan Tora serentak dengan tatapan membunuh.

__ADS_1


"Just wipe her back," jawab Bayu sambil menurunkan pandangannya.


"Just wipe?" tanya Danu memastikan, sementara Tora masih menatap curiga padanya.


"Yes, what else I can do?" sahut Bayu tanpa menatap Danu.


"Is that so...." gumam Danu setengah tak percaya.


"Liar!!! I'm going to check her back," Tora bangkit dan segera melangkah meninggalkan ruangan Miko dengan langkah tergesa.


'Darn it!!!' umpat Bayu dalam hati sambil menyusul Tora, dia ingat kalau dia meninggalkan bekas di leher dan bahu Diandra tadi.


Sementara Danu dan Miko saling pandang lalu dengan santai mengikuti mereka Tora dan Bayu.


Di ruang VVIP, Diandra tengah mengobrol santai dengan Ari sambil makan beberapa camilan yang Ari bawakan sesuai perintah Bayu.


Tiba-tiba pintu ruangan dibuka dengan kasar oleh Tora sehingga membuat Diandra dan Ari terkejut. Bayu yang menyusul masuk langsung memperlihatkan tatapan membunuhnya pada Ari, suara gelak tawa mereka berdua terdengar sampai ke lorong koridor yang sepi, karena Ari sengaja hanya menutup separuh saja pintu ruang rawat Diandra.


"Siapa?" tanya Tora penuh selidik pada Ari.


"Saya Ari, asisten pribadi Pak Bayu," jawab Ari santun, walau dia bergidik takut merasakan aura Tora yang menyesakkan dan juga tatapan tajam dari Bayu, Bossnya cemburu.


"Apa yang kalian bicarakan sampai tawa kalian terdengar di lorong?" tanya Bayu datar, matanya belum lepas dari Ari.


Tora mengernyit, 'what's the point asking what're they talked about.... Geez, jealous guy is always unreasonable,' batin Tora.


Diandra yang menyadari kalau Bayu cemburu hanya terkekeh.


"Ari cuma kasih tebakan lucu, makanya aku ketawa," jawab Diandra, Bayu menoleh ke arahnya, "Oh gitu," sahutnya, lalu dia mengalihkan pandangannya kembali menatap Ari.


"Kalau mau jadi pelawak, kamu boleh mengajukan surat resign pada hari Senin," ucap Bayu datar.


Tora mendengus sambil menatap Bayu seolah mengatai Bayu, 'IDIOT!'


"Kak Bayu!!" seru Diandra tak suka, dan Bayu hanya tersenyum aneh pada Diandra.


Ari mengumpat dalam hati ,'Cih, bucin juga nggak segitunya kali, terlalu mengekang pasangan, masa ngobrol dan tertawa sama orang lain di larang, dasar bucin akut,' umpatnya dalam hati.


'Sudah tahu tugas asisten itu susah, apalagi asistennya sampeyan Pak Bayu, ditambah sampeyan bucin, tambah susah, tambah empet!!!!!' Ari mengumpat berentetan, dan tentunya dalam hati, dia masih sayang sama pekerjaannya, dan dia nggak mau dipecat, biarlah dia mengumpat dalam hati, yang hanya dirinya, malaikat dan Tuhan yang tahu.

__ADS_1


__ADS_2