Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
Flashback 01 ( Telepon Dari Prabu )


__ADS_3

Petang itu, Sabtu 5 Juli 2008, di bawah derasnya hujan, Kakek Broto mengemudikan Toyota Kijang tahun 2005 miliknya untuk membawa Danu dan Diandra menuju rumahnya di daerah Pakualaman. Mereka berkendara dalam sunyi, Diandra tampak tertidur di pangkuan Danu yang sesekali membelai lembut kepala adiknya.


Kakek Broto melambatkan laju mobilnya tatkala memasuki gerbang rumahnya.


"Danu, bangunkan Rara, kita sudah sampai!" Kakek Broto mematikan mesin mobil, lalu keluar untuk mengambil barang-barang cucunya dari bagasi.


"Rara... Ade, bangun, kita sudah sampai!" Danu mengguncang perlahan bahu Diandra.


"Mmmm... Kakak, kita sudah di rumah kakek?" Diandra membuka matanya dan langsung terduduk.


"Iya, ayo turun, kakek dan nenek sudah masuk rumah!" ajak Danu seraya membuka pintu mobil. Danu melompat turun, lalu membantu Diandra untuk turun dari mobil sang kakek.


Nenek Sundari melangkah menuju dapur dan bersiap memasak makanan untuk makan malam. Tak berapa lama, terdengar suara pintu dibuka, Danu dan Diandra melangkah masuk ke dalam rumah.


"Danu, Rara... Kakek sudah menyiapkan kamar kalian di atas, naiklah dan segera mandi, istirahat sebentar, makan malam masih pukul 18:00." kata Nenek Sundari dari dalam dapur.


"Baik, Nek!" jawab Danu dan Diandra bersamaan. Lalu mereka berdua berjalan menaiki tangga menuju kamar mereka di lantai 2. Saat itu terlihat sang kakek yang baru keluar dari salah satu kamar.


"Ah, sini.... Sini.... Ini kamar Danu, dan yang di sebelahnya kamar Rara. Walau tak sebesar kamar kalian dulu, kakek dan nenek akan berusaha membuat kamar ini nyaman untuk kalian. Kalau kalian tidak suka, besok kakek akan minta orang merubahnya!" ucap Kakek Broto sedikit cemas, karena rumah ini tidak semewah rumah ayah Danu dan Diandra.


"Kakek dan nenek tidak perlu khawatir, Danu dan Rara selalu diajari ibu untuk hidup sederhana dan bersyukur dengan apa yang kita punya. Kami berdua baik-baik saja, asalkan kakek dan nenek ada bersama kami." sahut Danu sambil memeluk Kakek Broto, diikuti Diandra yang juga memeluk sang kakek.


"Anak baik.... Anak baik.... Cucu kesayangan kakek dan nenek!" Kakek Broto membalas pelukan mereka, dengan mata berkaca-kaca.


"Sekarang mandi dan beristirahatlah, nanti kalau makan malam sudah siap, kakek panggil kalian!" Kakek Broto melepas pelukannya lalu berjalan menuruni tangga, menuju ke dapur untuk membantu sang istri.


Nenek Sundari melihat suaminya berjalan menuju ke dapur, sejenak menghentikan kegiatannya memotonv akar teratai.


"Bagaimana keadaan mereka?" tanya Nenek Sundari cemas.


"Mereka sudah lebih tenang." jawab Kakek Broto.


"Syukurlah!" sahut Nenek Sundari bernafas lega.


"Aku mencoba menghubungi Asisten Siswanto, tapi tidak bisa, nomor tidak terdaftar!' ucap Kakek Broto.

__ADS_1


"Ada urusan apa menghubungi Asisten Siswanto?" tanya Nenek Sundari.


"Hanya mau menanyakan perihal kenapa anak-anak sampai diusir dari rumah dan dicoret dari daftar ahli waris Suryo. Padahal mereka kan anak kandung Suryo dan Rianti." jawab Kakek Broto.


"Sudahlah, tak usah meributkan harta, kalau memang jadi hak anak-anak, suatu saat pasti akan kembali ke anak-anak." sahut Nenek Sundari, dia paling tidak suka meributkan soal harta.


"Ya sudah, cepat selesaikan masakannya, mereka pasti sudah sangat lapar!" Kakek Broto segera mencuci potongan paha ayam dan ikan ekor kuning, sedangkan Nenek Sundari melanjutkan meracik sup akar teratai, dan tumis sawi asin.


Pukul 18:30, masakan sudah selesai dibuat dan sudah disajikan, Kakek Broto segera naik ke lantai dua dan memanggil kedua cucunya untuk segera makan malam.


Saat Danu dan Diandra turun, mereka melihat meja makan sudah dipenuhi hidangan kesukaan mereka, tumis lobak worte, tumis sayur asin dan fish cake, ayam madu wijen, ikan kukus dan sup akar teratai.


Diandra berlari kecil menuruni tangga, perutnya sudah berbunyi karena dari kemarin sore dia hanya makan sekali.


"Nenek... Rara lapar!" seru Diandra manja.


"Nah sini... sini... Danu, cepat kemari, kita makan malam dulu, kakek dan nenek sudah masak makanan kesukaan kalian berdua. Ayo cepat sini!" ajak Nenek Sundari.


Diandra buru-buru duduk di kursi di sebelah kakeknya, disusul Danu yang duduk disebelahnya.


Nenek Sundari mengambil nasi lalu diletakkannya dalam mangkuk kecil alat makan mereka, lalu membagikan satu per satu.


"Selamat makan!!!" seru Diandra setelah selesai berdoa.


Mereka makan dengan khidmat di atas meja bulat dalam ruang makan yang bernuansa etnik oriental Tionghoa. Ya, Danu dan Diandra memiliki darah Tionghoa dari ibu mereka. Tak heran jika Danu dan Diandra memiliki kulit putih dan wajah tampan dan juga cantik khas Tionghoa.


Danu berperawakan tinggi dengan badan tegap dan kokoh, wajah oval, dengan garis rahang tegas, alis tebal, hidung mancung, mata sipit namun tajam, bibir yang berwarna pink segar, banyak mempesona gadis-gadis teman sekolahnya atau yang sekedar berpapasan.


Sedangkan Diandra, gadis remaja 12 tahun dengan tubuh semampai dan kaki panjangnya, membuat dia memiliki tinggi badan di atas rata-rata. Wajah oval seperti sang kakak, hidung mancung, alis tebal, kulit wajah yang halus dan lembut, mata cerah berwarna coklat muda dan tidak telalu sipit, membuatnya selalu menjadi pusat perhatian. Diandra adalah anak yang ceria, berbanding terbalik dengan kakaknya, Danu, si Raja Es Dunia, ekspresi wajah Danu selalu datar dan beraura dingin, setampan apapun Danu, dia tak bisa didekati.


Back to the story


Selesai makan malam, Diandra membantu Nenek Sundari membersihkan meja dan mencuci piring, Nenek Sundari tidak melarangnya, karena itulah yang diajarkan Rianti kepada anak-anaknya. Sementara Danu membantu menyapu dan mengepel lantai dapur dan ruang makan.


Setelah semua pekerjaan selelsai, mereka berempat duduk di sofa ruang tamu sambil menonton televisi yang menyiarkan tentang proses penyidikan kecelakaan yang menimpa Suryo dan Rianti.

__ADS_1


Raut wajah Diandra terlihat sedih. Walau tidak mengerti, tapi dia merasa ada sesuatu yang tak beres dengan kecelakaan yang menimpa orang tua mereka.


Danu merendahkan pandangannya, tangannya mengepal erat. Dalam hati dia berjanji akan mengungkap tentang kejahatan kedua pakdenya.


"Kakek, besok Danu ijin ke rumah ayah untuk mengambil buku pelajaran!" pinta Danu.


"Kenapa dengan buku pelajaran?" tanya Nenek Sundari.


"Mereka tidak membawakan buku pelajaran kami berdua." jawab Danu.


"Oh begitu, besok kita telepon mereka dulu ya, terus kakek antar kalian ke sana." sahut Kakek Broto.


Tiba-tiba dering telepon terdengar menggema memenuhi ruangan.


Diandra berdiri, lalu berjalan menuju pesawat telephone yang berada di sudut ruangan.


"Halo, selamat malam!" sapa Diandra ramah.


"Halo, nona... Nona muda, ini Om Prabu, bisa tidak om berbicara dengan Tuan Broto?" sahut suara dari seberang dengan nafas tersengal.


"Ah, sebentar om, Rara panggilkan kakek. Apa Om Prabu baik-baik saja?" tanya Diandra.


"Saya tidak apa-apa nona, kalau bisa Om Prabu ingin segera bicara dengan Tuan Broto!" ucap Prabu mendesak Diandra.


"Kakek, Om Prabu mau bicara!" panggil Diandra paka kakeknya.


Kakek Broto mengerutkan keningnya, heran. Ada apa Prabu meneleponnya.


"Ya, halo Prabu?" sapa Kakek Broto.


"Tuan... Tuan Broto harus segera meninggalkan kota. Sesegera mungkin, keselamatan Tuan Muda dan Nona Muda terancam, saya mohon segera meninggalkan kota, Tuan!" Prabu berbicara dengan panik.


"Ada apa ini Prabu, kenapa kami harus pindah?" tanya Kakek Broto bingung.


"Saya akan menghubungi lagi! Saya harus segera pergi, selamat malam Tuan!"

__ADS_1


TUT TUT TUT....


Prabu sudah memutuskan sambungan teleponnya.


__ADS_2