
Sepuluh menit sebelum jam kerja berakhir, Bayu sudah bergegas keluar dari ruangannya, dia bepapasan dengan Haryo yang juga baru keluar dari ruang kerjanya, Haryo sengaja pulang awal untuk mengecek semua persiapan untuk nanti malam. Haryo hendak menyapa Bayu, tapi wajah Bayu terlihat sangat gusar dan cemas.
Haryo menekan pintu lift dan melangkah masuk ke dalam lift, dia mengira Bayu ikut masuk, tapi dia tak mengira kalau Bayu akan lebih memilih turun melalui tangga darurat.
Haryo menurunkan pandangannya dan perlahan pintu lift tertutup. Haryo mengambil ponselnya dari saku jasnya, lalu dia membuka aplikasi yang menyambungkan ponselnya dengan CCTV perusahaan, dia membuka kamera yang terpasang di lorong di depan ruangan HSE dan benar dugaannya, Bayu sedang berjalan menuju ruangan HSE, namun Haryo heran karena Bayu tidak langsung masuk ke dalam, melainkan menunggu di depan pintu sambil sesekali mengintip ke dalam melalui celah kaca yang ada di pintu.
'Kenapa nggak langsung masuk aja sih?' batin Haryo penasaran, dia keluar dari lift dan memutuskan duduk di lobby sambil menunggu Bayu.
Sementara itu Diandra yang tidak mengetahui kalau Bayu menunggunya di luar pintu, tampak sedang membereskan barang-barangnya, setelah semua rapi tersusun di dalam sebuat tas karton, Diandra beranjak menuju pantry untuk mengambil kotak bekalnya dan Bayu tadi, lalu dia memasukkannya ke dalam tas karton yang ada di mejanya, beruntung dia hanya mempunyai sedikit barang, hanya charger, kotak pensil dan juga beberapa notes kecil. Setelah itu Diandra berjalan tertatih dengan bantuan kruknya menuju meja Pak Fahri sambil membawa sebundle berkas laporan dan juga sebuah amplop putih. Sesampainya di meja Pak Fahri, Diandra meletakkan laporannya dan juga amplop putih di meja Pak Fahri.
"Apa ini, Di?" tanya Pak Fahri saat melihat amplop putih yang diberikan oleh Diandra.
"Laporan yang bapak minta tadi pagi," jawab Diandra.
"Iya saya tahu, tapi yang saya tanyakan ini apa?" tanya Pak Fahri lagi sambil menunjuk amplop putih di mejanya.
"Surat pengunduran diri saya pak," jawab Diandra menahan sesak.
"Lho? Kenapa? Apa ada masalah? Kamu nggak betah kerja sama kami?" tanya Pak Fahri kaget dan panik, teman-teman karyawannya pun ikut kaget.
"Di, kalau kami ada salah, kami minta maaf Di, jangan resign," bujuk Yoko.
"Iya Di, kita janji bakal baik-baikin kamu terus deh, nggak kasih kerja berat-berat," tambah Wisnu yang langsung melangkah mendekati Diandra.
"Hehehehe, nggak ada hubungannya sama kalian kok, kalian kakak-kakak semuanya baik sama saya, ini murni karena keinginan saya saja, karena kaki saya kaya gini jadi nggak bisa maksimal kerja jadi malah merepotkan orang lain," sahut Diandra.
"Nggak ada yang repot kok Di," jawab Wisnu tulus, karena selama beberapa hari bekerja, walau ada keterbatasan gerak, Diandra tidak pernah merepotkan siapapun, bahkan saat teman-temannya menawarkan bantuan untuk sekedar mengambil air atau berkas di lemari berkas pun Diandra tak mau dan memilih melakukannya sendiri.
"Hehehe, kan jadi kerja tim nggak maksimal, kalau ada penilaian pasti buruk," ucap Diandra mencoba beralasan, dia tak mungkin bilang kalau dia tak ingin menambah masalah untuk Bayu.
"Cuma sebulan gini, Di," bujuk Yoko.
"Kalau jodoh pasti saya kerja di sini lagi kok Kak Yo," sahut Diandra.
"Pak Bayu tahu?" tanya Pak Fahri.
"Kak Bayu ta...." jawaban Diandra terpotong saat ada seseorang tiba-tiba masuk dan membuka pintu.
__ADS_1
Saat melihat siapa yang masuk, wajah Diandra langsung pucat.
"Tahu masalah apa Pak Fahri?" tanya Bayu datar, wajahnya menyeramkan seperti Dewa Ashura yang sedang merah.
Diandra memalingkan wajahnya menatap ke arah lain, tangannya bergetar karena gugup.
"Ini Pak Bayu, Diandra mengajukan surat permohonan pengunduran diri, saya tanya apa Pak Bayu tahu tentang ini?" tanya Pak Fahri.
"Pengunduran diri? Diandra Ayu Perwita mau mengundurkan diri? Saya baru tahu," jawab Bayu dengan menekan nadanya pada kalimat 'saya baru tahu'.
"Kak Bayu, maksud Rara...." Diandra berusaha menjelaskan tapi tidak bisa, tatapan Bayu terlalu menakutkan.
Bayu melangkah menuju meja Diandra, dia mengambil tas Diandra lalu saat melihat paper bag di atas meja dia hanya mengambil kotak makan dan meninggalkan yang lainnya di meja Diandra. Bayu memasukkan kotak makan ke dalam tas Diandra yang cukup besar, lalu menyelempangkannya di bahunya.
Setelah itu Bayu melangkah mendekati Diandra yang terpaku melihat semua tindakan Bayu.
"Hancurkan surat pengunduran diri itu, besok pagi Rara akan ijin tidak masuk sehari," perintah Bayu mendominasi, lalu tanpa aba-aba Bayu meraih tubuh Diandra dan menggendongnya, Diandra memekik kaget, lalu reflek mengalungkan tangannya ke leher Bayu. Dan tanpa ba bi bu, Bayu melangkah meninggalkan ruang HSE yang seluruh staffnya melongo keheranan.
"Apa mereka benar-benar cuma berhubungan sebatas kakak adik?" gumam Wisnu.
"Tapi kaya suami istri, lho," tambah Yoko.
PLAK! PLAK! PLAK!
Pak Fahri memukul jidat ketiga bawahannya yang hobby menggosip.
"Pak, sakit to ya, marai ngelu ae, banter meneh ngeplak e," gerutu Wisnu sambil mengusap keningnya, begitupun Yoko dan Yudhi.
"Suruh siapa nggosipin bos? Mau ada hubungan apapun, mbok biar aja, harus e kalian seneng, akhirnya Pak Bayu bisa dekat sama perempuan, biar bisa segera menikah, iki malah nggosip, dasar karyawan ora nggenah!!" omel Pak Fahri yang buru-buru merobek surat pengunduran diri Diandra dan segera berkemas untuk pulang.
Staff HSE manggut-manggut mendengar perkataan Pak Fahri, memang benar kalau Bayu dikenal sebagai pria yang anti wanita dan akan selalu menatap sinis setiap wanita yang berusaha mendekatinya, baru kali ini mereka melihat Bayu begitu menyayangi dan melindungi seorang gadis dengan sungguh-sungguh, mungkin saja Diandra adalah wanita yang ditakdirkan menjadi jodoh Bayu.
Tak lama satu persatu staff HSE keluar meninggalkan ruangan HSE untuk segera pulang, tapi tiba-tiba Ari datang dan masuk untuk mengambil kruk milik Diandra yang terjatuh.
Sementara itu Bayu dan Diandra sudah sampai di lobby, dan mereka jadi pusat perhatian para karyawan yang sedang bergegas pulang.
Bayu melangkah menuju sofa, bermaksud mendudukkan Diandra di sana, tapi ketika dia melihat Haryo, dia mengurungkan niatnya karena tubuh Diandra menegang dan keningnya berkerut tanda tak suka. Haryo yang melihat Diandra berada dalam gendongan Bayu, terlihat geram tapi dia berusaha untuk tidak marah.
__ADS_1
"Dira kenapa Bay?" tanya Haryo dengan nada dibuat senormal mungkin, Bayu tahu Haryo tengah meredam emosinya.
"Aku mau membawanya periksa," jawab Bayu datar.
"Apa lututmu sakit lagi, Ra?" tanya Haryo cemas.
"Tidak," jawab Diandra pendek.
"Kak, turunkan Rara, Rara nggak mau kakak kena marah lagi," pinta Rara lirih.
"Non sense," sahut Bayu sambil mendengus, mendengar jawaban Bayu, Diandra memilih diam.
"Lutut Rara sakit lagi tadi siang, kau lihat dia nyaris jatuh kan diang tadi?" tanya Bayu ketus, kalau saja Haryo tidak mengjalangi Diandra masuk pasti Diandra bisa segera mengistirahatkan lututnya dan tidak terlalu lama berdiri.
"Maaf, Ra..." ucap Haryo menyesal.
"Bukan salah Pak Haryo," lagi-lagi Diandra hanya menjawabnya singkat.
"Mau kuantar ke klinik Dimas?" tanya Haryo dengan suara lembut.
"Tidak, saya sudah pesan taksi online tadi," jawab Diandra, membuat Bayu melotot menatap Diandra.
"Kakak bilang kan, kakak akan antar, kenapa pesan taksi?" geram Bayu.
"Rara sudah bilang juga tadi, Rara bisa kesana kemari sendiri," sahut Diandra tak mau kalah.
"Ra, Danu sudah pasrahkan Rara ke kakak, jadi Rara sekarang tanggung jawab kakak," seru Bayu.
"Rara nggak mau merepotkan siapapun dan nggak ingin menghambat pergerakan orang lain," sahut Diandra, Haryo tertegun, jadi Diandra memasukkan semua perkataannya ke dalam hati.
"Rara sudah minta Kak Danu jemput Rara nanti malam, jadi Rara nggak akan tinggal di rumah Kak Bayu, dan Rara juga akan kirim surat pengunduran diri lagi besok pagi," sambung Diandra. Mata Bayu dan Haryo kompak melebar.
"Sekarang turunkan Rara, taksi pesanan Rara sudah nunggu di depan," pinta Diandra tegas dan saat itu dia melihat Ari yang berlari kecil dengan membawa kruknya.
Tanpa Bayu sadari, tangannya bergerak menurunkan Diandra dari gendongannya. Lalu Diandra mengambil tasnya dari bahu Bayu, kemudian dia meminta kruknya dari tangan Ari yang sedang bingung dengan apa yang terjadi.
Ragu-ragu Ari menyerahkan kruk yang dibawanya kepada Diandra, tapi sebelum Diandra meraihnya, ada dua tangan kokoh mencegah tangannya meraih kruk dari tangan Ari.
__ADS_1