Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
Bayu Juga Manusia


__ADS_3

Setelah Diandra duduk kembali di kursinya, Bayu segera berpamitan untuk menghadiri meeting dengan manager departemen, Bayu ingin sekali mengecup kening Diandra, tapi di ruangan itu ada beberapa staff HSE dan juga ada kamera CCTV, sehingga mau tak mau Bayu menahan diri.


Dengan berat hati dia meninggalkan Diandra dan keluar dari ruangan itu, lalu Bayu bergegas menuju meeting room minor yang ada di lantai 1. Saat masuk ke sana, baru beberapa orang manager dan staffnya yang datang, sedangkan Haryo dan asistennya belum datang.


Saat Bayu baru saja duduk, Ari datang membawa berkas dan MacBook milik Bayu, kemudian dia duduk di samping Bayu.


Selama menunggu datangnya peserta meeting, Bayu memeriksa ponselnya, lalu dia mengirimkan pesan pada Diandra.


'Lututnya masih sakit?' tanya Bayu.


'Enggak kak, sudah mendingan,' balas Diandra tak sampai satu menit.


'Nanti mampir Dimas dulu ya, minta pereda nyeri,' ajak Bayu.


'Nggak usah kak, masih bisa tahan kok,' balas Diandra yang menolak ajakan menemui Dimas dulu sepulang kerja nanti.


'Buat jaga-jaga aja, kakak nggak mau cutie pie nahan sakit,' bujuk Bayu bersikeras.


'Iya deh, nurut kata big bun aja, karena cutie pie sayang banget sama big bun,' balas Diandra.


"Uhuk.... Uhuk.... Uhuk...." Bayu tersedak air yang dia minum saat membaca pesan Diandra.


Semua yang sudah hadir menatap ke arah Bayu dengan heran dan membatin bisa juga Pak Bayu keselek, ternyata dia manusia normal juga yang bisa keselek.


Ari yang berada di sebelah Bayu langsung menyerahkan tissue kepada Bayu. Setelah beberapa saat batuknya berhenti, kembali Bayu meraih ponselnya dan tersenyum bahagia.


'Cutie pie memang kesayangan big bun, love you ten thousand, honey,' balas Bayu yang sukses membuat jantung Diandra terasa siap meledak karena bahagia.


'Love you ten billion, big bun,' balas Diandra yang buru-buru menutup wajahnya dengan telapak tangan, menahan malu dan bahagia yang berbuncah di dadanya.


Bayu yang membaca balasan Diandra merasa jiwanya melayang, ingin rasanya dia bangkit dan berlari menuju ruangan Diandra sekarang, namun dia berusaha tahan. Bayu hanya memandangi foto Diandra yang tadi Diandra kirim, diusapnya dan dipandanginya dengan tatapan merindu dan mendamba.


Para manager dan staff yang sudah ada di meeting room bergidik melihat sikap Bayu yang mendadak melankolis. Manager HRD menatap ke arah Ari dan bertanya menggunakan bahasa bibir tanpa suara.

__ADS_1


"Bos Bayu kenapa?" tanya manager HRD, Pak Koko.


Ari hanya mengangkat kedua bahunya karena tak tahu pasti penyebab atasannya berubah GaJe ( Ga Jelas ) gini.


Tak lama Haryo dan beberapa manager masuk dan menduduki bangku yang telah ditentukan.


Haryo menatap Bayu yang masih terpaku pada ponselnya. Ari segera menyenggol Bayu dengan sikunya, membuat Bayu agak kaget, namun segera menguasai diri dan meletakkan ponselnya di meja setelah mematikannya.


"Tumben mepet Yo?" tanya Bayu.


"Jawab telepon dulu dari Suwito," jawab Haryo yang membuat kening Bayu berkerut.


"Selesai meeting kita bicara," sambung Haryo menjawab tanda tanya di mata Bayu.


"Oh ok," sahut Bayu singkat.


Meeting segera dimulai dan satu persatu perwakilan departemen memberikan presentasi laporan bulanan dan rencana anggaran bulan depan.


Meeting berjalan lebih dari 3 jam, setelah Haryo memberikan perintah meeting dihentikan dan dilanjutkan besok setelah makan siang untuk menerima laporan revisi dari setiap departemen, semua peserte meeting bernafas lega, satu persatu dari mereka bergegas keluar setelah Haryo dan Bayu keluar bersama asisten mereka.


Bayu mengikuti Haryo masuk ke dalam ruangan CEO, lalu menghempaskan tubuhnya dan duduk di sofa kulit berwarna hitam yang ada di ruangan itu.


"Ada masalah apa?" tanya Bayu dengan nada datar.


"Suwito menanyakan masalah tadi pagi," jawab Haryo yang juga menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Matanya terpejam dan keningnya berkerut.


"Pengusiran Sinta dari kantor ini?" tanya Bayu meyakinkan.


"Iya, ternyata jadi trending topik di internet, karyawan kita ada yang mengupload kejadian tadi di media sosial," jawab Haryo setengah tersenyum.


"Hahahahaha.... Bagus itu, tapi apa masalahnya?" Bayu tergelak lalu meraih ponselnya untuk mengecek berita tentang kejadian pagi tadi. Dan benar saja, berbagai judul berita muncul menceritakan kejadian pagi tadi.


[Putri pengusaha Suwito Perwita diusir dari PT. Wicaksono World]

__ADS_1


[Mengaku sebagai tunangan Raden Mas Haryo Wicaksono, tetapi diusir dan dilarang masuk ke dalam perusahaan calon suaminya]


[Tunangan rasa bukan tunangan]


Dan judul berita lainnya yang membuat Bayu terkekeh geli karena ada foto saat Sinta ditarik dan dilempar keluar dan terduduk di depan pintu masuk perusahaan.


"Suwito sudah bicara pada papa dan mama, acara pertunanganku akan diadakan Sabtu besok, dan papa mama setuju, bahkan kakek juga memberi lampu hijau," jelas Haryo frustasi, "Dira sudah ditemukan tapi Danu membatalkan perjodohan, haruskah aku tetap bertunangan dengan pelacur iblis itu?" tanya Haryo benar-benar frustasi.


"Bicarakanlah dulu dengan kakek, lagi pula lusa Danu akan menemui kakek kan? Om dan tante juga pasti akan bertemu Danu. Kalian bicarakanlah dulu, setelah itu baru kita susun rencana. Kalau menurutku, lakukan saja perjodohan itu, lagi pula ini hanya pertunangan, bisa kau putuskan kapanpun, ini juga salah satu cara untuk menjebak Sinta dan mengontrolnya. Tapi tetap dia tak boleh masuk ke sini, kalau ingin Rara tetap aman," usul Bayu membuat Haryo termenung.


"Dira ada di hadapanku tapi dia tak mau kuraih, sebegitu burukkah aku di matanya?" desah Haryo seraya menangkupkan telapak tangannya ke wajah tampannya.


"Kau bisa mendekatinya perlahan, jujur kuakui Yo, kau dulu sewaktu kecil dan sekarang memang jauh berbeda, sisi lembutmu hilang entah ke mana sejak 10 tahun lalu," sahut Bayu membuat Haryo menghela nafas panjang yang berat.


Mereka terdiam, tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.


"Danu bilang Sinta sudah tidak suci lagi kan? Dia mengobral *********** pada beberapa anak buah Furaingudoragon kan?" tanya Haryo, binar kelicikan muncul di mata coklatnya.


"Iya, Danu bilang begitu karena informasi yang didapat dari Kak Tora, kenapa?" tanya Bayu bingung.


"Cari dan selidiki di hotel mana biasanya dia melakukan itu, setelah itu pasang kamera dan rekam, juga cari rekaman-rekaman CCTV di setiap hotel yang dia pakai, sebelum sabtu malam semua sudah harus kuterima," ucap Haryo.


"Hmmm... Ok, aku balik ke ruanganku dulu kalau gitu," Bayu bangkit dari sofa dan melangkahkan kakinya ke arah pintu, namun Haryo kembali memanggilnya.


"Bay, nanti antar Dira pulang?" tanya Haryo sendu.


"Iya, tapi mau bawa Rara ke Dimas dulu, lututnya sakit lagi," jawab Bayu, "Mau kamu yang antar?" Bayu balik bertanya, namun Haryo hanya menggeleng lemah.


"Titip Dira, jaga baik-baik, aku belum berani menemuinya," jawab Haryo.


"Tanpa kau mintapun aku akan menjaganya sepenuh hati, Yo," sahut Bayu tegas, Haryo terkejut mendengarnya namun dia tak mengambil hati kata-kata Bayu.


Bayu bergegas keluar ruangan CEO dan segera menghubungi seseorang untuk memata-matai Sinta dan mendapatkan video perbuatan bejat Sinta.

__ADS_1


__ADS_2