Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
Maafkan Kak Bayu!


__ADS_3

Dalam perjalanannya menuju perusahaan, Haryo menelepon Bayu.


"Halo Bay, aku kembali ke kantor, siapkan berkas apapun yang perlu kuperiksa dan kutandatangani. Semua!" titah Haryo.


"Bukannya jemput Om Dewo dan Tante Ratri?" tanya Bayu bingung.


"Jemput, tapi ketemu Setan Betina keluarga Perwita!" jawab Haryo kesal.


"Hahahaha... Diajak bahas perjodohan lagi?" tanya Bayu geli.


"Berisik... Buat jadwal inspeksi ke cabang di Sleman, suruh Indra sama Dewanto siapin berkasnya, biar mereka yang dampingi aku, kamu di perusahaan aja, kalau Setan itu datang, langsung usir!" titah Haryo lagi.


"Ok Bos!" jawab Bayu.


"Jangan lupa perkembangan proses pencarian Danu dan Dira, aku ingin mereka ketemu secepatnya!" Haryo langsung menutup teleponnya tanpa mendengar jawaban dari Bayu.


Bayu mendesah panjang, sahabat sekaligus bosnya ini, jika bertemu dengan calon tunangan pengganti Diandra pasti langsung uring-uringan dan memaksakan diri bekerja agar tidak ada kesempatan bagi orang tuanya untuk menyuruhnya pulang. Tapi ini mungkin tidak akan berlangsung lama, karena Danu dan Diandra sudah ditemukan.


Bayu memutuskan untuk memberi tahu Haryo tentang Danu dan Diandra nanti saat Haryo sudah tiba di kantor. Dia lalu menginstruksikan kepada staf sekretaris untuk menyiapkan berkas yang akan dibawa saat inspeksi kerja nanti.


Setelah satu setengah jam perjalanan dari Bandara YIA, akhirnya Haryo sampai di perusahaan. Dia langsung bergegas masuk ke ruangannya di lantai 3, di sana sudah menunggu Bayu yang sedang duduk di sofa sambil memeriksa email.


"Sudah siap semua?" tanya Haryo sambil melangkahkan kaki ke arah mejanya dan segera duduk di kursinya.


"Sudah, Pak Haryo." jawab Bayu formal.


"Jam berapa bisa berangkat ke cabang Sleman?" tanya Haryo sambil membolak-balik berkas di atas meja.


"Pukul 11:00, Indra dan Dewanto sudah menyiapkan berkasnya." Bayu menutup lap topnya, lalu beranjak menghampiri Haryo.


"Ok!" sahut Haryo singkat.


"Malam nanti aku tunggu di Raminten, pukul 06:00 sore. Luangkan waktumu, akan ada informasi tentang Danu dan Diandra." pinta Bayu yang membuat Haryo terpaku menghentikan kegiatannya, dan buru-buru berdiri menghampiri Bayu.


"Sungguh? Apa informasinya? Mereka ada di mana?" tanya Haryo sambil mengguncang bahu Bayu kerena terlalu bersemangat.


"Sabar, aku juga belum terima laporannya, hanya tadi informan memberi kabar kalau akan menyerahkan informasi lengkap petang nanti. Jadi bersabarlah!" jawab Bayu menenangkan Haryo.


"Aaah.... Hahahaha... Syukurlah, akhirnya ada titik terang!" Haryo tertawa, setengah belenggu hatinya terlepas, dia menyugar rambutnya lalu terduduk di kursi sambil menangkupkan kedua tangan di wajahnya.


"Aku cuma berharap mereka berdua baik-baik saja!" gumam Haryo antara senang dan cemas.


"Mereka pasti baik-baik saja!" Bayu menepuk bahu Haryo. Dia tahu betapa menderitanya Haryo selama ini dalam mencari keberadaan Danu dan Diandra, karena diapun demikian. Dan setelah hari ini dia tahu kalau mereka berdua baik-baik saja, Bayu merasa beban di hatinya melayang entah kemana. Lega. Dia berharap Haryo juga lega nanti setelah bertemu dengan Danu dan Diandra.

__ADS_1


"Datanglah nanti, kutunggu di Raminten!" Bayu menepuk bahu Haryo sekali lagi lalu melangkah keluar ruangan Haryo, meninggalkan Haryo yang tengah memandangi ponselnya.


"Danu... Diandra... Kita akan segera bertemu!" ucapnya lirih.


Pukul 10:45, Haryo berangkat menuju kantor cabang di daerah Sleman untuk mengadakan inspeksi, didampingi Indra dan Dewanto. Sementara Bayu masih membereskan laporan dan proposal beberapa project yang akan dikerjakan oleh perusahaan.


Waktu makan siang sudah tiba, Bayu mengirim pesan kepada Diandra, bahwa dirinya sudah berjalan menuju kantin. Diandra pun segera bergegas menuju kantin setelah menerima pesan dari Bayu.


"Ke kantin Di?" tanya Rudi yang berpapasan dengan Diandra selepas dari toilet.


"Iya, kak. Dipanggil Kak Bayu tadi." jawab Diandra.


"Oh, akrab ya dengan Pak Bayu?" tanya Rudi.


"Kebetulan Kak Bayu itu teman kecil kakak saya." jawab Diandra jujur, walau baru tahu tadi pagi kalau Bayu atasannya ini adalah Bayu sahabat sang kakak.


"Oh gitu." mereka melangkah ke arah kantin perusahaan tanpa sepatah kata lagi.


Sesampainya di kantin, Diandra memisahkan diri dari Rudi.


"Kak, Diandra permisi ya!" pamit Diandra, masih agak canggung karena sifat Rudi yang pendiam dan pemalu.


"Ah, iya Di... Aku gabung sama teman-teman tim ya, bye!" Rudi membalas lambaian tangan Diandra dan melangkah menuju stall makanan.


Diandra tidak sadar kalau dirinya tengah menjadi perhatian para karyawan yang sedang makan di kantin.


Diandra mengambil ponselnya dan menelepon Danu.


"Kakak, sudah makan siang?" tanya Diandra sesaat setelah Danu mengangkat teleponnya.


"Belum de, baru aja selesai meeting. Rara sudah makan?" Danu balik bertanya dengan suara lembut. Agus dan Andi, rekan kerjanya saling pandang, si Kepala IT ternyata bisa ngomong lembut kalau sama sang adik, beda banget kalau lagi kerja.


"Lagi manasin bekal kak, sambil nunggu Kak Bayu." jawab Diandra sambil menatap pintu masuk kantin, dilihatnya Bayu yang berjalan buru-buru ke arahnya.


"Ah, ini Kak Bayu sudah datang." sambung Diandra.


"Ya sudah, ade makan dulu, kakak juga mau makan, sudah lapar banget. Selamat makan ya Ra!" ucap Danu.


"Selamat makan, kak!" balas Diandra sambil memutuskan sambungan teleponnya.


"Danu ya Ra?" Bayu mendudukkan dirinya di hadapan Diandra.


"Iya kak. Lho, kakak ga makan?" tanya Diandra.

__ADS_1


"Nanti diantar kesini." jawab Bayu, sesaat kemudian datanglah makan siang Bayu.


"Bawa apa Ra?" tanya Bayu sambil membuka kotak bekal Diandra yang baru saja dimatikan.


"Cuma nasi sama tumis wortel dan lobak kak." jawab Diandra sambil membongkar dan menyusun kotak bekal di hadapannya dan mulai makan.


"Kesukaanmu sama Danu ga berubah ya?" Bayu mengambil sepotong irisan lobak dari kotak bekal Diandra. Keakraban mereka menimbulkan tanda tanya dari karyawan yang sedang makan siang di kantin, tapi mereka tidak berani bergosip, karena walaupun punya kepribadian yang santai, Bayu kalau marah sama menakutkannya dengan bos besar mereka.


"Hehehehe.... Enak sih kak, Kak Bayu kalau mau ambil aja!" Diandra mulai menyuapkan makanannya ke dalam mulut.


"Hmmm... Ra, kenapa pergi dari Pakualaman?" tanya Bayu sambil mulai menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Soalnya kakek sama nenek takut kalau Rara sama Kak Danu bakal kenapa-kenapa kalau tetap tinggal di kota." jawab Diandra sambil menatap kosong ke arah luar jendela kantin.


"Maksudnya gimana?" tanya Bayu bingung.


"Kak Bayu mungkin tidak tahu kalau tepat di hari pemakaman ayah dan ibu, kami berdua diusir dari rumah oleh Pakde Suwito dengan alasan rumah itu bukan milik ayah. Mereka sudah mengemas barang-barang kami dan membawanya ke makam." ucap Diandra lirih, matanya berkaca-kaca mengingat kejadian kala itu. "Pakde Suwito juga bilang kalau perusahaan akan menjadi miliknya, karena ayah sudah tidak ada dan pakde adalah anak tertua. Sedangkan kami kehilangan hak waris, entah karena apa." Diandra menundukkan pandangannya, menahan agar air matanya tak terjatuh.


BRAAKK!!!


"Kurang ajar tua bangka itu!" Bayu menggebrak meja dan berteriak, membuat karyawan yang sedang menik mati makan siang terlonjak kaget dan buru-buru menghabiskan makanan mereka memakai metode ular ( langsung telan, no kunyah-kunyah ) lalu secepat kilat meninggalkan kantin.


"Kenapa Danu nggak menghubungi aku atau Haryo?" tanya Bayu mendesak Diandra.


"Kak Bayu lupa, kalau waktu itu Kak Bayu dan kak Haryo sedang study di Jerman? Saat itu sarana telekomunikasi juga hanya ada telepon dan SMS yang biayanya mahal, sedangkan kami berdua sepeserpun tak ada uang, karena tabungan dan ATM kamu dibekukan oleh pakde. Kami tidak mungkin minta kepada kakek ataupun nenek yang masih harus bekerja di masa tuanya untuk membesarkan kami berdua." jawab Diandra lirih.


"SIALAN!!!" umpat Bayu sambil mengacak kasar rambutnya.


"Tapi Rara, sebulan setelah meninggalnya Om Suryo dan Tante Rianti, kami berdua pulang dan mencari kalian di kediaman Kakek Broto, tapi tak ada, bahkan rumah kakek Broto sudah berganti pemilik."


"Kami pindah kak, karena... Karena terjadi sesuatu..." Diandra mengangkat wajahnya, di matanya tampak ketakutan, sedih dan juga marah.


"Sesuatu? Sesuatu apa?" Bayu menjadi semakin gusar.


"Rara diculik dan... Dan...." terbata Diandra mengutarakan kejadian 10 tahun lalu, yang menyisakan trauma dan goresan luka yang sangat dalam.


"Dan apa, Rara?" desak Bayu.


"Dan... Dan nyaris jadi korban lelaki pedophilia." gumam Diandra lirih dan mulai terisak, tubuhnya bergetar teringat kejadian itu, kejadian di mana dia disiksa dan dipermalukan juga nyaris diperkosa.


"APA?????" Bayu terlonjak kaget, wajah dan matanya memerah seketika karena amarah yang memuncak. Tapi begitu melihat Diandra menangis pilu, dia berusaha meredam amarahnya dan menggeser bangkunya ke sebelah Diandra. Bayu merengkuh bahu Diandra ke dalam pelukannya, dan menepuk ringan punggung Diandra untuk menenangkannya.


"Maafkan Kak Bayu ya Ra.... Kakak tidak bermaksud mengungkit peristiwa itu, kakak tidak tahu kalau Rara mengalami kejadian seperti itu, maafkan kakak ya Ra!" Bayu merasa hatinya tertusuk ribuan belati, dia tidak tahu kalau sahabatnya dan sang adik mengalami peristiwa yang begitu menyedihkan, ditambah lagi dengan peristiwa Diandra yang hampir menjadi korban pedophilia.

__ADS_1


Bayu tak lagi memberikan pertanyaan pada Diandra, dia hanya membiarkan Diandra menangis di pelukannya sampai Diandra merasa tenang.


__ADS_2