
"Ada apa, Dim? Kenapa tiba-tiba Rara discharge sekarang? Bukannya Rara baru boleh discharge lusa?" tanya Danu bertubi-tubi.
"Urgent, Bayu baru saja telepon kalau mata-matanya melaporkan tentang pertemuan antara Kentaro dan Yoshiko," jawab Dimas, seketika rahang Danu mengeras dan telihat cemas.
"Apa sudah ketahuan?" tanya Danu.
"Belum, tapi untuk jaga-jaga," jawav Dimas sambil menepuk bahu Danu, "pulanglah, Rara akan aku jaga, dan aku urus administrasi kepulangannya," sambung Dimas.
"Bayu?" tanya Danu.
"Dia sedang berada di Senoaji Training Center, dia akan segera kembali dan menunggu Rara di rumah," jawab Dimas.
"Baiklah, aku akan pulang ke apartment Kak Tora, kalau ada sesuatu langsung kabari aku," pesan Danu yang segera bergegas meninggalkan rumah sakit, di perjalanan dia menelepon Tora untuk memberikan informasi jika keberadaan Diandra kemungkinan sudah ketahuan.
BRAAKKK!!!!
Tora menggebrak meja kerjanya saat dia menerima kabar dari Danu jika kemungkinan keberadaan Diandra sydah diketahui oleh Kentaro karena informasi yang diberikan oleh Yoshiko yang pernah bertemu Diandra beberapa hari yang lalu.
"Sialan.... Semoga saja Bayu bisa melindungi Rara dengan baik," gumamnya, lalu dia bergegas meraih kunci mobil Lamborghini SC20 putih miliknya, lalu gegas dia melajukannya menuju apartment milinya yang Danu tempati sambil menghubungi Miko agar segera bisa bertemu di sana setelah jam kerjanya habis.
Sementara itu Diandra segera diantar keluar dari rumah sakit menuju kediaman Bayu oleh Dimas setelah segala urusan admistrasinya Dimas limpahkan kepada asistennya untuk diselesaikan.
Diandra yang bingung tidak berani bertanya karena melihat ketegangan di wajah Dimas.
"De, untuk sementara waktu, jangan melangkahkan kaki keluar rumah, tetaplah berada di dalam rumah, sebosan apapun suasana hatimu," pesan Dimas dengan nada serius.
"Kenapa, kak?" tanya Diandra bingung, pertama dia keluar dari rumah sakit lebih awal dari jadwal seharusnya ( walau dia merasa senang ), kedua dia merasa semua orang terlihat tegang, dan ketiga tentang pesan Dimas barusan, kenapa dia tak diperbolehkan keluar rumah.
__ADS_1
"Kumohon, jangan dulu bertanya, turuti saja pesanku, demi keselamatanmu," jawab Dimas, dan seketika tubuh Diandra menegang. Rasa cemas dan khawatir langsung menyerangnya.
"A-apa ke-ketahuan?" tanya Diandra dengan suara bergetar takut.
"Belum tau, de.... Jadi sebaiknya kita berjaga-jaga dulu," jawab Dimas berusaha setenang mungkin.
"Rara takut, kak...." gumam Diandra lirih, tubuhnya gemetar ketakutan.
"Ade... Tenang ya, kamu semua akan menjagamu, kamu aman bersama Bayu.... Sekarang atur nafas ya... Tenang," ucap Dimas kembali berusaha menenangkan Diandra walau dia sendiri tidak yakin berhasilkah mereka tetap menyembunyikan keberadaan Diandra guna mengelabuhi Kentaro?
Diandra perlahan mengatur nafasnya yang terengah-engah karena cemas, Dimas menginjak pedal gas agar Lexus LX570 Sport putih miliknya melaju lebih cepat menyusuri jalanan yang relatif lengang di seputaran ring road jalan Magelang.
Setelah 25 menit perjalanan, akhirnya mobil yang mereka kendarai memasuki gerbang rumah Bayu, nampak Bayu sudah menunggu dengan gelisah di teras rumahnya. Begitu dia melihat mobil yang dikemudikan Dimas memasuki halaman rumahnya, dia segera berlari menghampiri.
Dimas menghentikan mobilnya dan segera membuka kunci pintunya, tanpa menunggu hitungan detik, Bayu membuka pintu Lexus LX570 Sport putih milik Dimas dan langsung memeluk erat Diandra yang bingung dengan sikap Bayu.
Dimas menunggu di ruang tamu, sementara Bayu membawa Diandra masuk ke dalam kamar yang sudah dipersiapkan untuknya.
Bayu mendudukkan Diandra di tepi ranjang, lalu dia membantu Diandra melepaskan sepatu yang dikenakannya dan menyimpannya di kabinet sepatu yang terletak di samping pintu kamar mandi.
Kemudian Bayu melangkahkan kakinya masuk ke kamar mandi untuk mengambil handuk basah hangat lalu kembali dan duduk di sebelah Diandra.
Diusapnya wajah ayu sang kekasih menggunakan handuk basah itu dengan lembut, kemudian kedua tangan dan juga kedua kaki Diandra dengan telaten. Diandra yang diperlakukan dengan manis dan penuh kasih sayang, merasa tergetar hatinya, tanpa aba-aba, Diandra mengalungkan lengannya ke leher Bayu kemudian dengan lembut Diandra menyatukan bibirnya dengan bibir Bayu.
Bayu terkejut dengan ciuman tiba-tiba yang diberikan Diandra, namun dengan cepat dia memeluk pinggang Diandra dan membalas ciumannya dengan lembut.
Setelah beberapa saat, cuiman mereka terlepas dan segera mereka mengatur nafas dengan kening yang saling menempel dan senyuman manis tersungging di bibir keduanya.
__ADS_1
"Istirahatlah, mas masih ada keperluan dengan Dimas," pinta Bayu sambil melepaskan pelukannya lalu merebahkan tubuh Diandra ke atas ranjang.
"Mas, sebenarnya ada apa ini?" tanya Diandra yang tak dapat menyembunyikan kecemasannya.
"Tenanglah, sekarang istirahatlah dulu, nanti mas cerita setelag semua teratasi, ok Cutie?!" bujuk Bayu, dan Diandra hanya bisa mengangguk pasrah dan menurut.
Setelah Bayu menyelimutinya dan mengecup keningnya, Diandra segera menutup mata dan berusaha untuk tertidur.
Bayu keluar dari kamar Diandra setelah melihat Diandra mulai terlelap dengan nafasnya yang teratur.
Dia melangkah ke ruang tamu dan mengajak Dimas masuk ke dalam ruangan khusus yang hanya diketahui dirinya dan sahabatnya yang terletak di dalam ruang kerjanya.
Mereka harus melewati sebuah pintu dan beberapa anak tangga yang mengarah ke bawah, dengan penerangan yang cukup, dan setelah sampai ke dasar, sebuah pintu kayu kuno nampak menunggu mereka, Bayu membuka pintu tersebut dan dengan otomatis lampu dalam ruangan yang terbilang luas itu menyala.
Ruangan dengan luas 6meter x 7meter itu didominasi warna abu-abu tua dan putih, ada dua buah lemari kaca berjajar rapi yang berisi berbagai macam senjata api dan senjata tajam. Minibar terletak di salah satu sudut ruangan dengan meja berbentuk L dan 3 buah bangku tinggi. Meja kayu besar sebagai meja kerja Bayu juga ada di salah satu sisi yang berdekatan dengan rak buku kuno yang dipenuhi dengan berbagai macam buku tentang teknik bela diri, mata-mata dan lainnya.
Bayu mengajak Dimas duduk di sofa kelabu yang berada di dekat pintu, dan membuatkan Dimas secangkir kopi panas di mini pantry tepat di samping sofa.
Lalu setelah selesai membuatkan kopi dan meletakkannya di coffee table, Bayu segera duduk di seberang Dimas.
Mereka tak memulai pembicaraan karena masih sibuk dalam pikiran masing-masing. Mereka juga sedang menunggu kabar dari anggota Senoaji Spy yang Bayu tugaskan memata-matai Kentaro dan juga record rekaman dari penyadap suara yang Tora pasang di dalam villa Kentaro.
"Aku tak menyangka kalau Yoshiko akan secepat ini melaporkan tentang pertemuannya dengan Rara pada Kentaro," ucap Bayu memecah keheningan ruangan itu.
"Tak ada yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi beberapa menit ke depan Bay, sekarang kita hanya harus fokus mencari cara untuk segera terlepas dari masalah keluarga Om Suryo," sahut Dimas mencoba menenangkan Bayu yang terlihat cemas, "Sekarang ini bukan hanya masalah keluarga, tapi juga obsesi Kentaro untuk dapat memiliki Rara," sambung Dimas, mengingat kata-kata Bayu tadi siang yang menyampaikan kalau anak buahnya mengatakan tentang keinginan Kentaro untuk memiliki dan menguasai Diandra.
Mendengar itu, Bayu menjadi geram dan menahan amarahnya dengam mengepalkan telapak tangannya dengan erat sampai buku-buku jemari tangannya memutih.
__ADS_1