
Pagi itu, tiga hari setelah kedatangan Wira, Kakek Broto pergi ke toko seperti biasanya, sedangkan Nenek Sundari, Danu dan Diandra berada di rumah melakukan aktivitas mereka seperti biasa.
Ketika tiba waktunya mereka menyiapkan makan siang, Nenek Sundari teringat kalau persediaan lauk dan sayur di dalam lemari es sudah habis, maka dia terpaksa keluar rumah sendirian.
"Rara, kakak ke kamar dulu ya, kata Kakek kita pindah ke dekat sekolah 3 hari lagi!" seru Danu, "Jadi kakak lanjut berkemas dulu!" sambungnya.
"Iya kak, Rara nunggu Nenek di sini." sahut Diandra.
Lima belas menit berlalu, tiba-tiba telepon rumah berbunyi. Diandra beranjak untuk mengangkatnya.
"Halo, kediaman keluarga Sasmita, dengan siapa saya bicara?" sapa Diandra ramah.
"Non Diandra, bisa minta tolong bawa obat kakek Broto ke toko, Kakek Non Diandra pingsan!" sahut si penelepon.
"Ini Lik Gito?" tanya Diandra panik, Lik Gito adalah salah satu nama pegawai toko kakeknya.
"Iya non, kakek tiba-tiba pingsan sambil pegang dada, buruan ya non!" seru penelepon dengan nafa sangat panik.
"Iya lik, sebentar Diandra bawain obat kakek!" Diandra menutup teleponnya lalu bergegas lari ke lantai dua mencari kakaknya.
"Kaaak.... Kakak.... Kak Danu.... Kakek, kak!" teriak Diandra panik.
Danu berlari keluar dari kamarnya melihat Diandra berlari memasuki kamar kakek dan nenek mereka.
"Kakek kenapa de?" tanya Danu panik saat melihat Diandra membongkar laci meja nakas di samping ranjang sang kakek.
"Kakek pingsan kak, kata Lik Gito, jantung kakek kambuh!" jawab Diandra yang langsung beranjak keluar kamar saat menemukan obat milik kakeknya.
"Tunggu Ra, ke toko sama kakak!" Danu mengejar adiknya yang sudah berlari menuruni tangga.
"Ade, tunggu kakak, kamu nggak boleh keluar sendirian!" teriak Danu sambil mengenakan sandalnya, sementara Diandra sudah melesat keluar dari halaman rumah.
Belum lagi Danu berhasil mengejar Diandra, tiba-tiba terdengar pekikan ketakutan Diandra yang meminta tolong.
"Kakaaaaaaak.... kakaaaak... Toloooooong!!!" jerit Diandra, tangannya dicengkeram oleh seorang pria bermasker dan berambut gondrong, kemudian pria itu memaksa Diandra masuk ke dalam mini van hitam yang terparkir tak jauh dari rumah kakeknya.
__ADS_1
Danu yang sudah berlari keluar, melihat adiknya dalam bahaya, mempercepat larinya sambil berteriak panik.
"Lepaskan Rara!!!! Lepaskan adikku!!!!" Danu meraih batu bata yang tergeletak di pinggir jalan dan melemparkannya ke arah punggung pria yang memaksa Diandra masuk ke dalam mobil van. Lemparannya mengenai sasaran, pria berambut gondrong itu geram, dengan cepat dia melempar Diandra ke dalam van yang membuat kepala Diandra terbentur kaca mobil dengan keras, tanpa sempat mengaduh, Diandra pingsan.
Lelaki gondrong datang menghampiri Danu yang berteriak marah, menyebabkan beberapa orang tetangganya keluar dari rumah. Dengan sekali hantam, lelaki itu berhasil membuat Danu tersungkur jatuh, kepalanya terantuk beton selokan, seketika darah menggenang, kesadaran Danu perlahan menghilang.
"Rara.... Maafkan kakak... Tunggu kakak.... AB 1895 KA...." gumam Danu sebelum kesadarannya benar benar menghilang.
Para tetangga yang melihat Danu pingsan segera bergerak menolong Danu dan sebagian hendak menangkap pria gondrong yang memukulnya, tapi secepat kilat pria itu melarikan diri menggunakan vannya.
"Kenapa kau buat gadis kecil ini pingsan?!" gertak lelaki dengan luka di pelipis.
"Maaf Bos, soalnya kakak anak ini tadi lempar batu ke punggungku!" sahut lelaki gondrong yang ternyata adalah Jack.
"Lalu kau bunuh anak itu? Tugas kita kali ini hanya menculik, 300juta bukan bayaran setimpal untuk membunuh orang!! Kau ini entah tolol atau dungu, kurangi bermain ************ Sinta, biar kau bisa sedikit memakai otakmu!" bentak sang Bos geram.
Jack hanya bisa menunduk menyadari kesalahannya. Semalam dia terlalu bersemangat bermain dengan Sinta, sehingga hari ini badannya lemas dan otaknya tidak bisa berpikir karena masih membayangkan kegiatan ranjangnya dengan Sinta semalam. Perempuan yang belum masuk usia dewasa memang rasanya beda, pikir Jack.
"Betulkan posisinya, jangan sampai dia terluka, Tora akan marah kalau mainannya tergores!" perintah sang Bos.
"Baik Bos!" Jack mengangkat tubuh Diandra, yang walau masih berusia 12 tahun, Diandra termasuk golongan remaja wanita dengan tubuh yang indah, ditambah paras cantik dan imut khas wajah gadis Tionghoa.
"Bos, anak ini cantik... Bodynya juga bagus, walau masih bocah.... Boleh kita buat main nggak nanti?" tanya Jack, matanya berbinar membayangkan apa saja yang bisa dia lakukan dengan tubuh Diandra.
"Coba saja, kalau kau ingin kehilangan kaki tengahmu yang kau pakai buat bermain ************ tiap harinya!" ancam sang Bos. "Bocah itu milik Tora, jangan kau sentuh!" tambah sang Bos.
Jack terdiam, dia lebih sayang dengan kaki tengahnya, yang dia gunakan untuk menikmati surga dunia. Tapi dia tak munafik, kalau dia juga menginginkan Diandra, walau dia tau Diandra masih di bawah umur.
Mobil mini van itu bergerak laju menuju sebuah desa di lereng pegunungan di kecamatan Sedayu. Wilayah itu masih banyak ditumbuhi pohon-pohon dan masih jarang ada rumah warga.
Akhirnya mereka berhenti di sebuah rumah tua seperti vila yang hanya berdiri sendiri tanpa ada satupun rumah di kiri kanannya.
"Jack, bawa anak itu ke kamar atas, kunci semua pintu dan jendela!" perintah sang Bos.
"Baik Bos!" jawab Jack yang segera mengangkat tubuh Diandra dan membawanya masuk ke salah satu kamar yang berada di lantai dua. Setelah membaringkan Diandra di atas ranjang besar, sekali lagi Jack memandangi wajah Diandra, lalu dengan mendengus kesal dia berbalik dan mengunci pintu dari luar.
__ADS_1
"Sial, kalau saja bocah itu bukan milik Tora!" gerutunya.
Sementara itu di salah satu rumah sakit daerah di Yogyakarta, tampak Kakek Broto dan Nenek Sundari yang sedang gelisah dan panik menunggu para dokter menangani luka di kepala Danu. Sementara Wira datang mendampingi mereka berdua setelah dihubungi Kakek Broto. Wira mengerahkan anak buahnya untuk menyelidiki penculikan Diandra.
Setelah menunggu tindakan selama 3 jam, akhirnya tim Dokter keluar dari ruang operasi.
"Dok, bagaimana cucu saya?" tanya Nenek Sundari di sela tangisnya.
"Puji Tuhan, cucu anda melewati masa kritis karena segera dibawa kemari, namun karena kehilangan banyak darah dan adanya sedikit retakan di tengkorak, maka harus tinggal beberapa hari di rumah sakit untuk observasi. Mohon bersabar beberapa jam ke depan sebelum kesadarannya pulih." jelas dokter yang menangani operasi Danu.
"Terima kasih banyak dokter.... Terima kasih..." tangis lega Nenek Sundari pecah, tapi tak berapa lama wajahnya memucat dan mencengkeram jas Wira.
"Rara.... Bagaimana Rara?" tanya Nenek Sundari ketakutan.
"Mohon maaf nyonya, kami belum menemukannya, tim kami sedang mencarinya, mohon bersabar!" jawab Wira mencoba tenang. Dalam hati dia merasa bersalah karena tak segera membawa mereka pergi, karena tak bisa memberikan perlindungan ekstra kepada kedua buah hati almarhum Tuan Besarnya.
"Segeralah kau temukan Rara, kasihan anak itu, kalau terjadi sesuatu padanya, bagaimana kami mempertanggungjawabkannya pada Rianti dan Suryo!" Nenek Sundari menangis tergugu, Kakek Broto berusaha menenangkannya.
"Tenanglah, Bu... Saat ini kita hanya bisa berusaha mencari dan berdoa. Bersabarlah!" bujuk Kakek Broto walau dalam hati dia juga sangat mencemaskan kondisi cucu perempuan yang sangat mereka sayangi.
Sementara itu, di sebuah villa di tengah rimbunnya hutan di daerah Sedayu, tampak sebuah mobil BMW hitam memasuki halaman villa yang terlihat tak terawat. Mobil itu berhenti tepat di depan pintu masuk villa. Pintu mobil terbuka dan Tora keluar dari pintu kemudi, setelah merapikan pakaiannya dan menutup pintu mobil, Tota melangkahkan kakinya masuk ke dalam villa.
Di dalam ruang tamu, tampak pria dengan luka di pelipisnya sudah menunggu kedatangan Tora.
"Sudah datang kau rupanya!" sambutnya dingin.
"Dimana sepupuku?" tanya Tora tak sabar, tanpa membalas salam.
"Sudah tak sabar, heh? Seleramu aneh, dia sepupumu sendiri, masih di bawah umur. Bisa-bisanya kamu nafsu sama bocah?!" sindir si pria yang kerap dipanggil Bos.
"Hah.... apa yang salah menyukai sepupuku sendiri, lagi pula sudah sejak dia usia 5 tahun aku menyukainya, aku yakin saat dia dewasa nanti dia akan sangat cantik, daripada dimiliki lelaki lain, lebih baik kumiliki sendiri." sahut Tora.
"Kau gila!!!" seru si Bos.
"Ah sudahlah, Ken.... Itu urusanku, tugasmu hanya membawa dia kesini, masalah mau kuapakan dia, itu urusanku. Ini sisa pembayarannya!" Tora meletakkan cek senilai 200 juta di meja.
__ADS_1
"Dia di kamar atas." gumam Kenta, si Bos.
"Got it!" Tora melangkah riang menuju lantai dua, tak sabar memeluk sepupunya.