
Bayu menatap wajah cantik Diandra yang tertidur di pangkuannya, dibelainya hidung, pipi dan kening Diandra dengan punggung tangannya. Bayu tersenyum geli saat bibir Diandra bergerak-gerak lucu di tidurnya, mengingatkan kebiasaan Diandra semasa kecil dulu yang sering membuatnya gemas dan berakhir mencubit pelan bibir mungil Diandra kecil.
Tiba-tiba ponsel Bayu berdering, buru-buru Bayu menerima panggilan suara tanpa melihat ID pemanggilnya.
"Ya, halo?" sapa Bayu setengah berbisik.
'Bay, jadi antar Rara pulang?' tanya si penelepon yang ternyata adalah Danu.
'Jadi, ini lagi di klinik Dimas, lutut Rara sakit lagi,' jawab Bayu.
'Trus Rara dimana kok aku telepon nggak diangkat, kamu juga ngapain bisik-bisik?' tanya Danu curiga.
'Rara tidur, semalam katanya nggak nyaman tidurnya, ini nunggu Dimas selesai praktik, pasiennya ramai, nggak bisa nyela,' jawab Bayu semakin berbisik.
'Kamu nggak ngapa-ngapain ade kan, Bay?' tanya Danu penuh selidik.
'Ngapa-ngapain gimana maksudnya?' Bayu balik bertanya dengan gugup.
'Ya ngapain yang biasa cowok lakuin ke cewek yang dia suka,' goda Danu.
'Ehem... Mulut nggak ada akhlak, aku tutup, kasihan Rara keganggu,' sahut Bayu yang langsung memutus sambungan telepon itu.
Tak berapa lama Danu mengirim pesan pada Bayu.
'Setidaknya minta ijinku dulu kalau memang mau jalan sama Rara, lagian aku sudah bantu membatalkan pertunangan Haryo dan Rara kan, mana gratitude mu?' goda Danu dalam pesannya.
'Apa yang kamu bicarakan, Dan? Aku nggak paham,' helah Bayu, kaget kenapa Danu bisa tau, apa Diandra memberi tahu Danu.
'Nggak usah kau tutupi dariku, aku sudah lihat gelagatmu dari kemarin, ditambah di cafe tadi, aku juga tau gimana perasaan Rara ke kamu, bukan mustahil kalau akhirnya kalian bersama, kan?' ucap Danu tepat sasaran.
'We'll talk later, bro,' balas Bayu langsung menutup aplikasi chatnya.
Bayu mengusap wajahnya, lalu tersenyum tipis. Sebegitu jelasnyakah perasaan cintanya pada Diandra sampai Danu bisa mengetahuinya.
Baru kali ini Bayu menjalin hubungan dengan wanita, apalagi wanita ini adalah Diandra, yang sudah sedari dulu dia dambakan untuk jadi pendampingnya. Tapi apakah mungkin mereka bisa bersama hidup berdampingan sampai hari tua bersama anak cucu mereka nanti? Bagaimana dengan Haryo? Pasti Haryo akan sangat membencinya jika tahu kalau dia dan Diandra bersama.
Bayu memngusap pipi Diandra dengan punggung tangannya, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Diandra, dan dengan lembut dikecupnya bibir Diandra perlahan.
"I love you Cutie Pie, I love so much," bisik Bayu setelah mengecup bibir Diandra.
Satu jam kemudian, Dimas selesai dengan semua pasiennya, dia melangkah masuk ke ruang pribadinya. Dimas tertegun saat membuka pintu dan melihat Diandra tertidur di pangkuan Bayu yang juga tertidur dengan tangan menopang kepalanya.
Dimas tersenyum simpul, inikah alasan Danu menolak perjodohan antara Haryo dan Diandra? Karena Danu mengetahui perasaan Bayu dan Diandra yang saling bertaut?
Dimas mengambil ponsel dari saku jas praktiknya, lalu mengambil beberapa foto kemudian dikirimkannya pada Danu.
'Yo bro, inikah alasanmu menolak perjodohan antara Rara dan Haryo?' tulis Dimas sebagai caption foto yang dikirim pada Danu.
__ADS_1
Tak berapa lama Dimas mendapat balasan dari Danu yang membuatnya menyeringai lebar.
'Aren't they cute to be able together? Bayu sudah suka Rara sejak dia masih balita, berulang kali dia bilang kalau besar nanti Rara bakal jadi pengantinnya, sedangkan Rara juga suka sama Bayu dari dulu walau sering main sama Haryo, tapi matanya tak bisa lepas dari Bayu,'
'They're indeed good being together,' balas Dimas.
'Don't tell Haryo about this, let they settle Haryo on their own way,' balas Danu, Dimas hanya mengirimkan emoji thumb up, lalu segera menyimpan kembali ponselnya.
Dimas melangkah ke meja kerjanya, lalu duduk di kursi putih yang jadi kebanggaannya, lalu Dimas menyibukkan diri dengan pekerjaannya.
Dua puluh menit berlalu, Bayu bergerak dan membuka matanya perlahan, kemudian pandangannya mengarah ke bawah, melihat Diandra masih terlelap, Bayu tersenyum, belainya pipi Diandra menggunakan punggung tangannya dengan lembut.
"Ehem, jangan nunjukin public display affections di ruang kerja orang lain dong," celetuk Dimas yang sedari tadi memperhatikan Bayu.
Tangan Bayu berhenti bergerak, dan menatap Dimas dengan tatapan kaget.
"Udah lama, Dim? Sorry ketiduran," ucap Bayu menutupi kekagetannya.
"Lumayan, hampir setengah jam," sahut Dimas sambil tersenyum penuh arti.
Bayu membelai kelapa Diandra dan berusaha membangunkannya.
"Ra, bangun... Dimas sudah selesai praktik, habis diperiksa Dimas kita langsung pulang, lanjut istirahat di rumah," bisik Bayu di telinga Diandra.
Dimas tersenyum simpul, tanpa sepengetahuan Bayu, dia merekam semua gerak-gerik Bayu lalu mengirimkannya pada Danu.
Bola mata Diandra terlihat bergerak-gerak, lalu perlahan dia membuka matanya, dan wajah Bayu yang begitu dekat dengan wajahnya. Karena malu, Diandra memiringkan tubuhnya menghadap perut rata Bayu dan memeluk pinggang Bayu dengan erat, membuat Bayu mengerang karena merasakan kebangkitan dari sesuatu miliknya di bawah sana.
"Ra, ada Dimas, dilihatin dia, nggak enak," bisik Bayu, Diandra terkejut, buru-buru dia melepas pelukannya dari pinggang Bayu lalu bangkit duduk merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Ahaha... Kak Dim, maaf Rara ketiduran," ucap Diandra menahan malu, wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus.
"Hahahahaha.... Nggak apa-apa, kakak periksa dulu lututmu ya, sayang-sayangannya lanjut nanti setelah periksa," goda Dimas yang semakin membuat Diandra tak bisa mengangkat wajahnya karena malu.
"Dim, watch your mouth," gertak Bayu.
"Ahahahahahaha.... Kenapa Bay? Kan bener aku bilangnya, aku periksa dulu baru sayang-sayangan, kalau sayang-sayangan dulu nggak bakalan bisa kuperiksa to?" gelak Dimas, dan Diandra semakin menundukkan kepalanya menahan malu setengah mati.
"Stop it, Dim. Kasihan Rara kamu godain gitu," seru Bayu geram, direngkuhnya bahu Diandra dan mencoba menenangkannya.
"Nggak usah didengarkan omongan Dimas, dia memang lagi nggak banyak kerjaan, jadi ya cuma bisa gangguin orang," ucap Bayu yang hanya diangguki Diandra.
"Cih, mulai lagi," gerutu Dimas, dia bangkit dari kursinya lalu berjalan mendekati Diandra. Setelah berada di depan Diandra, Dimas segera berlutut, saat tangannya menyentuh celana panjang Diandra, Bayu menahannya.
"Mau apa?" tanya Bayu possessive.
"Lhah? Ya meriksa lutut Rara lah, mau apa coba?" sahut Dimas kesal.
__ADS_1
"Aku aja yang gulung celananya," seru Bayu yang segera berlutut di hadapan Diandra dan mendorong Dimas menjauh.
"What the heck!!!" umpat Dimas kesal melihat kepossessivan Bayu.
"Language!" gerutu Bayu mengingatkan Dimas agar jangan mengumpat di depan Diandra.
"Heh, hen pecked husband type," ejek Dimas yang hanya disambut dengusan kasar Bayu.
Diandra jangan ditanya lagi, wajah, leher dan telinganya rata memerah menahan malu.
"Cepat periksa!" perintah Bayu pada Dimas setelah dia selesai menggulung celana Diandra dan melepas pelindung lututnya.
"You are really something, Bay!!!" gerutu Dimas, dia lalu kembali berlutut di hadapan Diandra dan mulai memeriksa lutut Diandra.
"Ra, kayanya perlu di rotgen deh, kok bengkak gini," ucap Dimas, lalu perlahan menyentuh area lutut Diandra yang bengkak.
"Aw... Sakit kak," rintih Diandra membuat wajah Bayu menggelap.
"Bisa nggak pelan dikit? Rara kesakitan tau?!" protes Bayu, diraihnya bahu Diandra dan mengusapnya perlahan.
"Nggak usah lebay deh, aku cuma sentuh dikit tanpa tekanan, kalau sakit memang ada masalah di tempurung lututnya, makanya besok rotgen," omel Dimas kesal.
"Rara nggak apa-apa kok kak Bay, emang sakit lututnya walau cuma kesentuh dikit, bukan salah kak Dimas," ucap Diandra membela Dimas, membuat Bayu sedikit kesal.
"Dengar?!" oceh Dimas yang sengaja menambah kekesalan Bayu.
"Besok kakak jemput langsung ke rumah sakit, nggak usah kerja dulu," perintah Bayu tegas, artinya Diandra tidak bisa menolak.
"Rara bisa ke rumah sakit sendiri kak," ucap Diandra lirih.
"Kakak yang antar, nggak usah membantah, kalau sendiri siapa yang bantu jalan? Jalan sendiri aja kesakitan gitu," omel Bayu, Dimas yang mendengarnya hanya mendengus.
"Nurut dia aja deh Ra, ketimbang ngomel sampai besok, cape dengarnya," saran Dimas yang disambut pelototan Bayu.
"Iya deh kak, biar besok Rara bareng kak Danu sampai kantor, dari kantor baru kakak antar Rara ke rumah sakit, kakak kan harus kerja, katanya Pak Haryo keluar kota," usul Diandra.
"Ada Ari, bisa diatur kalau kerjaan kantor. Ok, besok kakak tunggu di lobby, kakak urus ijinmu buat besok, sekarang kakak antar pulang, sudah ditanyain Danu," sahut Bayu.
"Makasih ya kak Dimas," Diandra berdiri dan memberikan pelukan pada Dimas dan Dimas membalas pelukan Diandra, Bayu berusaha tenang walau hatinya kesal.
"Hati-hati, jangan mau dimacam-macamin si Bayu, dia ganas Ra," goda Dimas sambil senyum-senyum penuh arti.
Diandra menunduk malu, tangannya sudah melingkar di bahu Bayu dan siap dipapah keluar, tapi karena Bayu kesal pada Dimas yang kelewat menggoda mereka, Bayu langsung mengangkat tubuh Diandra dan menggendongnya keluar, Diandra hanya bisa mengalungkan tangannya di leher Bayu yang melangkah lebar meninggalkan Dimas di ruangannya.
Dimas terkekeh geli, kemudian dia meraih ponsel yang ada di saku jas praktiknya dan membaca pesan Danu yang belum sempat dia buka.
'Bisa-bisanya Bayu get hard di ruang kerja orang lain,'
__ADS_1
Dimas tergelak membaca pesan Danu yang vulgar, dia tertawa sampai perutnya kaku dan sakit, bahkan air matanya sempat keluar saking kerasnya dia tertawa.
Akhirnya Bayu menemukan tambatan hatinya, setidaknya Bayu bisa terlihat lebih ceria setelah Diandra ditemukan kembali. Tinggal mengatasi masalah Haryo yang mungkin akan mengamuk jika dia tahu kalau Bayu dan Diandra sekarang bersama.