
Dalam cafe di dekat kantor tempat Danu bekerja, tampak ketiga orang sahabat Danu tertegun diam setelah mendengar seluruh cerita tentang kejadian yang menimpa Diandra. Haryo menahan air matanya yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Nafasnya memburu dan rahangnya mengetat.
Bayu hanya menunjukkan wajah tanpa ekspresi, tapi matanya memerah memancarkan kemarahn, tangannya mengepal kencang, rahangnya mengeras dan urat nadi di keningnya muncul helas terlihat. Di hadapannya terbayang betapa Diandra ketakutan menghadapi peristiwa itu dan bagaimana dia harus mengatasi trauma berkepanjangan sampai bisa pulih.
Dimas hanya diam, namun tubuhnya bergetar, tak bisa dibayangkan bagaimana penderitaan Diandra dan Danu kala itu.
"Semua kejadian sudah kuceritakan, aku berharap Kak Tora menghubungiku walau hanya sekali, tapi ternyata tidak. Namun begitu, jika sesuatu terjadi pada kami, Kak Tora lah yang akan lebih dulu mengirimkan bantuan sebelum Om Wira datang, tapi sayang, 3 tahun yang lalu Om Wira meninggal karena kecelakaan, tapi aku yakin itu bukan murni kecelakaan." tambah Danu.
"Seandainya Tora tak menculik Rara, dia tak akan mengalami trauma seperti itu," geram Haryo.
"Kalau Kak Tora tidak melakukannya, aku yakin, Rara sudah tidak ada lagi di dunia ini," gumam Danu.
"Tapi aku bersyukur Rara sudah sembuh dari traumanya, walau dia masih tak mau menjalin hubungan dengan lelaki, tapi setidaknya dia bisa bersikap wajar dan tidak ketakutan lagi kalau berhadapan dengan lelaki," ucap Danu membuat jantung Bayu bedegup kencang. Jadi dia adalah lelaki pertama yang menjalin hubungan dengan Diandra, bahkan sudah menciumnya.
'Ya Tuhan, apa yang sudah kulakukan, ciuman pertama kami lakukan di pantry, sungguh bukan tempat yang romantis,' pekik hati Bayu, seketika wajahnya memerah tanpa sebab.
Danu yang melihat perubahan air muka Bayu, mengangkat sebelah alisnya dan menyunggingkan senyum penuh arti.
"Kamu kenapa Bay? Demam?" tanya Danu setengah menggoda.
"Ehem, enggak... panas doang," jawab Bayu, bersamaan dengan suara dentingan notifikasi pesan.
Bayu meraih ponselnya dan membuka pesan masuk yang ternyata dari Diandra.
'Kak Bay, makasih makan siangnya ya, sudah habis tandas,' isi pesan Diandra lengkap dengan foto Diandra yang membawa setumpuk kontainer bekas makanan sembari tersenyum ceria.
Bayu terkekeh lirih, lalu membalas pesan Diandra.
__ADS_1
'Good girl, makan yang banyak, nanti kakak kasih oleh-oleh chocolate mouse sama Hong Kong egg tart, mau?' balas Bayu.
'Banget!!!' balasan Diandra datang kurang dari 20 detik, membuat senyum di bibir Bayu semakin lebar, Haryo dan Dimas terbengong melihatnya, sedangkan Danu tersenyum penuh arti.
'Tunggu kakak ya, begitu sampai kantor, kakak langsung ke departemenmu. Love you so much, cutie pie,' Bayu menulis jawaban dan segera mengirimnya sambil tersenyum senang. Diandra yang membaca pesan Bayu, jantungnya serasa berhenti berdetak, lalu segera menulis jawaban dan meletakkan ponselnya di meja dan melanjutkan pekerjaannya sembari mengontrol detak jantungnya yang tak karuan.
DING!!
Bayu membuka lagi pesan dari Diandra, dan senyumannya kembali melebar, membuat Haryo dan Dimas merinding, Bayu yang jarang tersenyum, tiba-tiba mesam mesem sendiri kaya orang kurang satu ons.
'Love you too my big bun,' Bayu segera meletakkan ponselnya setelah membaca balasan Diandra, lalu tertegun karena ketiga temannya sedang menatapnya.
"Bay, kamu kenapa kok mesam mesem kaya orang kurang satu ons otaknya?" tanya Dimas dengan pandangan menyelidik, membuat Bayu memasang kembali muka datarnya.
"Nggak ada apa-apa," jawab Bayu sambil menyeruput kopinya yang sudah tak panas lagi.
"Jadi gimana rencana kita buat mengungkap semua kebusukan Suwito?" tanya Dimas mengubah topik pembicaraan.
"Belum tau, sementara ini aku masih berusaha melindungi Rara dari Sinta, karena kabarnya Sinta sudah pulang ke Indonesia. Kak Tora pun juga sudah pulang tapi sekarang dia berada di Bali mengurus bisnisnya, aku dapat kabar dari tangan kanan Om Wira," jawab Danu.
"Iya, memang Sinta sudah pulang, dan tengah sibuk mengejar Haryo," sahut Dimas sambil terkekeh geli melihat wajah Haryo yang berubah jijik mendengar nama Sinta.
"Kenapa? Apa ada hubungannya dengan perjanjian almarhum kakek Asdi dan kakek Cokro?" tanya Danu.
"Iya, kamu sudah tahu apa isi perjanjian itu?" tanya Bayu waspada.
"Belum, karena Kak Tora tak mengatakan apapun tentang perjanjian itu," jawab Danu.
__ADS_1
"Perjanjian itu berisi tentang perjodohanku dengan Dira," jawab Haryo, "Karena itu jugalah aku mencari keberadaan kalian selain khawatir dengan keselamatan kalian berdua." sambung Haryo, Danu terdiam, dia melirik Bayu yang terlihat mengepalkan tangannya yang dia letakkan di atas pahanya.
"Kamu dijodohkan dengan Rara?" tanya Dimas kaget karena baru tahu.
"Iya, itu perjanjian yang dibuat sewaktu kakek Asdi masih hidup. Dan aku ingin segera meresmikannya karena Dira sudah ditemukan, dan aku bisa segera menyingkirkan Sinta," jawab Haryo tegas, membuat Bayu semakin mengeratkan kepalan tangannya.
"Sorry Yo, kalau masalah ini aku nggak bisa ambil keputusan, walaupun isi perjanjian antara kedua kakek kita jelas, tapi aku tetap nggak mau memaksa Rara menerimanya, aku nggak mau menimbulkan trauma baru pada Rara karena memaksa Rara menerima perjodohan ini," sahut Danu tegas, membuat Haryo kaget dan melotot marah. Sementara Bayu menatap Danu tak percaya, Danu membalas tatapan Bayu dan menepuk bahu Bayu untuk meyakinkannya.
"Ini perjanjian antara kakek kita Dan, ada hitam di atas putih," seru Haryo marah.
"Aku tau dan aku tak peduli, aku lebih mementingkan kejiwaan adikku, aku akan bicara sendiri dengan Kakek Cokro. Aku tak akan menolak jika Rara menyukaimu sekarang ini, tetapi kau lihat kan, Rara sedikitpun tak ingin melihat bayanganmu, bagaimana mungkin aku memaksa adikku menikahi lelaki yang tidak dia sukai? Kau sahabatku dan Rara adalah adik kesayanganku, kau tak pernah tau betapa beratnya menjalani kehidupan di tengah trauma yang dihadapi Rara, aku hanya tak ingin adikku mengalami trauma lagi," jelas Danu panjang lebar membuat Haryo terdiam.
Sebesar apapun cintanya pada Diandra, dia juga tak menginginkan Diandra mengalami penderitaan psikologis lagi.
"Bicaralah pada kakek, aku akan terima apapun keputusan kakek nanti," sahut Haryo lirih, dia seperti kehilangan separuh jiwanya.
"Berusahalah mengambil hatinya, kalau suatu hari Rara mencintaimu, aku akan melepaskan dia untukmu," janji Danu pada Haryo yang sedikit menumbuhkan harapan di hatinya.
"Aku harus ke rumah sakit, ada panggilan darurat, aku akan membantu mendapatkan laporan forensik kecelakaan om dan tante dari rumah sakit Klaten, kalau sudah ku dapat segera aku kirimkan pada kalian," Dimas bangkit dari duduknya dan bergegas keluar cafe karena panggilan operasi darurat dari rumah sakit tempat dia bekerja.
"Aku juga harus kembali, jam makan siangku sudah habis. Lusa aku akan ke rumahmu Yo, aku akan bicara pada kakek Cokro. Titip Rara ya," Danu menyusul bangkit dan bergegas keluar setelah menepuk bahu Bayu.
Sekarang tinggal Haryo dan Bayu di meja itu, Bayu menatap Haryo yang terlihat lesu.
"Berusahalah mengambil hati Rara, jangan kau tunjukkan sifat arrogantmu di hadapannya," ucap Bayu tulus, walau dia menjalin hubungan dengan Diandra, tapi jika suatu saat Diandra jatuh cinta pada Haryo dia akan rela melepasnya. Dia sanggup melakukan apapun asal keduanya bahagia.
Bayu tak akan pernah membayangkan jika suatu saat nanti dia meninggalkan Diandra dalam kesedihan dan membuat Haryo menjadi penyembuh lukanya.
__ADS_1