Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat

Terpikat Lelaki Keturunan Ningrat
Perasaan Yang Tersirat


__ADS_3

Hari ini Diamdra diperlakukan seperti puteri oleh Pak Fahri dan rekan-rekan satu ruangannya. Kerja ini, tidak boleh, itu tidak boleh, minum diambilkan, dan lainnya sampai Diandra jengah dibuatnya.


"Pak Fahri, apakah saya sudah tidak dibutuhkan lagi di departemen ini?" tanya Diandra kesal.


"Eh, siapa bilang, kita masih butuh banget lho!" jawab Pak Fahri.


"Kalau masih dibutuhkan, kenapa saya nggak diperbolehkan mengerjakan sesuatu?" tanya Diandra frustasi.


"Ya kan kamu lagi cidera, Di.... Jadi ya sabar dulu sampai sembuh baru kerja giat lagi!" jawab Pak Fahri sambil tetap memeriksa berkas yang menumpuk di mejanya.


"Ya tapi kan saya masih bisa ngetik pakai tangan saya pak!" protes Diandra.


"Aduuuuh, ngeyel amat sih anak satu ini? Kalau mau protes ke Pak Bayu, dia yang kasih perintah kalau Diandra nggak boleh kerja berat-berat!" omel Pak Fahri.


"Ya kan ngetik apa beratnya sih pak?" rengek Diandra, dia benar-benar merasa tak ada gunanya masuk kerja kalau tak melakukan sesuatu.


"Sek, sebentar!" Pak Fahri mengambil telepon perusahaan dan menekan saluran untuk ruangan Bayu dan memasang loudspeaker.


"Ya?"Terdengar suara berat Bayu dari seberang, membuat jantung Diandra berdebar tak karuan.


"Pak Bayu, ini lho pak, adik kecil sahabat Pak Bayu protes karena tidak diperbolehkan mengerjakan apa-apa!" adu Pak Fahri, Diandra hanya bisa membelalakkan matanya.


"Raaa.... Sudah kamu duduk aja, main hp kek, dengar musik kek, atau apalah." sahut Bayu dengan suara lembut. Orang-orang yang mendengarnya terkaget-kaget, ternyata bisa juga Pak Bayu bicara dengan nada penuh cinta gitu.


"Haish, Rara ke sini buat kerja, bukan buat santai dengar musik!" gerutu Diandra.


"Ok... Ok... Pak Fahri, tolong masih tugas Diandra bikin proposal permohonan dana tahunan untuk Departemen HSE. Siapkan contoh proposal tahun lalu dan semua berkas yang dibutuhkan di mejanya, jangan buat Rara kesana kemari dulu." perintah Bayu.


"Sudah tuh Ra, puas sekarang?" tanya Bayu dengan sabar.


"Banget... Kak Bayu memang the best... Sayang deh sama kakak!" jawab Diandra gembira lalu bergegas melenggang ke mejanya dengan tertatih-tatih.


Pah Fahri mematikan loudspeaker


"Pak Bayu kelihatan sayang sekali sama Diandra." goda Pak Fahri.


"Ehem... Biasalah pak, sudah kaya adik sendiri." jawab Bayu gugup.


"Kaya pacar sendiri juga nggak apa-apa kok pak!" Pak Fahri semakin menggoda Bayu.


TUT... TUT... TUT....


Sambungan terputus. Pak Fahri terkekeh pelan, waaaah.... Sekretaris Utama lagi bucin, ceritanya... gitu batin Pak Fahri.


"HAAAAH...." Bayu menhela nafas panjang.


Rasa sayang dan cintanya ke Diandra mungkin terlalu kentara, sampai-sampai Pak Fahri tahu. Harus lebih berhati-hati. Sampai dengan pernikahan Diandra dan Haryo, Bayu akan menjadi Diandra's number one guardian.


BIB... BIB....


Suara intercom di ruang Bayu.


"Ya?" jawab Bayu.


"Di mana sih Bay, habis meeting ngilang aja?' tanya Haryo kesal.

__ADS_1


"Di ruanganku lah, di mana lagi?" gerutu Bayu.


"Bisa kesini?" pinta Haryo.


"Oke, sebentar!" jawab Bayu.


Setelah merapikan mejanya, Bayu hendak melangkah keluar ruangannya, tetapk langkahnya tertahan oleh dentingan notifikasi di ponselnya.


"Kak BayBay, terima kasih ponselnya ya, kapan-kapan Rara masakin makanan kesukaan kakak sebagai tanda terima kasih Rara buat Kak BayBay!" ternyata pesan dari Diandra.


"Iya, sama-sama.... Memangnya Rara tau apa makanan kesukaanku?" tanya Bayu.


"Kalau belum pindah halauan sih tau kak!" balas Diandra.


"Apa coba?" tanya Bayu lagi.


"Gulai kepala ikan sama sate lilit kan kak?" jawab Diandra.


Bayu tersenyum membaca balasan Diandra. Dia masih ingat ternyata.


"Bingo.... Bener banget!" balas Bayu.


Tak sabar mengetik Bayu menelepon Diandra.


"Ya kak?" Diandra menerima panggilan Bayu dengan jantung berdebar kencang.


"Udah mulai bikin proposal?" tanya Bayu dengan suara rendahnya yang merdu.


"Belum kak, lagi nunggu diambilin contoh sama berkas-berkasnya di ruang file sama Mas Wisnu." jawab Diandra yang semakin berdebar setelah mendengar suara Bayu.


"Iya kak... Ini kakak nggak sibuk?" tanya Diandra.


"Enggak, barusan selesai meeting, terus tiba-tiba pengen dengar suara Rara, ya jadi telepon deh." goda Bayu yang sukses membuat pipi Diandra merona merah.


"Kak BayBay jangan rayu-rayu Rara lho, kak! Nanti kalau Rara baper gimana?" tanya Diandra pura-pura ngambek.


"Emang Rara mau gitu sama Kak Bayu?" tanya Bayu penuh harapan.


"Kalau misal mau, memangnya Kak Bay mau sama Rara?" Diandra balik bertanya setengah berbisik, beruntung dia berada di pantry.


"Seandainya bisa, kakak ingin memiliki kamu seutuhnya Ra!" jawab Bayu getir.


"Ya kak?" tanya Diandra karena tak begitu jelas mendengar jawaban Bayu.


"Kakak jawab kalau kita ketemu ya? Siang mau makan apa? Nanti kakak pesankan biar diantar masuk ke dalam, kalau karyawan biasa hanya bisa antar sampai lobby bawah!" Bayu mengalihkan topik pembicaraan.


"Oh... Terserah kakak aja, Rara bukan picky eater." jawab Diandra kecewa.


"Jangan marah ya Ra, pertanyaan Rara tadi pasti kakak jawab kalau kita bertemu, ok?!" bujuk Bayu yang mendengar nada kecewa dari suara Diandra.


"Rara nggak marah, kak." jawab Diandra lirih.


"Sudah dulu ya Ra, kakak dipanggil sama si Boss." pamit Bayu.


"Ah... Iya kak, selamat bekerja kak BayBay!" ucap Diandra.

__ADS_1


"Selamat bekerja.... Sayang!" balas Bayu yang langsung memutus sambungan telepon mereka.


"Sa-sayang?" gumam Diandra, dia merasa jutaan kupu-kupu beterbangan di perutnya.


Sementara itu di ruangan sekretaris utama, Bayu tampak terduduk di sofa dengan kedua tangan yang menopang kepalanya bertumpu pada lutut. Hatinya semakin gelisah, perasaanya pada Diandra semakin besar karena gadis itu secara tersirat mengatakan kalau menyukainya. Apa yang harus dia lakukan.


CKLEK!!!


Pintu ruangannya terbuka, Haryo masuk tanpa permisi membuyarkan pikirannya.


"Ditungguin ternyata masih di sini!" omel Haryo.


"Kamu kenapa Bay?" tanya Haryo begitu melihat Bayu yang termenung di sofa.


"Entah Yo, agak pusing aja tiba-tiba!" Bayu menegakkan badannya lalu menggosok keningnya.


"Mau balik? Aku panggil sopir!" seru Haryo khawatir.


"Haish, ngapain? Nggak usah, buat duduk gini aja nanti juga sembuh." larang Bayu.


"Ada apa tadi minta aku datang?" tanya Bayu sambil menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.


"Pagi tadi, perempuan itu datang kesini." jawab Haryo sambil mendudukkan dirinya di hadapan Bayu.


"Sinta?" tanya Bayu.


"Hmmmm.... Tapi aku sudah perintahkan larangan kalau dia datang lagi dia nggak boleh masuk." Haryo menyugar rambutnya.


"Jangan sampai dia tahu kalau Rara bekerja di sini!" gumam Bayu.


"Aku tau Bay!" Haryo menyilangkan kakinya


"Kau sudah menghubungi Dimas?" tanya Haryo.


"Sudah, hari ini dia libur, jadi bisa datang!" jawab Bayu.


"Bagaimana keadaan Dira?" tanya Haryo.


"Ya? Kenapa kau tidak melihat sendiri?" Bayu menatap lekat Haryo.


"Aku.... Aku takut ditolak lagi!" Haryo mendesah panjang dan mengusap wajahnya frustasi.


"Hey, seorang Haryo takut ditolak seorang gadis? Yang benar saja, Yo... Nggak niat buat meluluhkan hati Rara?" goda Bayu.


"Bukan gitu, aku takut kalau aku sekarang mendekatinya dia semakin membenciku!" sahut Haryo seraya menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajah tampannya.


"Ahahaha... Lalu kau menyerah? Kalau begitu bilang saja ke kakek buat membatalkan perjodohan kalian. Biar selanjutnya aku yang akan melindungi Rara menggantikan Danu!" balas Bayu, matanya lekat menatap mata hitam Haryo.


"Kau... Bay?" Haryo membalas tatapan Bayu dengan tatapan marah.


"Hm... maka itu berjuanglah sekeras mungkin. Kau tau, aku menyayanginya seperti adikku sendiri, kalau kau tak berniat memperjuangkannya ya sudah, lepaskan, biarkan dia bersama pria lain yang lebih mencintainya." sahut Bayu tenang, menurunkan pandangannya, dia tak ingin Haryo melihat lukanya.


Haryo terdiam, tidak menjawab, sibuk dengan pikirannya. Sedangkan Bayu juga tidak berkata apa-apa lagi, hanyut dalam diamnya.


☆Mohon supportnya ya teman-teman, silakan tinggalkan komen, kritik dan saran yang membangun untuk saya lebih baik lagi dalam menulis cerita, terima kasih☆

__ADS_1


__ADS_2