
Setelah selesai makan, Bayu membereskan dan mencuci kotak bekal mereka dan meniriskannya di atas rak piring yang disediakan di pantry. Diandra menunggu Bayu sambil meminum obat pereda nyeri dan kalsium yang diresepkan Dimas kemarin.
Bayu melangkah mendekati Diandra, kemudian dia berlutut di hadapan Diandra, dibukanya pelindung lutut yang membungkus lutut Diandra, lalu mengoleskan obat tipis-tipis dan memasang pelindung lutut itu kembali.
Bayu menatap lekat mata Diandra lalu pandangannya turun sampai ke ujung kaki Diandra. Hari ini Diandra terlihat sangat manis dan imut memakai midi dress selutut berwarna salmon, dengan potongan A-line berkerah shanghai dan berlengan 7/8 tampak sangat pas di tubuh Diandra.
Bayu sangat kesal, karena pasti banyak lelaki yang melihat dan menikmati kecantikan Diandra menggunakan mata mereka.
"Cutie...." panggil Bayu dengan suara lembutnya.
"Ya?" sahut Diandra.
"You are so beautiful, you make me fall in love with you again and again," ucap Bayu lirih. Wajah Diandra memerah.
"Big Bun makin pinter gombal ya," ejek Diandra sambil memalingkan wajahnya, menyembunyikan rasa malunya.
"Nggak gombal ini, honey... Kenyataannya memang Cutie Pie ku sangan cantik, bikin kakak jatuh cinta lagi dan lagi," sahut Bayu sambil menangkup pipi Diandra dengan kedua tangannya, lalu mendekatkan wajah Diandra ke wajahnya.
"Big Bun mau apa?" tanya Diandra panik.
"I'll give you some kisses," jawab Bayu, lalu dengan lembut di menempelkan bibirnya ke bibir Diandra, kemudian Bayu melakukan French kiss beberapa saat sebelum akhirnya melepaskan bibir Diandra.
"Kakak jalan dulu ya, honey," pamit Bayu sambil mengecup kening Diandra, kemudian membantunya berdiri dan melangkah kembali ke meja kerja Diandra.
"Iya, kak... Hati-hati di jalan," balas Diandra yang memberikan kecupan ringan di pipi Bayu sebelum mereka melangkah keluar dari pantry.
"Cutie, kan sudah bilang jangan menggoda kakak," protes Bayu yang gemas dengan tingkah Diandra yang mencuri cium di pipinya.
"Ih, pipi doang kak," Diandra membela diri.
__ADS_1
"Tapi kakak tergoda, tau?!" Bayu mulai menggerundel, dia harus menahan diri keinginannya untuk menerkam Diandra saat ini juga.
Diandra terkekeh geli, entah apa yang Bayu lihat pada dirinya, kenapa mudah sekali Bayu tergoda, bahkan hanya karena melihatnya dari kejauhan, Bayu akan bilang kalau Diandra menggodanya.
"Kak Bayu tuh memang ngeres, makanya apa-apa yang Rara perbuat, kakak anggap Rara lagi menggoda Kak Bayu, nggak lucu banget," gerutu Diandra.
"Hehehe... Nggak usah cemberut gitu, ini sudah di luar pantry," bisik Bayu yang membuat Diandra langsung tertundul dengan wajahnya yang memerah, dia tahu kemana arah kata-kata Bayu.
"Kakak buruan berangkat deh, nih ditanyain Kak Danu," seru Diandra setengah memaksa, pasalnya saat melihat ponselnya, Diandra nampak notifikasi pesan dari Danu yang bunyinya, 'Ade, Bayu buruan suruh kesini ya, kakak ada meeting jam 2 nanti, ade kan masih bisa sama Bayu pulang kerja nanti,' pesan itu membuat Diandra cemberut, bukannya dia mau menahan Bayu lama-lama, tapi Bayu sendiri yang ingin berlama-lama bersamanya.
Diandra menunjukkan pesan Danu kepada Bayu dengan wajah cemberut.
"Kan, Rara yang disalahin," gerutunya.
"Hehehehe, iya iya.... Kakak jalan dulu ya, baik-baik di kantor, bye Cutie," pamit Bayu sambil mengusap kepala Diandra dengan lembut lalu segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan HSE meninggalkan Diandra sendirian, karena teman-teman staff nya belum kembali dari makan siang di kantin.
Di cafe tempat empat sekawan janjian, tampak Danu dan Dimas menatap Haryo yang sedang memandangi ponselnya, auranya kelam seperti sedang ada badai yang menerpa hati Haryo.
Danu yang melihat kode Dimas hanya menggendikkan bahunya.
Haryo melemparkan ponselnya ke atas meja, di layarnya terlihat video yang memperlihatkan Diandra sedang mengobrol dengan Bayu sambil menunjukkan ponselnya. Dimas melirik ke arah Danu yang tersenyum kecut. Ternyata melototin ponsel itu karena memata-matai Bayu dan Diandra, kirain lagi baca e-mail penting tentang project yang sedang dikerjakan perusahaannya, eh.... Tiba e CEO PT. WICAKSONO WORLD lagi alih profesi sebagai mata-mata.
"Dan, baiknya Bayu jangan boleh dekat-dekat sama Dira, nanti Dira diapa-apain sama Bayu," seru Haryo menahan geram.
"Kenapa? Setahuku Bayu itu cowok yang menghormati perempuan, lagian Rara nyaman sama dia, apa salahnya?" tanya Danu menahan geli.
"Jaga-jaga lah, cowok kadang luarnya doang baik dalamnya entah, buktinya tuh ngapain mereka lama-lama di pantry kalau cuma siapin makan siang buat Dira?" protes Haryo kesal.
"Ya kali Bayu diminta temani Rara makan, Yo," sahut Dimas, "Lagian ngapain kamu sewot gitu?" sambung Dimas.
__ADS_1
"Bayu gitu amat ke Dira, aku cuma nggak ingin Dira diapa-apain sama Bayu," helah Haryo.
"Kamu pikir Bayu cowok nggak bener apa, Yo? Sedari kecil dia itu paling sayang ke Rara ketimbang kamu sama Dimas, kamu sering main sama Rara tapi ngeluh di belakangnya, tapi Bayu walau jarang main sama Rara, sekalinya dia main sama Rara, dia nggak akan ngeluh, malah apa yang Rara mau dia ikuti, sedangkan kamu walau main sama Rara tapi selalu menggerutu ini itu," ucap Danu panjang lebar mengingatkan bagaimana masa kecil mereka.
"Itu kan dulu," protes Haryo, dia semakin kesal karena Danu membela Bayu.
"Sudahlah, kalau kamu cemburu, berbaikanlah sama Rara, minta maaf ke dia, rubah sifatmu. Lagian kesan pertama yang kamu berikan ke Rara setelah 10 tahun nggak ketemu malah bikin emosi, lain sama Bayu yang bisa lebih dewasa dan kalem, walau kalian berdua sama-sama expressionless, tapi kamu kurang bisa menghargai perempuan," ucap Dimas yang mulai jengkel dengan sifat tak masuk akal Haryo.
Haryo terdiam, dia memang saat ini bersikap tak masuk akal karena cemburu melihat kedekatan Bayu dan Diandra. Sementara hubungannya dan Diandra seperti anjing dan kucing yang tak pernah akur.
Dalam hati Danu dan Dimas ada sedikit rasa was-was, bagaimana jika Haryo mengetahui kalau Bayu dan Diandra adalah sepasang kekasih? Akankah terjadi perpecahan di antara mereka nanti? Tapi mereka juga tak bisa memaksakan perasaan.
"Kapan aku boleh menemui Kakek Cokro?" tanya Danu sambil menyeruput minumannya, mereka bertiga sudah selesai makan siang karena Bayu meminta mereka makan dulu tanpa harus menunggu kedatangannya.
"Besok pagi, malam ini aku akan membatalkan rencana pertunanganku dengan sepupumu," jawab Haryo datar.
"Sepupu, heh? Kalau dia sepupuku, tak akan dia ada pikiran melenyapkan Rara hanya untuk menikahimu," sahut Danu sinis, dia benci sekali terhadap Sinta, kalau bukan karena Tora yang merencanakan penculikan Diandra, pastilah Sinta yang melakukannya dan bisa dipastikan kalau Diandra tak ada lagi di dunia saat ini.
"Aku akan membalasnya," gumam Haryo.
"Aku yang akan melakukannya sendiri, akan ku buat dia merasa menyesal menjalani hidup tapi takut menghadapi kematian," ucap Danu dengan aura menyeramkan.
"Kalau datang menemui kakek, menyamarlah agar tak dikenali, sebisa mungkin orang-orang pakdemu jangan sampai tahu kalau kami sudah menemukanmu dan Dira," pesan Haryo.
"Baiklah, tapi aku datang mungkin setelah pukul 10:00, aku berjanji membawa Rara ke makam papa dan mama," sahut Danu.
"Boleh kami ikut?" tanya Dimas yang diangguki Haryo.
"Ikut saja, aku akan ke rumah Bayu menjemput Rara dan juga Bayu dulu besok pagi," jawab Danu, "Rara tinggal di rumah Bayu sementara waktu, karena harus terapi rutin di rumah sakit Dimas," jelas Danu, karena tak ingin Haryo berpikiran yang tidak-tidak.
__ADS_1
"Aku tau, Bayu sudah bilang tadi," sahut Haryo lemah, wajahnya suram.
Danu merasa tak enak hati pada Haryo, karena Haryo adalah satu-satunya yang tak tahu tentang hubungan antara Diandra dan Bayu saat ini. Dia berharap saat mengetahuinya, Haryo bisa memahami dan menerimanya dengan lapang dada.