
Di dalam sebuah meeting room yang berada di sudut lorong, tampak 3 orang wanita berwajah pucat dan panik sedang berdiri di hadapan Bayu yang duduk tenang sambil memandangi berkas pemecatan yang ada di meja. Ari berdiri di samping Bayu dengan wajah datarnya.
"So... Ini berkas pemecatan kalian, tanda tangani dan segera ke ruang HRD untuk mengembalikan name tag kalian!" Bayu mendorong ketiga berkas itu ke hadapan ketiga orang wanita itu, Vera, Yuli dan Susi.
Mendengar kata pemecatan, langsung membuat Yuli dan Susi pucat pasi, karena mereka berdua merupakan tulang punggung keluarga.
"Pak... Pak Bayu.... Saya minta maaf, saya bersedia berlutut memohon ampun pada Diandra, pak... Saya mohon jangan pecat saya!" pinta Susi panik dan berderai air mata.
"Ini keputusan dari CEO, beliau tidak ingin mempekerjakan pembully!" sahut Bayu dengan suara sedingin es.
"Tapi pak, kami bahkan tidak melakukan apa-apa." Yuli mencoba membela diri.
"Oh ya? Jadi menurut kalian menyebar gossip dan menggunjing di dalam toilet itu tidak melakukan apa-apa?" tanya Bayu sambil menatap geram ke arah Yuli dan Susi yang langsung menundukkan kepala.
"Bersyukur saja, kalian hanya dipecat, walau tanpa surat keterangan kerja! Tapi untukmu, walau sudah bekerja di sini hampir 5 tahun, CEO memberikan perintah untuk blacklist namamu!" ujar Bayu dingin.
Mendengar perkataan Bayu, kaki Vera melemas dan terhuyun ke belakang.
"Cepat tanda tangani! Ari, kau urus sisanya!" pinta Bayu.
"Baik Pak Bayu!" Ari mengantar Bayu sampai keluar meeting room, lalu kembali masuk untuk mengurus pemecatan trio penindas.
Di luar meeting room, ponsel Bayu berbunyi.
"Hey, gimana Yo?" Bayu langsung menerima sambungan telepon ketika melihat ID pemanggil adalah Haryo.
"Gimana urusan sama pemecatan Vera dan lainnya?" tanya Haryo dari seberang.
__ADS_1
"Sudah beres, tinggal Ari urus sisanya." jawab Bayu.
"Dira masuk?" tanya Haryo lagi.
"Masuk, tadi aku antar ke ruangannya karena masih kesakitan kalau jalan." jawab Bayu jujur.
"Oh..." balas Haryo dan seketika hening.
"Yo... Halo Yo?" panggil Bayu karena Haryo tak mengucap sepatah kata pun.
"Ya Bay... Aku sebetulnya ingin temui Dira, tapi...." Haryo menghela nafas panjang.
"Pelan-pelan, rubahlah sifatmu itu sedikit-sedikit, di depan Rara aja, pelan-pelan dia pasti terima kamu!" sahut Bayu, yang sebetulnya bahagia jika Diandra menolak Haryo, tapi sebagai sahabat Haryo, dia akan berusaha sepenuh hati mendekatkan Haryo dengan Diandra, walau akan sakit rasanya.
"Aku... Aku cemburu lihat Dira segitu perhatiannya sama kamu Bay!" terdengar nada sedih dalam kalimat yang diucapkan Haryo.
"Buruan ke kantor, meeting jam 09:00!" sambung Bayu.
"Iya tau, lagi otw juga kok. Bye deh!" seru Haryo.
"Bye!" balas Bayu dan segera menutup teleponnya.
Bayu bergegas menuju ruangannya untuk menyiapkan berkas yang akan digunakan saat meeting pagi ini.
Pukul 08:15 Haryo tiba di lobby perusahaan. Sesampainya di sana Haryo disuguhi pemandangan yang merusak moodnya hari ini.
Sinta terlihat sedang ribut dengan resepsionis kantornya.
__ADS_1
"Maaf mba, Pak Haryo belum datang ditambah kalau belum ada janji, kami tidak diberi ijin untuk mempersilakan siapapun masuk, mohon kerja samanya untuk tidak membuat keributan di sini mba!" ucap front desk dengan sopan.
"Heh, dengar ya, aku ini calon istrinya Mas Haryo, kalau kamu nggak bolehin aku masuk, lihat saja nanti, aku suruh Mas Haryo pecat kamu!!" bentak Sinta seraya berkacak pinggang dan menunjuk-nunjuk wajah front desk.
"Walaupun yang ke sini dan ingin bertemu dengan Pak Haryo itu ayah dan ibu Pak Haryo, kalau beliau berdua tidak membuat janji terlebih dahulu, kami juga tidak bisa membiarkan masuk!" sahut front desk masih dengan nada sopan.
"SECURITY!!!!" tiba-tiba terdengar suara bariton yang merdu memanggil security perusahaan.
"Njih Pak Haryo?" seorang security senior berjalan mendekati Haryo diikuti 2 security junior.
"USIR!" perintah Haryo tegas dan singkat.
Ketiga security tadi dengan sigap mencekal kedua lengan Sinta dan menariknya keluar dengan paksa.
"Mas Haryo.... Mas... Aku tunanganmu, kenapa kamu perlakukan aku seperti ini?" jerit Sinta.
"STOP!!" perintah Haryo, security yang menarik Sinta segera berhenti melangkah tapi tidak melepas cengkeraman mereka dari tangan Sinta.
"Mas... Aku tunanganmu, calon istrimu, nggak seharusnya kamu perlakukan aku seperti ini!" rengek Sinta sambil berdrama menangis pilu.
"Tunangan dan calon istriku dari sejak 12 tahun lalu hanya satu, yaitu DIRA, bukan kau atau orang lain!" sahut Haryo tegas dan menekan nama Dira.
"Untuk kalian semua yang ada di sini, kalau dia datang lagi, sendiri atau dengan siapapun dan dengan status apapun , JANGAN BIARKAN DIA MASUK!!!!! Paham???" titah Haryo tegas.
"PAHAM PAK HARYO!" sahut para karyawan yang ada di lobby.
"USIR!!!!" perintah Haryo lagi, ketiga security tadi pun kembali menarik Sinta keluar dan mendorongnya begitu saja.
__ADS_1
"Tutup pintu, jangan biarkan anjing gila masuk ke kantor ini!" Haryo kembali melangkahkan kaki menuju ruangannya tanpa mempedulikan teriakan Sinta.